Pencarian

Perjodohan Busur Kumala 17

Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen Bagian 17


seorang yang terlebih muda usia dan martabatnya, sebab
ialah seorang pendeta tua dan berilmu yang tak menghiraukan
lagi soal tingkat derajat.
Ketika itu orang-orang kosen pihaknya Beng Sin Thong
maju dari segala arah mendekati Le Seng Lam. Tan Thian Oe
dan isterinya maju juga sebab mereka melihat Seng Lam
merampas pedangnya Keng Thian, hingga nona itu dipandang
sebagai lawan juga.
Leng Siauw Cu yang tiba paling dulu, dengan hudtim,
kebutannya, ia lantas menerjang. Ia datang dari arah
belakang, dengan begitu ia jadi mengebut punggung si nona.
Ialah jago dari Coancin Pay, di dalam rombongannya itu,
kecuali Beng Sin Thong, ia yang paling liehay, walaupun
demikian, dalam keadaan seperti itu, ia tidak menghiraukan
lagi ia main bokong atau tidak. Kebutan itu, begitu ia
mengerahkan tenaganya, lantas menjadi kaku seperti jarum.
Le Seng Lam mendapat tahu ada serangan dari belakang,
ia memutar tangannya untuk menangkis ke belakangmenangkis
sambil membabat. Leng Siauw Cu sudah
menyerang terus maka beradulah senjata mereka. Hebat
kesudahannya itu.
Kebutan kalah kuat, ujung kebutan kena terbabat kutung.
Tapi, lebih dulu daripada itu, ujung kebutan sudah melibat
pedang, hingga Seng Lam merasakan tekanan yang berat.
Inilah karena ia kalah tenaga dalam dan juga sudah
memandang ringan kepada si imam. Karena itu, ia segera
mengerahkan tenaga dalamnya, dikumpulkan di ujung
pedang, dari itu pedangnya lantas dapat meloloskan diri dari
libatan dengan memapas kutung ujung kebutan yang melibat
itu. Leng Siauw Cu terkejut dan menyesal. Ia sebenarnya ingin
merampas pedang si nona, tidak tahunya gagal dan
kebutannya yang tangguh itu justeru terusakkan.
Seng Lam panas hati. Ia memutar tubuhnya ke samping
ingin ia melakukan penyerangan membalas, akan tetapi ia
melihat tibanya Yang Cek Hu, dan Kim Jit Sian serta lainnya,
terpaksa ia mesti menghadapi mereka itu.
Sepasang alis Kim Kong Taysu terbangun. Ia menghadapi
Leng Siauw Cu, ia berkata tawar: "Leng Siauw Tooheng, kau
liehay sekali! Marilah, mari loolap menyambut kau, supaya
Nona Le dan Yang Siecu dapat menguji kepandaian mereka."
Leng Siauw Cu terperanjat.
"Maaf!" dia kata seraya dia mengundurkan diri, sebab tak
berani dia melayani pendeta ini.
Le Seng Lam tertawa dingin. "Baiklah imam hidung
kerbau!" ia kata, mengejek. "Kau bebas!"
Selagi begitu, nona ini sudah lantas menggeraki pedangnya
menangkis serangannya Yang Cek Hu, hingga pedang orang
terkutung dua, menyusul mana, toya Luitian pang dari Kim Jit
Sian tersentuh juga hingga melekah sedikit.
Kim Jit Sian kaget, ia lantas mundur.
Yang Cek Hu maju saking terpaksa. Ia telah terluka,
dengan memakai obat Pouw Thian Koh, ia sembuh dengan
cepat, walaupun demikian kesehatannya belum pulih
anteronya maka ia kurang gesit, ketika Seng Lam menendang,
ia kena dibikin terjungkal.
Dengan cepat Le Seng Lam lolos dari kepungan, tapi
sekarang ia menghadapi Tan Thian Oe suami isteri. Ia
memandang mereka sambil membuka mata lebar-lebar,
sembari tertawa, ia kata: "Kamu pun datang kemari?" Ia
berkata sambil menyimpan pedangnya, untuk berlompat maju
dengan dua tangan kosong menangkap tangannya masingmasing
suami isteri itu!
Thian Oe dan Yu Peng bukan sembarang orang, tetapi
dibanding dengan Nona Le, mereka terpaut jauh. Tanpa
berdaya, tangan mereka kena dicekal si nona sebelum mereka
keburu menghunus senjata mereka, bahkan mereka tak dapat
berkutik. Kang Lam melihat kejadian itu, dia berteriak-teriak:
"Celaka! Celaka! Nona Le, kenapa kau pun menempur
sahabat-sahabatnya Kim Tayhiap"..."
Belum berhenti suaranya kacung ini, Le Seng Lam sudah
tertawa, kedua tangannya melepaskan cekalannya. Ia kata
nyaring: "Dengan memandang kepada Kim Tayhiap, aku pun
memberikan dua butir obat kepada kamu!"
Thian Oe dan istrinya tercengang, mereka cuma bisa
melihat nona itu memasuki obat ke dalam mulut mereka,
setelah mana si nona mendorong perlahan seraya berkata
pula: "Nah, pergilah kamu!" Di luar dugaan, mereka telah
ditotok Seng Lam, sembari didorong itu, mereka dibebaskan.
Di waktu didorong, mereka terhuyung sedikit, tempo mereka
dapat berdiri tetap, nona itu sudah pergi jauh.
Sebenarnya Thian Oe dan Yu Peng terpengaruh bunga
asura, jikalau tidak, tidak nanti mereka dengan begitu mudah
dipermainkan Seng Lam, mereka hanya tidak tahu tentang
pengaruh bunga hantu itu. Sekarang, setelah makan obatnya
si nona, kesegaran mereka pulih dengan lantas. Mereka malu
sendirinya. Malu sebab mereka tak berdaya. Merekapun heran
mendengar suara orang yang "memandang kepada Kim
Tayhiap!" Bukankah Kim Tayhiap itu Kim Sie Ie" Benarkah Sie
le masih hidup"...
Apa yang semua telah terjadi, jalannya cepat sekali.
Mulanya muncul bunga hantu, lalu Le Seng Lam, lantas dia
dikalahkan Beng Sin Thong, di lain pihak dia mengalahkan
Leng Siauw Cu, Kim Jit Sian dan lainnya, selama mana dia
juga memberikan obat kepada Kim Kong Taysu dan Thian Oe
suami isteri. Setelah itu, dia mencoba menyingkirkan diri. Dia
menganggap Sin Thong terlalu gagah, maka ingin ia berdamai
dengan Sie Ie. Beng Sin Thong bersikap aneh. Ia tidak mau mengejar
Seng Lam, ia berdiri diam mematung. Tong Sian Siangjin
melihat segala apa, diam-diam dia memperhatikan jago Siulo
Imsat Kang itu. Mata Sin Thong bersinar tajam, ia seperti lagi
berpikir keras. Entah apa yang ia pikirkan.
Selagi mengawasi Sin Thong itu, keanehan siapa membuat
ia curiga, tiba-tiba Tong Sian Siangjin mendengar banyak
tindakan kaki lagi mendatang, datangnya sangat cepat. Ia
terperanjat hingga ia kata dalam hatinya: "Dari mana
datangnya begini banyak orang liehay?" Menurut taksirannya,
jumlah mereka itu dua atau tiga belas orang.
Mendadak terdengar teriakannya Beng Sin Thong: "Bagus,
ya, Kamu juga datang!"
Tong Sian Siangjin menoleh Ia melihat datangnya
serombongan orang, yang semuanya mengenakan baju
kuning. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari antara
gombolan rumput. Sembari lari mendatangi, mereka itu
mengasih dengar pekik mereka saling susul. Dan ketika
mereka sampai di gelanggang, mereka lantas menyerang
kalang kabutan, siapa saja berada di dekat mereka, tak perduli
orangnya Sin Thong atau rombongan Binsan Pay. Yang
menjadi kepala ialah seorang tua dengan muka merah yang
tubuhnya tinggi dan besar. Dia bertangan kosong tetapi dia
telengas sekali, dia main hajar kepala orang sampai batok
kepalanya pecah remuk. Begitulah telah roboh tiga murid
Binsan Pay, dua murid Ngobie Pay serta dua murid nya Beng
Sin Thong. Sin In Long ketua Cengshia Pay segera maju, untuk
menghadang. Dengan tindakan Thian Lo Pou ia dapat tiba, di
depan orang tua muka merah itu, bahkan ia lantas menyerang
dengan pedangnya, dengan satu jurus dari ilmu pedang Liapin
Kiamhoat. Si muka merah itu liehay. Dia dapat berkelit dari serangan
itu, juga dari serangan susulan yang kedua kali. Maka itu dia
lantas ditikam untuk ketiga kalinya. Hanya waktu ujung
pedang hampir mengenai tenggorokan orang, mendadak
tangannya In Long yang mencekal pedang itu turun
sendirinya, seperti yang terkena ilmu sihir, tak ada tenaganya
lagi. Si muka merah sendiri, dengan kegesitannya, sudah
mencelat ke samping terus ke belakang jago Cengshia Pay ini,
maka disitu dengan leluasa sekali ia dapat menghajar
punggung lawannya itu. Tubuh In Long lantas terhuyung tiga
tombak. Syukur untuknya, ia masih mencoba berkelit, kalau
tidak, yang kena terhajar mungkin batok kepalanya seperti
korban-korban yang lainnya itu.
A Lo Cuncia berseru nyaring, dia lompat ke depan si muka
merah itu, sambil memegat dia menyerang dengan sebelah
tangannya. Dia mengarah ke batok kepala dengan niat
menghancurkannya.
Si muka merah menangkis.
Kedua tangan mereka beradu keras sekali. Hebat A Lo
Cuncia, ia menyebabkan lawannya mundur tiga tindak. Lebih
hebat si muka merah ini. A Lo Cuncia mengasih dengar seruan
tertahan, lantas ia menyingkir. Seorang berbaju kuning
hendak menghalangi, ia mendorong roboh orang itu, setelah
mana ia lari turun gunung...
Melihat kaburnya pendeta itu, semua orang heran. Orang
tahu dia kuat dan liehay sekali. Tadi pun dia mengalahkan Tay
Hiong Siansu dari Siauwlim Sie. Di samping ilmu silat, dia
mengerti ilmu yoga dengan baik. Sekarang, hanya dengan
satu bentrokan dengan si muka merah, dia lantas kabur.
Kenapa" Maka orang heran dan bertanya-tanya diri sendiri.
Cuma Tong Keng Thian, yang berada paling dekat, dapat
melihat tegas. Habis bentrokan itu, muka A Lo Cuncia menjadi
hitam seperti arang dalam sekejab saja. Maka jago Thiansan
ini, dalam herannya, berkata dalam hati: "Dia pasti telah
terkena racun! Hanya, racun apakah itu yang demikian
hebat?" Tapi ia tidak takut. Ia lantas mengeluarkan dua butir
pel Pekleng Tan, yang ia serahkan pada Pengcoan Thianlie
sambil berkata: "Kau makan ini! Mari kita tempur dia!"
Ketika itu Le Seng Lam terlihat lompat ke depan si muka
merah untuk menghadang, seraya ia berkata keras: "Ha,
konco jahat dari Beng Laokoay! Kau sudah mencuri kitab
Pektok Cinkeng milik keluargaku, sekarang kau berani muncul
disini dan berbuat jahat!" Kata-kata itu ditutup dengan satu
serangan. Si muka merah mengibaskan tangan bajunya yang
panjang, lantas terlihat mengepulnya asap yang berwarna lima
macam. Itulah Ngotok San, bubuk Lima Racun " " lima
racun yang paling berbisa. Seng Lam kenal racun itu, ia
berkelit, sembari berkelit, ia menabas. Kali ini ia berhasil.
Tangan baju si muka merah terbabat putus.
Melihat demikian, si muka merah tidak berani mendesak.
Di matanya Seng Lam terbayang peristiwa celaka yang
menimpa keluarganya dulu hari itu. Ketika itu, ia masih dalam
kandungan ibunya. Ia mengetahui duduknya peristiwa dari
penuturan ibunya itu. Juga ibunya cuma tahu musuh besar
keluarga mereka ialah Beng Sin Thong seorang. Namanya
seorang musuhnya yang lainnya, ibu itu tak dapat cari tahu.
Selagi Sin Thong mengganas, kawannya itu bekerja sendiri.
Ialah dia menggeretak buku-bukunya keluarga Le. Ibunya
Seng Lam tak mau banyak mulut mencari pencuri kitab itu,
dikuatir Sin Tong nanti bercuriga. Di luar dugaan Seng Lam,
pencuri itu sekarang muncul disini, dia dikenali sebab dia
menggunai bubuk racun itu, bahkan dia lebih kejam daripada
Sin Thong.10 Teranglah si muka merah ini hendak membasmi orangorang
kedua pihak. Beng Sin Thong pun mengajukan diri. Dia tertawa dingin,
dia lompat melewati kepala banyak orang untuk dapat sampai
kepada pemimpin rombongan orang-orang berbaju kuning itu.
Si orang tua muka merah melihat orang datang, dia kata:
"Bagaimana jikalau lagi sekali kita bekerja sama" Orang akan
kuserahkan padamu, pedang kau serahkan padaku"..."
Tengah dia berkata-kata itu, Tong Sian Siangjin juga sudah
turun tangan. Ketua Siauwlim Pay ini menimpuk dengan
serenceng mutiaranya, yang terdiri dari seratus delapan butir,
yang menyambarnya dengan berpencaran, mirip dengan jala
tertebar. Beng Sin Thong, yang menjadi sasaran, tertawa berkakak.
"Milik perseorangan yang terakhir dari si hwesio tua pun
dikeluarkan!" dia kata seraya dia berlompat tinggi, untuk
berkelit, sedang kedua ujung tangan bajunya dikibaskan
menggulung, hingga tujuh atau delapan bagian mutiara itu
kena dibikin tak berdaya. Meski dia bergerak sangat sebat dan
liehay, toh ada mutiara yang menghajar jalan darah yongcoan
di kakinya, jalan darah sinteng di batok kepalanya, serta jalan
darah jiekhie di iganya. Semua serangan itu tidak
membahayakan dia yang tangguh, tetapi dia toh mesti turun
ke tanah, untuk menaruh kaki. Hanya sekarang tak dapat dia
tertawa lebar seperti barusan, bahkan dia membungkam.
Le Seng Lam tidak kalah dari Beng Sin Thong dalam ilmu
ringan tubuh, ia pun tidak bersikap seperti orang she Beng itu.
Tatkala serangan dimulai, ia mendahului berlompat
menyingkir, untuk terus lan turun, sembari lari terdengar
suaranya: "Terima kasih untuk bantuan Siangjin! Untuk
membalas budi maka aku pun hendak membukai jalan untuk
pihakmu!" Kata-kata ini dibarengi dengan ditimpukinya senjata
rahasianya, yaitu peluru api, maka juga rumput disitu kena
terbakar, hingga dengan begitu habislah semua pohon atau
bunga asura yang tadi pada mekar. Benar baunya beracun itu
tak terhapus bersih akan tetapi sedikitnya, karena racun
diserang racun, kekuatannya menjadi berkurang banyak.
Beng Sin Thong maju terus, segera dia sampai di depan si
orang tua muka merah. Dia lantas mengasih dengar tertawa
mengejek dan memperlihatkan roman menyeringai yang
bengis. "Bagus, Seebun Bok Ya!" dia kata nyaring. "Kiranya kau
belum mampus! Dan sekarang kau hendak membasmi semua
orang Rimba Persilatan tak terkecuali aku! Hm! Hm' Apakah
kau kira dengan mengandali bunga hantu itu dapat kau
malang melintang" Kau keliru! Dengan begitu kau
memandang aku terlalu enteng!"
Orang tua muka merah itu, yang dipanggil Seebun Bok Ya,
juga tertawa menghina.
