Petualang Asmara 1

Petualang Asmara Karya Kho Ping Hoo Bagian 1


___________________________________________________________________________
Anak laki-laki itu tidak akan lebih dari sepuluh tahun usianya. Tubuhnya tinggi dan
tegap bagi anak setua itu. Baju dan celananya terbuat dari sutera, bentuknya sederhana.
Bajunya kuning polos dengan pinggiran merah tua, membuat warna kuning baju itu
tampak menyala bersih. Pada pinggangnya membelit tali sutera dan celananya berwarna
biru muda. Sepatunya yang coklat itu masih baru namun penuh debu. Wajah anak itu
terang dan tampan, berbentuk bulat dengan sepasang telinga lebar menjulang di kanan
kiri karena rambutnya disatukan di atas kepala membentuk sanggul dan dibungkus
dengan kain kepala dari sutera hijau. Sepasang matanya lebar dan bersinar terang,
dilindungi sepasang alis yang hitam dan sudah dapat diduga bahwa kelak alis itu akan
menjadi tebal dan berbentuk golok. Hidung dan mulutnya kecil membayangkan
kehalusan budi, namun tarikan syaraf pada dagunya membayangkan kemauan yang
membaja. Dengan lenggangnya yang bebas lepas anak itu melangkah di dalam hutan yang sedang
menyambut munculnya matahari pagi. Wajahnya gembira sekali, sepasang matanya
bersinar-sinar memandangi segala yang tampak di depannya, yang jauh maupun yang
dekat. Mulutnya tersenyum dan tiba-tiba dia berhenti, matanya terbelalak penuh
kegembiraan memandang ke kiri, melihat seekor kelinci yang tiba-tiba keluar dari
semak-semak, agaknya kelinci itupun terkejut, berhenti, menengok ke kanan kiri,
hidungnya bergerak-gerak kembang kempis membuat cambangnya yang hanya
beberapa helai itu ikut bergerak-gerak naik turun matanya yang jernih lebar bergerak-
gerak liar, sepasang daun telinganya yang panjang menjungat ke atas, bergerak-gerak
ke atas ke bawah menangkap segala suara yang datang dari sekelilingnya.
"Hi-hik...!" Anak itu tak dapat menahan geli hatinya melihat binatang yang lucu itu dan si
kelinci terperanjat, berloncatan lenyap ke dalam semak-semak kembali.
Anak laki-laki itupun melanjutkan langkahnya. Hanya mata seorang yang pikirannya
tidak dibebani sepenuhnya dengan segala macam persoalan hidup seperti mata anak
itulah yang akan dapat menikmati keindahan dalam hutan di pagi hari itu, dan
sesungguhnyalah bahwa hanya anak-anak saja yang dapat menikmati hidup ini, karena
manusia dewasa, kecuali mereka yang sudah sadar dan bebas, hidupnya penuh dengan
persoalan yang timbul dari pertentangan-pertentangan batin dan lahir.
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
1 Betapa indahnya rumput-rumput menghijau di hutan itu. Ada yang rebah, ada yang
berdiri, ada yang panjang ada yang pendek, semua begitu bebas dan segar, begitu wajar
namun lebih rapi daripada kalau diatur tangan manusia, nampak gembira dengan batang
membasah bermandikan cahaya matahari pagi, berkilauan seolah-olah dari setiap batang
rumput mengeluarkan cahaya kesucian. Daun-daun pohon menari-nari perlahan
dihembus angin pagi, mengangguk-angguk membawa butiran-butiran lembut yang
gemilang seperti mutiara. Burung-burung kecil yang beraneka warna bulunya, lincah
bergembira dan berkejaran sambil mencuit bersiul saling sahut, berloncatan dari dahan
ke dahan. Sinar matahari yang menyerbu pohon, menembus di antara celah-celah daun
membentuk garis-garis putih di antara cahaya kuning kemerahan, cahaya keemasan.
