Pencarian

Perjodohan Busur Kumala 23

Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen Bagian 23


tak takut dunia nanti mentertawainya"
Kata-kata itu benar. Itulah hebat! Dengan begitu tertutup
sudah jalan hidup apabila orang benar-benar minum racun itu.
Maka semua orang saling mengawasi, semua bungkam.
Beng Sin Thong mengawasi semua hadirin, lalu dia tertawa
terbahak-bahak.
"Sebenarnya, tuan-tuan, kamu sangat bercuriga tak
keruan!" katanya. "Kamu seperti orang-orang dalam dongeng
yang ketakutan langit roboh! Marilah aku omong lebih jelas.
Bubuk racun ini terbuat dari campuran nyali burung merak,
jengger burung jenjang, cacing berbisa, bisa ular, bunga usus
buntung, rumput tulang nowa dan teratai hitam! Kalau serupa
racun dimakan dan lantas orang makan teratai salju mungkin
dia dapat ketolongan buat sementara waktu, tetapi ramuan
yang tujuh ini, tak ada obat yang dapat menolongnya! Maka
itu aku mau anggap inilah pertandingan paling adil! Aku
bersama Tong Toaciangbun sama-sama meminumnya, kita
bakal mati bareng dengan begitu, siapapun tak ada yang
menang ketika!"
Tong Siauw Lan telah memberi kata-katanya, acara dapat
disusun oleh Beng Sin Thong, tak dapat ia menarik pulang
perkataannya itu. Benar cara Sin Thong ini aneh dan
membahayakan, tetapi alasannya tepat. Mereka akan minum
bersama tanpa nanti menggunai obat pemunah!
Tapi para hadirin bingung dan berkuatir. Semua mata
diarahkan kepada ketua Thiansan Pay itu. Mereka merasa
sayang kalau ketua ini mati keracunan...
Janji telah diberikan dan ini tak dapat ditarik pulang!
Yang Cek Hu sudah lantas menggeser nenampan ke muka
kedua orang yang mau mengadu kepandaian itu...
"Tong Toaciangbun," kata Beng Sin Thong, sabar tetapi
nadanya dalam, "umpama kata kau tidak mempunyai nyali,
sekarang juga boleh kau mengakui dan menyerah kalah.
Setelah itu maka selanjutnya Toaciangbun tak dapat usil pula
segala urusanku si orang she Beng!"
Siauw Lan sudah kalah satu babak, kalau sekarang ia kalah
juga, habislah harapannya, percuma andaikata ia
memenangkan yang ketiga. Hingga yang ketiga itu tak usah
diperebuti lagi. Untuk menepati janji, bolehlah ia pulang ke
Thiansan! Sekian lama, jago Thiansan ini berdiam saja. Ia berpikir
keras. Tak dapat ia berdiam terus, maka di akhirnya, ia
memberikan suaranya dengan ringkas: "Sudah, tak usah kau
banyak omong, akan aku temani kau minum!"
Suara itu sabar dan tenang, sama tenang seperti sikap
orangnya. Tong Sian Sianjin sudah lantas mengasih dengar pujiannya:
"Omietoohud! Tong Tayhiap benar-benar seorang pengasih
dan penyayang! Seorang mulia dan gagah perkasa! Sekalipun
Tayhiap tak mencukur rambut menjadi orang suci, tayhiap
telah memiliki hatinya Bodhisatya!"
Begitu memang hatinya Siauw Lan. Ia tahu, kalau ia
menyerah kalah dengan begitu saja, Beng Sin Thong tidak
bakal ada yang mengekangnya, maka itu ia mengambil
putusan rela mati bersama jago sesat itu, supaya dengan
begitu bisalah ia mencegah berlangsungnya bencana Rimba
Persilatan. Nampak Sin Thong heran sekali Siauw Lan mengambil
keputusan-nya itu, untuk sejenak, wajahnya berubah, lalu
menjadi tenang pula seperti biasa. Lalu dia kata dengan suara
dalam: "Kalau begitu, marilah kita mulai minum! Toaciangbun,
dua cangkir ini sama isinya, tetapi untuk mencegah kecurigaan
orapg, baiklah kau yang memilih dulu, kau boleh ambil cangkir
yang mana kau suka!"
Siauw Lan menjawab cepat: "Pasti sekali aku percaya kau,
Beng Sianseng!" Dan lantas ia mengambil dan mengangkat
cawan yang berada di depannya.
Beng Sin Thong pun mengangkat cawannya.
Kedua berdiri berhadapan.
"Tong Toaciangbun!" berkata jago sesat itu. "Aku minta
kau tunjuk satu orang untuk dia yang menghitung isyarat! Dia
menyebut satu, kita mengangkat tinggi cawan kita! Dia
menyebut dua, kita bawa cangkir ke depan mulut, nempel
dengan bibir! Begitu dia menyebut tiga, maka berbareng kita
minum kering isinya cawan! Coba Toaciangbun pikir, cara ini
adil atau tidak?"
"Sutee-mu ini hadir di muka kita, biar dia saja yang
menghitung!" Siauw Lan memberikan jawabannya. Di dalam
hati, jago Thiansan ini kata: "Kalau aku pilih orangku, mungkin
dia tak dapat membuka mulutnya untuk menghitung..."
Yang Cek Hu tahu acaranya itu, ia hanya tidak menyangka
Tong Siauw Lan berani menerima tantangan, karena itu ia
menjadi kaget hingga mukanya menjadi pucat. Ia lantas
mundur ke pinggiran ia menyedot napas dalam-dalam. Sekian
lama barulah ia menyebut:
"Satu!"
Di pihak lurus, ada orang yang telah lantas menutupi
mukanya karena tak berani melihat. Ada yang terisak juga...
Yang Cek Hu berseru pula: "Dua!"
Kedua pihak mengangkat cawan ke mulut mereka.
Tong Keng Thian kaget, hampir ia menimpuk dengan
Thiansan Sinbong, guna menghajar hancur cawan racun itu.
Ia batal sebab ia melihat ayahnya mengawasi tajam
kepadanya, hingga hatinya menjadi menggetar, segera ia
tunduk... Hadirin disitu berjumlah tak kurang daripada seribu orang,
ketika itu semua pada berdiam, hingga suasana menjadi
sangat sunyi, hingga lembah mirip lembah mati.
Di saat yang sangat menggelisahkan itu, akhirnya
terdengarlah suaranya Yang Cek Hu: "Tiga!"
Tepat di saat Tong Siauw Lan menggeser tangannya, untuk
membawa cawan ke mulut, tangan kirinya Beng Sin Thong
diangkat, dipakai menyentil ke arahnya, maka jatuhlah
cawannya itu, menjadi hancur dan racunnya berhamburan di
tanah, bahkan racunnya mengeluarkan uap api bersinar biru,
hingga rumput dan pohon bunga liar disitu menjadi kering dan
layu. Tong Siauw Lan terkejut juga.
"Apakah artinya ini?" ia menegur.
Selagi jago Thiansan itu menegur, Beng Sin Thong telah
membanting cawannya. Dengan muka tertawa meringis, ia
kata: "Tong Toaciangbun, kau benar-benar besar nyalimu! Kali
ini aku kalah!"
Siauw Lan heran, ia menatap.
Inilah cara Beng Sin Thong mengadu nyali. Ia menduga
Tong Siauw Lan tidak berani, siapa tahu ia salah menerka. Ia
percaya ia bakal menang, tapi nyatanya ia gagal. Tentu sekali
ia tidak mau mati minum racun, meskipun mati bersama. Ia
masih mempunyai harapan.
Sampai disitu, legalah hati semua orang pihak lurus.
Tong Siauw Lan lantas kata: "Beng Sianseng, aku pikir kita
tak usah melanjuti acara ketiga seperti caramu ini. Sekarang
aku si orang she Tong bersedia memohon pengajaran
beberapa jurus dari kau!"
Beng Sin Thong paksakan diri tertawa.
"Inilah keinginanku si orang she Beng," kata ia. "Kalau kita
sudah menguji ilmu silat kita, umpama kata aku mati, aku
mati puas. Coba barusan kita mati bersama, siapa akan
menyaksikan ilmu silat Toaciangbun?"
Orang baru merasa lega, atau hati mereka dibikin tegang
pula. Memang akan hebat pertempuran di antara dua jago ini.
"Ayah, inilah Yuliong Kiam!" kata Keng Thian pada ayahnya
sambil ia menyerahkan pedang mustikanya.
Tong Siauw Lan bersenyum.
"Baiklah!" katanya. "Memang sudah hampir dua puluh
tahun aku tidak pernah menggunai pedang, hari ini biar aku
membikin keeua-lian untuk menemani Beng Sianseng!"
Sin Thong lantas berkata: "Terima kasih Toaciangbun
menghargai aku. Nah, silahkan mulai!"
"Beng Sianseng menjadi tetamu, tak berani aku
melancangi," kata Siauw Lan.
"Kalau begitu, maaf!" kata jago sesat itu. "Silahkan...
Toaciangbun memberikan... pengajaranmu!"
Kata-kata itu sengaja dibikin lebih lama dan keras, hingga
rasanya sangat menusuk telinga. Itulah suatu ilmu suara yang
luar biasa dari golongan sesat, namanya "Mo-seng Toatpok",
atau "Suara Hantu Membetot Sukma", yang mirip dengan ilmu
suara kaum pendeta Budhist yang dinamakan "Saycu Hauw"
atau "Deruman Singa". Siapa mendengar itu, dia bisa kaget
dan hatinya goncang, dan yang tak kuat, pikirannya akan
kacau. Maka itu banyak orang yang lekas-lekas menekap
telinga. Tenaga dalam Tong Siauw Lan sudah mahir sekali, dia tidak
tergempur suara yang memukul jantung itu, dia cuma lantas
mengawasi tajam, siap sedia untuk sesuatu serangan.
Begitu keluar perkataan Sin Thong yang terahir, tangannya
lantas diluncurkan, kelihatannya ia memberi hormat, tidak
tahunya, ia sudah lantas mulai dengan penyerangannya
dengan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan. Bahkan
sekarang ia menggunai dua-dua tangannya, hingga bisa
dimengerti hebatnya gempuran itu.
Siauw Lan terperanjat. Segera ia merasai hawa dingin. Tapi
ia menetapkan hati, ia bersikap wajar. Ia membalas hormat
sambil terus memegang pedangnya, habis mana ia mundur
tiga tindak. Dengan kumisnya berkibaran, dengan mata tajam
mengawasi, ia kata dingin: "Tak usah banyak adat peradatan,
Beng Sianseng! Sekarang aku si orang she Tong hendak
membalas menyerang!"
Perkataan itu diikuti dengan dihunusnya pedang, yang
terus dipakai menikam.
Beng Sin Thong tidak berkutik. Ia tahu serangan itu
serangan gertakan belaka, kalau ia berkelit, barulah ia bakal
diserang terus. Ia lantas melintangi kedua tangannya di depan
dada, sembari tertawa ia kata: "Aku si orang she Beng sudah
mulai lebih dulu, maka itu baiklah Tong Toaciangbun jangan
sungkan-sungkan, silahkan berikan pengajaranmu!"
Kali ini Sin Thong bersikap jumawa.
Kecuali Tong Sian Siangjin bersama Kim Kong Taysu,
semua yang lainnya heran menyaksikan kelakuannya kedua
jago itu. Sam-paipun Kang Lam si tukang ngoceh mendumal
seorang diri: "Pertempuran macam ini aneh sekali! Buat apa
saling mengawasi seperti melotot" Bukankah lebih baik segera
saling menyerang?"
Murid wanita dari Ngobie Pay, yang berada dekat Kang Lam
tertawa mendengar ocehan itu, sedang Tan Thian Oe, sambil
mendelik, menegur: "Kau tahu apa! Jangan ngaco belo!"
Thian Oe menegur, sebenarnya ia sendiripun heran. Ia
menegur agar jangan sampai timbul anggapan di antara orang
lain bahwa Kang Lam berlaku kurang hormat terhadap Tong
Siauw Lan. Di tengah kalangan, Siauw Lan dan Sin Thong tengah
memusatkan perhatian mereka, mereka seperti tidak
mendengar apa yang orang kata. Pedang Siauw Lan terus
mengancam dadanya Sin Thong. Dan tangan Sin Thong tetap
melintang di depan dadanya, sedang wajahnya bersungguhsungguh.
Kira-kira sehirupan teh, baru Siauw Lan bergerak. Dengan
matanya yang tajam, ia melihat sinar sedikit jeri pada
matanya Sin Thong. Mendadak saja ia meneruskan menikam.
Itulah tikaman yang berbahaya, yang dapat berlanjut terus
untuk mencari tiga puluh enam jalan darah lawan.
Tiba-tiba saja terdengar satu suara nyaring: "Traang!"
Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu memasang mata
mereka akan tetapi mereka tak melihat bentrokan yang
pertama itu kecuali mereka menyaksikan Beng Sin Thong
mundur dengan lompat jumpalitan, sedang tubuhnya Siauw
Lan mencelat menyusul, ujung pedang Yuliong Kiam
mengancam punggungnya jago sesat itu.
Karena gerakan Sin Thong itu dan susulannya Siauw Lan,
pasir dan debu di kaki mereka mengepul dan berhamburan.
Tong Sian Sianjin berdiam, tetapi ia menghela napas
sedang Kim Kong Taysu berkata: "Sungguh berbahaya!
Sungguh berbahaya! Syukur Tong Tayhiap yang menang
unggul!" Sudah dibilang, kitabnya Kiauw Pak Beng mengutamakan
perlawanan terhadap ilmu pedang Thiansan Pay, hanya
karena dia telah menutup mata sejak banyak tahun, dia tak
dapat mengikuti terus ilmu pedang itu, yang selanjutnya
mendapatkan beberapa perubahan terutama di tangannya
Tong Siauw Lan. Karena ini, di waktu saling mengawasi satu
pada lain, hati Sin Thong gentar, hingga dia menjadi sedikit
jeri. Apamau, Siauw Lan dapat melihat sinar mata orang yang
tak mantap itu dan telah menggunai ketikanya yang baik ini.
Demikianlah, bentrokan yang pertama itu mengakibatkan jago
Siulo Imsat Kang kalah sebat. Serangan Siauw Lan itu
membikin kumis orang yang panjang terpapas sedikit dan
bajunya robek di tujuh tempat.
Di waktu membebaskan diri dari desakan, Sin Thong
menggunai dua macam ilmu ringan tubuh. Pertama-tama ialah
tindakan Thianlo Pou yang gesit, lalu loncatan Teng-in Ciong
atau "Naik Mega". Yang terakhir ialah dia menyentil dengan
sentilan Hian-im Cie kepada pedang lawan hingga terdengar
suara "traang" itu. Sentilan itu membuat incaran Siauw Lan
menjadi meleset.
Siauw Lan sendiri kembali merasakan hawa dingin, yang
membuat hatinya terkejut. Inilah sebab Sin Thong sudah
berhasil meyakini sempurna ilmu sesat "Kekbut Toankang"
atau "Serangan Renggang". Dengan ilmu itu, yang dihubungi
dengan sentilan "Hian-im Cie", ia menyentil pedang Yuliong
Kiam untuk berbareng memindahkan hawa dingin dari Siulo
Imsat Kang. Hawa dingin itu, dengan perantaraan pedang,
mengalir ke tangan Siauw LaLan terkejut, meski tenaga dalamnya mahir, ia toh gentar
juga. Tong Sian Siangjin segera dapat melihat keadaan itu, diamdiam
hatinya berdebaran, Siauw Lan menang unggul tetapi
bukan tanpa bahaya.
Tong Siauw Lan memusatkan perhatiannya menyelami cara
berkelahinya Beng Sin Thong. Tak ayal lagi, ia menggunai ilmu
pedang "Taysiebie" atau "Sumeru Besar". Dengan pedangnya


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ingin ia mengurung lawannya, sedang sinar pedang turut
mengurung tubuhnya sendiri.