"Kau tentunya tidak menyangka bahwa aku dapat datang
kemari untuk membuat perhitungan kita dua puluh tiga tahun
yang lalu, bukan?" ia kata. "Hm! Hm! Apakah kau kira setelah


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berhasil mempelajari Siulo Imsat Kang lantas kau dapat
menjagoi sendiri di kolong langit ini" Kalau begitu, kau terlalu
terkebur!"
Pada dua puluh tiga tahun yang lalu itu, ketika Seebun Bok
Ya bersama Beng Sin Thong menyerbu Keluarga Le, mereka
dijuluki Bu-lim Jie-ok, si Dua Jahat Rimba Persilatan. Ketika itu
Seebun Bok Ya masih kalah dalam hal ilmu silat begitu pun
mengenai racun, maka ingin ia melebihkan Sin Thong. Ialah
yang menyelidiki tempat kediaman Keluarga Le, lalu ia
mengajak Sin Thong bekerja sama menyerbunya. Ia
memerlukan kawan sebab ia sendiri tak ungkulan
mengalahkan orang yang mau diserbu itu, yang ia tahu liehay
luar biasa. Dengan penyerbuan itu, maksudnya yang utama
ialah merampas kitab ilmu silat Keluarga Le
Penyerbuan dilakukan di waktu malam yang dipilih, selagi
rembulan tidak muncul dan angin bertiup keras.
Seebun Bok Ya mempunyai bunga hantu, ia pakai
harumnya bunga itu untuk membikin lesu semua penghuni
rumah. Bunganya itu ia telah bikin menjadi hio, dari itu ia
menggunainya dengan membakar hio istimewa itu.
Keluarga Le mempunyai Pektok Cinkeng, kitab Seratus
Racun, di dalam kitab itu ada tertulis hal bunga asura jelas
berikut khasiatnya, akan tetapi mereka tak sempat mencari
pohon bunga itu. Sebabnya mereka lagi hidup bersembunyi,
mereka takut kepergok musuh, tak berani mereka keluar dari
lembah persembunyiannya. Turun temurun mereka hidup
menyendiri, sampai dua ratus tahun lebih. Obat
peninggalannya Le Kong Thian, karena lewatnya sang waktu
yang lama, sudah habis kekuatannya kecuali hanya beberapa
rupa. Karena asura sukar dicari, tak terpikirkan keluarga itu
bahwa lain orang akan mendapatkannya untuk dipakai
menyerbu mereka.
Hebat kesudahannya cara memikir keluarga itu.
Demikianlah ketika Seebun Bok Ya bersama Beng Sin Thong
datang menyerbu, lebih dulu mereka jadi korban keracunan
asap hio asura, hingga mereka menjadi separuh pingsan atau
separuh linglung, sampai ilmu silat mereka pun hampir tak
dapat digunakan lagi. Penghuni rumah yang berjumlah tiga
puluh orang lebih, semua habis dibinasakan Beng Sin Thong,
kecuali seorang wanita yang sedang hamil, ialah ibunya Seng
Lam. Selagi Beng Sin Thong melakukan pembunuhan itu,
Seebun Bok Ya sendiri repot mencari kitab warisannya
Keluarga Le itu.
Setelah berhasil penyerbuannya, itu dua sahabat ini yang
bekerja bersama dengan erat lantas mengandung cita-citanya
masing-masing. Dengan mendadak Seebun Bok Ya
membokong Beng Sin Thong. Dia menyerang dari belakang
dengan goloknya yang telah dipakaikan racun. Tatkala itu
Beng Sin Thong sudah letih, Bok Ya percaya bacokannya bakal
merampas jiwa orang. Terkaannya itu nyata meleset.
Kegagahannya Sin Thong jauh melebihkan kekosenannya.
Benar Sin Thong telah kena dilukai tapi sebelumnya racun
bekerja, dia sudah bisa menghajar kawan yang curang itu dan
merampas kitabnya keluarga Le itu.
Pada itu waktu Beng Sin Thong sudah melatih sempurna
ilmu tangan kosong Kimkong Cianglek, dia telah menghajar
Seebun Bok Ya hingga orang terluka otot nadinya yang
dinamakan Samciauw. Seebun Bok Ya lantas kabur. Dia tidak
dikejar untuk lantas dibinasakan. Sin Thong menduga dia tak
bakal hidup lewat daripada tiga hari. Ia sendiri lagi keracunan,
perlu ia mengobati dirinya. Ia tidak menyangka, Seebun Bok
Ya tidak mati, sedang ketika itu, Bok Ya kabur dengan Pektok
Cinkeng. Demikian berselang dua puluh tiga tahun, hari ini mereka
bertemu di gunung Binsan dengan sama-sama masih hidup,
bahkan Seebun Bok Ya dengan sepak terjangnya itu yang
telengas. Selama dua puluh tiga tahun itu, Seebun Bok Ya sudah
membaca dan memahamkan Pektok Cinkeng. Setelah
mengerti, ia mencari pelbagai macam bahan obat dan
membuatnya. Mengenai pohon asura, ia juga mempelajari
cara menanamnya, hingga ia ketahui baik, bagaimana itu
harus ditanam, berapa lama tumbuhnya sampai keluar bunga,
bahkan ia berhasil menanamnya juga di tanah yang iklimnya
hangat. Begitulah ia telah tanam pohon racun itu di gunung
Binsan itu dan tepat bunganya mekar di harian Beng Sin
Thong menempur rombongannya Co Kim Jie. Ia menanam
beberapa ratus pohon, ia pencar itu di dalam gombolan
rumput hingga orang sukar melihatnya. Setiap pohonnya
berbunga sepuluh biji, maka itu jumlahnya bunga jadi ribuan,
maka juga bisa dimengerti, harumnya menjadi luar biasa.
Satu hal tak diduga Seebun Bok Ya, ialah halnya Beng Sin
Thong berhasil mendapatkan kitab warisannya Kiauw Pak
Beng. Dengan begitu ia menjadi tidak mendapat tahu bahwa
lawannya ini tetap tangguh luar biasa, kepandaiannia tinggi
sepuluh lipat. Karena itu, belum-belum ia sudah menjadi jeri.
Beng Sin Thong sudah lantas menyerang. Sambil
menyerang itu dia berseru. Tidak kepalang tanggung, dia
lantas menggunai serangan Siulo Imsat Kang tingkat ke
sembilan. Seebun Bok Ya tidak mau menyerah dengan begitu saja. Ia
menggunai Ngotok San, bubuk lima rupa racunnya yang paling
berbisa itu, yang berwarna mirip bianglala, yang berupa
seperti kabut hendak menutupi musuhnya itu.
Beng Sin Thong tidak takut, mendadak ia berseru keras,
meniup bubuk itu, yang lantas buyar seperti disapu badai.
Berbareng dengan itu, tangan mereka berdua bentrok satu
dengan lain. Seebun Bok Ya mengasih dengar suara tertahan, lantas
tubuhnya menggigil seperti ia diserang penyakit malaria.
Sebenarnya masih beruntung untuknya, Sin Thong belum
pulih kesegarannya akibat pertempurannya melawan Kim
Kong Taysu, jikalau tidak, ia pasti akan menderita lebih hebat,
atau mungkin jiwanya akan melayang,
Sin Thong juga turut menderita. Tangannya Seebun Bok Ya
beracun. Telapakan tangan Sin Thong memperlihatkan bintikbintik
merah, tanda dari bekerjanya racun. Tangan itu kaku,
seperti kehabisan tenaga, sampai sukar untuk dikasih
bergerak. Tapi Sin Thong liehay, hatinya tabah, diam-diam ia
mengerahkan tenaganya, untuk mengusir racun itu, sambil
berbuat begitu, ia menyerang dengan tangan kirinya.
Di pihak Bok Ya, dua orang kawannya yang berbaju kuning
maju menghadapi jago Siulo Imsat Kang ini. Yang satu
dengan berani menangkis serangan itu. Yang lainnya lantas
menonjok ke dada dengan menggunai ilmu silat "Lohan Kun"
dari Siauwlim Pay. Sin Thong merasa ia seperti digedor martil
besar. Akan tetapi orang she Beng ini mempunyai Hoktee
Sinkang, ilmu pelindung diri yang mahir, di dalam tempo
sejenak, ia dapat menutup dirinya. Tinju si baju kuning
menerbitkan suara "Buk!" yang nyaring. Kaget si baju kuning
itu, akan tetapi percuma saja, berbareng kaget, tubuhnya
terpental mundur. Dengan kesehatan luar biasa, Sin Thong
telah menghajarnya. Dia roboh dengan luka parah, yaitu
sebelah tangannya terlepas dan muntah darah.
Sin Thong memperoleh kemenangan, tak urung ia heran.
Itulah sebab ia melihat musuh-musuhnya yang pada roboh itu,
tidak ada satu yang mati. Inilah bukti di samping tenaganya
sudah berkurang, semua lawan pun sangat tangguh. Ia juga
merasa dadanya sedikit nyeri.
"Inilah hebat," ia berpikir. "Nyata semua orangnya Seebun
Bok Ya ini liehay sekali. Siapakah mereka" Kenapa aku tak
mengenal walaupun seorang jua" Dari manakah Seebun Bok
Ya mendapatkan mereka ini" Kenapa mereka kesudian
diperintah orang she Seebun ini?"
Selagi berpikir demikian, Sin Thong merasa sulit untuk
merobohkan semua orang berbaju kuning itu. Bukankah disitu
pun ada Seebun Bok Ya, yang sangat berbisa itu" Bukankah
disitu juga ada Tong Sian Siangjin, yang ia malui" Sebagai
seorang cerdik dan licik, ia lantas mengetahui tindakan apa
yang ia mesti ambil. Ialah menyingkir dulu dari gelanggang
adu jiwa itu. Dan begitu berpikir, begitu ia bekerja. Lantas ia
memberikan isyaratnya kepada kawan-kawannya, untuk
mereka itu mengangkat kaki. Ia sendiri memberi contoh.
(bersambung) CATATAN 6) halaman 454. Kisah masa muda Lu Su Nio, Phang Eng
dan Phang Lim dapat diikuti dalam cerita Kang Ouw Sam
Liehiap (Tiga Dara Pendekar).
7) halaman 477. Kisah Le Kong Thian dan Kiauw Pak Beng
dapat diikuti dalam cerita Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang
Bersatu Padu). Sedangkan kisah kematian Le Kong Thian
ketika berusaha membalas dendam pada Thio Tan Hong,
diceritakan dalam cerita Khong Ling Kiam (Pendekar Pemetik
Harpa). 8) halaman 482. Kisah guru Kim Sie le, Tokliong Cuncia,
dapat diikuti dalam cerita Kang Ouw Sam Liehiap (Tiga Dara
Pendekar). 9) halaman 565. Orang-orangan dari kuningan (Tokkak
Tongjin) adalah senjata yang dipakai Le Kong Thian. Baca Lian
Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).
10) halaman 645. Pengcoan Thianlie termasuk angkatan
tua Lui Cin Cu, Butong Pay. Hal ini karena dia adalah murid
Butong Pay dari garis To It Hang. Kakek Pengcoan Thianlie,
Kui Tiong Beng adalah murid tidak langsung dari To It Hang,
Sin Liong Cu yang mewakili To It Hang mengajar Kui Tiong
Beng. Hal ini dapat diikuti dalam cerita Thian San Cit Kiam.
11) halaman 739. Kitab racun Pektok Cinkeng mempunyai
riwayat tersendiri. Awalnya kitab ini adalah milik perguruan Cit
Im Kauw. Karena Kiauw Pak Beng tidak bisa mencapai tingkat
tertinggi dari Siulo Imsat Kang, dia mencari jalan
memunahkan hawa dingin dengan racun panas. Maka ia
merampok kitab Pektok Cinkeng dari Cit Im Kauwcu. Akhirnya,
karena keturunan Kiauw Pak Beng musnah, maka kitab ini
jatuh ke tangan pengurus rumah tangganya (koanke), yaitu Le
Kong Thian, lalu setelah itu turun temurun menjadi kitab
pusaka keluarga Le. Cerita selengkapnya dapat diikuti dalam
kisah Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).
Jilid 3 Dua belas orang berbaju kuning itu berpencaran, tak dapat
mereka lantas mengumpul diri, lantaran mereka pun jeri
terhadap Sin Thong, tidak ada yang berani pergi mengejar.
Tak sudi mereka satu lawan satu, buktinya dua lawan satu,
yang dua-ialah kedua kawannya-kena terlukakan.
Dua belas orang itu sungguh asing. Bukan melainkan Beng
Sin Thong yang tidak kenal mereka, juga pelbagai ketua partai
dalam rombongannya Co Kim Jie. Satu saja tak ada yang
mengenalnya. Setelah berlalunya Beng Sin Thong, Seebun Bok Ya masih
belum mau berhenti dengan penyerbuannya itu. Mereka
menghampirkan orang-orang yang berkumpul paling banyak,
untuk menghajarnya. Mereka juga tidak hanya menggunai
tangan kosong, mereka memakai golok atau senjata rahasia
yang beracun. Jumlah rombongannya Co Kim Jie ada tiga ratus jiwa lebih,
semua mereka itu, kecuali pelbagai ketua dan beberapa di
antaranya, telah terserang harumnya bunga asura, keadaan
mereka menyedihkan sekali. Rata-rata mereka berkepala
pusing dan mata berkunang-'kunang, tenaga mereka hampir
habis, maka juga, diamuk kawanan orang berbaju kuning itu,
banyak yang roboh luka dan terbinasa.
Tong Sian Siangjin melihat suasana buruk itu, ia lantas
memberikan titahnya untuk pihaknya mengundurkan diri.
Seebun Bok Ya menelan sebutir obat, dengan itu ia
melawan gangguan hawa dingin dari Siulo Imsat Kang akibat
serangannya Beng Sin Thong tadi, setelah itu ia ajak tiga
orang berbaju kuning untuk mengejar.
Menampak demikian, Tong Sian Siangjin meloloskan
jubahnya yang gerombongan, begitu penyerbu datang dekat,
ia merabu dengan jubahnya itu.
Keempat orang itu roboh semua, Seebun Bok Ya sendiri
sampai jungkir balik.
Kim Kong Taysu gusar, ia pun merobohkan seorang berbaju
kuning. Dua orang baju kuning yang sudah datang dekat lantas
mundur sendirinya.
Tong Sian Siangjin bersama Kim Kong Taysu, Tong Keng
Thian suami isteri, Ek Tiong Bouw, Co Kim Jie, Sin In Long dan
Tay Pie Siansu, memecah diri dalam empat rombongan,
mereka masing-masing melindungi satu rombongan untuk
menyingkir dari tempat berbahaya itu. Mereka mengambil
jalan di tempat yang tadi dibakar habis oleh Le Seng Lam.
Keadaan kacau tapi mereka menyingkir dengan rapi.
Seebun Bok Ya menyerukan kawan-kawannya: "Lebih
banyak kita bisa membinasakan terlebih baik, tetapi mereka
yang kabur, tak usahlah dikejar!"
Mendengar itu, orang-orang berbaju kuning itu lantas
menyerbu sisa rombongannya Beng Sin Thong. Satu pada lain,
mereka itu saling berseru selaku isyarat melakukan
penyerangan. Can Bit Hoatsu menjadi panas hati. Dia memapaki dua
orang berbaju kuning, lantas dia berseru nyaring. Itulah
"Deruman Singa" dari ilmu "Saycuhauw kang".
Kaget dua orang itu, mereka memutar tubuh dan lari kabur,
telinga dan hidung mereka mengucurkan darah sebab tak
sanggup mereka mempertahankan diri dari getaran deruman
itu. Tubuh mereka pun menjadi lemas.
Atas itu sejumlah pendeta Lhama lantas turut Can Bit
Hoatsu menyingkir.
Seebun Bok Ya memberi obat kepada dua kawannya itu. Ia
membekal obat bubuk Kengsin San yang mujarab. Kemudian
ia maju untuk merintangi yang lainnya.