Adakah lukisan yang seindah kenyataan" Adakah rangkain kata-kata yang mampu
menceritakan keindahan yang wajar, mulus aseli dan ajaib ini"
Beberapa helai daun pohon menguning lepas dari tangkainya, melayang-layang ke
bawah, menari-nari ke kanan kiri seperti gerak pinggul seorang penari yang lincah dan
lemas, seolah-olah merasa sayang meninggalkan tangkainya namun tidak dapat
menahan daya tarik bumi. Betapa mata tidak akan menjadi sehat dan segar
menyaksikan semua keindahan ini" Sayang bahwa jarang ada manusia seperti anak laki-
laki itu yang dapat memandang dengan mata terbuka, terang dari jernih, tidak
terselubung tirai persoalan hidup yang keruh.
Makin terang cahaya matahari, makin ramai suara memenuhi hutan. Ramai akan tetapi
sedap didengar bagi mereka yang mampu mempergunakan telinganya untuk mendengar,
seperti anak itu, sehingga dia mampu menangkap keindahan hidup dalam
pendengarannya. Suara burung beraneka macam, dengan keindahan masing-masing,
ada yang tinggi melengking, ada yang menciap-ciap pendek, ada yang rendah parau,
namun sukar membedakan mana yang lebih indah bagi telinga yang mendengarkan
tanpa perbandingan sehingga tidak ada lagi istilah baik dan buruk! Di antara lomba suara
burung ini, kadang-kadang terdengar kokok ayam hutan, dan sayup-sayup terdengar
suara gemerciknya air dari anak sungai yang mengalir di dalam hutan, suara air bermain
dengan batu-batu hitam, seperti suara gelak tawa dan kekeh manja sekumpulan anak
perawan yang sedang bersendau gurau.
Kegembiraan memenuhi hati anak itu, membuat dia merasa menjadi sebagian dari alam
dan keindahan itu sendiri, dan anak itu, dengan wajah tampak berseri-seri, membuka
mulut dan bernyanyi! Nyanyian aneh dinyanyikan dengan wajah berseri dan suara
gembira, akan tetapi kata-kata dalam nyanyian itu sendiri adalah kata-kata keluhan yang
menyedihkan! Agaknya, nyanyian itulah yang dihafal olehnya, dan jelas bahwa dia
bernyanyi sekedar melepaskan kegembiraan yang berkumpul di dalam hatinya, sekedar
mengeluarkan suara mengikuti contoh burung-burung di dalam hutan, tanpa
mempedulikan isi nyanyian yang dihafalnya di luar kepala. Dia tidak peduli akan kata-
kata dalam nyanyian, karena dalam keadaan seperti dirinya di saat itu, kata-kata
merupakan benda usang yang sama sekali tidak ada artinya! Baginya, yang penting
bukan kata-katanya, melainkan suaranya yang menggetar nyaring penuh daya hidup!
Berbahagialah anak itu yang memiliki seni memandang dan mendengar sewajarnya.
Dengan pandangan dan pendengaran wajar, penuh perhatian, penuh kasih sayang, tanpa
penilaian, tanpa perbandingan, tanpa pamrih, tanpa prasangka, maka tampak dan
terdengarlah olehnya segala keindahan yang tak ternilai. Lukisan-lukisan terindah di
dunia ini hanya akan tampak sebagai benda lapuk saja dibandingkan dengan
kenyataannya, nyanyian sajak-sajak yang paling terkenal di dunia ini hanya akan
terdengar sebagai kata-kata hampa dibandingkan dengan suara alam itu sendiri jika
didengarkan dengan pikiran bebas.
Suara anak itu masih lembut dan ringan seperti suara wanita. Suaranya belum pecah
dan parau, menunjukkan bahwa dia belum dewasa. Namun suaranya nyaring sekali,
karena dia bernyanyi dengan bebas lepas, dari dalam dadanya!
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
2 "Langit di atas bumi di bawah
mengapit ketidakadilan
perut lapar minta makan
minta kepada siapa"
ayah bunda pun belum makan
semua kelaparan!
minta kepada si bangsawan
digigit anjing penjaga
minta kepada Si kaya
diberi maki dan pukulan!
Hayaaaa"!"
Anak itu mengulang-ulang dengan suara gembira, akan tetapi pada ulangan ke empat
kalinya, dia berhenti di tengah-tengah karena mendengar suara teguran,
"Haiiii"!"
Anak itu menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh.