Beng Sin Thong melakukan perlawanan hebat. Dia
menggunai pelbagai macam ilmu sesatnya. Tak berhasil ia
lekas-lekas menyingkir dari kurungan pedang, sedang setiap
serangannya kepada lawan, selaku pembalasan, semuanya
seperti hilang lenyap dalam lautan besar. Dengan begitu,
hatinya bertambah gentar. Sebenarnya ia telah berhati-hati
sekali mengatur rencananya melawan Siauw Lan dengan tiga
macam acaranya itu dan ia percaya ia bakal berhasil. Dengan
mengadu Siauw Hong dengan Keng Thian, ia bisa melihat dan
memperhatikan ilmu pedang Thiansan Pay. Dengan acara
yang kedua, iapun melihat tegas keberaniannya Tong Siauw
Lan. Tinggal acara yang ketiga. Dengan ini ia hendak menguji
Siauw Lan, siapa tahu jago
Thiansan itu habis sabar dan lantas menantangnya, hingga
mereka jadi lantas bertarung. Dalam hal ini, ia menjadi pihak
yang terdesak, bahkan dalam pertempuran, ia lantas kena
dirangsak. Sulitnya untuk ia, meski ia mengenal baik pokok
dasar ilmu pedang lawan, ia gelap untuk pelbagai
perubahannya. Maka itu, repotlah ia melawannya.
Bertempur lebih jauh, kembali Sin Thong mendapat
kerugian. Bajunya yang panjang telah tertusuk atau terobek
lagi beberapa kali, bahkan pundaknya kena ditowel ujung
pedang hingga lecet. Syukurnya ia waspada dan masih keburu
berkelit dengan tindakan Thianlo Pou. Ia terkejut dan
berkuatir, maka ia pikir: "Kalau terus begini, aku bisa celaka di
ujung pedang lawan!" Lantas ia mengerahkan semangatnya,
dengan sebat ia menyentil hingga beruntun tiga kali.
Beruntun-runtun terdengar suara "Traang!" yang keras,
begitu Sin Thong bebas dari bahaya maut, tetapi tidak urung
rambutnya kena terpapas kutung hingga hampir-hampir ia
menjadi gundul. Menampak itu, Yang Cek Hu dan Kie Siauw
Hong kaget tak terkira.
Empat kali sudah pedang Yuliong Kiam disentil Sin Thong,
biar bagaimana semua itu ada juga akibatnya. Setiap kali
tersentil, Siauw Lan merasakan getaran pada nadinya. Sabansaban
hawa yang dingin tersalurkan pedang dan sampai pada
nadinya itu. Satu dua kali getaran masih tidak apa, lama-lama,
itu terasa juga. Karena itu, tanpa terasa, gerakan jago
Thiansan ini menjadi rada lambat sendirinya hingga
berkuranglah kelincahannya.
Sin Thong tak berhenti dengan usahanya membebaskan
diri. "Bagus!" seru Siauw Lan ketika ia melihat orang hendak
mendobrak kurungan pedangnya. "Aku memang hendak
mencoba-coba Siulo Imsat Kang!"
Dengan berani jago Thiansan ini meluncurkan terlepas
pedangnya ke tengah udara, sebagai gantinya itu, dengan dua
tangan kosong ia menyambut serangan dua tangan lawannya,
hingga empat tangan beradu keras satu dengan lain, suaranya
terdengar sangat nyata.
Pihak lurus terkejut menyaksikan Siauw Lan melepaskan
pedangnya, hingga ada yang mukanya menjadi pucat pasi.
Mereka tidak menyangka, mereka tidak tahu, bahwa pedang
itu sengaja dilemparkan, supaya jago Thiansan itu dapat
menguji Siulo Imsat Kang yang kesohor dan dimalui itu.
Dengan itu Siauw Lan mau menguji tenaga dalamnya, supaya
sekalian tak usah ia saban-saban kena disentil lawannya yang
licik itu. Juga Beng Sin Thong mengandung maksud yang serupa.
Dengan lawan melepaskan pedang, ia percaya ia bakal
menggunai Siulo Imsat Kang dengan merdeka. Atau kalau toh
ia gagal, ia masih mempunyai semacam ilmu kepandaiannya
yang terakhir guna mati bersama...
Bertempur lagi sekian lama, terlihat dari embunembunannya
Tong Siauw Lan menghembus hawa putih seperti
kabut. Itulah tanda dari hawa yang panas. Para ahli silat
ketahui baik, dengan itu jago Thiansan ini lagi mengerahkan
tenaga dalamnya, untuk mendatangkan hawa hangat atau
hawa panas, guna menolak pergi serangan hawa dingin dari
Beng Sin Thong. Sebab hawa Siulo Imsat Kang telah bekerja
hebat untuk mencoba membikin beku lawan.
Sin Thong telah menyempurnakan gabungan dari ilmu
sesat dan ilmu lurus, untuk itu ia tinggal membutuhkan latihan
terlebih jauh. Sebaliknya Tong Siauw Lan, latihan tenaga
dalamnya sudah mencapai puncaknya lama sekali. Karena ia
dari pihak lurus, bisa dimengerti tangguhnya tenaga dalamnya
itu. Beng Sin Thong mendesak terus, ia seperti mau
"merobohkan gunung untuk menguruk Jautan". Dengan
perantaraan telapakan tangannya, ia saban-saban
mengeluarkan hawa dinginnya.
Kumisnya Siauw Lan berkibar-kibar seperti tertiup angin
keras, sedang uap putih di atasan kepalanya nampak makin
tebal. Tenaga dalamnya itu lunak tetapi kuat, makin lama
makin kokoh. Maka itu, tak perduli hawa dingin menyerang
dahsyat, ia terus dapat bertahan, ia membuat lawan
kewalahan. Kalau yang satu datang seperti hawa dingin di
musim ke empat, yang lainnya menyambut dengan hawa
hangat di musim pertama, selamanya, hawa hangatlah yang
menang... Di mata para hadirin, kedua pihak tetap saling menyerang
dengan hebat. Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu liehay, tetapi sulit
mereka menyelami keadaan yang benar dari pertarungan dua
jago itu. Di mata umum, orang mengharapkan Siauw Lan
menang unggul, tidak tahunya sekarang, mereka melihat
keduanya berkutat hebat, Siauw Lan seperti kalah angin.
Tentu sekali mereka menjadi heran berbareng berkuatir,
hingga mereka berduka, hati mereka tegang. Mereka mau
percaya, siapa kalah, dia tak bakal dapat melarikan diri...
Bagaimana jadinya andaikata kedua pihak berkutat sampai
nempel, sampai mereka tak dapat melepaskan diri satu pada
lainnya" Para penonton berdiam seperti susah bernapas, mereka
bersitegang hati dan gelisah. Tong Sian Siangjin memejamkan
mata, ia cuma memasang telinga. Daripada melihat, ia lebih
suka mendengari...
Tiba-tiba hati pendeta itu berdenyut. Ia mendengar suatu
suara, yang bukan datang dari arah Tong Siauw Lan dan Beng
Sin Thong yang lagi mengadu jiwa itu hanya dari dalam tanah.
Itulah seperti suara menjerujus atau menghembus.
"Tooheng, coba dengar!" ia kata pada Kim Kong Taysu.
"Suara apakah itu?"
Kim Kong Taysu memusatkan perhatiannya. Iapun lantas
dapat mendengar.
"Aneh!" katanya, herannya bukan main. Suara ini seperti
suara lagi menggali...
"Bukankah itu perbuatan manusia?" Tong Sian tanya.
"Tak miripnya," sahut Kim Kong. "Rasanya itu lebih mirip
dengan suara membakar kertas atau arang batu..."
Suara sangat perlahan, cuma dua orang beribadat itu yang
mendengarnya. Tong Sian menjadi bercuriga. Di saat ia
hendak mengisiki kawan-kawannya, mendadak ia mendengar
suara berisik di pihaknya Beng Sin Thong, disana terlihat
seorang bergerak bagakan satu bayangan, cepatnya seperti
elang terbang. Dia lompat melewati banyak kepala orang,
sebelah tangannya membawa tubuh seorang lain. Dia lari
keras sekali. Leng Siauw Cu bersama Yang Cek Hu, Kim Jit Sian dan Hu
Lie Ciat hendak mencegah orang itu, mereka tak berdaya.
Mereka semua liehay tetapi mereka masih kalah gesit.
Rupanya itu disebabkan karena tak bersedia, karena peristiwa
terjadi sangat di luar dugaan.
Tiba-tiba Phang Eng berseru: "Eh! Eh! Lihat! Bukankah dia
si orang yang baru-baru ini menempur hebat pada Beng Sin
Thong?" Phang Lim mengawasi, dia mementang matanya lebarlebar
tetapi dia tidak bersuara, hanya di dalam hatinya dia
kata: "Syukur Kim Bwee tidak ada disini..."
Orang itu memakai topeng. Ia bergerak sangat gesit, mirip
dengan gerakan hantu. Kecuali Phang Lim, tidak ada yang
mengenali siapa ia. Adalah orang yang ia cekuk itu yang
dikenal banyak orang. Dialah Sukhong Hoa, komandan dari
pasukan Gieliemkun!
Sukhong Hoa kosen sekali, semua orang ketahui itu dengan
baik, maka heran sekarang dia kena terbekuk orang "tak
dikenal itu" hingga dia menjadi tidak berdaya. Bahkan Tong
Sian Siangjin turut heran dan terperanjat.
Selagi orang-orang di pihak Sin Thong itu kaget dan heran
hingga mereka mendatangkan suara berisik, orang itu sudah
berhasil turun ke arah pihak kaum lurus. Karena dia tidak
dikenal siapa, beberapa orang Siauwlim Sie lantas maju untuk
memegat. "Bagus kamu maju!" berkata orang itu, suaranya dalam.
Dia menyambuti Tay Pie Siansu, kepala dari Cappwee Lohan,
atau Delapan belas Arhat dari Siauwlim Sie. Dengan kesehatan
dan kepandaiannya yang luar biasa, tahu-tahu dia sudah
menyambar hongpian-san, senjata mirip sekup dari pendeta
itu, dengan menggunai itu sebagai galah, dia menekan tanah
dan berlompat sambil terus membawa orang tawanannya.
Dengan begitu dia tak dapat dirintangi, sampai ujung
bajunyapun tak kena dito-wel!
Baru sekarang Tong Keng Thian mengenali orang itu"
orang yang baru-baru ini menolongi Le Seng Lam. Ia kuatir
orang itu bermaksud buruk terhadap ayahnya, yang lagi
berkutat dengan Beng Sin Thong, dengan lantas ia menyerang
dengan tiga biji Thiansan Sinbong.
Dengan membawa terus hong-piansan, orang itu berlari-lari
dengan berlompatan. Satu kali, justeru kakinya belum turun
ke tanah, sinbong menyambar ke arah punggungnya. Itulah
berbahaya sebab senjata rahasianya Keng Thian bukan
sembarang senjata rahasia. Di tanah datar sukar untuk
berkelit, apapula selagi orang berlompat.'
Kang Lam melihat itu, dia lantas berteriak: "Jangan!
Jangan! Tong Siauwciangbun, jangan!..." Akan tetapi pemuda
ini berteriak sesudah terlambat. Sinbong sudah mengancam
sasarannya. Tepat bahaya mengancam, orang itu menangkis dengan
hongpiansan hingga sinbong jatuh ke tanah. Tapi yang kedua
sudah lantas tiba. Kali ini yang jadi sasarannya ialah batok
kepala. Atas itu tubuhnya lantas berjumpalit, mengikuti
gerakannya menangkis sinbong barusan.
Orang semua kaget berbareng kagum.
Tapi sekarang datang sinbong yang ketiga. Justeru itu,
orang itu terlihat jatuh ke arah kobakan di lembah. Melihat
demikian, banyak orang berseru karena kaget.
Tong Sian Siangjin heran.
"Orang itu liehay sekali," pikirnya. "Mungkin dia gagah
berimbang dengan Tong Siauw Lan. Seharusnya dia dapat
menangkis sinbong yang ketiga ini! Kenapa dia justeru kena
terhajar"..."
Belum lagi orang hilang heran dan kagetnya mendadak
mereka melihat orang tadi lompat mencelat dari dalam air,
pakaiannya kuyup, airnya mengucur. Di tangannya, orang itu
masih tetap mencekal Sukhong Hoa. Begitu dia menginjak
tanah datar, dia kabur pula.
Kang Lam mengeluarkan napas lega. Senang ia melihat
orang itu tidak terluka. Ia menyusut keringat yang
membasahkan dahinya.
"Eh, Kang Lam, kau kenapa?" tanya Thian Oe heran.
"Kenapa barusan kau berteriak mencegah Tong
Siauwciangbun menyerang orang itu?"
"Sebab aku melihat orang itu mestinya... mestinya..."
Kang Lam ragu-ragu.
"Dia siapa?" Thian Oe mendesak.
"Dia mestinya... Kim Tayhiap!"
"Ah, kau ngaco belo!" kata Thian Oe. "Kim Sie Ie toh sudah
ditelan ikan cucut di dalam laut! Phang Liehiap sendiri telah
pergi ke Pulau Ular dan membawa pulang sisa barangnya!
Mustahil dia dapat hidup pula"..."
"Kau tidak percaya?" kata Kang Lam, mengawasi. "Coba
perhatikan! Benar dia memakai topeng tetapi tubuhnya tak
berubah! Lihatlah tubuhnya itu! Dan dengarlah suaranya!"
Thian Oe melongo. Masih ia sempat melihat tubuh orang
yang berlari-lari jauh itu. Iapun mengingat-ingat lagu suara
orang walaupun tadi orang bicara dengan suara dalam.
Benarlah seperti katanya Kang Lam, orang itu mirip dengan
Kim Sie Ie. Ia jadi heran, ia jadi bercuriga.
Mereka ini bicara tanpa didengar atau diperhatikan siapa
juga, orang umumnya masih bersuara berisik dan
memperhatikan pada pembawa lari Sukhong Hoa itu. Orang
heran dan kagum, orangpun tak berdaya...
Kim Sie Ie sendiri bersama orang tawanannya sudah
sampai di dasar lembah.
"Lekas bilang!" kata dia membentak, di telinga Sukhong
Hoa, begitu lekas dia berhenti berlari. Dia menurunkan tubuh
orang tetapi tak melepaskannya. "Dimana dipendamnya obat
pasang itu?"
Kata-kata ini dibarengi dengan totokan pada iga si orang
tawanan. Kontan Sukhong Hoa meringis-ringis. Dia merasa nyeri
seperti dipaguti ribuan ular.
Sie Ie mengawasi, lalu ia menepuk lengan orang. Itulah
cara guna mengurangi siksaan itu.
"Lekas ajak aku pergi ke tempat mendam obat pasang itu!"
kata pula ia. "Obat pasang itu mesti dipadamkan! Jikalau
tidak, nanti kau rasai pula yang jauh terlebih sedap daripada
ini!" Ketika itu suara tadi, yang didengar Tong Sian Siangjin dan
Kim Kong Taysu, terdengar terus, sekarang semakin nyata.
Itulah buah hasil pemikiran telengas dari Ko Hong Kauw
dan Sukhong Hoa. Bersama-sama dua orang ini bekerja.
Mereka memendam sejumlah besar obat pasang di lembah
itu, lalu dihubungi dengan semacam pipa untuk sampai di luar
rimba, di tempat dimana mereka memasang orang, guna
menyulut bahan peledak itu.
Cianciang Peng merupakan tanah mencil setengah lie
sekitarnya, itulah tempat yang tepat untuk diledakkan, guna


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memusnahkan orang-orang yang tak disukai. Siapa dapat
ditawan, akan ditawan, siapa tidak, biarlah mereka mati! Maka
lembah itu ialah lembah kematian. Sekalipun rombongannya
Beng Sin Thong tak bakal lolos...