Dari orang-orangnya Beng Sin Thong itu, yang tinggal ialah
mereka yang kepandaiannya masih rendah, yang lainnya
dapat kabur turun lebih dulu. Syukur Seebun Bok Ya tidak
mengejar Can Bit, kalau tidak sulit pendeta itu. Derumannya
itu tak dapat dilakukan berulang-ulang, sebab yang pertama
itu saja sudah melemahkan sekali tenaga dalamnya.
Di antara orang-orangnya Beng Sin Thong, ada dua anak
muda yang lari ngawur. Merekalah Tio Eng Hoa dan Tio Eng
Bin, dua cucu dari Co Kim Dije, yang telah terpedayakan jago


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siulo Imsat Kang itu. Sejak dilahirkan, belum pernah mereka
itu menyaksikan pertempuran hebat demikian macam, mereka
ketakutan hingga semangat mereka seperti terbang pergi.
Mereka pun takut sebab "guru" mereka sendiri sudah kabur
terlebih dulu. Selagi mereka kabur, Kie Siauw Hong melewati
mereka, lalu di belakang mereka terlihat dua orang berbaju
kuning lagi mengejar.
"Kie Suko, tolong!" mereka berteriak.
Siauw Hong lari terus tanpa menoleh, sebentar saja dia
lenyap dari matanya dua adik seperguruan itu...
Dua orang berbaju kuning itu memburu terus. Ketika tiba
saatnya kedua anak muda itu bakal mati dengan batok kepala
hancur lebur, mendadak terdengar bentakan: "Tikus, kau
berani!" Dan bentakan itu dibarengi dengan terlihatnya sinar
terang yang berhawa dingin yang mencar di depan dua
pengejar itu. Itulah Keng Thian dan isterinya, yang muncul dengan tibatiba.
Mulanya Pengcoan Thianlie menimpuk dengan peluru inti
es, habis mana, ia dan suaminya terus menghadang, hingga
dua saudara Tio terlindung di belakang mereka.
Keng Thian kehilangan pedang Yuliong Kiam, ia sekarang
mencekal sebatang pedang biasa, Cengkong kiam, meski
demikian, ia masih dapat bersilat dengan baik sekali, dapat ia
mengimbangi Pengpok Hankong Kiam, pedang isterinya.
Mereka berdua juga sudah makan Pekleng Tan, pel yang
terbuat dari soatlian, teratai salju, mereka tak takuti lagi
harumnya asura.
Mereka tak usah bertempur lama untuk menyudahinya.
Setelah beberapa gebrak, dengan ilmu pedang mereka yang
bersatu padu, mereka berhasil memukul mundur musuh
mereka, hingga mereka terbabat kutung masing-masing
lengan kanannya. Setelah itu, sesudah masuki pedangnya ke
dalam sarung, Keng Thian sambar dua saudara Tio di tangan
kanan dan kirinya, buat dibawa menyingkir dari medan adu
jiwa itu. Pengcoan Thianlie mengikuti di belakang, guna cegah
pengejaran musuh.
Kawanan baju kuning itu tidak berani mengejar Keng
Thian. Mereka jeri melihat sepasang pria dan wanita itu
demikian gagah. Mereka juga jeri untuk peluru inti es si
nyonya, yang mereka tak tahu apa adanya. Umumnya mereka
tak sudi menjadi korban seperti dua kawannya itu yang
kehilangan sebelah tangannya.
Keng Thian berdua berhasil menyusul rombongannya,
dengan lantas ia serahkan Eng Hoa dan Eng Bin kepada Co
Kim Jie. Ketua Binsan Pay itu gusar sekali.
"Binatang" dia mendamprat. "Kamu mempunyai muka
untuk menemui aku" Kenapa kamu tidak mau ikut gurumu
itu?" Dia mengangkat Liongtauw Koay-thung, tongkatnya yang
berkepala naga untuk menghajar.
"Sabar, ciangbun suci!" Ek Tiong Bouw mencegah. "Mereka
masih muda dan belum tahu apa-apa, baiklah mereka diberi
ampun." Dua saudara itu berlutut, sambil menangis mereka mintaminta
ampun. Sebenarnya Kim Jie sangat menyayangi kedua cucu itu,
tetapi di depan orang banyak, ia mesti memegang
kehormatan, maka itu, setelah bujukannya Tiong Bouw, baru
suka ia memberikan keampunannya.
Sekarang sempatlah orang memeriksa, maka itu ketahuan
mereka yang terbinasa atau lenyap berjumlah delapan puluh
tujuh orang, yang luka parah tujuh puluh enam orang, yang
luka enteng lebih banyak lagi.
Kim Kong Taysu menghela napas.
"Tidak disangka sekali pertempuran ini berkesudahan begini
rupa," kata ia, masgul. "Baik pihak kita maupun pihak sana,
kerugiannya hebat sekali..."
"Namanya Seebun Bok Ya telah aku dengar pada tiga puluh
tahun dulu," berkata Ek Tiong Bouw, "hanya kawanan orang
berbaju kuning itu, tak seorang juga yang aku kenal.
Kekalahan kita ini bukan kekalahan di tangan Beng Sin Thong
hanya di tangan kawanan orang asing itu. Sungguh di luar
dugaan." Di dalam rombongan ini, Pangcu Ek Tiong Bouw, dari
Kaypang yang paling luas pendengarannya, ia tidak ketahui
rombongannya Seebun Bok Ya itu, maka yang lainnya tak
usah disebutkan lagi.
Tong Sian Siangjin berdiam sekian lama, baru ia berkata:
"Beng Sin Thong gagah luar biasa, loolap lihat, kecuali Tong
Tayhiap suami isteri, di Tionggoan ini mungkin tak ada lain
orang yang dapat menandinginya. Sekarang muncul
rombongannya Seebun Bok Ya ini, itu berarti tambahnya nasib
celaka Rimba Persilatan. Maka aku pikir baiklah kita pergi dulu
ke kelentingku, untuk berobat dan beristirahat, sekalian kita
mencoba mengusut halnya rombongan orangorang berbaju
kuning itu sambil di lain pihak kita mengundang Tong Tayhiap
turun gunung, guna mengajaknya berikhtiar menghadapi
kawanan itu."
Kelenting Siauwlim Sie itu tak terpisah jauh dari Binsan,
disana pun masih ada ratusan pendeta yang pandai silat, kuil
itu tempat yang tepat untuk mereka singgahkan. Maka itu,
sarannya Tong Sian memperoleh kesetujuan umum. Cuma Co
Kim Jie seorang yang berdiam dan alisnya mengkerut.
"Co Ciangbun," tanya Tong Sian, yang melihat kedukaan
orang itu, "apakah kau memikirkan adik seperguruanmu yang
muda itu?"
Mukanya ketua Binsan Pay itu menjadi merah. Hatinya
kena dibade si pendeta.
"Benar," sahutnya, mengaku.
"Kawanan baju kuning itu datang secara begini rupa, aneh
sekali, dari itu aku kuatir mereka pun telah memecah orang
untuk pergi ke biara, Cie Hoa tak sadarkan dirinya, jikalau dia
terjatuh ke dalam tangan mereka itu, bagaimana
kesudahannya nanti" Bagaimana malu aku terhadap Lu
Kouwkouw?"
Kim Jie ingat segala perbuatannya terhadap Cie Hoa, tanpa
ampun lagi ia sudah mengusir dan memecat muridnya Lu Su
Nio itu, sedang nona itu membelai partai dan sekarang
membela mati. Ia menjadi menyesal dan berduka sekali.
Sekarang ia ingat bahwa Cie Hoa itu murid tunggal dari kouwkouw-
nya she Lu itu. Berbareng dengan menguatirkan Cie
Hoa, ia menguatirkan juga beberapa orang Butong Pay yang
terluka. Dapatkah Phang Lim melindungi mereka itu"
"Jikalau begitu, baiklah kami berangkat lebih dulu," Tong
Keng Thian dan isterinya mengajukan diri, begitupun Lui Cin
Cu. "Tong Siauwhiap bertiga suka pergi, itu bagus!" berkata
Tong Sian Siangjin.
Keng Thian lantas bersiap.
"Tunggu sebentar!" Tong Sian mencegah tiba-tiba. "Coba
kita lihat dulu, siapa itu yang datang..."
Tepat itu waktu, orang mendengar siulan yang lama.
Mendengar suara itu, Keng Thian menjadi girang. Ia
mengenali suara Ie atau bibinya itu. Ia kata: "Itulah mereka
yang kembali!" Di lain pihak, ia mengagumi liehaynya telinga
si pendeta tua.
Hanya sebentar, orang lantas melihat munculnya
serombongan bayangan. Hari sudah tengah malam akan tetapi
rembulan bersinar terang jernih, hingga segala apa nampak
tegas. Itulah benar Phang Lim serta rombongannya.
Lui Cin Cu, Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie berseru
girang tetapi cuma sebentar. Yang lain-lainnya pun turut
merasa heran. Phang Lim datang bersama sembilan murid
Butong Pay tanpa Lie Kim Bwee, Ciong Tian dan Kok Cie Hoa.
*** Phang Lim telah memondong Kok Cie Hoa sampai di biara.
Yang pertama ia lakukan ialah menotok nona itu, untuk
menyadarkannya. Ia menggunakan ilmu totok Tay-cong Hiat
Kanghu, yaitu ilmunya pendeta Lhama Merah dari Tibet, yang
biasanya dapat dipakai membebaskan pelbagai macam
totokan jalan darah. Tapi, terhadap Nona Kok, totokan
pembebasan itu tidak ada hasilnya. Maka ia menjadi heran
dan berkuatir. "Benarlah di luar langit ada langit lainnya," pikir dia.
"Totokannya Beng Sin Thong ini tak dapat aku punahkan,
dengan begitu, walaupun aku belum menempur sendiri
padanya, dapat sudah dibilang bahwa aku telah dikalahkan
dia... Tidak bisa lain, sekarang aku harus menanti kembalinya
Tong Sian Siangjin, ia mungkin dapat menolong Cie Hoa.
Lantas Phang Lim memernahkan Cie Hoa di sebuah kamar
dan memesan Lie Kim Bwee berdua Ciong Tian menjagai, ia
sendiri terus pergi mengobati semua murid Butong Pay yang
terluka itu. Kim Bwee memanggil Cie Hoa berulang-ulang, ia bawa
mulutnya ke telinga nona itu. Sia-sia saja. Cie Hoa tidak
mendengar, dia tidak menyahuti atau membuka matanya.
Maka ia menjadi berkuatir hingga ia menangis.
"Kasihan enci Kok..." katanya.
"Menurut Tong Sian Siangjin dia tidak terluka," kata Ciong
Tian, "dia cuma tak sadarkan diri, kalau sebentar Siangjin tiba,
tentu dia dapat dibikin mendusin. Maka itu baiklah sumoay
jangan berduka..."
"Kau mana tahu hatiku?" kata Kim Bwee. "Aku ingin enci
Kok lantas mendusin. Banyak yang aku hendak tanyakan
padanya. Dalam beberapa tahun ini aku sangat kesepian, tak
dapat aku mencari seorang juga yang dapat aku ajak bicara
dari hati ke hati..."
Parasnya Ciong Tian guram. Dengan paksakan diri ia
tertawa dan kata: "Sungguh aku mengagumi enci Kok kau ini.
Belum lama kau kenal dia tetapi kau sudah anggap dia
sahabatmu satu-satunya yang mengenal dirimu... Benarlah,
setiap orang ada jodohnya masing-masing, jodoh itu tak dapat
dipaksakan!"
Kim Bwee nampak heran.
"Suko, kau tahu apa?" dia tanya.
"Aku kata setiap orang ada jodohnya sendiri dan jodoh itu
tak dapat dipaksakan." Ciong Tian menjawab. "Umpamakan
kita berdua saja. Kita bergaul semenjak masih kecil, terus
sampai sekarang kita sudah dewasa, akan tetapi di mata kau,
aku tak dapat disamakan dengan Kok Cie Hoa..."
Ciong Tian tidak pandai bicara, kata-katanya ini terpaksa
keluar dari mulutnya, terdesak oleh rasa hatinya. Ia
sebenarnya berduka dan menyesal, pedih hatinya.
Kim Bwee cuma ingat Sie le, ia melupakan segala apa,
sekarang ia mendengar suaranya kakak seperguruan itu, baru
ia menginsyafi hati orang. Ia berdiam.
Angin malam membawa datang harumnya bunga. Sinar
rembulan pun molos dari antara daun-daun di luar jendela.
Sinar itu bagaikan mengintai mereka berdua. Jernih cahaya si
Puteri Malam menyinarkan muka putih dan halus dari Kim
Bwee, paras yang bersorot dadu.
Ciong Tian tunduk, tak berani ia mengawasi adik
seperguruan itu.
Kim Bwee terus berdiam, matanya memandang keluar
jendela. "Suheng, aku tahu kau sangat memperhatikan aku," sesaat
kemudian tiba-tiba ia berkata kepada si pemuda, "karena itu,
aku sangat bersyukur terhadapmu. Justeru kita bergaul
bersama sedari kecil hingga besar ini, aku telah memandang
kau sebagai sanak. Tidak ada orang yang dapat menggantikan
kau dan aku pun tidak memikir untuk mencari lain orang
untuk dibandingkan denganmu. Tapi terhadap enci Kok, aku
mempunyai pandanganku sendiri. Aku menyukai dia, aku
mengaguminya, aku pun merasa kasihan. Suheng, kau, kau
mengertikah?"
"Aku mengerti," sahut sang suheng, perlahan, wajahnya
guram. "Cuma... cuma...?"
"Cuma apakah?" si nona tanya.
Pemuda itu menghela napas.
"Ah, sudahlah, lebih baik tak usah dikatakan..." katanya,
lesu. "Kau telah ketahui hatiku, itu sudah cukup..."
Kim Bwee menyebut Cie Hoa, sebenarnya hatinya
maksudkan Sie Ie. Ciong Tian dapat menebak itu. Ingin
pemuda ini menyebut bahwa orang yang sudah mati tak nanti
hidup pula, akan tetapi karena si pemudi tak menyebut
langsung nama orang, ia tidak leluasa mengatakannya jelas.
Pikiran Kim Bwee menjadi kalut.
Sunyi di sekitar mereka.
Tiba-tiba, kata-kata yang mereka tidak berani menyebutnya
itu, mendadak keluar dari mulutnya Kok Cie Hoa.
"Sie Ie.. Sie le..." demikian suara sangat perlahan dari Nona
Kok. Kim Bwee mendengar itu tegas sekali, ia terkejut.
"Enci, bangun!" ia berkata cepat seraya menggoyak tubuh
orang, la terkejut hingga ia tak dapat memikir lainnya
daripada segera mengasih bangun nona di hadapannya itu.
Cie Hoa tidak bangun, ia cuma menggidik tubuh. Kembali
terdengar suaranya yang perlahan sekali, ngelindur "Sie le...
Sie Ie... jangan tinggalkan aku... Oh, ya, yang bersih itu
bersih, yang kotor, kotor sendirinya... Kau... kau benar... Kau,
jangan kau pergi..."
Hati Kim Bwee bercekat. Dengan lantas ia menotok jalan
darah lenghu dari nona itu seraya ia menanya: "Enci Kok, apa
kau bilang" Inilah aku di dampingmu! Kau menyangka aku
siapa"..."
Tubuh Cie Hoa bergerak seperti menggigil, terus matanya
ditutup, sedang tadi ia membukanya mendelong. Ngelindurnya
itu pun lantas berhenti.
Kim Bwee kaget. Ia menotok untuk menyadarkan,
sebaliknya ia membuat orang lupa ingatan pula.
Tadi Phang Lim telah menotok Cie Hoa, totokan itu tidak
menyadarkan lantas pada si nona akan tetapi toh bekerja
juga, membikin asabat tergerak, setelah berselang sekian
waktu itu, Cie Hoa sadar bagaikan bermimpi, ia merasa ada
orang yang berkesan paling dalam dalam hatinya, orang yang
senantiasa ia mengingatnya.