Seorang laki-laki setengah tua, memikul kayu bakar, datang dengan langkahnya yang
pendek-pendek namun cepat, mengimbangi ayunan pikulannya. Setibanya di depan anak
itu, dia menurunkan pikulan, menghapus keringat dari muka dan leher, meludah ke kiri,
kemudian memandang lagi kepada anak itu dengan mulut menyeringai. Agaknya sudah
menjadi kebiasaan orang ini menyeringai seperti itu dengan mulut menyerong ke kanan,
mata kanan agak disipitkan sehingga tampak garis-garis tertentu pada bagian kulit muka
yang berlipat. "Wah, engkau bukan pengemis!" serunya dengan nada heran setelah menyapu pakaian
anak itu dengan pandang matanya.
"Memang aku bukan pengemis," jawab anak itu. "Dan engkau seorang tukang pencari
kayu agaknya, lopek (paman tua)?"
"Memang aku mencari kayu. Setiap pagi aku mencari kayu di hutan ini, lalu kubawa ke
kota kujual sebagai penukar bahan pengisi perut kami bertiga."
"Bertiga?"
"Ya, aku sendiri, anakku dan ibunya."
"Ohhhh..."
"Hemm, dan selama bertahun-tahun aku mencari kayu, baru pagi ini aku melihat hal-hal
aneh, di antaranya melihat seorang anak kecil berkeliaran seorang diri di dalam hutan,
menyanyikan lagu pengemis padahal engkau bukan pengemis."
"Anehkah itu?"
"Tentu saja aneh. Pakaianmu dari sutera halus, sepatumu baru. Engkau bukan pengemis
dan biasanya, hanya para pengemis dan orang miskin saja yang suka menyanyikan lagu
itu. Dan engkau pasti bukan pengemis."
"Sudah kukatakan aku bukan pengemis."
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
3 "Dan bukan orang miskin pula."
Anak itu mengerutkan alisnya, meragu lalu menggeleng kepala. "Entah, aku tidak tahu
apakah orang tuaku kaya ataukah miskin. Bagaimanakah untuk membedakan yang kaya
dengan yang miskin?"
Tukang mencari kayu itu juga mengerutkan alisnya, menggaruk-garuk kepala kemudian
meludah lagi ke kiri. Agaknya meludah ke kiri inipun menjadi kebiasaannya, seperti
kebiasaan menyeringai dengan mulut menyerong ke kanan.
"Yang hidup serba kecukupan itu orang kaya, yang serba kekurangan itu orang miskin."
Anak itu kembali termenung, kedua alis berkerut hampir bertemu di atas batas hidung,
kemudian dia memandang kakek itu sambil bertanya lagi, "Lopek, yang dikatakan serba
cukup itu bagaimana, dan yang serba kekurangan itu bagaimana?"
Agaknya kakek itu sudah lelah. Pagi ini dia mengumpulkan kayu hampir dua kali lebih
dari biasanya karena dia membutuhkan uang kelebihan, untuk membeli sepatu anaknya
yang rewel minta dibelikan sepatu baru. Bukan baru benar melainkan bekas akan tetapi
yang masih baik dan belum usang.
"Yang serba kecukupan itu adalah... hemm, yang dapat menutup kebutuhannya, sedang
yang serba kekurangan itu tentu saja yang tak pernah terpenuhi segala kebutuhannya."
"Ohh, jadi tergantung dari kebutuhannya, ya" Kalau kebutuhannya hanya sedikit tentu
cukup dengan sedikit pula sedangkan yang kebutuhannya banyak sekali melebihi apa
yang dimilikinya, mana bisa mencukupi?"
"Wah, sulit juga kalau begitu. Yang cukup adalah yang dapat makan setiap hari..." kata
Si Kakek agak bingung karena persoalan yang dianggapnya remeh itu kini menjadi sulit.
"Lopek. apakah lopek dapat makan setiap hari?"
"Hemm... ya, biarpun hanya dengan sayur sederhana."
"Kalau begitu, lopek adalah seorang kaya!" Anak itu berkata gembira seolah-olah dia
dapat memecahkan teka-teki yang sulit.
"Hahh...?" Pencari kayu itu terbelalak.