Setelah memikir menggunai obat pasang itu maka Ko Hong
Kauw dan Sukhong Hoa bicara dengan Sin Thong, menganjuri
supaya tempat pertandingan dirubah, pindah dari kuil
Siauwlim Sie ke tanah datar Cianciang Peng itu. Katanya
Siauwlim Sie bukan tempat yang tepat, sebab itulah kuil yang
merupakan seperti sarang musuh. Sin Thong pun setuju
karena ia ingat anak perempuannya berada juga di dalam kuil.
Sebenarnya Ko Hong Kauw mengusulkan agar Beng Sin Thong
membasmi pihak Siauwlim Sie tapi usul ini ditolak Sin Thong.
Inilah yang membikin Ko Hong Kauw ingin .sekalian
menghabiskan konconya ini.
Kim Sie Ie selalu bekerja sebagai bayangan. Ia mengawasi
gerak-geriknya Sukhong Hoa dan Ko Hong Kauw itu. Maka ia
mendapat-tahu niat jahat dari dua orang ini.
Cuma ia tidak berhasil mencari tahu sendiri tempat
mendam obat pasang. Maka terpaksa ia muncul dan
membekuk Sukhong Hoa di muka umum, di saat perhatian
semua orang ditumplaki pada pertempuran di antara Beng Sin
Thong dan Tong Siauw Lan. Sukhong Hoa sendiri alpa hingga
ia kena dibokong dan dibawa lari, untuk dipaksa membuka
rahasia. Sebenarnya di saat itu, Sukhong Hoa sendiri telah memikir
untuk memadamkan api, guna mencegah perledakan. Ia
mendapat kenyataan bahkan pihaknya sendiri terancam
perletupan. Tak mau ia mati hancur lebur. Maka itu, ia lantas
memberikan petunjuknya.
"Disana!" katanya. Ia mengajak lari ke sisi sebuah batu
besar. Sie Ie sudah lantas menggunai hongpiansan untuk
membongkar minggir batu besar itu. Ia lantas melihat
setumpuk bahan peledak itu, di antaranya ada sumbu yang
tengah menyala, yang apinya bergerak seperti ular
menyelosor. Lekas-lekas ia menginjak mati sumbu itu.
"Sungguh berbahaya!" ia mengeluh. Jarak api dan
tumpukan obat pasang tinggal tak setombak lagi!
Tengah Sie Ie melengak habis memadamkan api itu, tibatiba
ia dibikin terkejut oleh menyambarnya sebatang
jemparing berapi.
Mulanya anak panah itu melayang di udara. Dengan satu
pukulan Pekkhong Ciang, ia membikin anak panah mental
balik. Justeru itu terdengar pula suaranya jemparing yang
kedua dan ketiga. Lekas-lekas ia membuka bajunya yang
basah, untuk dipakai menutupi tumpukan obat pasang itu.
Iapun menotok Sukhong Hoa, yang tubuhnya ia angkat, untuk
diletaki di atas tumpukan itu.
Habis menyingkirkan anak panah kedua dan ketiga itu, Kim
Sie Ie mengangkat kepalanya, dongak melihat ke arah dari
mana datangnya pelbagai penyerangan panah berapi itu.
Maka terlihatlah Ko Hong Kauw serta rombongannya di
sebuah tempat tinggi, supaya tak usah turut menjadi korban
perledakan, mereka itu memilih tempat yang tinggi dan jauh
itu. Dari situ mereka memanah berulang-ulang akan tetapi
kebanyakan panah jatuh di tengah jalan, tidak sampai ke
tempat pendaman obat pasang itu. Yang dapat sampai cuma
panahnya Ko Hong Kauw sendiri serta beberapa konconya
yang liehay. Orangpun menjadi ribut dan kacau. Pihak lurus dan sesat
sama kagetnya. Pelbagai anak panah berapi itu justeru jatuh
di antara, atau di dekat-dekat mereka. Tentu saja mereka
menjadi kaget dan takut, lalu menjadi gusar, maka banyak di
antaranya lantas lari mendaki, guna menyerang Hong Kauw.
Ko Hong Kauw mengepalai empat puluh wiesu, bersama
iapun berada beberapa pemimpin Gieliemkun. Mereka
mengambil kedudukan bersama, terus mereka memanah ke
arah orang banyak.
Ketika itu pertempuran di antara Beng Sin Thong dan Tong
Siauw Lan telah memasuki babak yang gawat, mereka
masing-masing tengah saling memperhatikan lawan, bersiapsiap
memberi pukulan yang terakhir sambil mereka menjaga
diri baik-baik. Siapa ayal dan alpa, dialah yang bakal celaka.
Karena itu mereka tidak menghiraukan segala suara berisik
dan kekacauan di sisi mereka itu, Bahkan mereka masih
berdiam saja waktu beberapa potong anak panah berapi jatuh
di dekat mereka, menyala dan membakar rumpur atau bunga
hutan disitu. Kim Sie Ie terkejut melihat Tong Siauw Lan terancam
bahaya itu. Dengan berdiam saja, jago Thiansan dapat kena
terpanah atau terbakar kobaran apinya anak-anak panah itu.
Ia menjadi bingung sebab sulit ia memisah diri, guna
mengasih kisikan atau menolong jago Thiansan itu. Di lain
pihak, tak dapat ia tidak memberi pertolongannya.
Di saat sangat berbahaya itu, Sie Ie mengambil
keputusannya. Ia meninggalkan tumpukan obat pasang, ia
membuang diri, untuk bergulingan ke tempat pertempuran.
Habis itu ia mencelat bangun dengan satu loncatan "Ikan
Gabus Melentik". Begitu ia berdiri, begitu ia menyelak di
antara kedua musuh dengan mementang kedua tangannya.
Itulah daya untuk memisahkan kedua orang yang lagi berkutat
itu. Adalah itu waktu mendadak terdengar suara meletup yang
keras sekali. Itulah suara meledaknya obat pasang. Karena
sebatang anak panahnya Ko Hong Kauw mengenai tepat
tanpa rintangan, api membakar, lalu obat pasang itu bekerja!
Sie Ie kalah tenaga dalam dibanding dengan dua jago itu,
mestinya ia tak berdaya memisahkan mereka, akan tetapi ia
cerdik, ia menggunai akal. Ia menggunai tipu yang didapat
dari kitabnya Kiauw Pak Beng. Itulah tipu "Meloloskan", yang
dapat menggeser tenaganya kedua orang itu.
Tepat kedua musuh terpisah, tepat letupan mengancam.
Tubuh Tong Siauw Lan terpental jauhnya belasan tombak.
Tubuh Sin Thong, terpental mendekati . tempat letupan...
Sie Ie sudah tahu bahaya, ia telah siap sedia, begitu ia
memisahkan, begitu ia berlompat, tetapi tak urung, ujung
kakinya kena juga tersambar api hingga terbakar, syukur
lukanya enteng.
Ledakan tak sehebat rencananya. Sebabnya ialah kesatu
obat pasang telah dikerebongi baju basah Sie Ie dan kedua,
tubuhnya Sukhong Hoa terletak di atasnya. Tenaga meledak
itu menjadi berkurang. Maka celakalah komandan dari
Gieliemkun itu, tubuhnya terlempar hancur lebur.
Api lantas melulahan. Orang pun sangat kacau. Semua
orang lari ke tempat tinggi, yang dipandang aman. Yang
tadinya berdiam di lerengpun lari mendaki, menuju ke
tempatnya rombongan Ko Hong Kauw.
Syukur buat Kim Sie Ie, dia habis nyebur di kobakan,
tubuhnya tak terasakan terlalu panas.
Tong Siauw Lan menghalau api dengan kebutan bajunya
yang ia lekas-lekas loloskan. Ia mengerahkan tenaga
dalamnya, hingga bajunya dapat digunakan mirip tameng.
Meski begitu, ketika ia sudah lolos dari bahaya, bajunya itu
habis hangus. Phang Eng bersama Tong Sian Siangjin lompat untuk
menyambut. Tong Sian mendahulukan memberikan obat
buatan Siauwlim Pay, yaitu pel Pekhoa Gioklouw Wan, untuk
menyingkirkan keracunan api.
Beng Sin Thong pun membela diri dari serangan api. Dia
murka sekali hingga dia berseru nyaring.
Dia melawan hawa panas dengan serangan-serangan Siulo
Imsat Kang. Hawa dinginnya itu lebih bermanfaat seratus kali
daripada pilnya Tong Sian Sianjin. Meski begitu, karena dia
terlambat, dalam hal luka, dia lebih parah daripada Tong
Siauw Lan, cuma di pandangan mata saja, dia lebih segar...
Dua jago ini menyingkir di daerah yang berlainan.
Tong Sian Siangjin berkuatir melihat Sin Thong dapat
menolong diri. Ia takut, saking mendongkol Sin Thong nanti
mengamuk. Maka ingin ia mencegahnya.
Siauw Lan mengawasi ke arah jago sesat itu, ia kata: "Dia
telah tergempur nadinya yang disebut Sam-yang, karena
disana ada Kim Kong Taysu dan ketua Cengshia Pay, taruh
kata dia mau mengamuk, dia tak akan dapat berbuat banyak."
Ketika itu orang mendengar teriakannya Beng Sin Thong:
"Ko Hong Kauw, buah, kau sangat jahat! Kiranya kau juga
hendak membinasakan aku! Dalam usia enam puluh tahun
inilah baru pertama kali aku dicurangi orang! Hm! Jikalau aku
tidak dapat membinasakan kau, orang-oarang gagah di kolong
langit ini pasti bakal mentertawakan aku!"
Nyata jago sesat itu gusar pada konconya sendiri. Habis
berteriak itu, dia lompat melesat, untuk naik ke tinggi. Dia
dapat lompat jauh, dia tak menghiraukan tempat yang sukar
dilalui itu. "Hantu itu benar-benar sangat jumawa," kata Siauw Lan.
"Dia tak suka dicurangi orang! Dia telah terluka parah,
meskipun dia masih gesit, dengan dia menggunai tenaga
berlebihan, dia menambah celakanya. Kalau dia dapat
memelihara diri, dia masih dapat hidup setengah tahun,
sekarang dia mau menempur Ko Hong Kauw, dia
memperpendek umurnya itu..."
Pada saat itu Tong Keng Thian dan rombongannya sudah
mendekati rombongannya Ko Hong Kauw. Ia menggunai
Thiansan sinbong, maka ia dapat maju cepat. Beberapa
musuh yang liehay telah runtuh terkena senjata rahasianya
itu. Hati Hong Kauw sudah menjadi ciut, dia telah memikir
untuk lekas menyingkir. Di samping rangsakan rombongan
Keng Thian itu, dia mendengar suaranya Beng Sin Thong.
Dalam takutnya, dia tak mau main lambat-lambatan lagi.
Beng Sin Thong maju terus. Dengan lantas dia menghajar
roboh beberapa orang Gieliemkun yang hendak menghadang,
hingga yang lain-lainnya lantas lari tunggang-langgang.
Tong Keng Thian juga bekerja terus. Ia menghajar Ko Hong
Kauw dengan Thiansan sinbong, justeru komandan itu
menjatuhkan diri bergulingan, untuk lari menyingkir. Karena
itu, sinbong menjurus ke arah Sin Thong.
Jago Siulo Imsat Kang melihat datangnya senjata rahasia,
dia kata tertawa: "Kau telah melukai muridku, baik, sekarang
aku beri rasa sebatang anak panah padamu!" Lantas dia
menyentil dengan dua jerijinya.
Phang Lim berada di sisi Keng Thian, ia menolak tubuh
keponakan itu, dengan begitu senjata rahasia itu tak berbalik
makan tuan. Melihat demikian, Beng Sin Thong tertawa terbahak-bahak.
Ia tidak mau melayani Keng Thian, hanya ia lari ke lain arah,
guna menyusul Ko Hong Kauw!
Tiba-tiba muncullah dua orang.
"Bangsat tua she Beng, apakah kau memikir buat kabur?"
demikian bentakan dua orang itu, yang murka sekali.
Kiranya merekalah Ek Tiong Bouw ketua Kaypang, Partai
Pengemis, dan Sin In Long, wakil ketua Cengshia Pay. Itulah
dua orang yang justeru sangat membenci jago sesat itu. Ek
Tiong Bouw ingin membalaskan sakit hati mendiang Ciu Kie,
ketua Kaypang yang kedudukannya ia gantikan. Itu pula
peristiwa yang membikin Sin Thong dimusuhkan Binsan Pay.
Dan Sin In Long membenci, sebab dilukainya Han In Ciauw,
ketuanya, yang sampai pada saat itu masih juga belum
sembuh. Dua-dua Tiong Bouw dan In Long telah menjadi nekad.
Mereka tahu mereka bukan lawan Sin Thong tetapi mereka
berani meme-gat, mereka mau melawan juga. Inilah saat
yang tepat, sebab lain ketika yang baik sukar dicari. Mereka
pikir asal mereka bisa melibat musuh ini, pasti kawankawannya
bakal menyusul. Kalau Sin Thong kena dikurung
dan dikepung, tak nanti dia dapat lolos lagi...
Tiong Bouw menyerang dengan jurus dari Hokmo
Thunghoat, ilmu toya Menakluki Hantu, sedang Sin In Long
dengan pedangnya, dalam hal mana, dia memang kesohor.
Sin Thong kaget. Sebenarnya ia tidak jeri sedikit juga
menghadapi dua musuh itu walaupun mereka semua kesohor
gagah, tapi sekarang ia berkuatir lantaran ia tengah terluka
bagian dalam. Ketika pedang Cengkong Kiam tiba ke dadanya,
ia berkelit dengan tindakan Poanliong Jiauwpouw atau Naga
Mendekam. Sebagai pembalasan, ia menyentil ke arah mata
penyerangnya. In Long berkelit, tangan kirinya menangkis. Maka tangan
kiri itu menjadi korban sentilan, yang membuatnya merasa
sakit sampai di uluhatinya. Sebaliknya ujung pedang menowel
juga perut sasarannya, hingga Sin Thong mesti mengucurkan
darah. Ketka itu tiba juga tongkatnya si ketua pengemis. Tongkat
menyambar bagaikan ambruknya gunung Taysan.
Sin Thong mendapat lihat datangnya bahaya, ia berseru,
tangannya digeraki untuk menangkis. Dengan wajar ia
menggunai Siulo Imsat Kang. Tongkatnya Tiong Bouw tapinya
dilepaskan, tongkat itu meluncur, cepatnya bukan buatan.
Itulah tipu tongkat "Naga terbang ke langit", suatu tipu
simpanan, sebab itulah daya untuk mati bersama musuh...
Beng Sin Thong berkelit, masih juga punggungnya kena
terhajar. Sebenarnya dia kebal, dia tak mempan senjata,
tetapi sekarang, selagi dia terluka, dia sudah tak gesit lagi dan
daya bertahannya berkurang. Maka matanya menjadi kabur,
mulutnyapun terbuka, menyemburkan darah hidup.
Tiong Bouw juga tak bebas. Hajaran Siulo Imsat Kang
membuatnya roboh!
Sin Thong gusar bukan main. Begitu dia dapat melihat
tegas, begitu dia menyerang kepada ketua Kaypang itu.
Tepat di saat Tiong Bouw menghadapi ancaman maut.
Tong Sian Siangjin sudah memburu tiba. Pendeta ini segera
menyerang dengan seratus delapan biji liam-cu, yaitu mutiara
atau biji tasbihnya.
Sin Thong berseru, dia lompat ke belakang dengan
berjumpalitan, dengan begitu dia bisa membebaskan dirinya,
kecuali tujuh bocah mutiara mengenai juga jalan darahnya,
menambah parah kepada lukanya.
Tong Sian lantas mengasih dengar pujinya: "Omietoohud!"
Lantas ia lompat kepada Ek Tiong Bouw, guna mengasih
bangun ketua Kaypang itu.
Syukur buat Tiong Bouw, ia telah mempelajari Siauwyang


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sinkang, serangannya Sin Thong tidak sampai merampas
jiwanya. Maka sekarang tubuhnya menggigil terus saking tak
sanggup ia bertahan dari hawa dingin.