Totokan Sin Thong bertentangan dengan totokan ilmu
lurus, itulah sebabnya kenapa totokan Kim Bwee berakibat
sebaliknya daripada apa yang diingin pemudi ini, membikin Cie


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hoa bukannya mendusin hanya menjadi tak ingat suatu apa
lagi... Kim Bwee bingung dan menyesal, ia sangat berduka. Ia
menjublak saja. Selagi ia berdiam itu, ia mendengar suaranya
Ciong Tian. Pemuda itu kata: "Aku mengira Kang Lam si
banyak bacot ngoceh saja, kiranya dia... dia benar..."
"Suheng," tanya si pemudi, "suheng, kau kata apa" Kang
Lam... dia... apa dia bilang?"
"Kang Lam bilang semasa hidupnya Sie Ie, Sie Ie sangat
baik terhadap Cie Hoa," sahut Ciong Tian, "bahwa selama
pertempuran di Binsan dulu hari, Sie Ie sudah membelai
sangat nona itu. Maka itu, nampaknya, sampai sekarang Cie
Hoa tak dapat melupai Sie le. Ah, sayang, sayang orang yang
sudah meninggal dunia tidak dapat hidup pula..."
"Ah, sudahlah!" kata si nona. "Sudah, jangan sebut-sebut
pula itu, jangan sebut-sebut pula itu!"
Tapi ia hanya berdiam sedetik, lantas ia menanya:
"Sebenarnya peristiwa di Binsan itu peristiwa bagaimana?"
"Sekarang ini orang telah mati satu dan hidup satu, buat
apa menimbulkan pula peristiwa itu?" kata si pemuda. "Ya,
memang benar, lebih baik kita jangan menyebut-nyebutnya
pula..." "Tidak, tidak demikian!" kata Kim Bwee. "Mereka berdua
sahabat-sahabatku yang paling karib, segala apa mengenai
diri mereka, ingin aku mendapat tahu, maka itu kau... kau
bicaralah!"
Pembelaan Sie Ie terhadap Cie Hoa di Binsan itu diketahui
oleh Rimba Persilatan, cuma Kim Bwee sendiri yang belum
mendapat tahu, karena terhadapnya semua itu dirahasiakan.
Sekarang timbul ngelindurnya Cie Hoa itu, Kim Bwee jadi
tertarik hati. Ciong Tian didesak, ia lantas pikir: "Jikalau aku
menuturkannya, mungkin peristiwa itu akan membikin dia
berhenti memikirkan Sie Ie, mungkin hatinya lantas menjadi
lega..." Maka ia memberikan penuturannya, akan akhirnya
menambahkan: "Bukankah pada empat tahun yang lalu itu
pernah kau mendengar dari Kang Lam halnya orang pergi ke
gunung Laosan mencari tahu perihal Kim Sie Ie" Katanya
ketika itu dia telah bersiap sedia bersama Kok Cie Hoa pergi
berlayar di laut, hanya entah kenapa, kejadiannya dia
berangkat bersama si nona she Le..."
"Dari siapa kau dengar hal ini?"
Kim Bwee tanya setelah ia berdiam sekian lama dengan
mendengari saja.
"Ah..." sahut si anak muda, "apakah ibumu belum pernah
memberitahukannya kepadamu?"
Sengaja pemuda ini menanya demikian meski ia tahu
Phang Lim memang menyembunyikan segala apa mengenai
Sie Ie terhadap anak daranya itu. Ia pikir sekalian bicara
bolehlah ia mengatakannya, untuk membikin pemudi ini
benar-benar melupakan Tokciu Hongkay yang aneh sifatnya
itu. Biarlah si nona menderita sebentar, nanti toh dia
melupakannya untuk selama-lamanya. ..
Luar biasa adalah Lie Kim Bwee. Setelah mendengar semua
itu, ia tak menjadi seperti apa yang diterka si pemuda. Ia
cuma berdiam saja. Baru kemudian dengan suara sedih
ngoceh sendirian: "Enci Kok, aku cuma tahu aku harus
dikasihani, siapa sangka kau justeru harus terlebih dikasihani
daripada aku... Aku masih mempunyai ibu, masih mempunyai
saudara seperguruan, kau sebaliknya, kau telah kehilangan
dia, sekarang kau tidak mempunyai lain orang siapa pun
juga... Ah, kenapa orang mati tak dapat hidup kembali"...
Kenapa orang mati tak dapat hidup pula" Aku... aku percaya
dia akan suka mendengar perkataanku, supaya dia dan kau
jangan berpisah untuk selama-lamanya..."
Nona ini sangat polos. Tak dapat dia melupakan cintanya
yang pertama. Akan tetapi setelah dia mengetahui Cie Hoa
menyintai Sie Ie seperti dia menyintainya, bukannya dia jelus
atau cemburu, sebaliknya dia berkasihan terhadap nona she
Kok itu. Malam itu malam tanggal lima belas, rembulan besar dan
bundar mencapai batasnya, cahayanya menembusi cabangcabang
pohon berikut daun-daunnya. Kim Bwee berdiam
memandangi sinar yang permai itu. Ia berdiam bagaikan
patung. Suasana pun tetap sunyi.
Ciong Tian mengawasi dengan berdiam saja. Ia dapat
menenangkan hatinya. Tapi tiba-tiba ia melihat air mata
mengetel dari kedua matanya si nona yang bagaikan patung
dewi itu. Ia heran, ia menduga-duga. Apa si nona pikirkan" Sie
Ie yang tak dapat hidup pula atau Cie Hoa yang seperti mayat
itu" Ataukah ada lain orang lagi atau ia menangisi dirinya
sendiri" Apa sebenarnya dipikirkan Kim Bwee"
Nona ini lagi memikirkan pengalamannya empat tahun
yang lalu, ketika ia dikurung Beng Sin Thong di dalam kamar
batu. Itulah saat pertemuannya yang pertama kali dengan Kok
Cie Hoa,nona yang sekarang rebah tak berdaya di hadapannya
ini. Begitu ia berbicara dengan Cie Hoa, hati mereka menjadi
seperti satu. Mereka merasa sangat cocok satu dengan lain.
Dengan jujur Cie Hoa tak menyembunyikan rasa hatinya
terhadap Sie Ie, nona itu menunjuki dia pergi ke Laosan akan
menyusul pemuda itu, dan kemudian bersama Tan Thian Oe,
mereka menolongi-nya. Ia ingat waktu mereka bicara dari hal
Sie Ie, matanya Cie Hoa mengembeng air. Ia menyangka Cie
Hoa berduka untuk dirinya. Sekarang ia mengerti, kedukaan
Cie Hoa itu sama seperti kedukaannya sekarang ini. Sie Ie-lah
yang dipikirkan...
Hanya itu waktu, Kim Sie Ie masih hidup di dalam dunia
yang fana ini. Ketika itu Cie Hoa mempertahankan diri
menderita, tak bersangsi dia memberitahukan Kim Bwee
halnya Sie le itu. Ketika itu beda adalah Seng Lam, yang
mendustainya. Mengertilah ia sekarang, supaya ia teramprok
dengan Sie Ie, Cie Hoa suka berkorban.
Sinar rembulan menyoroti Cie Hoa, yang terus rebah tak
berkutik. Di mata Kim Bwee, dia seperti lebih jernih daripada
si Puteri Malam.
"Enci..." ia memanggil, pelahan, hatinya pedih. "Kasihan,
kasihan, dia telah meninggal dunia.
Dengan "dia", dimaksudkan Sie Ie.
"Sumoay," Ciong Tian berkata, "kau... kau..."
"Aku tidak menangis," sahut Kim Bwee cepat. Ia bertindak
ke jendela untuk mementangnya lebar-lebar. Ia menyedot
hawa segar, guna melegakan hatinya. Diam-diam ia pun
menepas air matanya.
Tengah memandang keluar itu, mendadak Nona Lie
terperanjat, ia seperti melihat bergeraknya suatu bayangan
orang di antara cabang-cabang pohon, yang bergerak dengan
tiba-tiba. Hanya sekejab bayangan itu lenyap.
"Sie Ie!" ia memanggil, keras suaranya. Hanya sedetik itu,
ia ingat Tokciu Hongkay.
Malam tetap sunyi, rembulan indah, bayangan tak ada.
Kim Bwee mendelong, hatinya bekerja.
"Sumoay," Ciong Tian menanya, "kau... kau melihat
siapakah?" Ia menanya tetapi ia lari ke pintu, membukanya
dan terus lompat keluar. Disana ia tidak melihat apa juga.
"Mungkin mataku kabur..." kata Kim Bwee perlahan: "Dia...
dia mana dapat hidup pula..."
Ciong Tian melawan kedukaannya, ia memaksa tertawa.
"Kau dan dia sahabat-sahabat karib," katanya, "karena aku
menyebut-nyebut dia, kau lantas teringat akan dianya, lantas
kau memikirkannya, tidak heran apabila bayangannya pun
berpeta di hadapan matamu..."
"Aku mau pergi kepada ibuku," kata Kim Bwee. "Aku
merasa sedikit takut... Barusan enci Kok ngelindur, mungkin
dia sudah mulai mau sadar, maka itu baiklah ibu menotoknya
pula..." "Baiklah aku yang pergi, kau menemani disini," kata si
pemuda, ia belum menutup mulutnya, mendadak ia merasa
ada yang meniup samping telinganya, meniup dengan
perlahan sekali, la menjadi kaget.
Justeru itu, Kim Bwee berseru tajam, seperti orang yang
kaget dan ketakutan.
Dalam kagetnya, Ciong Tian berpaling, la memang sudah
bertindak keluar, juga si nona, yang bertindak belakangan.
Ketika ia melihat ke pembaringan, ia menjadi kaget luar biasa.
Itulah pemandangan yang membikin si nona menjerit.
Kamar mereka kosong, tak ada orang disitu, juga tidak
tubuhnya Cie Hoa, yang tadi rebah berdiam saja dengan
didampingi mereka...
Kim Bwee menjublak sebentar, lantas ia lari ke dalam. Juga
si anak muda. "Lihat ini!"seru Ciong Tian. "Ini pintu..."
Di samping pembaringan ada sebuah pintu kecil, tadi pintu
itu tertutup, ketika si anak muda menarik membukanya,
palangannya sudah tidak ada di tempatnya. Maka teranglah
orang masuk dan keluar dari pintu itu, untuk menculik Cie
Hoa. Siapakah orang itu" Dia liehay sekali! Dia dapat menculik
secara demikian cepat! Di dalam kamar itu tak ada bekasbekasnya
juga... Lantas muda-mudi ini lari keluar, untuk memburu.
Rembulan terang, tak ada lain orang disitu. Cuma kesunyian
yang menguasai jagat. Inilah mereka mengerti. Mereka telah
menduga, tak nanti mereka mendapati Cie Hoa serta
penculiknya itu...
Tengah mereka ini berdiri diam, sang angin membawakan
harum bunga yang terasa harum luar biasa. Mereka menoleh
dan mengawasi. Ingin ketahui, dari mana datangnya bau
harum itu. Keduanya lantas melihat, tak terpisah jauh dari
mereka, ada tiga bocah pohon kembang, pohonnya tak tinggi
tetapi bunganya besar sebesar mangkuk, warnanya merah
dan putih, nampak sangat segar. Mereka tidak kenal pohon
bunga itu. "Bagaimana ini?" kata Ciong Tian. "Heran! Kenapa kepalaku
rasanya pusing seperti habis minum arak" Eh, mengapa aku
merasa lesu?"
Mendadak Kim Bwee menghunus pedangnya.
"Siapa?" tanyanya keras. Pertanyaan itu mendapat jawaban
dalam rupa bayangan dua sosok tubuh yang lompat keluar
dari belakang gunung-gunungan, lalu terlihat tegas, yang satu
dandan sebagai opsir tentera, yang lainnya berbaju kuning.
Dan si opsir segera tertawa nyaring.
"Kedua bocah, jangan kamu lari!" katanya. Kemudian dia
meneruskan kepada kawannya: "Kedua bocah ini besar
faedahnya untuk kita! Loo Cee, jangan ganggu jiwa mereka!"
Enak dia bicara, dia seperti menganggap sepasang mudamudi
ini sebagai benda dalam sakunya.
Kim Bwee gusar sekali, lantas ia menikam.
Opsir itu bersenjatakan sebatang cambuk kulit, dengan itu
ia menangkis sekalian mencoba melibat pedang si nona,
Berbareng dengan itu, Ciong Tian pun menyerang.
Kim Bwee mau meloloskan diri, ia menolak pedangnya
dengan tipu silat "Meluncurkan tangan menolak perahu".
Kaget opsir itu. Inilah di luar dugaannya. Luar biasa,
sesudah mencium harum bunga-bunga hantu-si nona masih
demikian gagah. Pula ujung pedangnya Ciong Tian sudah
menobloskan ujung bajunya sebab tak keburu dia menarik
pulang cambuknya, hampir ujung pedang itu mampir pada
kulit dagingnya!
Si baju kuning menyaksikan itu, dia tertawa dan kata:
"Benar liehay ilmu pedang Thiansan Kiamhoat!" Sambil
berkata itu, dia menyerang dengan tangan kosong. Angin dari
tangannya itu membawa bau yang harum sangat.
CiongTian terhuyung, hampir tak kuat dia menancap kaki.
Di samping bau harumnya itu, tolakan si baju kuning kuat
sekali. Ia lantas melawan dengan menggunai ilmu pedang
"Sumeru Besar", salah satu ilmu pembelaan diri dari ilmu
pedang Thiansan Pay. Dengan itu ia seperti menutup dirinya
dengan pedangnya itu.
Si baju kuning liehay akan tetapi, dengan bertangan
kosong, tak dapat dia lekas-lekas memperoleh hasil guna
merobohkan atau membekuk lawannya.
Si opsir juga sementara itu telah berhasil meloloskan
cambuknya. Untuk ini dia memerlukan bantuannya si baju
kuning siapa, di satu pihak mendesak Ciong Tian mundur, di
lain pihak ia menyampok mental pedang si nona. Untuk itu ia
menggeraki kedua tangannya kiri dan kanan.
Menggunai kesempatan Ciong Tian terdesak, si opsir
berlompat ke belakang orang, untuk menghajar dengan
cambuknya itu, hingga punggungnya si pemuda terkena juga,
sampai bajunya robek dan pada punggung itu kedapatan
tapak balan yang panjang.
Lie Kim Bwee terkejut, ia menjadi gusar, maka ia maju
pula. Ketika itu si opsir menjerit keras, tubuhnya mencelat, sebab
Ciong Tian yang gusar, sudah memakai pundaknya sebagai
sasaran ujung pedang.
Kim Bwee menikam, ia menikam tempat kosong. Di lain
pihak ia kaget melihat tangan si baju kuning menyambar
lengannya. Ia kaget sebab ia merasai gerakannya menjadi
ayal. "Jangan kuatir!" si nona mendengar suaranya Ciong Tian di
dekat telinganya. "Kau membaliki belakangmu kepada
belakangku!"
Pemuda itu berlompat mendekati nona, yang ia lihat ayal
tidak keruan-keruan itu. Kemudian ia menarik tangan si nona,
untuk berkelahi bersama. Ia bertempur dengan mati-matian
karena ia melihat kedua musuh itu tangguh sekali. Ia pun
mengubah siasat, dari menjaga diri menjadi menyerang.
Walaupun sepasang muda-mudi itu liehay, si baju kuning
masih dapat tertawa.
"Aku mau lihat, bocah-bocah, sampai berapa lama kamu
dapat bertahan!" dia kata. "Pek Laotee, kau juga jangan
terburu napsu ingin lekas-lekas membereskan mereka!"
Ciong Tian dan Kim Bwee melawan terus. Tetap mereka
menempelkan punggung mereka, agar tak ada musuh yang
membokong. Mereka saling merasakan tersalurnya hawa
hangat dari tubuh masing-masing. Dalam keadaan seperti itu,
mereka dapat bekerja sama dengan erat.