"Menurut lopek, orang kaya adalah yang kecukupan, yang kecukupan adalah yang setiap
hari dapat makan. Lopek setiap hari dapat makan, berarti kecukupan, dan karena
kecukupan berarti kaya!" Anak itu gembira sekali lalu membungkuk membalikkan tubuh
dan berkata, "Selamat pagi, lopek!"
Kakek itu masih berdiri terpukau di tempatnya, matanya memandang kosong karena
pikirannya bekerja keras mengingat ucapan anak itu. "Aku... kaya.." Heiii! Nanti dulu!
Tunggu dulu...!" ia memanggil.
Anak itu menoleh, membalikkan tubuh dan tersenyum. Senyum bebas lepas dan wajar.
"Ada apakah, lopek?"
"Tentang kaya miskin, aku menarik semua pendapatku. Aku bukan orang kaya, tapi
apakah aku miskin" hemm, entah. Tapi engkau yang berpakaian mahal, mengapa
menyanyikan lagu pengemis kelaparan?"
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
4 "Lagu adalah lagu, lopek. Siapa saja beleh melagukannya!"
"Tapi isi kata-katanya itu! Tentang kelaparan! Apakah engkau pernah kelaparan?"
Kini si anak tercengang. Baru sekarang dia sadar bahwa nyanyiannya itu bercerita
tentang anak kelaparan. Dia menggeleng kepala dan berkata lambat-lambat, "Aku belum
pernah kelaparan, lopek. Akan tetapi... apa bedanya" Melihat anak-anak pengemispun
sama sengsaranya terasa dalam hati. Ada nyanyiannya tentu ada kenyataannya, bukan"
Eh, lopek. Katakanlah, mengapa di dunia ini ada anak-anak yang kelaparan" Mengapa
ada bangsawan yang berkuasa amat tinggi, ada hartawan yang memiliki kekayaan
berlebihan dan berlimpahan, akan tetapi sebaliknya ada pekerja yang paling rendah
kedudukannya, dan ada pengemis-pengemis yang kelaparan?"
Kakek itu kembali terbelalak, kini memandang kepada anak itu dengan heran.
Selamanya belum pernah terpikirkan olehnya akan kenyataan yang sebetulnya dia lihat
sendiri itu. Ya, kenapa"
"Wah, kenapa ya" Mengapa keadaan bisa begitu?"
"Lopek, salah siapakah itu" Apakah salah si bangsawan tinggi" Apakah si pekerja kasar
rendah yang salah" Si hartawan kaya raya ataukah si pengemis yang salah" Apakah si
bangsawan tinggi terlampau menindas, ataukah si pekerja rendah terlampau menjilat"
Apakah hartawan terlampau kikir, ataukah pengemis terlampau malas" Salah siapa
lopek?" "Cuhhh! Cuhhh!" Kakek itu kini meludah sampai dua kali, dengan hati-hati dia
mengarahkan ludah yang ke dua agar tepat mengenai yang pertama, akan tetapi
bidikannya meleset jauh.
"Agaknya yang salah adalah..." Tiba-tiba dia menengok ke kanan kiri dengan muka takut
karena baru saja terpikir olehnya bahwa dia telah membawa diri dengan percakapan
yang amat berbahaya, percakapan yang mungkin akan mengakibatkan kepalanya
terpenggal kalau terdengar oleh "yang berwajib"! Maka disambungnya kata-katanya tadi,
"... adalah Thian (Tuhan)!"
"Ah, engkau mencari kambing hitam yang tidak tampak saja, lopek!" Anak itu
membantah. Si kakek tergesa-gesa mengangkat dan memikul kembali pikulan kayunya dan berkata,
"Wah, menuruti engkau bercakap-cakap, aku akan kesiangan menjual kayu!"
Ucapan ini dikeluarkan dengan suara keras, kemudian disambungnya berbisik, "Anak
baik, engkau anak siapakah?"
"Ayahku membuka toko obat di ujung Jembatan Hijau..."
"Wah, engkau putera Yap-sinshe (tukang obat Yap)?" Pencari kayu itu bertanya.