Sebaliknya Sin In Long terluka lebih parah. Inilah sebab ia
tidak mempelajari Siauwyang Sinkang. Bagus ia mahir tenaga
dalamnya, ia tak usah sampai terancam bahaya maut.
Sementara itu Tiong Bouw heran, maka ia tanya Tong Sian:
"Bangsat tua she Beng itu sudah terluka, Siulo Imsat Kang-nya
tak berbahaya lagi seperti semula, karena itu, kenapa
loosiansu tidak menghajar terus untuk menyingkirkan ia dari
dunia?" Pendeta itu tunduk seraya merangkap kedua tangannya.
"Omietoohud," pujinya perlahan. "Beng Sin Thong jahat
memenuhkan takarannya saat kematiannya bakal segera tiba,
maka itu sakit hati kau, kiesu, tak usahlah dibalas terlebih
jauh..." Terluka nadinya, usia Sin Thong tinggal lagi setengah
tahun, sekarang dia mendapat tambahan luka di perut terkena
pedang dan punggung terhajar tongkat, juga terhajar jalan
darahnya oleh Tong Sian, usianya itu menjadi pendek hingga
tak usah lewat sampai sepuluh hari lagi. Si pendeta berhati
sangat suci dan pemurah, tak dapat ia menjadi pembunuh.
Tadipun, jikalau tidak sangat terpaksa hendak menolongi
Tiong Bouw, tidak nanti ia memberondong dengan tasbihnya
itu, dengan timpukan "Tengcu Hang-mo" atau, "Mutiara
Penakluk Hantu". Setelah menyerang itu, ia merasa tak enak
hati sendirinya...
Ko Hong Kauw sementara itu menggunai ketika kekacauan
untuk melarikan diri. la kabur sampai belasan lie baru merasa
lega. Akan tetapi, belum sempat ia beristirahat, tiba-tiba ia
mendengar bentakan: "Binatang, walaupun kau kabur sampai
di ujung langit, kau tak nanti dapat lolos dari telapakan
tanganku!" Ia kaget bukan kepalang, terutama karena ia
mengenali suaranya Beng Sin Thong. Iapun kaget karena ia
mendengar suara tanpa melihat orang atau bayangannya!
Beng Sin Thong menggunai ilmu "Thiantun Toan-im" untuk
bentakannya itu. Itulah besar pengaruhnya, karena ia
membuat hati Hong Kauw kacau balau. Pahlawan istana itu
takut dan berniat menyingkir terlebih jauh, apa celaka, kedua
kakinya seperti tak mau mendengar suara hatinya, maka di
dalam tempo yang pendek, ia sudah kena disusul jago Siulo
Imsat Kang itu.
"Beng Sianseng," tanya Hong Kauw dengan hatinya ciut,
"selagi sekarang kita menghadapi musuh besar, mengapa
Sianseng mau menyeterukan aku hingga kita seumpama kata
ada sebagai musuh besar satu dengan lain?"
"Kau ngaco!" bentak Sin Thong bengis. "Bagus
perkataanmu ya! Sampai aku sendiri kau hendak bikin binasa!
Masihkah kau memikir buat mendapat ampun?"
Hong Kauw melihat ia tidak dapat jalan lolos lagi, ia
menjadi nekad. Ia lantas tertawa dingin dan kata: "Beng
Sianseng, kau cuma tahu menegur lain orang! Kau tak sudi
menegur dirimu sendiri! Memang aku memikir untuk membikin
kau dan Tong Siauw Lan musnah bersama, sayang maksudku
itu tidak kesampaian! Kau bilang aku hendak mencelakai kau,
tapi coba kau jawab, kau sendiri, selama seumurmu berapa
banyak jiwa yang telah melayang di tanganmu" Maka itu aku
si orang she Ko, melainkan meniru contohmu!"
Ditegur demikian macam, Sin Thong melengak.
Selagi orang berdiam itu, Hong Kauw mengangkat pula
kakinya untuk lari kembali, guna mencoba menyingkir terlebih
jauh. Mendadak ia mendengar suara nyaring dari Beng Sin
Thong, yang berkata seorang diri: "Biar aku mencelakai lain
orang asal jangan lain orang mencelakai aku! Aku si orang she
Beng biasa melakukan kejahatan, supaya tak kepalang, hari
inipun aku membunuh kau! Aku anggap ini juga suatu
perbuatan mulia!"
Perkataan itu diikuti dengan serangannya dengan Siulo
Imsat Kang, ilmu silatnya itu, yang mengeluarkan hawa dingin
sekali. Ko Hong Kauw tidak mau menyerah binasa kecewa, ia
membalik tubuhnya buat melakukan perlawanan, ia
menyambut serangan itu. Dengan lantas ia merasakan
dadanya sesak dan darahnya bergolak, terus tubuhnya
menggigil keras. Akan tetapi ia tidak roboh, hingga ia heran
sendirinya. Sebagai Taylwee Congkoan, pemimpin barisan istana, Hong
Kauw memang liehay sekali, maka itu, setelah dipaksa mundur
enam tindak, ia dapat menahan tubuhnya untuk berdiri tegak.
Hal ini membuatnya mendapat hati. Ia menghadapi Sin Thong
dan tertawa ber-gelak. Katanya: "Beng Sianseng, kiranya kau
juga mendapat luka parah! Kalau begitu, kaupun tidak bakal
hidup lebih lama pula! Maka kenapakah kau mendesak begini
rupa padaku! Aku pikir baiklah kita menjadi akur pula, untuk
bekerja sama lebih jauh! Disini aku mempunyai obat yang
mujarab buatan istana!"
Sin Thong tahu, ia bakalnya tak dapat disembuhkan dengan
obat macam apa juga. Hanya hal itu tak diketahui Ko Hong
Kauw. Congkoan ini tidak menduga luka orang demikian
parah, dari itu ia menawarkan obatnya, supaya dengan
memberi pertolongan itu, Sin Thong tidak jadi membunuhnya.
"Terima kasih untuk kebaikan hati kau!" kata Sin Thong
tawar. "Tahukah kau apa yang sekarang ini aku pikir hendak
lakukan?" Hong Kauw tercengang. Ia mengawasi, la mendapat lihat
roman orang yang tak wajar.
Beng Sin Thong melihat orang ragu-ragu itu, ia tertawa
pula, kembali ia berkata keras: "Seumurku aku telah malang
melintang di dalam dunia ini, selama itu cuma orang lain yang
mendapat hajaran dari aku, maka adalah di luar dugaan, hari
ini aku hampir terbinasa di tangahmu! Ini dia yang dibilang
perahu karam di air dangkal! Maka hari ini di saat kematianku,
sebelum aku dapat membunuh kau, tak nanti aku mati
meram!" "Beng Sianseng," berkata Hong Kauw, suaranya
menggetar, "kenapa... kenapa kau tidak mau dengar nasihat
baik" Benar-benarkah kau sudah tidak menghendaki pula
jiwamu?" "Benar!" sahut Sin Thong tertawa. "Memang aku ingin kau,
Congkoan Tayjin, untuk kau turut aku bersama!..."
Belum habis kata-kata itu dikeluarkan, jago ini sudah
menyerang dengan pukulan Kimkong Ciang dengan tangan kiri
dan dengan tangan kanannya dengan Siulo Imsat Kang yang
berhawa sangat dingin. Ia mengerahkan tenaga dari tingkat
ke sembilan! Itulah pukulan dengan tenaga yang terkerahkan semua, tak
perduli itulah tenaga sisa. Hebat akibatnya itu walaupun Ko
Hong Kauw mencoba untuk bertahan, dengan satu jeritan
hebat tubuhnya lantas roboh terkulai dan mandi darah!
Beng Sin Thong berlenggak, dia tertawa nyaring, akan
tetapi justeru dia merasa puas tenaganya habis, terus
perutnya terasa sangat nyeri seperti ususnya melilit-lilit. Ia
menjadi sangat bingung. Itulah penderitaan hebat, alamat
yang meminta jiwanya. Justeru itu, telinganya mendengar
kata-kata ini: "Bangsat tua she Beng, sekarang tibalah saatnya
aku membuat perhitungan denganmu! Kau berhutang
banyaknya empat puluh tiga jiwa! Itulah permusuhan
berdarah selama dua puluh tahun lebih! Sekarang bilanglah,
bagaimana caranya perhitungan harus dibikin?"
Suara itu bernada penasaran dan membenci sangat,
biarnya Sin Thong seorang hantu, dia toh kaget dan jeri,
sampai dia bergemetar sendirinya.
Itulah suaranya Le Seng Lam!
"Nona Le," kata dia, yang terus menoleh, "kau bermaksud
membalas sakit hati terhadapku, untuk itu kau berdaya hingga
menderita hebat, aku si orang tua sangat kagum padamu! Aku
telah membinasakan jiwa sekeluargamu, sekarang aku cuma
mengganti dengan satu jiwaku! Kalau kau mau ambil jiwaku,
nah, kau ambillah."
Mendadak jago tua itu berlompat maju, seperti juga dia
mau menyerahkan diri!
Le Seng Lam, yang muncul secara tiba-tiba setelah dia
memasang mata sekian lama, sudah siap sedia. Ia memegang
semacam bungbung di tangannya, ia hadapi itu pada Sin
Thong dan menekan pesawat rahasianya. Maka dengan lantas
keluarlah asap mengepul, menyembur pada jago itu!
Beng Sin Thong menjerit, tubuhnya mencelat tinggi, untuk
menubruk. Kembali Seng Lam menyambut. Mulanya ia lompat ke
samping, untuk menyingkirkan diri, lalu ia menerbangkan
sehelai ikat pinggang sulam yang berwarna lima rupa dengan
apa ia menyambar dan melilit kedua kaki orang!
Sin Thong lompat jumpalitan, dengan begitu kepalanya
berada di bawah dan kakinya di atas, melihat datangnya
serangan, ia mengulur tangannya guna menangkap, untuk
menariknya. Walaupun ia tengah terluka parah, ia masih dapat
menggunai sisa tenaganya untuk membela diri atau
melakukan perlawanan. Hanya kali ini ia tidak mempunyai
perkiraan lagi, tak dapat ia memikir banyak. Ia tidak tahu
bahwa senjata si nona telah penuh ditancapkan jarum-jarum
berbisa, maka juga telapakan tangannya lantas kena tertusuk
banyak jarum. Ikat pinggang itu sendiri terbuat dari kulit ular,
ular berbisa juga, yang pun direndam di dalam racun, maka
racunnya jahat luar biasa. Sin Thong telah terluka di dalam,
sekarang ia terluka bisa, ia menjadi seperti kalap, bagaikan
binatang liar, ia mengasih dengar suaranya yang keras dan
nyaring serta menyayatkan hati.
Racun ular sudah lantas bekerja, mendatangkan rasa gatal
dan nyeri. Le Seng Lam telah berhasil merampas pulang kitab racun
Pektok Cinkeng dari tangannya Seebun Bok Ya, ia sudah
lantas pahamkan kitab itu, dengan begitu ia berhasil membuat
dua macam racun yang paling liehay, ialah yang satu itu
bungbung yang mengepulkan asap bisa, yang sebenarnya
obat busuk Ngotok San, dan yang lainnya ialah ikat pinggang
tersebut, yang dinamakan Coagee So, atau tali Gigi Ular.
Giginya ialah semua jarum itu!
Maka itu jangan kata Beng Sin Thong sudah terluka parah
dan tinggal menantikan saat kematiannya, walaupun ia segar
bugar, sulit untuk ia membebaskan diri dari serangan dua
senjata yang maha dahsyat itu. Sukar untuk menjaga diri dari
kedua macam senjata itu.
Setelah menaruh kaki, dengan mata mendelik Beng Sin
Thong berkaok-kaok: "Bagus, bagus ya, budak cilik! Cara
pembalasan kau ini nyata jauh terlebih telengas daripada caracaranya
aku si orang tua!"
Habis itu, jago tua ini menggigit lidahnya, hingga darahnya
muncrat, tetapi ia tidak roboh terkulai, bahkan sebaliknya, ia
lantas berteriak, sambil berteriak, ia lompat pula menerjang si
nona, menerjang dengan tangannya yang kuat luar biasa.
Sin Thong sudah berhasil melatih "Thianmo Kaytee
Tayhoat", atau ilmu "Hantu Langit Mengurai Tubuh". Itulah
ilmu kaum sesat yang paling liehay, digunakannya untuk mati
bersama. Dengan ilmu itu orang dapat mengumpul sisa
tenaganya di saat kematian mengancam, tenaganya dapat
menjadi tiga lipat terlebih kuat.
Ketika Sin Thong menempur Tong Siauw Lan, ia sudah
memikir buat menggunai Thianmo Kaytee Tayhoat itu, sayang
sebelum ia mendapat kesempatannya, sudah terjadi
perletupan dahsyat akibat sepak terjangnya Ko Hong Kauw.
Baru sekarang ia dapat menggu-nainya di waktu menghadapi
Seng Lam ini. Seng Lam terkejut melihat orang masih sanggup
mengadakan perlawanan terlebih jauh, bahkan ia terancam
bahaya. Dengan sebat ia menghunus pedang Cay-in Kiam,
untuk membarengi menikam. Ia menikam tapi ia merasakan
dorongan yang kuat sekali, hingga ia susah bernapas. Justeru
itu, mendadak ia merasa ada orang yang menarik tubuhnya,
hingga ia terpisah dari Sin Thong jauhnya beberapa tombak,
karena mana ia jadi bebas dari serangan jago tua itu. Ketika ia
sudah berdiri tegak dan mengawasi ke depan, ia melihat Beng
Sin Thong sudah roboh dengan mandi darah, sebab
pedangnya telah nancap telak di tubuh orang, hingga pedang
itu masih nampak bergoyang-goyang!
Tapi Beng Sin Tong tidak lantas putus jiwa. Di antara
pengempang darahnya sendiri, ia bergerak bangun hingga ia
bisa duduk lalu dengan tangannya ia mencabut pedang yang
nancap di tubuhnya itu, sembari tertawa dingin dengan roman
bengis, ia kata: "Jiwaku dapat aku serahkan kepada kau tetapi
tidak dapat kau menurunkan tanganmu sendiri!"
Perkataan ini diakhiri dengan tabasan ke arah leher, maka
jago tua itu roboh terguling berbareng dengan jatuh
bergelindingan kepalanya itu!
Seng Lam berdiri menjublak. Ia mau menuntut balas, ia
sudah men-dayakannya tetapi sekarang, menyaksikan
kebinasaannya musuh itu hatinya gentar. Ia menjublak
dengan mulut terbuka lebar dan mata mendelong!
Kim Sie Ie, orang yang menarik si nona, sudah lantas
bertindak maju. Ia menggeleng-geleng kepala.
"Pepatah membilang, siapa berbuat kejahatan, dia pasti
akan terbinasa sendiri, sekarang itu berbukti!" katanya. "Maka
itu Seng Lam, setelah sekarang kau berhasil dengan
pembalasanmu, aku harap sukalah kau ambil dia sebagai
contoh, supaya kau dapat menguasai dirimu sendiri."
Dengan menolongi si nona, Sie Ie pun menerjang bahaya.
Coba Sin Thong sebat seperti biasa, serangannya itu tak dapat
ditahan olehnya, mesti dia turut Seng Lam terbinasa bersama,
syukur disebabkan luka parahnya, tenaga jago tua itu sudah
berkurang banyak dan tak dapat dikerahkan sepenuhnya.
Seng Lam sadar sesudah sekian lama tercengang itu. Lalu
dia kata dingin pada Kim Sie Ie: "Kenapa kau tidak pergi ke
Siauwlim Sie menjenguk kau punya enci Kok" Perlu apa kau
datang kemari?"
Sie Ie belum menjawab, si nona sudah bertindak,
menghampirkan kepalanya Beng Sin Thong. Dia menjemput
kepalanya jago tua itu untuk dikasih masuk ke dalam sebuah
kantung yang dia bekal. Setelah itu dia mendekati tubuh Sin
Thong, yang sementara itu dengan cepat telah lumer
sendirinya hingga ketinggalan saja rambut serta tulangtulangnya
serta beberapa barang yang berada di sakunya.