Semenjak tadi, Lie Kim Bwee seperti mengenali si opsir,
setelah mendengar suaranya si baju kuning, mendadak ia


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ingat orang ialah Pek Liang Kie, hutongnia atau komandan
muda dari pasukan Gielimkun. Dulu hari itu orang she Pek ini
pernah muncul di gunung Binsan, maka heran dia berani
muncul pula di saat orang lagi berkumpul dalam jumlah besar.
Selagi bertempur itu, Kim Bwee juga heran untuk ibunya.
Kenapa ibu itu tidak segera muncul" Mustahil dia tak tahu
adanya pertempuran itu" Kenapa ibu itu diam saja"
Dalam perimbangan, kega-gahannya Pek Liang Kie tak ada
di bawahan Kim Bwee, sebaliknya si baju kuning mengatasi
mereka semua. Pula ruginya untuk Kim Bwee dan Ciong Tian,
mereka sudah menyedot harumnya bunga asura, hingga
tenaga mereka menjadi berkurang sendirinya.
Dua kali lagi tangan Ciong Tian terhajar cambuk, sampai
lengannya itu luka matang biru.
Kim Bwee lantas berteriak memanggil ibunya, tetapi sia-sia
belaka teriakannya itu. Phang Lim tak juga muncul, pula tak
ada jawabannya. Ketika si nona mengulanginya beberapa kali
tanpa hasil, ia menjadi bingung. Ia jadi bertambah lemah.
Dengan berteriak-teriak itu, ia kena sedot pula harumnya
bunga. Sekarang ia merasa kepalanya pusing dan matanya
berkunang, tubuhnya menjadi letih, hingga ia tak dapat
bersilat dengan sempurna. Bahkan lantas samar-samar ia
mendengar tertawanya si baju kuning, yang juga berkata
nyaring. "Roboh! Robohlah!" Bagaikan terkena ilmu sihir,
benar-benar ia lantas roboh tak sadarkan diri...
Ciong Tian terkejut karena ia kehilangan senderan
tubuhnya. Ia menoleh cepat.
"Sumoay, kau..." tanyanya. Tak dapat ia meneruskan
pertanyaannya. Justeru ia berpaling itu, lawannya menotok
padanya. Tepat itu waktu, dari arah depan terdengar suaranya Phang
Lim, akan tetapi sudah terlambat, muda-mudi ini sudah tidak
dapat mendengar lagi, hingga mereka tidak dapat
memberikan jawaban.
Phang Lim tak segera muncul sebab ia pun terhadang
lawan yang liehay, yang melebihkan Pek Liang Kie dan si baju
kuning ini. Tibanya Liang Kie itu dapat diketahui nyonya she Phang ini.
Ia tengah bersamedhi ketika ia mendengar suara berkresek
perlahan di atas genting. Dengan lantas ia pergi keluar untuk
melihat. Ia mendapatkan orang menuju ke arah barat dimana
ada lauwteng perpustakaan. Ketika orang lompat ke atas
pohon, ia melihat cukup tegas orang itu. la mengenali orang
ialah pecundangnya selama di gunung Binsan.
"Kiranya kau, binatang!" pikirnya, dan ia pun bersenyum.
"Kau bernyali besar berani datang kemari" Apakah kau hendak
melakukan pencurian karena kau menyangka wihara ini
sedang kosong?"
Jikalau ia mau, mudah Phang Lim membekuk Liang Kie.
Sebenarnya ia sudah memetik daun, untuk menimpuk dengan
ilmu silatnya, "Huihoa Tekyap", atau "Menerbangkan bunga,
memetik daun". Mendadak ia mengubah pikiran: "Binatang ini
komandan muda Gielimkun. Mau apa dia datang kemari" Baik
aku mengintai dulu, untuk mendapat kepastian dia
mempunyai konco atau tidak. Dia perlu dikuok!"
Lagi berpikir itu, ia melihat satu bayangan berkelebat di
sebelah timur laut, di paseban peranti menyambut tetamu.
Itulah seorang bertubuh tinggi besar yang pakaiannya kuning.
Ia pikir: "Dia lebih liehay daripada Pek Liang Kie tetapi si Bwee
dan Ciong Tian pasti dapat melawan mereka, baik aku sabar
dulu, aku menanti kalau-kalau ada lain kawannya lagi yang
terlebih liehay..."
Tiba-tiba nyonya gagah ini terkejut. Mendadak angin
menghembuskan bau yang harum. Ia segera berpaling ke
arah dari mana angin itu datang. Disana di antara rumput ia
melihat dua pohon bunga merah dan putih, yang bunganya
belasan tangkai.
"Celaka!" ia berseru dalam hati. Ia pernah pesiar beberapa
tahun di Tibet dan mengenal baik bunga asura yang beracun.
Ia sendiri boleh tidak usah takut tetapi bagaimana dengan
gadisnya dan Ciong Tian" Ia pun heran atas terdapatnya
bunga ini di wilayah Tionggoan.
Untuk menjaga diri, Phang Lim lantas mengerahkan tenaga
dalamnya, menutup jalan darahnya, setelah mana ia
menggunai ilmu lari pesat "Patpou Kansiam" untuk menyusul.
Justeru itu dari arah tenggara ia mendengar samar-samar
suara berisik. Itulah arah dimana ada kuburannya Tokpie
Sinnie, Couwsu dari Binsan Pay. Itu pula tempat dimana pihak
Binsan Pay lagi bertarung dengan pihak Beng Sin Thong.
Heran Phang Lim mendengar suara itu. Ia dapat menduga,
mereka yang lagi bertempur mesti orang-orang yang liehay. Ia
pikir: "Kalau bukannya orang-orangnya Beng Sin Thong liehay
sekali, pastilah di pihak Binsan Pay turun tangan ketua
pelbagai partai..."
Apa juga adanya, itulah tanda bahwa pertempuran sudah
mencapai babak yang berbahaya. Kalau sampai pelbagai ketua
turun tangan, itulah bukti suasana buruk mengancam pihak
Binsan Pay. Dugaan Phang Lim tepat. Itulah saat rombongannya
Seebun Bok Ya datang mengacau hingga dua-dua pihak
rombongannya Beng Sin Thong dan Binsan Pay menjadi
korban. Pihak Seebun Bok Ya bekerja dengan rencana sempurna. Di
satu pihak ia bersama dua belas jago berbaju kuning itu pergi
ke tempat adu jiwa, di lain pihak lagi satu rombongannya
dikirim ke biara Hian Lie Koan, cuma rombongan ini lebih kecil
jumlahnya, yaitu melainkan empat orang. Pek Liang Kie
berdua si baju kuning maju lebih dulu, masuknya dari taman
di belakang biara. Yang dua lagi mengawasi Phang Lim.
Saking liehay-nya, nyonya ini mendapat tahu dimana orang
bersembunyi, segera ia mengayun tangannya, menimpuk
mereka itu. Satu suara tertawa dingin terdengar, lalu satu bayangan
berlompat keluar. Dialah seorang dengan baju kuning, yang
tubuhnya lebih jangkung daripada kebanyakan orang
berbadan tinggi. Dengan tangannya yang besar dan lebar, dia
menyerang si nyonya, yang hendak disambar.
Selagi tangan orang itu datang dekat, Phang Lim mendapat
cium bau bacin. Ia telah memiliki tenaga dalam yang liehay,
toh bau itu membuatnya mual, membikin ia merasa tak
nyaman. Tentu sekali ia tidak sudi membiarkan kepalanya
kena dieengkeram. Sambil berkelit, ia memotes sebatang
pohon panjang kira-kira tiga kaki, untuk dengan itu membalas
menyerang ke dada orang. Ia menggunai ilmu silatnya
Pekhoat Molie, si Rambut Putih.
Si baju kuning berkelit. Ia gesit sekali, ia dapat
menyelamatkan dadanya. Tapi tengah berkelit itu, ujung
cabang menyambar kepalanya, menyampok kopiahnya, yang
terlempar jatuh, maka terlihatlah kepalanya - sebuah kepala
gundul licin, karena dialah seorang pendeta.
Ketika itu orang yang kedua sudah berlompat keluar juga
dari tempat sembunyinya. Dia bertubuh katai dan dampak,
hingga dengan berdiri tegak, dia ada sebatas pinggang si
nyonya. Dia bersenjatakan sebatang kebutan.
Phang Lim melayani si katai ini. Dia pun gesit sekali, tetapi
dia masih kena disambar kopiahnya sampai jatuh, hingga
terlihatlah kundainya yang tinggi. Maka sekarang ternyata,
dialah seorang imam.
Pertempuran satu lawan dua itu menjadi hebat. Si pendeta
dan imam bekerja sama. Mereka benar-benar liehay. Samasama
mengenakan baju kuning, tubuh mereka berkelebatan
kuning melulu. Mereka juga berlaku licik, setiap kali habis
menyerang, mereka lantas lompat mundur, tetapi tetap
mereka mengambil sikap mengurung.
Masih ada keistimewaan kedua musuh itu. Muka mereka
terang telah terkena timpukan daunnya Phang Lim tadi,
daunnya masih nempel. Kalau muka si pendeta menjadi
seperti lagi tertawa, muka si imam meringis menyeringai.
Yang aneh ialah muka mereka itu tidak mengeluarkan darah.
Mereka itu nampak bengis seperti hantu.
Ilmu "Huihoa Tekyap" dari Nyonya Phang dapat
menyebabkan kematian korban sasarannya, tetapi heran dua
orang ini, mereka tidak terluka, mereka tidak mengeluh
kesakitan. "Kenapa muka mereka begini tebal dan kuat" Apakah itu
bukan terdiri dari darah dan daging?" ibu Kim Bwee berpikir.
Si pendeta tinggi besar itu tertawa dingin, mendadak dia
menyambar dengan tangannya yang besar dan lebar. Seperti
tadi, tangannya itu menyiarkan bau yang busuk, bahkan
sekarang lebih busuk lagi.
Phang Lim berkelit sambil membalas menikam dengan
pedang cabang kayunya itu.
Si pendeta menjadi cerdik sekarang. Dia waspada, maka
dia bebas dari serangan membalas itu. Habis itu, Phang Lim
terus menyerang si imam katai. Dia ini berkelit sambil terus
berlompat tinggi, hingga dia melewati tingginya si nyonya,
selagi turun, dia menyerang. Dia tetap gesit dan lincah.
Ibunya Kim Bwee juga berlaku gesit dan waspada. Musuhmusuhnya
ini liehay semua dan aneh juga. Ia berkelit seraya
terus menggeser tubuh. Berbareng dengan itu ia meniup ke
arah kebutan lawan. Hebat tiupannya ini, ia menyebabkan
kebutan terbuka buyar.
Si imam katai kaget. Justeru itu, ia kena tertikam pada
pundaknya, bajunya robek, darahnya mengucur turun. Telak
tusukan pedang kayu itu.
Si pendeta melihat kawannya terluka, segera dia
menyerang dengan Pekkhong Ciang sampai dua kali beruntun.
Itulah pukulan "Udara kosong" yang liehay, yang dilakukan
cepat sebelum si nyonya menginjak tanah. Menyerang si katai,
Phang Lim melakukannya sambil mengapungi diri, sebab ia
berkelit sambil berlompat tinggi.
Dengan cepat-cepat turun, Nyonya Phang menyelamatkan
dirinya. Si katai itu heran. Pundaknya berdarah, tetapi mukanya
tidak. Ketika Phang Lim meniup ke mukanya, hingga daun
yang nempel itu terbang pergi, disitu cuma ada tapak kentop
celong, tidak ada luka berdarah.
Sampai disitu, Phang Lim lantas ingat suatu apa. Ia tertawa
dingin kepada dua lawannya itu, ia kata: "Kiranya kamu dua
siluman yang tak mau mampus! Siapa sangka disini kamu
bawa lagak hantumu guna menakut-nakuti orang! Tong
Tayhiap dapat berlaku murah atas diri kamu, aku tidak!"
Sebenarnya, si imam katai itu bernama Ku Chong Cu,
sedang si pendeta asal pendeta asing suku Ouw, yang
setibanya di Tionggoan memakai nama Tie Too An. Ku Chong
Cu dari partai Pauwpok Pay, suatu cabang dari Tookauw, dan
yang dipujanya sebagai couwsu, kakek gurunya, yaitu Kat
Hong, imam pembuat obat pel di jaman kerajaan Chin. Maka
di samping membuat obat-obatan, dia juga dapat membikin
hu, atau surat jimat, dan lainnya ilmu kiri yang disebut
Pangbun Cotoo. Di Tionggoan dia tidak berhasil, dia pergi ke
perdalaman, ke perbatasan, berniat membangun partai agama
di Mongolia atau Tibet. Ia gagal pula, sebab penduduk sana
memuja pendeta Lhama mereka.
Berbareng dengan petualangan Ku Chong Cu itu, Tie Too
An dari Khwarazm tiba di Mongolia. Dia ingin membangun
wihara, untuk menerima murid-murid pengikut. Disini
keduanya saling bertemu, lalu mereka mengikat
persahabatan- Perbedaan agama tidak menyebabkan mereka
asing atau jelus satu pada lain, bahkan mereka bersatu padu.
Lantas datang masanya mereka bentrok dengan pihak Lhama
Merah dan melukai tujuh Lhama kelas satu. Hoat-ong, atau
raja Lhama Merah, lantas mengirim murid kepalanya kepada
Tong Siauw Lan memohon bantuan.
Tong Siauw Lan menerima baik permintaan itu, kesatu
karena ia sukar menolak permintaan raja agama itu, kedua ia
telah mendengar pendeta imam itu sering melakukan
kejahatan di Tibet dan Mongolia. Ia pergi seorang diri. Dalam
pertempuran, dengan menggunai pedang Yuliong Kiam dan
Thiansan Sinbong, Chong Cu dan Too An kena dirobohkan. Ku
Chong Cu kena dipapas kutung jari manisnya, Tie Too An kena
dihajar sinbong pada mukanya. Sejak itu keduanya pergi
menyembunyikan diri, sampai di saat ini, sudah berselang tiga
puluh tahun. Phang Lim mendapat tahu lakon mereka dari penuturannya
Siauw Lan. Sang waktu sudah lewat begini lama, ia telah tak
ingat lagi. Tapi mereka itu mudah dikenali, ialah dari tubuh
mereka yang tinggi dan katai luar biasa, yang ilmu silatnya
pula tak sama dengan ilmu silat pelbagai partai di Tionggoan.
Kepastian didapat setelah terlihat, tangan kiri si imam katai
cuma empat jerijinya.
Kedua orang itu gusar sekali rahasia mereka pecah. Tie Too
An tertawa dingin dan kata: "Aku justeru mau mencari pihak
Thiansan Pay. Sekarang aku bertemu denganmu, baiklah, kau
bolehlah rasai tangan Budha kamu!"
Ku Chong Cu juga tertawa dingin dan berkata: "Lihat saja,
siapa yang tak bakal diberi ampun! -Tooheng, aku tahu,
perempuan tua ini iparnya Tong Siauw Lan, maka marilah kita
ringkus dia dulu, setelah itu jangan kau kuatir Siauw Lan tidak
bakal datang mengantarkan dirinya, hingga kita dapat
menghemat tempo dan tenaga, tak usah kita sendiri pergi ke
Thiansan!"
Phang Lim paling jemu mendengar orang menyebut ia
sudah tua, maka itu tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyerang
dengan sengit, hingga dengan pedang cabangnya itu ia
seperti mengurung kedua lawannya.
Mendadak Ku Chong Cu menjerit keras. Selagi ia terdesak
itu, ujung kayu mampir di mukanya, hingga pipinya terluka.
Tapi juga Phang Lim tidak berhasil seluruhnya. Tiba-tiba
hidungnya terserang bau bacin yang keras sekali, selagi ia
repot, pundaknya kena totokannya Tie Too An, sampai pada
bajunya bertanda dua tapak jari yang merah
Dengan pecahnya muka Chong Cu, terlihatlah wajahnya
yang asli. Nyata dia, seperti Too An, telah memakai topeng.