Ketika anak itu menjawab, "Ya, namaku Yap Kun Liong..." Si Pencari Kayu segera
berbisik lagi, "Siauw-kongcu (tuan kecil), lebih baik engkau pulang saja. Hutan ini tidak
aman hari ini. Tadi, masih gelap sekali sudah kulihat banyak orang aneh berkeliaran di
dalam hutan, seperti setan-setan saja. Hayo bersamaku pulang saja ke kota."
Kun Liong, anak itu mengerutkan alisnya dan meruncingkan mulutnya, menggeleng
kepala. "Aku belum ingin pulang, masih suka bermain-main di dalam hutan. Selamat
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
5 pagi, lopek." Anak itu karena khawatir kalau-kalau akan dipaksa pulang oleh pencari
kayu yang agaknya mengenal ayahnya, lalu berlari memasuki hutan.
Tukang pencari kayu itu hanya menggeleng kepala. Memikul kayunya sambil bicara
seorang diri, "Yap-sinshe orang baik, pernah mengobati isteriku. Aku harus memberi
tahu. Jangan-jangan anaknya berada dalam bahaya." Tergesa-gesa dia lalu melanjutkan
perjalanannya keluar dari hutan untuk menjual kayunya ke kota.
*** Kun Liong sudah melupakan pertemuan dan percakapan dengan pencari kayu tadi. Hari
terlampau cerah, hutan terlampau indah untuk diganggu kenangan peristiwa yang tidak
ada artinya itu. Cahaya matahari pagi yang keemasan, dengan garis-garis putih yang
hidup dan mengandung kehidupan karena di dalamnya tampak jutaan benda kecil yang
bergerak-gerak, berselang-seling dengan pohon-pohon besar kecil dengan dahan dan
cabangnya yang mencuat ke sana sini dengan bebas. Indah bukan main!
Dia sudah tahu bahwa tidak jauh dari situ, tepat di tengah-tengah hutan, di bagian yang
agak tinggi merupakan anak bukit, di sana terdapat sebuah kuil tua yang sudah tidak
berpenghuni lagi. Sudah beberapa kali dia bermain-main di kuil itu, dan ke sanalah
sekarang dia menuju. Ada serumpun bambu kuning berbelang-belang hijau di belakang
kuil tua itu dan dia ingin mengambil sebatang bambu yang indah itu. Menurut kata
ayahnya, bambu itu adalah sejenis bambu ular yang kuat dan tebal, lubangnya hanya
kecil saja dan bambu itu sendiri, yang sudah tua, kulitnya mengkilap dan besarnya sama
dengan lengannya.
Hatinya yang gembira itu berubah ketika ia tiba di depan kuil tua karena dia mendengar
suara hiruk-pikuk dari dalam kuil! Kun Liong teringat akan cerita Si Tukang Mencari
Kayu, maka dia cepat bersembunyi di belakang sebatang pohon depan kuil sambil
mengintai. Terdengar olehnya suara bentakan-bentakan seperti orang bersilat dan bertempur,
kemudian disusul suara teriakan-teriakan mengerikan dan dari pintu kecil yang tak
berdaun lagi, yang terbuka menganga, tampak tubuh dua orang terlempar dan
terbanting ke atas tanah depan kuil itu. Lemparan itu kuat sekali sehigga dua batang
tubuh manusia itu bergulingan dan akhirnya terhenti tak jauh dari tempat Kun Liong
bersembunyi, tidak bergerak-gerak lagi. Kun Liong dari tempat sembunyiannya
memandang dengan mata terbelalak. Dia sering mengikuti ayah dan ibunya mengobati
orang sakit, dan sering pula melihat orang mati. Kini, melihat letak tangan, kaki, kepala
dua orang laki-laki setengah tua yang terlempar tadi, tahulah dia bahwa mereka berdua
itu sudah tak bernyawa lagi! Kun Liong tidak takut atau ngeri melihat orang mati, akan
tetapi dia merasa penasaran sekali. Siapakah yang begitu kejam membunuh orang
begitu saja di pagi hari seindah itu" Pembunuh yang amat kejam, hal ini dia ketahui
dengan mendekati dan memeriksa dua mayat itu yang ternyata tewas dengan mata


Petualang Asmara Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendelik dan di dahi mereka tampak bekas jari tangan berwarna putih! Biarpun
pelajaran ilmu silatnya belum setinggi itu, sebagai putera suami isteri pendekar, Kun
Liong dapat menduga bahwa pembunuh kedua orang ini mempunyai ilmu pukulan
beracun yang amat jahat!