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sie le seorang jago tetapi menyaksikan itu, ia bergidik
sendirinya. Hebat sekali racunnya Seng Lam itu.
Sebenarnya si nona sendiri giris hati tetapi ia menguatinya.
Ia mengambil pedangnya, dengan itu ia mengorek-ngorek
barang-barang warisannya musuh besarnya itu. Ia bekerja
sabar dan teliti.
Sie Ie mengawasi tingkah laku orang.
"Sudah, tak usah kau cari lebih jauh!" kata Tokciu Hongkay.
"Barang itu ada padaku!"
Seng Lam heran, ia menoleh, mengawasi si pengemis edan.
"Apa kau bilang?" ia tanya.
Sie Ie mengeluarkan dari sakunya kitab yang separuh
yang diwariskan kepada puterinya, dan Cie Hoa menyerahkan
lagi kepadanya, sembari menunjuki itu, ia tanya: "Bukankah
kau mencari kitab ini?"
Seng Lam kembali melengak.
"Bagaimana kau mendapatkannya itu?" ia tanya.
"Tentang caranya aku mendapatkan, tak usah kau ambil
tahu!" kata Sie le. "Inilah kitab yang harus menjadi milik
keluargamu, kau boleh ambil pulang!"
"Kau sendiri, mengapa kau tak menghendaki itu?" si nona
masih menanya. Sie le menjawab tertawa: "Aku sendiri, sejak mulanya tak
ada niatku mendapatkan kitab ilmu silat warisannya Kiauw Pak
Beng, tidak juga barang lainnya apa juga, kalau baru-baru ini
aku turut kau, itulah lantaran aku telah berjanji hendak
membantumu membalas sakit hati atasnya. Untuk itu, perlu
aku mempelajari isinya kitab itu bagian atasnya. Sekarang kau
sudah selesai mencari balas, dengan begitu janjiku pun sudah
dipenuhkan, dari itu, buat apa aku kitab ini?"
Kitab bagian atas yang dipegang Sie Ie sudah diserahkan
pada Le Seng Lam, sekarang ia menyerahkan juga bagian
bawah yang didapat dari Beng Sin Thong, maka selanjutnya
cuma Seng Lam seorang yang memiliki kitab yang lengkap,
yang dia merdeka memahamkannya. Tapi, mendengar katakata
Sie le, hati si nona bimbang, dia merasa takut, hingga
hatinya tegang dan menggetar.
"Sebenarnya apakah maksudnya perkataanmu?" ia tanya
dengan suara tak lancar.
Sie Ie berkata pula menegaskan: "Aku telah memberi janji
membantu kau, janji itu telah aku lakukan, maka itu sekarang
kita boleh mengambil jalan masing-masing! Umpama kata kau
setuju, dapat kita berdua menjadi kakak beradik, tetapi jikalau
tidak, ya sudah saja, kita tetap jadi seperti*ekarang ini!"
Mendengar itu, parasnya Seng Lam berubah. Hanya
sejenak, ia kata keras: "Baik, baik! Nah, kau pergilah! Akhirnya
nanti datang satu hari yang aku menghendaki kau lari balik,
untuk bertekuk lutut di hadapanku, untuk kau memohon
dengan meratap!"
Sie Ie bicara dengan sikap tenang akan tetapi sebenarnya,
hatinya terluka dan perih. Sudah banyak kali ia hendak
mengutarakan itu selalu gagal, baru sekarang ini ia dapat
mengatakannya, habis mengucapkan itu, ia tetap merasa
hatinya terluka dan perih. Tak berani ia melihat pula wajah
Seng Lam, tak berani ia mendengar lagi suara si nona, ia
kuatir hatinya tak kuat, begitu ia melemparkan kitab silat
bagian bawah itu, lantas ia memutar tubuhnya untuk berjalan
pergi. Iapun sampai tak berani menoleh ke belakang!
Tengah ia berlalu dengan dengan pikiran terganggu kekuatiran
si nona nanti menggerecoki ianya, tiba-tiba Sie Ie
dikejutkan guntur menggelegar serta kilat berkelebat, disusul
turunnya hujan lebat.
"Bagus!" katanya di dalam hati. "Mereka itu tak usah repot
bekerja memadamkan api! Mereka tentulah sudah lantas
berangkat pulang ke Siauwlim Sie... Mereka mempunyai
masing-masing arahnya, tetapi aku... kemana aku mesti
menuju?" Di antara sinar kilat terlihat bangunan paling tinggi dari kuil
Siauwlim Sie, yaitu menara Kimkong Ta. Sie Ie berjalan terus
hingga tahu-tahu ia sudah mendekati kuil tersebut.
Sekarangpun ia sadar bahwa ia menuju ke kuil itu untuk
menjenguk Kok Cie Hoa...
Selagi bertindak terus, mendadak Sie Ie mundur pula.
"Tidak, tidak dapat!" pikirnya.. Mendadak ia ingat Kim
Bwee. "Tadi Kim Bwee tidak terlihat di Cianciang Peng, terang
sudah ia berada di dalam kuil menemani Cie Hoa... Sekarang
ini belum layaknya aku menemani dia!"
Lantas Sie Ie berjalan balik. Hanya baru beberapa tindak,
kembali ia berpikir: "Untuk apakah aku mengambil keputusan
menjauhkan diri dari Seng Lam" Bukankah itu membuat Kok
Cie Hoa mengerti apa yang aku pikir" Sekarang pasti Cie Hoa
lagi sangat berduka. Orang yang dapat menghiburnya
melainkan aku sendiri, karena itu kenapa takut
menemuinya"..."
Berpikir demikian, orang she Kim ini berjalan balik pula,
menuju ke arah kuil. Hanya, baru beberapa tindak, kembali ia
merandak. Kembali ia berpikir: "Sekarang dia tentu lagi
menemani Co Kim Jie yang tengah sakit itu. Co Kim Jie sangat
membenci aku, apabila ia melihat aku, mesti ia menjadi gusar,
atau ada kemungkinan, karena saking mendongkol, ia akan
putus jiwa... Tidakkah itu akhirnya bakal membuatnya Cie Hoa
tambah susah hati" Pula Siauwlim Sie bukannya tempat
dimana aku dapat pasang omong dengan merdeka dengan Cie
Hoa ... Baiklah aku bertahan sabar sampai lain ketika, ialah
sampai nanti dia sudah melewat saat yang tak tenang ini,
sampai luka di hatinya sudah sembuh..."
Hujan turun terus menerus dan dengan derasnya. Hati Sie
Ie tetap kacau. Ada satu sebab lain yang membuatnya raguragu.
Sebab itu ia sampai tak berani memikirkannya. Iapun tak
mengerti kenapa ia diganggu pikiran semacam itu!
Di antara Cie Hoa menyelak Seng Lam! Inilah pokok
soalnya! Dalam kesangsian, Sie Ie bertindak kembali ke arah
darimana ia datang. Batal ia pergi ke Siauwlim Sie, pikirannya
seperti kosong.
Semenjak pertama kali berkenalan dengan Seng Lam, Sie
Ie diganggu keruwetan pikirannya: Ia ingin bebas dari Seng
Lam tetapi sukar. Baru sekarang ia merasa sedikit merdeka,
tetapi bimbangnya tak mau pergi. Ingat Seng Lam, ia merasa
kehilangan sesuatu...
Dengan sekonyong-konyong mata jeli Tokciu Hongkay
melihat satu sosok tubuh berkelebat di sampingnya sejarak
beberapa tombak, cepat bergeraknya, sedang itu waktu selagi
hujan turun dan pandangan guram. Ia dapat melihat karena ia
terlatih kepandaian melepaskan jarum Bweehoa ciam. Ia
terkejut tapi ia lantas ingat.
"Kie Siauw Hong!" ia berseru.
Orang di samping itu berhenti berlari dengan segera.
"Kim Tayhiap!" dia menjawab. "Banyak kali tayhiap telah
menolong aku, sukalah kau menerima hormatku!" Dia lantas
memberi hormat.
"Kau bikin apa dengan lagakmu sebagai hantu ini?" Sie le
tanya. "Aku lagi cari guruku," sahut Siauw Hong. "Aku tahu
pihakmu semua membenci guruku itu, akan tetapi dia tetap
guruku, karena dia terluka, mesti aku cari padanya."
Hati Sie Ie tergerak.
"Aku tidak menyangka Beng Sin Thong mempunyai murid
setia sebagai kau," katanya, "maka itu sudah seharusnya dia
merapatkan matanya!"
Siauw Hong terkejut.
"Apakah katamu, tayhiap?" ia tanya.
"Tak usah kau pergi cari pula gurumu itu," Sie Ie jawab.
"Dia sudah mati. Semasa hidupnya setahu berapa banyak dia
telah membunuh orang, maka hari ini dia sudah dibinasakan
musuhnya. Inilah yang dinamakan keadilan,-pembalasan
datang tepat. Kau tak usah bersedih hati untuk dia! Sekarang
lekas kau menyingkir, orang-orang Siauwlim Sie justeru pada
hendak pulang ke kuilnya! Aku dapat melepaskan kau, mereka
belum tentu..."
Benar Sie Ie baru berkata sampai disitu, mereka berdua
sudah lantas mendengar tindakan banyak orang.
Kie Siauw Hong tidak mau menempuh bahaya, ia
mendengar kata, cepat-cepat ia berlalu.
Kim Sie Ie tidak mau bertemu dengan Phang Lim dan
lainnya, ia mengawasi ke arah kuil seraya menarik napas,
didalam hatinya ia kata: "Biarlah aku tunggu sampai Cie Hoa
sudah pulang ke Binsan, nanti aku melihatnya disana..." Maka
ia lantas bertindak cepat, menghilang di antara sang hujan...
Di dalam kuil Siauwlim Sie, di dalam sebuah kamar, Kok Cie
Hoa berdiam di tepi pembaringan menemani Co Kim Jie, suci
atau kakak seperguruannya atau ketuanya, ciangbunjin dari
Binsan Pay. Ia menemani tetapi hatinya sendiri kusut.
Kim Jie agak sebaliknya. Tiba-tiba dia mencoba bergerak,
untuk duduk menyender pada pembaringan.
"Apakah sudah ada kabar?" dia menanya.
"Belum," sahut si nona.
Ketua itu menghela napas.
"Aku merasa aku tidak sanggup menanti tibanya kabar
girang," kata dia. "Disana ada Tong Tayhiap yang memegang
pimpinan, hatiku tetap, hanya apa yang aku pikirkan ialah
kau..." Cie Hoa terkejut.
"Kenapa, suci?" ia tanya.
Kembali Kim Jie menarik napas.
"Cie Hoa, aku menghendaki kau menerima baik dua
permintaanku," kata dia, "kalau tidak, apabila aku mati nanti
sulit aku memejamkan mataku."
"Silahkan Ciangbun suci menyebutkannya," sang adik
seperguruan minta.
Kim Jie mencekal tangan si nona.
"Pertama-tama kau mesti menerima baik kedudukan
Ciangbunjin sebagai pengggantiku. Partai kita akan dapat
maju dan makmur pula atau tidak, semua itu bergantung
kepada kau!"
Cie Hoa bersangsi.
"Ini... ini..." katanya, sukar.
Kim Jie mengawasi, matanya seperti terbalik.
"Kau... kau benarkah hendak membikin aku putus asa?" dia
tanya. "Baiklah, akan aku lakukan apa yang aku bisa," sahut si
nona, terpaksa.
Mendengar itu, Kim Jie bersenyum.
"Bagus, bagus, inilah baru sumoay-ku yang baik!" katanya.
Cie Hoa mengambil obat, ia membantui kakak seperguruan
itu meminumnya.
Kim Jie bernapas memburu, habis itu dia melanjuti berkata:
"Sekarang yang kedua. Ini... ini... mungkin aku hendak
memaksa kau... Kau suka menerima atau tidak, inipun
bergantung kepada kau... Tak dapat aku tidak
memberitahukan ini padamu..."
"Silahkan bicara, suci." Cie Hoa kata. "Tak perduli urusan
sulit bagaimana, meski mesti menyerbu api, tak nanti aku
menampik!"
Kim Jie berkata lantas: "Partai kita adalah satu di antara
enam partai terbesar, setelah kau menerima baik
menggantikan aku sebagai ketua, aku harap kau
memperhatikan martabatmu sebagai ketua Binsan Pay, aku
minta kau jangan... jangan bergaulan lagi dengan itu hantu
kepala!" Habis mengucap begitu-kata-kata mana diucapkan dengan
menggunakan banyak tenaga,-
Kim Jie mengawasi sumoay-nya dengan mata terbuka lebar
dan napas memburu.
Mendengar permintaan itu, hati Cie Hoa panas berbareng ia
merasa malu. Ia ketahui baik, dengan si "hantu kepala"
dimaksudkan Kim Sie Ie. Akan tetapi ia lantas memberikan
jawabannya: "Jangan kuatir, suci! Seumurku aku tidak bakal
menikah!" Walaupun ia dapat berkata demikian, air mata nona ini
mengalir turun dan hatinya terasa nyeri dan perih.
Kim Jie batuk-batuk, lalu dia bersenyum.
"Mendengar suara kau ini, tetaplah hatiku," katanya.
"Cumalah, buat aku kau tidak menikah, itulah tak usah..."
Selagi ketua Binsan Pay mau meneruskan kata-katanya,
telinganya mendengar suara berisik di antara hujan dan angin.
Dia terkejut. "Ada terjadi apakah?" dia tanya. "Mungkinkah...
mungkinkah Beng Sin Thong datang menyerbu kemari"... Ah,
tak... tak mungkin... Coba kau suruh Kim Bwee pergi
melihat..."
Walaupun Kim Jie percaya Tong Siauw Lan akan tetapi
mengingat pertempuran mestinya hebat sekali, hatinya
goncang, hingga timbullah keragu-raguannya itu.
Kok Cie Hoa belum bertindak sampai di pintu, lantas ia
mendengar suara nyaring dari Pek Eng Kiat: "Suci!" Lalu
orangnya sudah nerobos masuk.
"Eng Kiat, ada terjadi apakah?" Kim Jie tanya.
Dengan napas memburu keras, hingga sukar ia bicara
lancar, Eng Kiat menjawab: "Co Suci... selamat... selamat!"
"Selamat apakah?" sang ketua tanya pula.
"Beng... Beng Sin Thong tak bakal hidup lebih lama
pula!..." sahut Eng Kiat. "Ek Suheng telah menghajarnya
dengan tongkatnya!"
Kim Jie heran hingga dia tercengang.
"Benarkah itu?" dia menegasi.
"Benar! Tak salah lagi!" Eng Kiat memberi kepastian. "Telah
datang berita dari Cian Ciang Peng dan katanya Tong Tayhiap
beramai segera bakal kembali!"
Eng Kiat menjadi salah satu orang Binsan Pay yang
ditugaskan berdiam di dalam kuil untuk melakukan penjagaan,
dan ia memperoleh kabar dari kamsie, penilik dari Siauwlim
Sie, saking girangnya, ia lari masuk menyampaikan kabar
girangnya itu, sebelum menjelaskan apa-apa, ia sudah
menyebut halnya Ek Tiong Bouw berhasil menghajar Beng Sin
Thong, hingga wartanya itu seperti berbunyi bahwa Beng Sin
Thong telah terbinasa di tangan kakak seperguruannya itu.
Co Kim Jie tidak bisa percaya warta itu. Dia mementang
kedua matanya. "Benarkah itu?" tanyanya, suaranya tak jelas. "Benarkah


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu?" Dia seperti menanya dirinya sendiri.
Ketika itu terlihat munculnya Phang Lim yang datang sambil
berlari-lari. Begitu dia bertindak masuk, dia tertawa dan
berkata gembira: "Co Toacie, sakit hati terhadap musuh
besarmu telah dapat dibalas! Beng Sin Thong tidak bakal
hidup lebih lama!"