Dia pun telah menggunai akal yang berbahaya untuk dirinya,
la kena tersontek karena separuh disengaja, supaya Too An
berhasil menyerang selagi ia diserang itu, selagi si nyonya
belum sempat mtnarik pulang tangannya. Coba Phang Lim
menggunai pedang benar mungkin ia tidak berani berbuat
demikian.

Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Phang Lim terkejut. Ia menyesal yang ia sudah berlaku tak
sabaran. Karenanya, ia lantas berbalik terdesak kedua
lawannya itu, yang licik dan tangguh. Mereka itu memang
liehay, tempo dulu hari mereka menempur Tong Siauw Lan,
sampai satu hari lamanya barulah mereka kena diusir kabur.
Kalau tadi ia tetap berlaku tenang, tak mudah ia berbalik
terdesak. Pula sekarang, kedua musuh itu menggunai bunga
asura, sedang pundaknya telah tertotok.
Totokan Tie Too An itu totokan "Tokhiat Ciang", atau
"Tangan Berbisa", suatu ilmu liehay kaum sesat, benar itu
kalah hebat bila dibanding dengan Siulo Imsat Kang,
sebaliknya dari hawa dingin, dia mengeluarkan bau busuk
yang beracun. Phang Lim dapat menghalau racun, tetapi bau busuk itu
tetap memualkannya, hingga ia mau muntah-muntah. Adalah
di saat ia terkepung itu, ia mendengar panggilannya Kim
Bwee, puterinya. Ia tidak berani membuka mulut untuk
menyahuti. Ia tetap percaya anaknya itu berdua Ciong Tian
dapat melayani Pek Liang Kie dan si orang berbaju kuning. Ia
memikir untuk merobohkan dulu kedua musuh itu, baru ia
pergi melongok anaknya. Maka kesudahannya ia menyesal
dan mulai berkuatir. Dua lawan ini makin lama terasa makin
tangguh. Sedang Kim Bwee dan Ciong Tian, lantaran
gangguannya bunga hantu, akhirnya kena ditangkap musuhmusuhnya...
Paling belakang, Phang Lim memberi penyahutan juga
kepada anaknya. Justeru ia membuka mulutnya, justeru ia
kena menyedot bau bacin berikut harumnya bunga hantu.
Hebat bau busuk tangan Tok Hiat Ciang dari Tie Too An itu. Ia
merasa kegelapan dan napasnya sesak. Sudah begitu, kebutan
Chong Cu pun melibat pedang cabang kayunya itu. Menyusul
itu, Too An meninju dada orang!
Tepat di saat nyonya ini bakal bercelaka di tangan kedua
musuh liehay itu, terjadilah hal di luar dugaannya. Mendadak
Tie Too An menjerit keras disusul dengan teriakan dahsyat
dari Ku Chong Cu. Mereka itu seperti binatang-binatang liar
yang terlukakan hebat, masih mereka perdengarkan suara
dahsyat mereka waktu meninggalkan musuhnya itu, untuk lari
melompati tembok dan menghilang.
Phang Lim seperti tersadar ketika ia dapat menenteramkan
hatinya, ia lantas menyalurkan napasnya, untuk melenyapkan
rasa mual. Ketika ia melihat kelilingnya, disitu ia berada
sendirian saja, cuma si Puteri Malam yang permai yang
menemaninya. Ia menjadi bingung sekali. Apakah yang telah
terjadi" Rupanya ia telah mendapat pertolongan gelap, kalau
benar, siapakah penolong yang menyembunyikan diri itu"
Kenapa dia tak sudi perkenalkan dirinya" Siapa orang yang
demikian liehay, yang dapat melukakan dan membikin kabur
imam dan pendeta yang liehay itu"
Kenapa penolong itu tidak sekalian menolong Lie Kim Bwee
dan Ciong Tian"
Phang Lim bingung hingga sekian lama ia baru dapat
menarik kesimpulan mengenai lenyapnya Cie Hoa, Kim Bwee
dan Ciong Tian, yaitu mereka kena ditangkap dan diculik
musuh, atau mereka tertolong penolong tak dikenal itu, dan di
antara ini, yang terbelakang lebih mungkin. Kalau benar
mereka sudah ketolongan, percuma ia mencari dan menyusul,
toh kemudian kedua pihak bakal bertemu pula. Tentang si
penolong, ia menerka dialah orang liehay tukang mengembara
dan berguyon. Sama sekali tak ia menyangka Sie Ie
Segera setelah itu, nyonya ini ingat bahwa di dalam
ruangan Hian Lie Tian di ujung barat daya biara masih ada
dua belas orang yang terluka, di antara siapa ada sembilan
murid Butong Pay, semua korban terbakar oleh Touw Ciauw
Beng, benar mereka sudah diberi obat tetapi dalam tempo
yang pendek, mereka belum dapat sembuh dan pulih
kesehatannya, jikalau mereka diserbu musuh, itulah
berbahaya, la menjadi berkuatir ketika ia mendengar sesuatu
suara dari arah mereka itu, hingga ia mau menduga mereka
lagi pada jalan merayap...
Apakah mereka itu lagi dikejar musuh" Atau apakah
mereka mengetahui ada musuh dan lagi mencoba
menyingkirkan diri"
Dalam bingung dan kuatirnya itu, Phang Lim lari ke arah
Hianlie Tian. Ketika ia tiba, kembali ia menghadapi kejadian
sangat di luar pemikirannya. Begitu ia sampai di muka pintu,
tanpa mengasih dengar suara lagi, untuk memperkenalkan
diri, ia menolak pintu untuk ncro-bos masuk, tapi sesampainya
di dalam, segera ia diancam ujung pedangnya dua orang
Butong Pay yaitu Siong Sek Toojin dan Kwee Kee Bok!
Kepandaiannya dua orang itu tidak berarti apabila
dibanding dengan Phang Lim tapi toh si nyonya terkejut juga,
hingga ia mesti mengibaskan tangan bajunya guna melibat
pedang mereka itu. Mereka itu terkejut mengenali si nyonya,
dengan lantas mereka menghentikan sikap mereka itu.
Phang Lim mendapatkan orang-orang Butong Pay itu sudah
siap dengan barisan mereka, sedang tiga yang lainnya sembuh
juga, serta sudah siap pula dengan senjatanya masingmasing.
Ia merasa, Siong Sek Toojin dan Kwee Kee Bok telah
pulih tenaganya lima puluh bagian.
Keanehan lainnya ialah udara di dalam pendopo itu. Phang
Lim membaui harumnya soatlian, teratai salju dari Thiansan.
"Apakah artinya ini?" akhirnya ia tanya.
Siong Sek pun memperlihatkan rasa heran.
"Phang Loo cianpwe," kata ia, "bukankah tadi, selagi kami
sadar tak sadar, kau telah datang kemari?"
"Tidak!" menjawab Phang Lim dalam herannya. "Ah,
jangan, jangan pakai banyak adat peradatan! Kita memang
dari partai yang berlainan dan aku benar orang yang terlebih
tua tapi jangan kau memakai kata-kata Loo cianpwe,
panggilanmu itu dapat membikin muka orang keriputan!"
Phang Lim sudah berumur mendekati enam puluh akan
tetapi parasnya paras orang usia lebih kurang empat puluh
tahun, dan ia, seperti masa mudanya, tak suka orang
menyebut-nyebut umurnya.
Siong Sek Toojin melengak.
"Jikalau begitu, orang yang menolongi kami ialah orang
lain..." katanya.
"Memang lain orang!" kata Phang Lim, yang terus
mendesak: "Lekas bilang! Lekas bilang, apakah sudah terjadi
disini?" "Tak lama mulai gelap," kata Siong Sek, "kami mendengar
suara seperti orang bertempur di luar wihara. Aku kaget, aku
hendak ber-bangkit, atau aku lantas mencium bau harum yang
menyamankan sekali, karena aku menjadi letih dan lemas.
Bau harum itu beda dengan bau harum yang sekarang masih
ada sisanya di dalam kamar kami..."
"Aku tahu," sela Pbang Lim. "Bau harum yang pertama itu,
harumnya bunga asura." Di dalam hatinya, ia pikir: "Di dalam
Butong Pay, Siong Sek ini cuma ada di bawahan Lui Cin Cu,
pantas dia masih dapat bertahan dari serangan bunga hantu
itu." "Aku mencoba sebisanya untuk berbangkit, aku gagal,"
Siong Sek menjelaskan pula. "Buat merayap pun sukar sekali.
Ketika itu, pendopo sangat sunyi, suasana sangat tak
menyenangkan. Kami merasa seperti mau pingsan. Aku kaget,
tapi justeru itu, aku kena menyedot pula dua kali bau harum
itu, lantas aku merasa kepala pusing dan mataku was-was.
Akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi..."
Phang Lim bergidik.
"Jikalau itu waktu musuh datang, habis sudah mereka ini..."
pikirnya. "Kalau itu sampai terjadi, mana aku mempunyai
muka untuk menemui Lui Cin Cu dan Tong Sian Siangjin?"
"Aku tidak tahu aku pingsan berapa lama," Siong Sek
melanjuti, "aku sadar dengan lantas mendapat cium bau
harum lain, yang menyamankan hatiku, yang membikin tubuh
kita sama nyamannya. Aku merasakan hawa hangat
tersalurkan ke dalam tubuhku. Sayup-sayup aku melihat ada
seorang di sisiku. Ketika kemudian aku dapat melihat dengan
terang, disitu tidak ada siapa juga kecuali kami beramai.
Semua adik seperguruanku sadar saling susul. Menurut
mereka, mereka mendapat pengalaman sama seperti aku.
Luka kita telah sembuh empat atau lima bagian, luka itu tak
terasa sakit lagi. Barusan kami mendengar tindakan kaki
mendatangi, kami menduga kepada musuh, maka kami lantas
bersiap sedia, siapa tahu yang datang justeru kau, loo...loo...
eh, Phang Liehiap..."
Muka Phang Lim menjadi merah.
"Sungguh malu..." kata ia dalam hati. Maka ia kata: "Inilah
baunya teratai salju dari Thiansan. Rupanya tengah kamu
pingsan, ada orang memasuki obat ke dalam mulut kamu.
Siapa dia, aku tidak tahu. Sekarang kamu sudah dapat
bergerak, mari kita pergi pada Tong Sian Siangjin dan Kim
Kong Taysu bersama, mungkin disana kita bisa mendapat
sesuatu keterangan..."
Siong Sek Toojin menurut, maka itu beramai mereka
berangkat mencari rombongannya Tong Sian Siangjin. Di
sepanjang jalan masih mereka diliputi keheranan, hingga terus
mereka berpikir dan menduga-duga. Phang Lim heran, siapa
penolongnya itu. Cuma orang Thiansan Pay yang menggunai
obat itu, ialah Pekleng Tan. Ia sendiri mempunyai cuma tiga
butir. Orang yang terluka itu dua belas orang, tak dapat ia
menolong mereka itu.
"Mustahilkah Siauw Lan dan kakakku telah datang?" nyonya
ini memikir terlebih jauh. "Kalau bukan mereka, siapa lagi
dapat memiliki Pekleng Tan demikian banyak" Kalau benar
mereka, kenapa mereka tidak mau memperlihatkan diri"
Mereka bukan tukang bergurau, tidak nanti mereka mau mainmain
dengan kami..."
Phang Lim cerdas luar biasa, mestinya ia ingat Kim Sie Ie,
akan tetapi Sie Ie telah mati dalam hatinya, ia tidak dapat
memikirnya. Ia tidak tahu, sekembalinya Sie Ie dari pulau
kosong, dia telah pergi ke Thiansan secara diam-diam, bahkan
dia berdiam sampai tiga hari, hanya dia tak diketahui siapa
juga. Selama tiga hari itu, beberapa kali Sie Ie telah melihat
Kim Bwee, dan setiap kalinya, nona itu ada bersama Ciong
Tian. Ia mendapat kenyataan Ciong Tian menyintai Kim Bwee,
sebaliknya Kim Bwee masih ingat kepadanya dan terhadap
Ciong Tian dia cuma bersikap seperti kakak beradik. Maka itu,
Sie Ie pikir, asal ia tidak memperlihatkan diri, Kim Bwee pasti
tidak tahu bahwa ia masih hidup, bahwa dengan begitu, lama
kelamaan mungkin Kim Bwee dapat menikah dengan Ciong
Tian. Inilah sebabnya kenapa selama pertarungan di Binsan
itu, meski secara sembunyi ia membantui Kang Lam, Phang
Lim dan Pengcoan Thianlie, ia tetap tak mau menemui Beng
Sin Thong. Selama tiga hari berdiam di Thiansan, Sie Ie sudah
memetik belasan bunga teratai salju, dengan itu ia membikin
tiga puluh butir obat pel Pekleng Tan, maka adalah di luar
dugaannya, ia telah memakai obat itu menolongi orang-orang
Butong Pay. Setelah bertemu dengan Tong Sian Siangjin, baru Phang
Lim mendapat tahu mereka bukan ditolongi pendeta itu
beramai dan bahwa Tong Siauw Lan dan Phang Eng juga tidak
datang. Bahkan Tong Sian pun merasa bahwa mereka sudah
ditolongi orang rahasia, hanya mereka tidak dapat menduga
siapa si penolong.
Phang Lim jadi berpikir semakin keras.
Dalam keadaan tidak berdaya itu, nyonya ini turut Tong
Sian Siangjin pergi ke Siauwlim Sie di Siongsan untuk
memernahkan diri dulu.
*** Kok Cie Hoa telah ditotok Phang Lim, tak ia sadar segera.
Totokan itu menggeraki asabatnya. Selang sekian lama, ia
mendusin juga. Hanya untuk sementara, ia seperti dalam
mimpi. Ia seperti mimpi mempunyai dua bocah sayap dengan
apa ia terbang di udara. Samar-samar ia merasa bahwa ia
bertemu dengan Kim Sie Ie, yang mendampinginya, yang
terus meraba-raba padanya, hingga ia merasa nyaman sekali.
Ia merasa hangat, jalan darahnya seperti terbuka dan
tersalurkan benar, hingga ia dapat bergerak dengan leluasa.
Dalam sadar, dalam mimpi, ia selalu ingat Sie Ie, demikian
juga sekarang ini, begitu mendusin, begitu ia ingat Tokciu
Hongkay. Belum lagi ia membuka matanya, mulutnya sudah
berkata perlahan: "Sie Ie... Sie Ie..."
Mendadak ia mendengar suara yang ia kenal sekali: "Cie
Hoa! Benar, inilah aku!..."
Tergerak hati si nona, matanya lantas dipentang. Ia
menatap. Benar, di depannya ada Kim Sie Ie! Ia menjadi
bingung! Tak pasti ia, ia sadar atau lagi bermimpi... la cuma
merasa Sie Ie mencekal keras tangannya.
"Jangan kau takut," berkata Sie Ie, lembut. "Inilah aku, aku
tidak mati..."
Tanpa merasa, Cie Hoa membalas mencekal keras tangan
si anak muda. Benar, ia benar memperoleh kepastian, itulah
Sie Ie, bukan setannya. Sedang sebenarnya ia takut sekali
yang ia masih bermimpi...
Perlahan-lahan Cie Hoa merasai hangatnya tangan Sie Ie,
lalu ia mendengar denyutan jantung orang. Semua itu
menambah kepastiannya bahwa ia sadar benar-benar, bahwa
Sie Ie-lah di dampingnya itu.
"Tempat apa ini?" akhirnya ia tanya perlahan. Ia bingung,
matanya melihat kelilingan. "Kenapa kau berada di dampingku
ini" Mana mereka itu" Kemana perginya mereka semua"
Kenapa kita berada berdua saja...?"
"Inilah sebuah gua," sahut Sie Ie perlahan. "Kau telah
ditotok Beng Sin Thong, lantas kau diantar ke biara Hian Lie
Koan untuk diobati. Secara diam-diam aku membawa kau
pergi, tak satu dari mereka yang mendapat tahu."