Tiba-tiba dia mendengar sesuatu dan cepat menyelinap kembali, bersembunyi di dalam
semak-semak. Kiranya suara itu adalah suara tiga orang laki-laki yang berpakaian
seperti petani, bertopi caping lebar dan berjalan menuju kuil dengan cepat sekali. Mereka
berhenti di dekat mayat dua orang itu, memandang sebentar kemudian seorang di
antara mereka berkata perlahan,
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
6 "Si Iblis itu benar-benar berada di dalam kuil." Dua orang temannya mengangguk dan
tangan mereka bertiga meraba-raba gagang pedang, kemudian ketiganya dengan
gerakan cepat dan ringan lari memasuki kuil tua.
Kun Liong tertarik sekali menyaksikan apa yang akan terjadi di dalam kuil. Akan tetapi,
untuk mengikuti mereka tadi begitu saja, dia tidak berani karena dia mengerti bahwa
akan terjadi hal-hal yang hebat. Dia harus berlaku hati-hati sekali. Dengan menyelinap di
antara semak-semak dan pohon-pohon, dia mengambil jalan memutar, menuju ke
belakang kuil. Tembok belakang yang melingkari kuil tua itu sudah ambruk, maka bagian
belakang kuil itu tampak jelas. Kun Liong sudah sering mengunjungi tempat ini maka dia
hafal betul. Dengan hati-hati akhirnya dia dapat bersembunyi di belakang rumpun bambu
kuning. Kini bambu-bambu kuning yang sudah banyak yang tua dan mengkilap itu tidak
diperhatikannya lagi karena perhatiannya tercurah ke sebelah belakang kuil dan dia
memandang dengan jantung berdebar tegang. Kiranya tiga orang tadi sudah berada di
halaman belakang kuil, berdiri dengan sikap tegak dan bersiap-siap menghadapi seorang
kakek yang aneh!
Kun Liong dari balik daun-daun dan batang-batang bambu kuning, mengintai penuh
perhatian. Kebetulan sekali kakek aneh itu tidak membelakanginya benar duduknya
sehingga dia dapat melihat muka kakek itu dari samping. Dia seorang kakek yang
berpakaian serba putih, hanya merupakan kain panjang membelit-belit tubuhnya yang
tinggi kurus. Rambutnya sudah berwarna dua, digelung ke atas model sanggul para tosu
(pendeta beragama To), kedua kakinya memakai kaus kaki dan sandal pendeta. Tosu
yang usianya tentu tidak kurang dari enam puluh tahun ini duduk bersila di atas sebuah
benda yang aneh. Benda itu berbentuk bunga teratai, berwarna putih. Bunga logam putih
yang terletak di tengah halaman dan di sekeliling kakek itu tampak goresan di atas tanah
yang bergaris tengah tiga meter lebih. Agaknya kedatangan tiga orang petani bertopi
caping lebar itu tidak dipedulikan tosu yang duduk bersila sambil memejamkan mata
memangku sebatang tongkat bambu yang panjangnya kira-kira tiga kaki.
"Totiang, harap maafkan kalau kami datang mengganggu totiang yang sedang
beristirahat dalam kuil tua ini." Seorang di antara tiga orang petani itu, yang memelihara
cambang melintang di bawah hidung, menjura sambil mengeluarkan kata-kata yang
nadanya sopan menghormat itu.
Tosu tua itu membuka kedua matanya dan terkejutlah tiga orang itu melihat betapa
mata tosu itu hampir tidak tampak hitamnya. Mata seorang buta, atau setidaknya tentu
lamur! "Siancai"! Sam-wi ada keperluan apakah?"
"Kami kebetulan lewat di dalam hutan dan di depan kuil kami melihat dua orang yang
telah menjadi mayat. Setelah itu kami telah mendengar di kota bahwa sepekan yang
lalu, di dalam hutan pohon pek di selatan kota, juga terdapat mayat lima orang dengan
ciri yang sama, yaitu dahi mayat-mayat itu terdapat tanda tapak jari tangan putih.