Phang Lim mengingat anaknya, maka itu, ia lari pulang
mendahului yang lain-lain. Ia anggap disana sudah tidak ada
bahaya lagi. Iapun meniru Pek Eng Kiat, ia bukannya
menyebut "si bangsat tua she Beng" hanya "Beng Sin Thong".
Inilah disebabkan ia ingat Kok Cie Hoa.
Sementara itu, hati Cie Hoa lantas saja memukul keras.
Nona ini tahu ayahnya sangat jahat, mestinya ayah itu tak
dapat makan umur panjang, akan tetapi dasar orang ialah
ayahnya, mendengar beritanya Eng Kiat dan Phang Lim itu, ia
kaget sekali. "Hantu tua itu terbinasa di tangan siapa?" Co Kim Jie tanya.
"Mula pertama dia kena digempur nadi sam-yang keng-nya
oleh Siauw Lan," Phang Lim memberi keterangan, "habis itu
dia terhajar tongkat Ek Pangcu, kemudian diapun terserang
mutiaranya Tong Sian Siangjin! Benar dia tidak mati lantas
akan tetapi katanya dia tak bakal hidup lebih lama daripada
sepuluh hari. Itulah pembilangannya Tong Siauw Lan dan
Tong Sian Siangjin. Karena itu juga dia dibiarkan dapat lari
meloloskan dirinya."
"Kenapa dia dikasih lolos?" tanya Kim Jie pula.
"Tong Sian Sianjin bilang itulah disebabkan biar bagaimana
dialah seorang guru besar dalam dunia ilmu silat, karena dia
toh mesti mati, dianggap baiklah dia nanti mati sendirinya."
Phang Lim berkata demikian karena ia tidak tahu Beng Sin
Thong sudah lantas terhajar hebat oleh Le Seng Lam, hingga
dia mesti membunuh diri, hingga kemudian kepalanya dibawa
pergi serta tubuhnya dibikin lumer dan sirna hingga tinggal
tulang belulangnya.
"Jikalau demikian, pasti sudah hantu itu bakal terbinasa!"
kata Co Kim Jie.
"Pasti!" sahut Phang Lim.
Kedua mata Kim Jie mendadak terbalik, mendadak juga dia
tertawa bergelak-gelak!
Phang Lim terperanjat. Tertawa itu tak wajar terdengarnya.
"Co Toacie, kau kenapa?"
Suara tertawanya Co Kim Jie berhenti dengan tiba-tiba,
tubuhnya lantas jatuh rebah, waktu Phang Lim meraba
tubuhnya itu, ternyata napasnya sudah berhenti.
Cie Hoa kaget, lantas saja ia menangis menggerung.
"Sudah," kata Phang Lim, menghibur, "suci kau ini mati
girang, itulah bagus. Manusia siapa yang dapat tak mati"
Syukur dia menutup mata secara begini menyenangkan!
Sudah, kau jangan menangis."
Cie Hu menangis terus. Di sebelah menangisi kakak
seperguruan itu, iapun menangisi nasibnya sendiri. Maka itu,
makin si nyonya membujuki, ia menangis semakin sedih.
Tidak lama tibalah rombongannya Tong Siauw Lan. Ketika
mereka itu mendengar hal kematian Kim Jie, semua menjadi
berduka, semua masuk ke dalam kamar guna mengunjuk
hormat mereka yang penghabisan.
Cuma sebentar, Tong Sian Sian-jin semua mengundurkan
diri dari dalam kamar dimana tinggal saja beberapa murid
wanita Binsan Pay, guna mengurus mayatnya ketua mereka.
Lie Kim Bwee bukan anggauta Binsan Pay akan tetapi
karena ia bersahabat kekal dengan Kok Cie Hoa, ia berdiam
terus menemani sahabatnya itu.
Setelah semua orang salin pakaian, Tong Sian Siangjin
mengundang mereka berkumpul di dalam ruang istirahat
Kiatyan Cengshia. Disini mereka duduk memasang omong
sambil beristirahat. Ketika itu dengan saling susul kembalilah
murid-murid Siauwlim Sie, yang diperintah memeriksa dan
mencari sisa-sisa musuh. Di antaranya ada warta hal Ko Hong
Kauw kedapatan telah binasa.
Warta itu menambah kegirangan orang banyak. Benar
mereka bersedih karena kematian Co Kim Jie, tetapi kematian
taylwee congkoan itu suatu kabar penting. Itu berarti Rimba
Persilatan tertolong dari tangannya satu manusia buruk.
Dengan kebinasaan congkoan itu serta komandan Gieliemkun,
pihak lurus dapat berlega hati. Sebaliknya beberapa anggauta
penting dari Siauwlim Sie yang berduka. Mereka itu nampak
masgul dan jengah, alis mereka berkerut.
Menampak demikian, Phang Lim heran. Kata ia: "Tadi di
tengah jalan, di dalam hujan, aku melihat seorang berlari-lari
keras, dia mirip dengan Kie Siauw Hong, mungkin binatang itu
telah nelusup masuk ke sini dan sudah melakukan pencurian?"
"Benar," menjawab Pun Khong Siansu, kamsie dari
Siauwlim Sie. "Pintoo telah alpa melakukan penjagaan, dia berhasil
memasuki lauwteng Chongkeng Kok dimana dia telah berhasil
mencuri tiga jilid kitab. Berhubung dengan itu pintoo justeru
hendak memberi laporan kepada hongthio suheng untuk
sekalian memohon maaf..."
"Kitab-kitab apakah itu yang lenyap?" tanya Tong Sian
Siangjin. "Itulah kitab-kitab yang mengenai pelajaran Laykang,"
sahut Pun Khong. "Yang pertama yaitu Thay-hie Cinkeng
untuk pelajaran bernapas, yang satu lagi Thayhian Cinkeng
untuk pelajaran mengendalikan pikiran, dan yang ketiga ialah
Khongbeng Cinkeng untuk pelajaran semangat."
Siauwlim Sie masih mempunyai kitab-kitab yang penting
untuk pelajaran olah raga dan ketiga kitab tersebut termasuk
satu di antaranya, maka itu, mendengar keterangan itu,
semua orang menjadi kaget.
"Kie Siauw Hong ialah orang yang tadi pagi turut datang
bersama-sama kedua pendeta dari Wilayah Barat," kata Pun
Khong pula. "Kedua pendeta itu telah berhasil ditangkap oleh
tiangloo dari ruang Tatmo Ih. Bagaimanakah hongthio suheng
hendak mengambil tindakan?"
Tong Sian Siangjin sudah lantas memberi keputusannya:
"Mengingat mereka sama-sama murid
Sang Budha, sedang merekapun pernah menjadi tetamutetamu
kita, merdekakan saja mereka itu. Beng Sin Thong
boleh dibilang sudah mati, Kie Siauw Hong tidak nanti dapat
berbuat banyak, meski demikian, pergi kau memerintahkan
enam belas murid kita yang terpillih untuk pergi ke pelbagai
penjuru guna mencari dan membekuknya. Mulai sekarang ini
dan selanjutnya, kita harus berjaga-jaga dengan terlebih hatihati
lagi." Kejadian itu hebat, maka itu orang banyak telah
memberikan janjinya untuk membantu pihak Siauwlim Sie
mencari-tahu tentang gerak-geriknya Kie Siauw Hong.
Sebenarnya kedua pendeta dari Barat itu mengandung
maksud mencuri kitab. Kebetulan untuk mereka ada terjadi
pertempuran di Cianciang Peng itu. Justeru Tong Sian Siangjin
tidak berada di dalam kuil, mereka mengajak Kie Siauw Hong
dan menganjurkan si raja copet pergi melakukan pencurian,
Siauw Hong menerima ajakan itu, sebab ia sekalian hendak
mencari-tahu perihal gurunya. Iapun memikir, bolehlah ia
menggunai ketika yang baik untuk mengacau di dalam kuil.
Memang telah biasa untuknya sebagai pencopet, dimana dia
sampai, tentu-tentu dia meninggalkan bekas untuk kerugian
setempat. Demikian ia turun tangan mengantongi tiga jilid
kitab laykang Siauwlim Sie itu. Syukur untuknya, ketika itu
hujan dan angin, kalau tidak, sukar dia lolos dari matanya
pendeta yang menjaga lauwteng itu.
Kemudian Ek Tiong Bouw berkata: "Kemenangan kita ini
berkat bantuannya Tong Tayhiap serta semua saudara!
Dengan begini, kecuali musuh umum Rimba Persilatan dapat
disingkirkan, sakit hati partai kami juga dapat dilampiaskan,
maka itu, meski ketua kami, Co Suci, telah meninggal dunia, ia
tentu menutup mata dengan puas. Semasa hidupnya Co Suci,
ia sudah menetapkan Kok Cie Hoa muridnya Susiok Lu Su Nio
sebagai pengganti ketua, dari itu setelah selesai upacara
penguburan jenazah Co Suci, kita harus memilih hari yang
baik guna melangsungkan upacara keang-katan ketua yang
baru. Demikian, kalau nanti tiba saatnya, aku minta supaya
semua saudara sudi datang menghadiri upacara itu."
Menurut aturan Rimba Persilatan, seorang calon ketua
suatu partai harus berkabung tiga bulan baru dia dapat
diangkat resmi menjadi pengganti ketua, demikian sudah
terjadi dengan Kok Cie Hoa ini, maka itu Ek Tiong Bouw sudah
lantas menyampaikan undangannya itu, tinggal tunggu
harinya saja yang belum dapat ditetapkan seketika itu.
Semua orang senang mendengar pemilihan ketua itu, Tong
Siauw Lan dan Phang Eng pun girang sekali, bahkan Siauw
Lan sambil tertawa dan mengurut kumisnya kata: "Dulu hari
kita bersama Lu Su Nio menyerbu ke istana membunuh Yong
Ceng, peristiwa itu terasa seperti di depan mata, dan sekarang
kita bakal menyaksikan muridnya menjadi pengganti ketua,
sungguh sang waktu berjalan cepat sekali! Sekarang ini kita
semua juga telah menjadi tua..."
Maka itu, mengingat hal dulu-dulu itu, Siauw Lan girang
berbareng masgul.
Sementara itu sambil menanti tempo tiga bulan untuk
berkabung, semua orang lantas berpisahan dengan janji
mereka akan menghadiri upacara peresmian keangkatan ketua
Binsan Pay itu. Tong Siauw Lan dan isteri berangkat pulang
tanpa mengajak anak dan menantunya. Thiansan terpisah
terlalu jauh, maka mereka mewakilkan Tong Keng Thian dan
Pengcoan Thianlie, karena mana, anak dan mantu itu tak turut
pulang. Lie Kim Bwee ingin meminta ibunya supaya ibu itu dan
ianya tak berangkat pulang, tetapi Phang Lim menolak dengan
alasan bahwa kebiasaan Thiansan Pay, setiap tiba saat ujian
persilatan, semua ang-gautanya tak dapat tak hadir Tahun itu
ialah tahun ujian, yang biasa dilakukan setiap tiga tahun satu
kali. Jadi puteri itu mesti pulang ke Thiansan guna berlatih
sungguh-sungguh. Ibu ini kata sambil tertawa: "Kau harus
ketahui di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar,
kau dengan enci Kok-mu itu sudah berdiam bersama lama,
layaklah kalau kau berpisah dari ianya. Kau sabar sampai nanti
datang waktunya kamu berkumpul pula. Kau tahu sendiri,
selama tiga tahun ini kau sudah alpakan latihanmu, sampai
suheng-mu Ciong Tian telah melombai padamu. Apakah kau
tak kuatir di belakang hari dia nanti menghinamu?"
Kim Bwee jengah, mukanya menjadi merah.
"Ibu, kau terlalu!" kata si anak. "Kenapa kau menggoda
aku?" "Ibumu tidak bergurau!" kata Phang Lim. "Ciong Tian itu
jujur dan sopan, tak nanti dia menghina kau, akan tetapi kau
mesti menggantikan aku memegang nama, supaya dalam ilmu
silat kau tetap berada di atasnya!"
Dalam beberapa tahun ini Ciong Tian terhadap Lie Kim
Bwee selalu menurut saja, terutama selama yang paling
belakang, mereka dapat bergaul rapat dan bekerja sama,
maka itu, kesan mereka berdua satu dengan lain menjadi
bertambah baik. Di dalam hatinya, Lie Kim Bwee sudah setuju
buat menyerahkan dirinya kepada itu saudara seperguruan,
karena itu, mendengar ibunya bergurau, ia tidak gusar, cuma
ia merasa likat. Iapun setujui kata-kata beralasan ibunya itu.
Ciong Tian di pihak lain juga menghendaki si adik
seperguruan pulang ke Thiansan.
Hanya Kim Bwee tidak tahu maksud sebenarnya dari
ibunya. Si Ibu sebetulnya kuatir puterinya itu nanti bertemu
dengan Kim Sie Ie ..
Lewat beberapa hari, rombongan Binsan Pay meninggalkan
kuil Siauwlim Sie untuk pulang ke gunung mereka sambil
membawa jenazahnya Co Kim Jie, untuk melakukan
penguburannya. Ketika Tong Siauw Lan berangkat, Lie Kim Bwee turut
bersama. Berat ia berpisahan dari Kok Cie Hoa. Di antaranya
ia kata: "Enci Kok, apakah kau masih ingat Nona Le?"
Cie Hoa tercengang.
"Apakah kau maksudkan Le Seng Lam?" ia menegaskan.
"Benar! Aku tahu dia dulu hari ikut Kim Sie Ie pergi
berlayar. Ketika belum lama ini kakak misanku bertemu
dengannya, entah kenapa, dia agaknya bersikap bermusuh
dengan Thiansan Pay, sebagaimana terbukti dia telah
merampas pedang Yuliong Kiam dari tangan kakak misanku
itu. Baru kemudian, pedang itu dapat dirampas pulang oleh
ibuku. Nona Le itu sungguh sukar diterka hatinya! Ada kalanya
dia seperti baik sekali terhadap aku, ada satu kali dia telah
mengabuiku... Demikianpun terhadap kau, dia rupanya
mengandung maksud yang tidak baik, maka itu justeru dia
telah muncul pula dalam dunia Kangouw, baiklah kau berlaku
waspada." Kim Bwee bicara demikian karena ia tidak tahu Cie Hoa
sudah bertemu dengan Le Seng Lam telah mendatangkan
kedukaan baginya, karena ini dengan menahan kedukaannya,
ia berkata: "Terima kasih, nanti aku berhati-hati. Tapi,
menurut aku, tidak nanti Nona Le itu datang mencari aku
pula..." Cie Hoa berkata demikian karena ia pikir ia toh sudah
menampik Kim Sie Ie, dengan begitu Seng Lam bolehlah
merasa puas hati.
Kim Bwee sebaliknya heran.
"Kenapa kau dapat beranggapan demikian?" tanyanya.
Cie Hoa tidak mau membuka rahasia bahwa Kim Sie Ie
masih hidup, maka ia kata saja: "Tidak apa-apa. Aku
dengannya tidak punya sangkutan lagi, buat apa dia datang
pula padaku?"
Mendengar demikian, Kim Bwee jadi berpikir: "Tidak salah!
Le Seng Lam bermusuh dengan Beng Sin Thong. Dulu hari itu
dia membenci enci Kok sebab enci Kok ialah puterinya Beng
Sin Thong, sekarang Beng Sin Thong sudah mati, mungkin dia
tak membenci lebih jauh pada enci Kok."
Kim Bwee tidak mau membicarakan terus urusan itu, ia
kuatir Cie Hoa menjadi berduka. Ia lantas bicara dari lain hal.
"Enci Kok, aku beri selamat padamu yang kau bakal
menjadi ketua partaimu!" ia kata. "Sayang aku tidak dapat
menghadiri upacara kau nanti. Tapi aku mempunyai satu
tanda mata tak berarti, aku minta sukalah kau terima." Ia
mengeluarkan sebuah kotak dan menambahkan: "Di dalam ini
ialah setangkai teratai salju, kau simpanlah, untuk nanti


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dipakai di suatu saat yang perlu!"