Cie Hoa mengumpul ingatannya. Keterangan mempercepat
kesadarannya. Maka ia lantas ingat apa yang ia telah lakukan
dan apa yang sudah terjadi atas dirinya. Ia mau jadi juru
pemisah tetapi ia gagal. Ayahnya, yang mulanya berubah
pikiran, berubah pula pikirannya itu, karena mana ia putus asa
dan mencoba membunuh diri. Yang terakhir ia ingat ialah Lie
Kim Bwee menjerit dan memburu kepadanya.
"Oh, kiranya aku tidak mati!" pikirnya. "Aku hanya kena...
kena ditotok dia... Oh, Thian mengapa hambaMu tak dibiarkan
saja mati?"
Kim Sie Ie terkejut. Ia merasai telapakan tangan si nona
dingin, la mencekal pula erat-erat.
"Cie Hoa, segala apa sudah lewat," ia menghibur, halus,


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"maka kau anggaplah semua itu seperti impian yang sudah
sirna. Thian berkasihan terhadap kita, kita telah dibikin dapat
bertemu hari ini. Mulai ini hari, kita tak dapat berpisah lagi.
Mereka itu, orang-orang yang tak ada sangkut pautnya
dengan kita, jangan kita perdulikan pula..." Cie Hoa belum
menyahuti ketika mendadak hatinya tergetar. Tiba-tiba ia
mendengar siulan yang nyaring dan lama. Ia kenal suaranya
Beng Sin Thong, ayahnya itu.
Itulah saatnya Sin Thong menyingkir dari gunung Binsan,
dengan siulannya itu ia memberi isyarat kepada pihaknya,
untuk mereka itu berkumpul dan turut ia mengangkat kaki.
Juga hati Sie Ie bercekat mendengar siulan Sin Thong itu.
Ia hanya bercekat karena getaran siulan orang itu menyatakan
orang telah terluka tenaga dalamnya walaupun luka itu tidak
parah. Sekonyong-konyong saja ia ingat Le Seng Lam, hingga
bayangan si nona berpeta di depan matanya. Kalau Beng Sin
Thong terluka tak berbahaya, bagaimana dengan Seng Lam"
Mungkinkah keduanya terluka bersama" Di saat seperti itu, tak
dapat ia memecah perhatiannya, tak .dapat ia pergi mencari
Seng Lam. . Selagi memegangi tangan Cie Hoa, Sie Ie
terkejut. Tangannya si inona bergemetar dan terus terlepas.
Ia mengawasi terbengong. Ia mendapatkan paras si nona
pucat sekali, hingga paras itu mendatangkan rasa kuatir
orang... Cie Hoa datang ke Binsan, dengan pengharapan penuh
akan dapat menghindarkan pertumpahan darah hebat, agar
ayah dan anak hidup berkumpul pula, siapa tahu, harapannya
itu buyar. Justeru itu, sekarang ia mendengar siulan ayahnya
itu. Dengan lewatnya sang waktu, siulan itu sudah berhenti
lama, akan tetapi di telinga anak ini, suara itu masih
mendengung, hingga hatinya goncang dan pikirannya kacau.
Memangnya ia baru saja mendapatkan ketenangannya. Ia
lantas seperti terbenam dalam mimpi yang buruk... Cie Hoa
menjadi ingat Co Kim Jie, itu kakak dalam seperguruan yang
menjadi ketua partai. Bagaimana dengan ciangbun suci itu"
Bagaimana dengan ketua pelbagai partai" Tidakkah mereka
tersiksa lahir dan batin" Bagaimana dengan ayahnya sendiri"
Bukankah perdamaian sudah gagal" Gagalnya perdamaian
berarti juga bencana Rimba Persilatan! Maka akhir-akhirnya, ia
cuma bisa menyesal.
Inilah pukulan hebat untuk Cie Hoa, walaupun ialah
seorang wanita gagah. Maka ia berdiam saja. Tak dapat ia
bicara lebih jauh dengan Sie Ie.
Tokciu Hongkay mengawasi pemudi di depannya itu. Ia
dapat menginsyafi dan merasai kesusahan hati orang. Ia pun
berdiam. Apakah ia bisa ucapkan"
Sinar rembulan menembus ke dalam gua. Hari sudah larut
malam. Hawa dingin meresap ke dalam tubuh.
Cie Hoa berdiam bukannya tanpa berpikir. Ia kata dalam
hatinya: "Aku beruntung tak mati tetapi aku telah
memandangnya bahwa aku sudah meninggalkan dunia! Maka
sekarang aku mesti cari satu tempat yang seorang pun belum
pernah pergikan, yang siapa pun belum pernah melihatnya!...
Itulah pengutaraan dari hati yang telah jadi sangat tawar.
Sie Ie mencekal pula tangan orang, yang bergemetaran.
"Cie Hoa," katanya, sungguh-sungguh, "apa yang kau
lakukan hari ini, semua aku telah melihatnya. Kau sudah
lakukan apa yang bisa. Nyata sekali bencana Rimba Persilatan
tak dapat dihindarkan. Maka itu, apa pun yang telah terjadi
dan bakal terjadi pula, semua bukannya kesalahan kau."
Sie Ie hendak mengatakan juga: "Apa yang kau tak
sanggup, nanti aku mewakilkan kau melakukannya..." akan
tetapi ia batal sendirinya. Tiba-tiba ia ingat, apa yang ia
sendiri dapat lakukan" Bagaimana kalau ia membantui Seng
Lam membunuh Beng Sin Thong" Ia hanya dapat melakukan
itu secara menggelap. Hal itu tak dapat ia beritahukan Cie
Hoa, atau hati si nona bakal sampai di puncaknya ketawaran...
Perlahan-lahan Cie Hoa mengangkat kepalanya.
"Sie Ie, aku bersyukur yang kau telah menolongi aku," kata
ia. "Sebenarnya, jikalau kau tidak menolongi aku, mungkin itu
terlebih baik pula. Walaupun demikian, aku tetap bersyukur,
berterima kasih kepadamu. Kau mempunyai jalanmu sendiri,
aku mempunyai jalanku sendiri, hari ini aku dapat bertemu
kau, aku puas. Aku tidak berani, aku tidak akan memikir
meminta bantuanmu terlebih jauh... maka, kau pergilah!"
Sie Ie menghadang di depan si nona.
"Cie Hoa," katanya, suaranya menggetar, "kau... kau
hendak pergi kemana" Ingatkah kau apa yang gurumu
lakukan di saat ia hendak meninggalkan dunia ini" Kepada kau
telah diserahkan kitab ilmu pedang Hian Lie Kiampouw.
Bukankah gurumu ingin kau menjadi ahli warisnya" Hal itu kau
sendiri yang membilangi aku! Dan kau sendiri juga yang
membilangi aku, tak perduli kau mendapatkan pengalaman
hebat bagaimana, kau tidak hendak mensia-siakan budi
kebaikan gurumu itu, yang untuk sepuluh tahun telah
merawat dan mendidik kau secara susah payah..."
Hati Cie Hoa menggetar. Ia ingat semua itu. Ia telah
mengutarakannya pada Sie Ie sehabisnya peristiwa di Binsan
dimana ia didamprat dan diusir Co Kim Jie, yang menghapus
ia sebagai orang Binsan Pay. Hanya penderitaannya itu waktu
tak dapat dibandingkan dengan penderitaan hari ini. Ia
sekarang tak ketahui, apa yang sudah terjadi selama ia tak
sadarkan diri itu, terutama ia tak tahu halnya Co Kim Jie sudah
mengumumkan menerima ia kembali dalam partainya, hingga
dengan begitu nama baiknya telah dipulihkan secara hormat.
Sebaliknya daripada mengetahui itu, ia justru memikir:
Sekarang ini entah berapa banyak jiwa yang telah
terbinasakan ayahku. Ayah sangat membenci Binsan Pay,
mestinya orang Binsan Pay yang terbunuh paling banyak! Aku
beruntung tidak mati tetapi apakah aku ada muka akan
menemui pula orang-orang separtai?"
Walaupun dia memikir demikian si nona terpengaruh katakatanya
Sie Ie itu. Memang ia harus ingat gurunya, yang
mengharap dan mengandalinya. Setelah berpikir, ia
mengangguk, ia kata perlahan: "Sie le, terima kasih yang kau
telah menyadarkan aku. Kau jangan kuatir, buat guna suhu,
aku pasti akan hidup terus... Baiklah, karena kau tidak mau
pergi, kau biarkanlah aku yang pergi..."
Sie Ie jadi sangat berduka. Berbareng dengan itu hatinya
pun terbangun. "Kenapa kita berdua tak dapat tinggal bersama?" katanya,
nyaring. "Jikalau kau tidak menghendaki terlibat pula segala
urusan itu, dapat bersama aku mencari sebuah pulau kosong
untuk kita tinggal disana. Disana, orang macam apa pun tidak
ada, urusan apa jua tak kita perdulikan! Disana kita
bersungguh hati memahamkan ajaran gurumu, untuk nanti
kita perkembangkan. Di hari tua kita, kita nanti cari seorang
murid yang berbakat dan berjodoh, guna mewariskan
kepandaian kita kepadanya. Tidakkah ini bagus?"
Sie Ie mengutarakan apa yang dipikir dalam hati si nona.
Itulah cita-cita mereka, yang cocok satu dengan lain. Akan
tetapi cuma selang sejenak, segera si nona ingat Lie Kim
Bwee. Ia kata dalam hatinya: "Sekarang ini hatiku sudah
tawar, kalau toh aku hidup terus, aku hidup melainkan untuk
suhu. Kenapa aku mesti menjadi rintangan untuk mereka
berdua?" Walaupun apa yang ia pikir itu, mulut Cie Hoa tertutup
rapat, sikapnya tetap tawar. Dengan perlahan ia menolak
tubuh Sie le, lalu dengan perlahan juga ia bertindak keluar
dari gua itu. Ia terus membungkam.
Sie Ie dapat mengerti keputusan Cie Hoa, itu tak dapat
ditarik pulang. Sikap dingin si nona membuatnya, dengan
sendirinya, menggeser tubuhnya, membiarkan nona itu lewat
di sisinya. Setelah tak berhasil membujuk, tak mau ia
menggunai kekerasan. Apakah gunanya itu"
Cie Hoa keluar dari gua dengan pikiran tidak keruan.
Berulang-ulang ia tanya dirinya sendiri: "Aku harus pergi
kemana?" Air matanya, yang ia telah pertahankan sekian
lama, turun bercucuran, dan mulutnya mengasih dengar
tangisannya perlahan.
Kim Sie Ie dapat mendengar orang terisak-isak, ia
memburu keluar, untuk menyusul.
"Enci Kok, kau tunggu!" ia memanggil. "Inilah tak dapat!
Mustahilkah dengan begini saja kita mesti berpisahan" Oh,
tidak! Kau tunggu, kau kasih ketika untuk aku berpikir! Aku
pun masih mempunyai kata-kata untuk diucapkan
terhadapmu..."
Hampir Sie Ie dapat menyandak nona itu, atau mendadak
ia mendengar panggilan dengan suara yang sangat berduka,
suara memanggil-manggil ia. Segera ia menoleh. Dengan
matanya yang tajam, ia melihat di sampingnya di bawah
sebuah pohon besar, ada seorang wanita lagi mengawasi ke
arahnya. Wanita itu riap-riapan rambutnya, bajunya hitam,
matanya mendelong hingga dia mirip satu arwah...
Dalam herannya, Sie Ie menghentikan tindakannya. Ia
terus mengawasi.
Nona itu bukan lain daripada Seng Lam!
Sie Ie melihat mata si nona terbuka lebar dan darah
mengalir dari ujung mulutnya, mukanya pun berkerut, suatu
tanda orang telah mendapat luka parah dan lagi menahan
nyeri sebisa-bisa. Inilah di luar dugaannya.
Selagi Seng Lam memasang mata atas kedua pihak yang
bertempur itu, Sie Ie tidak mendampinginya. Ia berlega hati
meninggalkannya sebab ia ingin membiarkan si nona sendiri
yang membuat perhitungan dengan Beng Sin Thong. Ia
percaya Seng Lam akan berhasil menuntut balas, atau kalau
toh gagal, tak nanti si nona bercelaka. Sebabnya itu ialah,
kesatu itu waktu Beng Sin Thong lagi menempur Kim Kong
Taysu yang tangguh, kedua Seng Lam sudah mempunyai dua
di antara tiga mustikanya Kiauw Pak Beng, ialah tameng batu
kemala serta pedang yang tajam. Di samping itu, di medan
laga itu juga ada Tong Sian Siangjin dan yang lainnya. Ia
sendiri ingin sangat menolongi Cie Hoa, maka habis
menyerahkan pedangnya, ia berlalu dengan cepat. Sekarang
ia menjadi menyesal sekali sudah meninggalkan nona itu,
hingga dia menjadi terluka parah itu. la menjadi serba salah.
Di depan ia hendak menyusul Cie Hoa, di belakangnya ada ini
nona yang terluka, yang membutuhkan pertolongannya...
"Ah!..." ia mengeluh. Habis sudah harapannya, sebab ia
merasa tak nanti ia dapat bertemu pula Nona Kok itu. Lantas
ia menoleh pula ke arah Seng Lam, untuk menghampirkannya.
Ketika ia telah datang dekat si nona kata sengit: "Aku kira,
setelah ada orang lain, kau tidak bakal memperdulikan aku
lagi!...." Kata-kata itu diikuti dengan tumpah darah!
"Kau jangan bergusar," berkata Sie le. "Nanti setelah kau
sembuh, baru kita bicara pula."
Ia lantas meraba nadi si nona. Mulanya ia terkejut, lalu ia
menjadi mendongkol, hingga ia kata keras tetapi terputusputus:
"Kau... kau!... Kenapa kau memakai caramu ini
memperdayai aku'.'"
Seng Lam tertawa dingin, ia kibasi tangan orang.
"Ya, aku telah memperdayai kau!" katanya. "Kau boleh tak
usah menggubris aku lagi! Pergi kau susul enci Kok-mu itu!
Pergi, pergilah!"
Memang Seng Lam melukai dirinya sendiri, dengan ilmu
yang ia dapat pelajari dari kitab warisannya Kiauw Pak Beng.
Dengan akal ini ia mau mencegah Sie Ie menyusul Cie Hoa. Ia
terluka otot nadi samciauw. Itulah otot yang berbahaya, yang
lukanya dapat meminta jiwa, atau entengnya muntah darah,
untuk akhirnya orang merojan, ludas tenaga atau kepandaian
silatnya. Tidak demikian, tidak nanti Seng Lam dapat
melakukan perjalanan jauh tujuh atau delapan lie-jarak antara
medan laga dan biara Hian Lie Koan.
Sie Ie seorang ahli, dengan meraba nadi, tahulah ia hal
yang sebenarnya. Maka ia menjadi terperanjat dan
mendongkol, karenanya ia menegur nona itu, tak perduli
mereka pernah tinggal bersama tiga tahun dan ia telah
mengenal baik tabiat si nona.
Disengaja atau tidak, Seng Lam tetap telah terluka dan di
bagian anggauta yang berbahaya itu, jikalau Sie le tidak lekas
menolongi, nona itu bakal terbinasa atau bercacad seumur
hidupnya. Oleh karena itu ia tidak berani mengumbar
kemendongkolannya terlebih jauh. Bahkan ia segera
memberikan pertolongannya. Paling dulu ia menutup semua
jalan darah, untuk melenyapkan rasa sakitnya, ia pun
memberikan tiga butir Pekleng Tan, habis mana ia
menyalurkan tenaga dalamnya, guna membikin orang pulih
kesegarannya. Satu jam ia menggunai temponya, lantas tak
menderita pula seperti tadi, mukanya tak pucat pias lagi.
Sie Ie menggeleng-geleng kepala.
"Seng Lam, kau terlalu," dia kata. "Kenapa kau main gila
seperti ini" Jikalau kau ada bicara, bicaralah denganku. Nah,
kau bicaralah!"