Totiang yang berada di dalam kuil ini tentu mengetahui sebab kematian dua orang di luar
kuil itu. Maukah totiang memberitahukan kepada kami?"
Sejenak kakek itu hanya memandang ketiga orang tadi penuh perhatian, seolah-olah
kedua matanya dapat melihat dengan jelas. Biarpun tiga orang itu merasa yakin benar
bahwa dua buah mata yang maniknya yang sudah menjadi putih itu tidak dapat melihat
dengan baik, mereka merasa tidak enak dan diam-diam bulu tengkuk mereka meremang
ketika sepasang mata itu ditujukan kepada mereka sampai lama tidak pernah berkejap!
Kemudian, sepasang mata itu dipejamkan, kakek itu lalu membuka mulutnya dan
bernyanyi! Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
7 "Bunga suci, Teratai Putih
di tengah lumpur, tetap bersih,
Siapa saja hendak mengotori
berarti mencari mati sandiri!
Jika ada yang melanggar
garis lingkaran pemisah
dia akan menjadi korban
Pek-tok-ci yang sakti!"
Tiga orang itu saling pandang, kemudian mereka memandang ke arah garis lingkaran
yang melingkari tempat duduk aneh kakek itu. Si Cambang Melintang melangkah maju
selangkah, di luar garis lingkaran dan dia membentak sambil mencabut pedangnya,
diikuti oleh dua orang kawannya.
"Tosu Pek-lian-kauw, kami telah mengenal engkau! Menyerahlah, kami adalah petugas-
petugas pemerintah yang bertugas menangkap Loan Khi Tosu tokoh Pek-lian-kauw!"
Tosu lamur (setengah buta) itu kembali membuka matanya dan tersenyum "Kiranya tiga
ekor anjing pemerintah! Pinto (aku) memang Loan Khi Tosu dari Pek-lian-kauw. Habis
kalian mau apa! Pinto tetap takkan mengganggu kalian asalkan tidak melanggar garis
lingkaran. Hal ini sudah menjadi pegangan pinto!" Setelah berkata dernikian, kakek itu
mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya pada bunga teratai putih dari logam yang
didudukinya. Terdengar bunyi nyaring berirama kemudian bunyi ketukan itu dijadikan
irama mengikuti nyanyian kembali dinyanyikan oleh Si Kakek yang aneh. Akan tetapi
berbeda dengan tadi, suara yang menyanyikan lagu ini terdengar menggetar dan
melengking menusuk telinga!
"Tahu akan kebodoban sendiri
adalah waspada,
tidak tahu mengaku tahu
adalah sebuah penyakit,
yang mengenal kenyataan ini
berarti sehat! Sang Bijaksana berpikiran sehat
melihat penyelewengan
seperti apa adanya
karenanya takkan pernah sakit.
Siancai...!"
Kun Liong yang bersembunyi di belakang rumpun bambu kuning, terkejut bukan main
ketika mendengar suara nyanyian itu. Dia mengenal kata-kata nyanyian itu sebagai ujar-
ujar dalam kitab To-tik-khing yang banyak berubah, akan tetapi bukan itu yang
membuatnya terkejut, melainkan suaranya itulah! Suara itu amat tidak enak bagi
telinganya, melengking tinggi rendah dan seolah-olah kedua telinganya ditusuk-tusuk
jarum! Yang lebih hebat lagi, tiga orang yang sudah mencabut pedang itu, kini berdiri
terhuyung-huyung, tidak dapat berdiri tegak dan mereka itu kelihatan ragu-ragu untuk
menyerang karena muka mereka pucat sekali dan tubuh mereka agak menggigil!
Kakek itu mengulangi lagi nyanyiannya. Kun Liong diam-diam menjadi marah. Nyanyian
buruk itu masih hendak diulangi lagi" Dia marah dan hatinya panas. Kakek itu jelas
bukan orang baik, pikirnya dan karena diapun tidak akan mampu berbuat sesuatu, untuk
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
8 mengganggu kakek itu diapun lalu membarengi kakek itu, bahkan mendahuluinya
sedikit, bernyanyi. Tentu saja yang dinyanyikannya adalah lagu pengemis tadi. Maka
terdengarlah nyanyian-nyanyian hiruk-pikuk tidak karuan, campur aduk dan aneh sekali,
kacau-balau dan lucu karena nyanyian itu menjadi begini.