Cie Hoa terima tanda mata itu, habis itu barulah mereka
dengan sama-sama menepas air mata berpisahan.
Setibanya di gunung Binsan dimana ia berkabung, dengan
perlahan-lahan Cie Hoa dapat menenangkan diri. Dulu ia malu
sendirinya karena ayahnya Beng Sin Thong, sekarang ayah itu
sudah tidak ada, selanjutnya tidak ada soal atau gangguan
lagi, cuma kadang-kadang saja ia berduka dan menyesal
kapan ia ingat sepak terjangnya ayah yang sesat itu, yang
membuatnya malu. Di sebelah itu ia berhasil menetapkan hati
mengambil kepu-tusan untuk membangun partainya supaya
dengan begitu bisa' ia menebus dosa ayahnya. Mengenai
dirinya sendiri, ia telah berkepu-tusan untuk tidak menikah,
benar ia belum dapat melepaskan perasaan cinta dari hatinya
tetapi hatinya tak kacau balau lagi.
Ek Tiong Bouw semua girang melihat calon ketua mereka
berubah demikian rupa. Dengan begitu mereka girang juga
yang mereka sudah mendapatkan ketua yang tepat.
Dengan lekas sang waktu berjalan, tiga bulan telah lewat,
maka Ek Tiong Bouw lantas memilih tanggal lima belas bulan
delapan, Peegwee Capgouw, sebagai hari baik untuk upacara
pengangkatan atau peresmian Kok Cie Hoa sebagai
Ciangbunjin, atau ketua mereka. Untuk itu dari siang-siang ia
telah melepas surat undangan kepada ketua pelbagai partai
lainnya hingga mereka itu ada yang datang sendiri, ada juga
yang cuma mengirim wakil.
Di harian Peegwee Capgouw itu, gunung Binsan ramai luar
biasa. Upacara sudah lantas dijalankan. Di waktu tengah hari,
selesai upacara, maka ketua yang baru itu, mulai menyambut
para tetamunya yang memberi selamat kepadanya.
Justeru itu waktu mendadak muncullah Lim Seng, murid
kepala Binsan Pay yang bertugas menyambut tetamu terus ia
memberi laporan sebagai berikut: "Di luar ada datang seorang
wanita yang berpakaian hitam yang mohon bertemu dengan
Ciangbun, harap Ciangbun memutuskan suka menerima
kedatangannya atau tidak."
"Dia itu sahabat dari mana?" tanya Cie Hoa. "Apakah kau
telah menanyakan keterangannya?"
"Dia kata dialah sahabat lama dari Ciangbun, kalau nanti
Ciangbun sudah bertemu dengannya, Ciangbun akan ketahui
sendiri," sahut Lim Seng.
Hati Cie Hoa tergerak.
"Baiklah, kau persilahkan dia masuk!" ia memberi
keputusan. la lantas dapat menduga siapa tetamu wanita itu.
Hari ini hari baik untuknya, tidak dapat ia menampik tetamu,
andaikata ada tetamu yang hendak mengacau, ia mesti
menyambutnya juga, tak dapat ia menunjuki kelemahan.
Hanya sebentar, Lim Seng sudah kembali bersama
tetamunya itu yang Cie Hoa kenali sebagai Le Seng Lam.
Ek Tiong Bouw, Louw Eng Kiat dan Pek Eng Kiat kenal Seng
Lam, merekapun tahu si nona memusuhkan Beng Sin Thong,
maka itu mereka lantas berlaku waspada.
Di antara para tetamu, Tong Keng Thian dan isterinya
heran melihat tibanya nona tetamu itu, mereka juga tidak
senang akan tetapi mereka terpaksa mesti berlaku sabar, tak
dapat mereka berbuat sembrono.
"Enci Le, hari ini angin apa yang meniupmu datang
kemari?" Cie Hoa menyapa. "Maafkan aku, yang telah alpa
menyambutmu!"
"Hari ini, enci Kok, hari kau menjadi ciangbunjin," sahut
Seng Lam. "Di dalam kalangan Kangouw, siapakah yang tak
ketahui hari baik ini" Maka itu aku datang untuk menggerecoki
secangkir arak kegiranganmu!"
Cie Hoa memandang tetamunya, yang ia lihat sikapnya
tenang dan bicaranya wajar, maka ia pikir: "Disini berkumpul
banyak orang liehay, walaupun dia licin, aku rasa tidak nanti
dia berani mengacau..." Karena itu ia lantas merendahkan diri
dan mengundang si tetamu duduk.
Le Seng Lam tidak lantas berduduk, hanya ia maju
menghampirkan dua tindak, dengan sabar ia berkata pula:
"Hari ini aku datang kesatu untuk memberi selamat kepada
kau, enci, dan kedua guna menyampaikan sebuah tanda mata
yang berharga besar, guna menyemarakkan pestamu ini!"
Kata-katanya Seng Lam aneh. Tak pernah ada tetamu yang
menyebut bingkisan berharga atau lebih-lebih berharga besar.
Karena itu, kata-kata itu membuat orang heran dan
terperanjat. Cie Hoa sendiri tercengang.
"Enci," katanya, "kedatanganmu saja sudah membuat aku
bersyukur, maka itu bagaimana dapat kaupun membawa
bingkisan yang berharga besar itu?"
"Jangan sungkan!" kata Seng Lam. "Lainnya bingkisan
dapat kau tidak terima tetapi ini mesti kau menerimanya!"
Cie Hoa heran hingga timbul kecurigaannya.
"Jikalau begitu baiklah, akan aku menerimanya," ia kata.
"Ek Suheng, tolong kau menyambuti bingkisan dari Nona Le
ini!" Seng Lam tertawa, ia kata: "Bingkisan ini mesti kau sendiri
yang menerima dan melihatnya dulu, enci! Bukannya aku
jumawa, inilah bingkisan bukan sembarang bingkisan,
terutama mengenai partai kamu, bingkisan ini berharga luar
biasa!" Seng Lam memegangi sebuah kotak besar persegi empat,
ia bersikap sangat hati-hati ketika ia mengangkatnya dan
membuka tutupnya dengan perlahan-lahan.
Semua anggauta Binsan Pay mengawasi dengan
mementang mata mereka, semua ingin mengetahui apa isinya
kotak itu-apa itu barang yang katanya sangat berharga...
Dengan tiba-tiba saja terdengar Kok Cie Hoa menjerit
tajam. Di dalam kotak itu terlihat sebuah kepala orang, yang
romannya bengis seperti kepala orang hidup! Dan itulah
kepalanya Beng Sin Thong!
Semua orang lainnya juga turut berseru bahna heran dan
kagetnya. Selama di Cianciang Kok, orang percaya keterangannya
Tong Siauw Lan dan Tong Sian Siangjin bahwa Beng Sin
Thong mesti mati, hanya orang tak menemui mayatnya,
karenanya orang bersangsi dan berkuatir juga, maka juga
selama tiga bulan, orang terus me-nyerep-nyerepi kabar
halnya jago Siulo Imsat Kang itu, siapa tahu, sekarang dengan
sekonyong-konyong mereka melihat kepalanya yang masih
segar itu... "Bagaimana?" tanya Seng Lam tertawa. "Aku telah
membawakan kamu kepalanya musuh besar kamu! Bukankah
benar tak ada lain bingkisan yang terlebih berharga daripada
ini?" Cie Hoa berdiri menjublak. Ia seperti telah ditinggalkan
semangatnya. Ia terus bungkam, matanya mendelong saju.
Akan tetapi ketika Ek Tiong Bouw hendak menyambuti kepala
itu, mendadak ia mendahului menyambuti dan
mengangkatnya. "Sumoay, mari serahkan padaku!" kata suheng itu. "Tak
usah kau lihat lagi!"
Menurut aturan Rimba Persilatan, siapa menerima
bingkisan berupa kepalanya musuh, bingkisan itu berharga
bukan main, demikian pihak Binsan Pay, seharusnya mereka
sangat bersyukur kepada Le Seng Lam. Karena itu, meskipun
Ek Tiong Bouw ketahui nona ini hendak mengganggu ketua
mereka yang baru, ia tidak dapat menyalahi aturan umum itu
yang mesti dihormati, tak dapat ia menegur Seng Lam.
Cie Hoa tidak menjawab perkataan suheng-nya itu.
Mendadak ia berseru pula lantas kepala ayahnya di tangannya
itu jatuh, ia sendiri turut roboh dengan lantas tak sadarkan
diri. Dua orang Binsan Pay berlompat maju, guna memungut
kepala orang itu, guna mengasih bangun ketuanya yang baru,
akan tetapi hampir berbareng mereka pada mengeluarkan
serupa jeritan yang hebat, bukan saja mereka gagal
mengangkat kepala orang atau membanguni Cie Hoa,
sebaliknya, tubuh mereka turut terguling roboh!
Ek Tiong Bouw kaget bukan kepalang, hingga diapun
melengak. Kanglam Ie In Yap Ya It hadir bersama, ia lompat maju
untuk melihat, segera ia berseru: "Jangan raba kepala orang
ini. Ada racunnya!"
Di saat orang kaget itu, Le Seng Lam sudah berlompat
untuk menyingkir, sembari lari, ia bersenyum: "Enci Kok,
harap saja di belakang hari kita akan bertemu pula!"
Tong Keng Thian melihat orang mengangkat kaki, ia lantas
menyerang dengan tiga biji Thiansan Sinbong, sembari
menyerang itu, ia berseru: "Siluman wanita! Kau sudah celakai
orang, bagaimana kau masih mengharap kabur?"
Le Seng Lam menghunus pedangnya dengan apa ia
menangkis senjata rahasia dari Thiansan Pay itu, sembari
tertawa dingin, ia kata keras: "Siauwciangbun, jangan terburu
napsu! Setelah beres urusanku disini, nanti aku pergi sendiri
ke Thian San mencari padamu!"
Selagi orang bicara itu, Keng Thian sudah lompat
menerjang dengan pedangnya, sedang Pengcoan Thianlie
telah menyerang dengan peluru es Pengpok Sintan!
Yap Ya It pun bekerja, la mencari sebuah kantung kain
untuk menempatkan kepala Beng Sin Thong itu. Ketika ia
memandang kedua murid Binsan Pay, ia mendapatkan mereka
itu sudah putus jiwa dengan darah mengucur keluar dari
mata, lubang hidung, telinga dan lainnya. Kok Cie Hoa
sebaliknya rebah dengan muka sangat pucat dan mata
tertutup rapat.
Cia In Cin dari Ngobie Pay menghampirkan.
"Masih ada napasnya..." kata dia.
Cie Hoa telah melatih sempurna ilmu tenaga dalam
ajarannya Lu Su Nio, ia beda jauh dibanding dengan dua
murid Binsan Pay yang roboh sebagai korban-korban itu, maka
itu walaupun ia telah terkena racun, ia tidak mati seketika.
Kata Ek Tiong Bouw dalam bingungnya: "Aku ingat Lie Kim
Bwee telah memberikan Kok Sumoay setangkai soatlian, baik
lekas cari teratai itu untuk dikasih makan padanya!"
"Racun ini liehay luar biasa," kata Kanglam le In, "aku
kuatir meskipun soatlian manjur, itu tak akan menolong
banyak! Paling benar lekas susul wanita muda itu, untuk minta
obat pemunah dari ianya!"
Cia In Cin sebagai isteri Tiatkoay Sian Lu Ceng, bekas ketua
Kaypang, menjadi juga ipar dari Cie Hoa, ia bertabiat keras,
maka ia digelarkan "Cieeiu Siannio", si Dewi Tangan Telengas,
mendengar perkataan Yap Ya It, segera ia menjawab: "Benar!
Ek Suheng, mari kita susul dia!"
Ek Tiong Bouw menurut, maka ia lantas lompat berlari. Di
sebelah belakang menyusul sejumlah tetamu.
Ketika itu di luar Hian Lie Koan, Le Seng Lam lagi melayani
Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie suami isteri. Ia
melihat banyak orang memburu keluar, ia tertawa nyaring dan
kata: "Eh, kamu mau apa, ya" Apakah kamu mau'menghina
aku seorang wanita sebatang kara" Baik, baik! Nanti aku beri
rasa terlebih dulu kepada kamu, supaya kamu dapat lihat!"
Ketika itu Tong Keng Thian tengah menikam, Seng Lam
mengangkat pedangnya untuk menyambuti dengan dadanya.
Itulah hebat, sampai jago muda Thiansan Pay itu terkejut.
Tidak ada semacam ilmu silat membiarkan sendiri adanya
lowongan. Selagi Keng Thian tercengang, tubuh Seng Lam sudah
lewat di sisinya, lalu tangan bajunya menyambar, dengan
kesudahannya terdengarlah satu suara nyaring. Ialah suara
dari bentroknya Yuliong Kiam ketua muda itu dengan pedang
Pengpok Hankong Kiam dari isterinya, Pengcoan Thianlie.
Atas itu Seng Lam tertawa nyaring, pedangnya menyelak di
antara kedua pedang suami isteri itu, hingga terdengar satu
suara keras. Tempo orang-orang Binsan Pay dan lainnya
terperanjat, Keng Thian dan isterinya sudah berpisah, di
tengah-tengah di antara mereka terlihat sebuah batu terbelah
dua! Le Seng Lam telah memiliki lengkap kitab warisannya
Kiauw Pak Beng di dalam tempo singkat tiga bulan, ia sudah
berhasil membaca dan memahamkannya, maka itu
kepandaiannya menjadi beda daripada tiga bulan yang baru
berlalu itu, benar ia belum dapat menjadi seorang guru besar
tetapi ia sudah melebihkan Keng Thian berdua suami isteri. Ia
sengaja mempertontonkan kepandaiannya itu guna membikin
kaget pada semua orang.
Habis itu Nona Le dengan sabar memasuki pedangnya ke
dalam sarungnya, ia terus berkata dengan tawar: "Tong
Siauwciangbun, kau bukanlah lawanku, maka pergi kau pulang
untuk memberitahukan ayahmu supaya dia membuat
persiapan! Paling lama tiga tahun, atau cepatnya satu tahun,
akan aku pergi ke gunung Thiansan guna mohon pengajaran
dari ianya!"
Keng Thian mendongkol bukan main. Tapi ia mesti
memegang derajatnya. Ia berdua isterinya telah dikalahkan,
kalau ia maju pula, untuk menempur lebih jauh, itu cuma
mendatangkan malu saja. Karena itu ia cuma mengawasi
dengan bengis tapi mulutnya bungkam.
Semua orang melengak mendapatkan suami isteri itu kena
dikalahkan. Seng Lam tertawa dingin, dia kata pula: "Ek Tiong Bouw,
aku telah membalaskan sakit hati besar dari kamu pihak
Binsan Pay! Kamu lihat sendiri bagaimana aku datang dari
tempat yang jauh membawa barang bingkisanku itu! Sekarang
aku datang kemari, mungkinkah kau hendak membalas budi
dengan cara bermusuhanmu?"
"Bukan begitu..." sahut Tiong Bouw, yang bingung bukan
main. Baru ia berkata begitu, Seng Lam sudah menyela: "Bukan
begitu apa" Bukankah kamu lagi mau mengejar aku?"
Tiong Bouw menguasai dirinya, ia kata dengan tenang:
"Nona Le, kau telah mengantar bingkisan yang berupa
kepalanya musuh kami, kami semua dari pihak Binsan Pay
merasa berterima kasih sekali, akan tetapi di samping itu,
ketua kami telah terkena racun..."
"Hm!" Seng Lam menyela pula. Ia tertawa dingin. Ia
menyambungi: "Bukankah kamu telah melihatnya sendiri" Toh
bukannya aku yang meracuni dia" Dialah yang sembrono,
hingga dia terkena racun sendiri! Dalam hal ini, dia mesti
sesalkan diri sendiri, orang lain tidak dapat dipersalahkan!