Nona itu tertawa.
"Belum lagi aku mencaci kau melanggar kepercayaan dan
men-sia-siakan orang, kau sekarang mengatakan aku main
gila!" sahutnya. "Hm! Kau telah mempunyai enci Kok kau itu!
Kau juga mempunyai adik Lie-mu! Mana kau mau dengar pula
aku" Mungkin selagi aku mau bicara dengan kau, kau sendiri
bersama enci Kok-mu itu telah pergi kemana tahu!..."
Muka Sie le merah. Ia kata dalam hati, memang kalau tidak
menemui Seng Lam lagi terluka ini, entah sudah sampai
dimana ia menyusul Cie Hoa...
Kembali Seng Lam tertawa.
"Bagaimana" Bukankah aku telah mengatakan apa yang
kau pikir dalam hatimu?" kalanya pula. "Nah, sekarang kau
dapat pergi menyusul pula enci Kok-mu itu! Pergilah! Kenapa
kau masih tidak mau pergi?"
Sie Ie mengangkat kepalanya, mengawasi nona yang
tabiatnya luar biasa itu.
"Apa katamu?" ia tanya. "Aku tidak mau berbantahan
dengan kau! Aku cuma mau tanya, kenapa kau katakan aku
melanggar kepercayaan dan mensia-siakan orang?" Di dalam
hatinya, ia pun kata: "Memang selama di pulau kosong,
karena desakan, aku mengakui kita menjadi suami isteri, akan
tetapi terhadapmu aku tidak menjanjikan sesuatu! Selama tiga
tahun kita tinggal bersama, kita tetap bergaul di dalam batas
adat istiadat. Mana dapat kau kata aku melanggar
kepercayaan dan mensia-siakan orang?"
Tengah Sie Ie berpikir itu, Seng Lam sudah tertawa pula,


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dingin seperti semula tadi. Dia kata: "Pada tiga tahun dulu di
puncak Kimkee Hong, kau pernah menjanjikan apa padaku?"
"Aku berjanji bersama kau pergi berlayar mencari kitab ilmu
silatnya Kiauw Pak Beng." Sie Ie menjawab. "Bukankah itu
telah dilakukan selesai?"
"Benar, itu dilalukan selesai!" kata si nona. "Masih ada satu
lagi!" Hati Sie le tergetar juga.
"Ya, masih ada satu lagi, yaitu untuk membantu kau
mencari balas. Itu..."
"Syukur kau masih ingat itu!" Seng Lam tetap tertawa
dingin. "Apakah kau telah selesai melakukan itu?"
"Aku menduga hari ini kau sanggup melakukan itu," kata
Sie Ie, terpaksa. "Siapa tahu... siapa tahu, hantu itu masih
dapat lolos!..."
"Oh, jadi kau ketahui Beng Sin Thong sudah lolos?" si nona
kata. "Kau berjanji membantu aku mencari balas, janji itu
belum diwujudkan, apakah dengan begitu dapat kau memikir
untuk tidak memperdulikan aku lagi" Apa artinya itu jikalau
bukan melanggar kepercayaan dan mensia-siakan orang"
Apakah kata-katamu tidak mau kau anggap?"
Sie Ie berdiam. Tajam kata-kata nona ini. Memang pernah
ia janji, sebelum membantu Seng Lam menuntut balas itu, ia
tidak akan meninggalkannya. Ia berpikir: "Kiranya dia
menggunai janjiku ini untuk mengikat aku*. Hari ini saat yang
baik aku membantu dia, tapi sang tempo telah lewat, maka itu
entah sampai kapan datang lagi ketika yang baik itu" Ah, dia
benarlah hantu tukang jirat leherku..."
Janji Sie Ie itu janji membantu hingga Seng Lam dapat
sendiri melakukan pembalasannya itu. Janji itu dapat
dilakukan dengan dua cara: Yang pertama yaitu mengajari
Seng Lam ilmu silatnya Kiauw Pak Beng sampai dia dapat
menangkan Beng Sin Thong. Yang kedua ialah ia membikin
Sin Thong menjadi demikian letih sampai si nona dapat turun
tangan sendiri mewujudkan pembalasannya. Sie Ie telah
memilih cara yang nomor dua itu, sayang karena hadirnya Lie
Kim Bwee dan Kok Cie Hoa di medan laga, tak dapat ia
melaksanakannya. Karena tak dapat ia perlihatkan diri di
depan mereka itu. Maka ia lantas mengandal kepada Kim
Kong Taysu dan Tong Sian Siangjin beramai, supaya Sin
Thong repot dan lelah melayani mereka. Memang Sin Thong
kena dibikin letih, tetapi toh dia tetap tangguh hingga Seng
Lam gagal. Sekarang Sin Thong kabur entah kemana, kemana
dia harus dicari" Bukankah tak mudah mencarinya"
Pula Sie Ie telah melihat kepandaiannya Beng Sin Thong. Ia
mau percaya, Seng Lam seorang diri tak nanti berhasil
mengalahkannya. Bahkan ia sendiri, ia masih sangsi ia pun
sanggup merobohkan jago Siulo Imsat Kang itu. Mereka
masing-masing cuma mendapat separuh kitab, bagian Atas
dan bagian Bawah, hingga kepandaian mereka mestinya
berimbang. Malah Sin Thong menang unggul lantaran dia
mendapatkan kitab bagian Bawah.
Sekian lama Sie Ie berdiam terus. Ia bimbang. Ketika ia
menoleh kepada si nona, tiba-tiba ia melihat air mata orang
bercucuran. "Sie Ie," kata Seng Lam, terisak, "selama beberapa tahun
ini sungguh aku membuatnya kau letih dan pusing, sedang
sekarang aku pakai janjimu mengikatmu... Di dalam hatimu,
kau tentunya penasaran sekali terhadapku, kau membenci
aku... Maka itu, jikalau kau memangnya tak sudi, baik
sekarang kita berpisahan saja, selanjutnya, aku mati atau aku
hidup, tak usah kau menggubrisnya lagi... Sie Ie, suka aku
menjanjikan kau, janjimu itu biar dibikin habis, supaya aku
tidak mengatakan kau melanggar janji dan mensia-siakan
orang.." Habis berkata begitu, kembali si nona menangis sedih.
Hingga sekarang ia beda dengan waktu tadi ia menegur
orang. Kalau tadi ia bengis, sekarang ia harus dikasihani...
Sie Ie berdiam, ia menjadi jengah sendirinya.
"Dia memperdaya aku, dia menyiksa diri, bukankah itu
untukku?" ia berbalik pikir. "Dia pertaruhkan jiwanya untuk
menahan aku, aku sebaliknya ingin sangat meloloskan diriku.
Herankah kalau ia menggunai dayanya ini" Bukankah pantas
dia menegur aku?"
Mau tidak mau, tak perduli dia menyintai Cie Hoa, untuk
cintanya Seng Lam ini, hati Sie le toh tergerak. Sudah tiga
tahun mereka tinggal bersama di dalam pulau kosong, erat
pergaulan mereka, maka itu, berat juga untuk berpisahan
dengan cara begini tawar. Sie le menjadi tak tega...
Tanpa merasa Tokciu Hongkay menggenggam tangan
orang, ia menyusuti juga air matanya. Kemudian ia kata
sungguh-sungguh: "Untuk seorang laki-laki, satu dia telah
mengucapkan kata-katanya, tidak dapat dia menyesal dan
mengingkarinya! Maka itu, jangan kau kuatir, biar bagaimana,
akan aku bantu kau membalas sakit hatimu itu!"
Seng Lam berhenti menangis. Saking girang, ia tertawa. Ia
mengangkat kepalanya mengawasi pemuda di depannya.
"Jikalau sampai sepuluh tahun masih aku belum dapat
mencari balas?" ia tanya.
"Untuk sepuluh tahun juga aku tak akan meninggalkan
kau!" sahut Sie Ie.
"Seumurku aku juga tidak akan meninggalkan kau!" Sie Ie
pastikan. "Ah, bukankah itu berarti aku membikin susah padamu?"
kata Seng Lam. "Sie le, kau berlaku begini baik terhadapku,
tak tahu aku, bagaimana aku harus bersyukur terhadapmu..."
Berkata begitu, air mata nona ini mengucur pula. Katakatanya
itu pun lembut sekali.
Sie le mengawasi, la terharu sekali. Tapi tiba-tiba, pada air
mata si nona ia menampak bayangannya Cie Hoa. Lantas
mukanya menjadi merah sendirinya. Di dalam hati
sanubarinya, ia jengah terhadap nona she Kok itu. Hatinya
berdenyut. Maka ia melepaskan tangannya Seng Lam, yang ia
genggam. "Musuhku bukan cuma satu orang," berkata Seng Lam. Ia
tidak melihat perubahan orang. "Masih ada satu lagi, yang
mungkin terlebih hebat daripada Beng Sin Thong..."
"Kenapa aku belum pernah mendengar kau menyebutnya?"
Sie Ie tanya. "Aku pun baru mengetahui hari ini."
Seng Lam lantas menuturkan halnya, seberlalunya Sie Ie,
telah muncul rombongannya Seebun Bok Ya, dan bagaimana
rombongan yang liehay itu sudah mengacau pertempuran,
hingga dua-dua pihak Binsan Pay dan Beng Sin Thong
menampak kerusakan besar. Ia tuturkan pembicaraan di
antara orang she Seebun itu dengan Beng Sin Thong, yang
kenal satu pada lain dan pernah bekerja sama menyerbu
Keluarga Le. "Jikalau begitu tak heran Beng Sin Thong menyingkir
dengan membawa lukanya," kata Sie le, yang sekarang baru
mendusin. "Jadinya dia bukan kalah di tangannya Kim Kong
Taysu." Di dalam hatinya, ia berkata: "Seebun Bok Ya ialah
ahli racun nomor satu di kolong langit ini, dua belas
pembantunya yang berbaju kuning itu juga liehay semuanya,
kalau begitu, mereka benar terlebih sulit dilawannya daripada
Beng Sin Thong..." Toh ia berkata, menambahkan: "Tak
perduli berapa banyak musuhmu serta bagaimana mereka
liehay, pendek, sebelum kau berhasil dengan pembalasanmu,
pasti aku tidak akan berpisah dari kau!"
Seng Lam menjura dalam pada pemuda itu.
"Selama hidupku ini, tidak berdaya aku membalas budi
kau," ia kata pula, "biarlah aku membalasnya di lain penitisan
tak perduli aku mesti jadi kerbau atau kuda!..."
Kata-kata ini mempunyai dua maksud. Sebenarnya ia
hendak membalas budi dengan menyerahkan dirinya, akan
tetapi di dalam hati Sie Ie sudah ada orang lain, maka itu budi
itu tak dapat ia membalasnya.
Sie le memimpin bangun pada nona itu, terhadap katakatanya
ia berpura-pura pilon.
"Jangan mengucap begini," ia kata perlahan. "Ketika dulu
aku dilukai Beng Sin Thong, bukankah kau yang
menyembuhkannya" Sudahlah, sekarang kau baru sembuh
tidak dapat kau banyak pikir. Kita beristirahat di dalam gua
saja. Eh, mengapa pedangmu lebih satu?"
Ketika Seng Lam menjura, pedangnya kebentur tanah dan
berbunyi, mendengar itu, perhatian Sie le tertarik, hingga ia
melihat pedang si nona ada dua dan yang satunya itu, bukan
pedangnya Kiauw Pak Beng, bahkan ia merasa mengenali
pedang itu. "Inilah pedang pusaka sahabatmu," jawab si nona, tertawa.
"Apakah kau sudah tidak mengenalinya?"
Sie Ie mengawasi tajam, lantas ia tertawa.
"Ah, kiranya pedang Tong Keng Thian!" katanya. "Inilah
Yuliong Kiam, pantas aku seperti mengenalnya! Kau berguyon
hebat!" Tong Keng Thian bangsa ksatria, dia beda dengan Sie Ie si
berandalan. Sie Ie tak terlalu menyenangi dia. Maka Sie Ie
pikir: "Keng Thian si bau itu, biarlah dia mendapat sedikit
rasa! Hanya karena ini, mungkin nanti terbit kesulitan..."
Yuliong Kiam pedang pusaka Thiansan Pay dan Tong Siauw
Lan diakui sebagai orang Rimba Persilatan nomor satu,
sekarang pedang pusakanya itu lenyap, pasti itu dapat
dianggap sebagai suatu kejadian yang memalukan sekali, tak
perduli Tong Siauw Lan sangat sabar, apabila dia mengetahui
itu, pasti dia bakal mencampur tahu. Menurut aturan Rimba
Persilatan, memang kejadian semacam itu tak dapat disudahi
saja. Itulah sebabnya Sie Ie menganggap perbuatan Seng
Lam keterlaluan.
Nona Le sebaliknya acuh tak acuh.
"Aku, bukannya berguyon!" dia kata. "Kau lupa bahwa
leluhurku muridnya Couwsu Kiauw Pak Beng, serta aku sendiri
pernah memberi hormatku kepada tulang-tulang rerangka
Couwsu itu, yang telah meninggalkan pesannya, siapa
menerima warisannya dia mesti menjadi muridnya di lain
penitisan! Antara pesan itu ada yang membilang, siapa
mendapat kitab wasiatnya, dia mesti membalaskan sakit hati
Couwsu terhadap Thio Tan Hong, dan andaikata Thio Tan
Hong, sudah menutup mata, pembalasan mesti dilakukan
terhadap turunannya! Ringkasnya, turunan Thio Tan Hong
harus diajar adat!"
Kim Sie Ie tertawa.
"Ketika Kiauw Pak Beng menulis surat wasiatnya itu," ia
kata, "temponya sudah dua ratus tahun paling sedikit, maka
itu mungkin dia bakal menyangka bahwa kitalah yang berhasil
menemukan warisannya itu. Pula sekarang ini, bukan saja
kuburan Thio Tan Hong sudah tak ada bekas-bekasnya, juga
turunannya sangat sulit untuk diselidiki!"
"Aku tidak sependapat dengan kau," Seng Lam
membantah. "Memang mungkin turunan Thio Tan Hong sukar
diselidiki lagi akan tetapi pendiri Thiansan Pay ialah Thian
Touw pernah mendapat petunjuknya Thio Tan Hong!
Bukankah dengan begitu Thiansan Pay dapat dipandang
sebagai turunan Tan Hong juga" Maka itu hari ini aku
menghendaki ini pedang Yuliong Kiam dari Tong Keng Thian,
untuk sedikitnya bisa juga melampiaskan penasarannya Kiauw
Couwsu dulu hari. Sekarang ini aku lagi menghadapi musuh
besar, tak ada kesempatan untuk pergi menya-teroni gunung
mereka!" Sie Ie terkejut. Ia tidak sangka Seng Lam menganggap
demikian sungguh-sungguh pesan Kiauw Pak Beng itu.
"Sie Ie," ia dengar Seng Lam berkata pula habis berhenti
sejenak, "kau juga terhitung sebagai seorang yang pernah
menerima budinya Kiauw Tiouwsu, maka jikalau kau dapat
membantu aku merampas pulang kitab Bagian Bawah itu, kita
kemudian bakal menjadi orang-orang tanpa lawan. Itu waktu,
aku bukan cuma menghendaki Thiansan Pay tunduk, juga aku
ingin semua partai di kolong langit ini mengakui keunggulan
ilmu silat Couwsu dan takluk karenanya. Secara demikian
barulah tak sia-sia Couwsu menyiksa diri di pulau kosong serta
terlampiaslah sudah penasaran keluargaku selama tiga ratus
tahun!..."
Mendengar itu, Kim Sie Ie menyeringai.
"Menurut pendapat kau ini, bukankah kita jadi selalu
menggunakan kekerasan?" katanya. "Habis membunuh satu
Beng Sin Thong, nanti muncul dua Beng Sin Thong lainnya..."
"Beng Sin Thong terlalu telengas tanpa sebab, dia
Hikmah Pedang Hijau 18 Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung Pendekar Remaja 5
^