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Apakah sangkutannya itu dengan aku?"
"Tak dapat kita bicara menurut caramu ini, nona," kata
Tiong Bouw. "Racun pada kepala orang itu toh nona sendiri
yang menaruh-kannya! Sekarang baiklah kita jangan omong
dulu tentang budi atau permusuhan, sekarang aku minta
sukalah nona memberikan obat pemunah, guna menolongi
ketua kami itu..."
"Hm!" Seng Lam melirik. Terus dia tertawa dingin. Dia kata:
"Aku memang mempunyai obat pemunah racun, dan untuk
memintanya juga tidak sukar! Hanya untuk itu kau mesti
menyuruh dia mencari seorang yang bermartabat untuk
memintanya padaku! Tentang rombongan kamu, aku
melihatnya pun tak puas, maka itu meski kamu berlutut
memohon padaku, tak nanti aku memberikannya.
Cia In Cin gusar hingga tak dapat dia menguasai diri lagi.
"Kurang ajar!" dia menegur. "Kau sebenarnya makhluk apa,
wanita siluman" Kenapa kau begini jumawa" Bagaimana kau
berani mengacau di atas gunung Binsan?" Lantas dia
menyerang dengan pedangnya.
Hampir berbareng dengan itu Siauw Ceng Hong, Sin In
Long dan lainnya, yang telah menjadi sangat gusar, turut
maju untuk menerjang.
"Traang!" demikian satu suara, atau pedangnya Cia In Cin
sudah kena dibikin buntung oleh Le Seng Lam, yang
menggunai pedang Cay-in Kiam dengan sempurna sekali.
Nona itu tidak berhenti dengan menangkis saja, ia terus
menyerang, dengan tikaman yang pertama dan kedua sebagai
susulan. Sontekan yang pertama membuat baju In Cin
terbuka, lalu sontekan yang kedua membikin ikat pinggangnya
putus. Mau atau tidak, terpaksa In Cin berlompat mundur,
repot memegangi pakaiannya supaya tak sampai lolos. Ia
gusar dan malu berbareng.
Seng Lam lantas mengayun sebelah tangannya, disitu
lantas terlihat serupa asap lima warna menyambar rumput,
lantas asap itu menyala dan membakar rumput dan pohon
lainnya, hingga semuanya lantas menjadi layu dan kering
kuning! Menyaksikan liehaynya senjata rahasia itu, semua orang
menjadi kaget dan melengak, tak ada yang berani maju pula.
Seng Lam membentak dengan suaranya yang bengis:
"Jikalau kamu tidak mau mundur, jangan kamu sesalkan aku
tak sungkan-sungkan lagi! -Dan kau, Ek
Tiong Bouw, kau jangan kuatir! Ciangbun sumoay kau itu
tak bakal lantas mati! Sekarang lekas kau pergi padanya,
untuk menyampaikan perkataanku ini!"
Belum lagi berhenti kata-kata terakhir itu, tubuh Seng Lam
sudah mencelat pesat, hingga di lain detik ia sudah berlalu
jauh, karena itu, jangan kata orang jeri untuk racunnya itu,
taruh kata dikejarpun tak akan ia tercandak lagi!
Binsan serta tiga gunung lainnya, yaitu Siongsan, Butong
San dan Thiansan, merupakan empat gunung besar yang
menjadi semacam tanah suci untuk kaum persilatan, sekarang
gunung itu kena dikacau seorang nona, itulah sangat hebat,
apapula peristiwa terjadi di saat diadakan pesta pelantikan
ketua yang baru. Semua hadirin menjadi malu dan
mendongkol, rata-rata mereka bergusar tanpa berdaya. Tidak
bisa lain, mereka terpaksa mengikuti Tiong Bouw kembali ke
dalam kuil. Di dalam Hianlie Koan, Yap Ya It lagi mencoba menolongi
Kok Cie Hoa dengan memeriksa nadi si nona, ketika ia melihat
wajah Tiong Bouw semua, ia tak menanya apa-apa, ia
menduga mereka itu kena dikalahkan dan tak berhasil
mendapatkan obat pemunah racun. Ia hanya kata: "Sekarang
ini kita cuma mengandal kepada takdir saja!"
Ketika itu seorang murid wanita dari Binsan Pay telah
berhasil mendapatkan soatlian yang disimpan Cie Hoa.
"Apakah soatlian dapat menolong?" tanya Keng Thian, yang
ragu-ragu. "Kita coba saja!" sahut Ya It. Ia mengambil soatlian, teratai
salju itu dihancurkan, diaduk dalam arak satu cangkir, sembari
bekerja, ia kata: "Racun ini racun yang luar biasa berbisa dari
kaum sesat, bahkan racun yang sebenarnya sudah lama tak
ada yang menggunakannya pula!"
"Racun apakah yang begini liehay?" tanya Keng Thian.
"Pada kira-kira dua ratus tahun dahulu," Yap Ya It
menjelaskan " " "Itulah masanya Thio Tan Hong dan Kiauw
Pak Beng,--itu waktu ada hidup sebuah perkumpulan agama
kaum sesat yang diberi nama Cit Im Kauw. Bukankah kau
pernah dengar perkumpulan rahasia itu?"
"Ya, pernah aku mendengarnya," sahut Keng Thian. "Hok
Couwsu kami pernah bertemu dengan kepala agama dari
kumpulan agama sesat Cit Im Kauw itu, hanya ketika itu,
perkumpulan agama itu sudah lantas musnah, tak bangun
pula..." "Ya, tetapi Cit lm Kauw berhasil membuat obat beracun
yang dinamakan Ngotok San," Ya It menerangkan terlebih
jauh. "Dalam kitab warisan leluhurku ada disebut tentang obat
beracun itu, cuma tak dijelaskan tentang bahan-bahannya
serta cara pembuatannya, melainkan dituturkan tandatandanya
kalau orang terkena racun itu. Karena itu, tak tahu
aku cara pengobatannya. Menurut katanya, Cit Im Kauw
memiliki sebuah kitab Pektok Cinkeng, yang kemudian kena
dirampas Kiauw Pak Beng. Sekarang ini ilmu warisannya
Kiauw Pak Beng itu telah diperoleh Beng Sin Thong, mungkin
kitab obat racun itu juga telah muncul di dalam dunia ini dan
sekarang berada di tangannya Le Seng Lam..."
Semua orang heran, mereka pada memikir: "Kalau begitu,
bukankah baru mati satu Beng Sin Thong lalu bakal muncul
Beng Sin Thong lainnya?"
Mendengar keterangannya Yap Ya It itu, hati Tiong Bouw
terasakan berat sekali. Akan tetapi, meski demikian, ia sedikit
bersangsi, Le Seng Lam toh telah memesan kata-kata
kepadanya untuk disampaikan kepada Kok Cie Hoa. Dari katakata
itu rupanya Cie Hoa, ketuanya itu, tidak bakal lekas mati,
bahkan nona ini masih dapat mendengar pesan orang. Hanya
sekarang ini keadaannya si ketua sangat gawat, dia lebih
banyak menghadapi bahaya daripada keselamatan.
Mungkinkah Seng Lam memperdayainya" Kalau benar Seng
Lam meracuni Cie Hoa, apa perlunya ia diperdayakan"
Ketika itu Yap Ya It sudah mengaduki obatnya, yaitu
soatlian campur arak, obat itu diserahkan pada Cia In Cin,
siapa mencekoki Cie Hoa yang mulutnya dibuka dengan paksa.
Tatkala itupun napas Cie Hoa tinggal satu kali demi satu
kali dan tubuhnya mulai menjadi kejang, teratai salju masuk
ke dalam mulutnya tetapi ia sudah tidak dapat menggigit atau
memamahnya, bahkan untuk menelanpun sangat sukar.
Yap Ya It lantas membantu pula dengan tusukan jarum
perak ke pelbagai hiat, atau jalan darah serta
meminumkannya arak somciu, dengan begitu barulah tanpa
merasa Nona Kok dapat juga menelap soatlian itu.
Lewat sekian lama, masih Cie Hoa tak sadarkan diri, sedang
ketukan nadinya belum berubah menjadi baikan.
"Sebenarnya soatlian dari Thiansan menjadi obat paling
manjur buat melawan racun," kata Keng Thian heran, "kenapa
sekarang khasiatnya teratai itu gagal?"
Yap Ya It menghela napas.
"Inilah bukan karena soatlian lenyap khasiatnya," kata tabib
ini, "inilah disebabkan jiwa si nona sudah hampir berhenti
berjalan, darah sudah tidak mengalir dan tersalurkan lagi...
Maka itu, meski ada obat lainnya yang lebih mustajab, aku
kuatir kemustajabannya tak akan menolong lagi. Karena ini
juga tadi aku membilang untuk mencoba saja..."
"Apakah tak dapat dia dibantu dengan emposan tenaga
dalam?" tanya Keng Thian.
"Sukar," menjawab Ya It, "kecuali apabila ayahmu yang
datang membantunya. Walaupun demikian, aku tetap
bersangsi. Nona ini cuma dapat disembuhkan dengan obatnya
yang tepat, segala daya kita sendiri melainkan dapat
memperpanjang umurnya sekian waktu." Tabib ini lantas
menoleh pada Tiong Bouw, untuk berkata: "Ek Pangcu, maaf
jikalau aku omong terus terang: "Penyakitnya ketua kamu ini
tak dapat ditolong lagi oleh tenaga manusia maka itu baiklah
kamu bersiap sedia untuk nanti merawat jenazahnya..."
Wajah Ek Tiong Bouw menjadi guram, hatinya sakit
bagaikan diiris-iris.
Beberapa murid wanita Binsan Pay pun sudah lantas
menangis. Saking pepat pikirannya, Tiong Bouw menumbuk-numbuk
dadanya, dia menjerit: "Di dalam tempo tiga bulan ini kedua
ketua kami telah mendapatkan nasib yang sangat tidak
beruntung ini, mustahilkah ini alamat dari bakal runtuhnya
Binsan Pay?"
Baru ketua Kaypang ini mengeluh demikian atau dari luar
terdengar suara sangat berisik dari suara orang dan tindakan
kaki kacau. Mendengar demikian, dia gusar bukan main.
"Celaka betul!" teriaknya. "Gelombang yang satu belum
tenang sudah mendampar gelombang yang lain! Apakah
benar-benar kami pihak Binsan Pay dapat diper-hina secara
begini macam?"
Pangcu ini menyangka datang pula lain hantu yang
menggantikan Seng Lam guna menerbitkan huru-hara,
karenanya dia jadi sangat gusar hingga parasnya menjadi
merah padam. *** Tiga bulan lamanya Kim Sie Ie melewatkan sang waktu
dalam kedukaan, pikirannya sangat kusut. Beberapa kali ia
ingin pergi ke Binsan tetapi senantiasa ia berhasil menguasai
dirinya. Ia anggap percuma ia pergi juga kalau ketikanya
belum tiba. Ia menyabarkan diri sampai akhirnya ia
mendengar kabar kesehatannya Cie Hoa sudah pulih dan telah
dikeluarkan surat undangan buat pelantikannya sebagai ketua
Binsan Pay. Baru setelah itu ia merasa sedikit lega.
"Ancaman bencana sudah lewat, mungkin sekarang hatinya
Cie Hoa sudah tenang pula," demikian pikirnya. "Karena Kim
Bwee dan Ciong Tian sudah pulang ke Thiansan, sudah datang
waktunya aku dapat muncul di muka umum, maka baiklah
sekarang aku pergi menjenguk dia."
Meskipun ia berpikir demikian, Sie Ie dapat memikir
lainnya. Ia menduga pasti kalau ia muncul, ia mungkin bakal
mendatangkan kegaduhan di pihak Binsan Pay, maka tak mau
ia pergi ke gunung itu di saat perayaan atau pelantikan si
nona sebagai ketua yang baru dari partai itu. Tak mau ia
muncul sebagai seorang tetamu yang hendak menghadiri
upacara. Begitulah, kendati ia sudah sampai di gunung Binsan, ia
tidak terus mendaki, ia hanya jalan mundar-mandir di kaki
gunung. Ia menanti sampai matahari sudah naik tinggi dan
genta berbunyi, tanda dari upacara pelantikan telah selesai
dilakukan, baru dengan perlahan-lahan ia berjalan naik di
lereng gunung. Tengah ia bertindak naik Sie Ie masih ragu-ragu. Ia berpikir
dan sulit mengambil keputusan: Bagaimana caranya ia
menemui Cie Hoa" Apakah lebih baik ia menemuinya secara
diam-diam dulu, baru ia muncul di muka umum" Atau lebih
baik ia muncul dulu di muka umum, yakni habis menemui Ek
Tiong Bouw semua baru ia minta bertemu dengan si nona"
Di dalam kesangsian itu ia naik terus, sampai tanpa merasa
ia berada di depan pekarangan kuburan Tokpie Sinnie. Itu
artinya ia sudah melakukan separuh perjalanan dari kaki
gunung sampai di kelenting Hianlie Koan. Baru saja ia sampai,
atau mendadak ia menjadi terperanjat. Dengan tiba-tiba ia
melihat sesosok tubuh berlari keras keluar dari sebuah
tikungan. Ia terperanjat sampai ia tercengang.
"He, Seng Lam?" ia berseru. "Kau disini?"
Memang benar, orang itu Seng Lam adanya. Nona Le
memperlihatkan roman dingin. Dia mengebut tangan bajunya.
"Kim Sianseng, kau mau apa?" tanya nona itu, suaranya
pun dingin sekali.
Sie Ie sudah mengulur' tangannya guna menarik nona itu,
atau ia batal sebab melihat sikap orang luar biasa itu. la
mengawasi dengan melongo.
"Kenapa kau menjublak saja?" tanya Seng Lam tertawa
dingin. "Orang lagi menantikan, kau tahu tidak" Masih kau
tidak mau lekas-lekas naik terus!"
Sie le heran. "Seng Lam!" dia tanya, bersang-si, hingga suaranya
menjadi tidak lancar. "Kau... kau... kenapa kau datang
kemari"..."
"Kenapa?" si nona membaliki. "Memangnya aku tak dapat
datang kemari?"
Sie Ie tidak menjawab, hanya dia tanya lekas. Agaknya dia
gugup. "Apakah kau telah pergi ke Hianlie Koan?" demikian
tanyanya. "Atau apakah kau baru saja tiba" Sebenarnya kau
hendak pergi kemana?"
Seng Lam bersikap tawar sekali.
"Hubungan di antara kita sudah putus!" katanya. "Kau
ambil jalanmu sendiri, aku ambil jalanku! Buat apa kau ambil
mumat dari mana aku datang kemana aku hendak pergi?"
Hebat kata-kata "hubungan putus" itu. Pula itulah yang
pertama kali muncul dari mulutnya Seng Lam. Mendengar itu,
Sie Ie merasa seperti ia disambar guntur. Ia menjadi bingung
hingga tak tahu ia mesti membilang apa.
Tengah Tokciu Hongkay berdiri diam, Seng Lam sudah
bertindak turun gunung...
Lekas juga Sie Ie mendusin. Hampir ia lompat untuk lari
menyusul Nona Le atau mendadak ia ingat ia datang untuk
menjenguk Cie Hoa. Sama cepatnya ia mengambil
keputusannya. "Tak dapat! Tak dapat!" demikian pikirnya. "Sekarang ini di
dalam hatiku melainkan ada Cie Hoa satu orang! Seng Lam...
dia telah tak sudi jadi kakak beradik dengan aku, buat apa aku
menyusul dia" Dengan menyusul dia. Aku cuma-cuma mencari
susah sendiri..."
Hari sudah tengah hari, hawa udara panas terik. Pada saat
itu, gunung Binsan tampak seluruhnya, indah
pemandangannya. Akan tetapi Sie Ie tak dapat menikmati itu,
Dendam Iblis Seribu Wajah 23 Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung Pendekar Remaja 7
^