"Langit di atas bumi di bawah
tahu akan kebodohan sendiri
mengapit ketidakadilan
adalah waspada!
perut lapar minta makan
tidak tahu mengaku tahu
minta kepada siapa
adalah sebuah penyakit!
ayah sendiri pun belum makan
yang mengenal kenyataan ini
semua kelaparan
berarti sehat."
Baru sampai di situ, kakek itu menghentikan nyanyiannya dan berteriak marah,
melompat turun dari bunga teratai baja yang didudukinya. Tiga orang itupun sudah
menerjang maju dengan pedang mereka dan ternyata ilmu pedang mereka cukup hebat
sedangkan tubuh mereka tidak lagi pucat seperti tadi. Tanpa disengaja, nyanyian Kun
Liong tadi telah menolong tiga orang petugas pemerintah itu. Mereka sebetulnya adalah
perwira-perwira petugas keamanan yang melakukan penyelidikan, orang-orang yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Ketika tosu tadi bernyanyi, dia mempergunakan khi-kang mengerahkan sin-kangnya dan
suaranya itu merupakan serangan yang amat hebat. Bagi orang yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi, dia dapat mempergunakan suara untuk mencelakakan lawan, seperti
yang dilakukan Loan Khi Tosu tadi. Suara dapat menyerang melalui pendengaran,
mengusik hati mengacau pikiran dan menggetarkan urat syaraf, lama-lama dapat
menyerang jantung lawan dan membunuhnya tanpa turun tangan! Karena masih kanak-
kanak dan pikirannya masih bebas, atau setidaknya belum terlalu kotor dan penuh
seperti pikiran manusia dewasa, biarpun suara itu amat tidak enak didengarnya, namun
Kun Liong tidaklah amat menderita seperti yang diderita tiga orang perwira yang
manyamar sebagai petani-petani itu. Kemudian tanpa disengajanya, hanya untuk
menyatakan rasa mendongkol terhadap kakek itu, Kun Liong dapat memecahkan atau
membikin rusak pengaruh khi-kang dalam nyanyian Loan Khi Tosu dengan mengacaukan
nyanyiannya dengan nyanyiannya sendiri! Hal ini membuat tiga orang tadi pulih kembali
keadaannya dan mereka lalu menerjang maju, sedangkan Loan Khi Tosu dengan marah
sekali sudah turun dari bunga teratai baja dan menghadapi tiga orang lawannya dengan
tongkat bambunya.
Tiga orang perwira itu bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah kepala-kepala
pegawai di kota Leng-kok dan menjadi orang-orang kepercayaan kepala daerah kota
Leng-kok. Mereka adalah bekas anak buah Jenderal Yung Lo dan kini telah menjadi
kaisar. Ilmu kepandaian mereka cukup tinggi dan kini mereka mengurung tosu itu
dengan membentuk barisan segitiga.
Si Cambang Melintang rupa-rupanya menjadi pimpinan mereka. Dia lebih dulu
membentak keras dan menyerang dengan pedangnya, menusuk ke leher tosu itu dari
samping kiri. Gerakannya cepat dan kuat sekali, dan menyusul gerakannya ini, temannya
yang berada di depan tosu itu telah menerjang dengan tusukan pedang ke arah perut.
Orang ke tiga segera menyusul dengan sambaran pedangnya yang membabat ke arah
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
9 kaki lawan. Dengan demikian, secara beruntun dan cepat sekali merupakan rangkaian
serangan bersambung, tosu itu dihujani serangan ke leher, perut, dan kakinya!
Melihat sinar tiga batang pedang berkilat menyambar secara berturut-turut itu, Loan Khi
Tosu tidak menjadi gentar atau gugup. Dengan tenang-tenang saja dia menggerakkan
tongkat, menangkis pedang yang menyambar leher, tongkatnya dipentalkan dan
langsung menangkis pedang yang menusuk perut dan tubuhnya mencelat ke atas
sehingga sambaran pedang ke arah kakinya itu tidak mengenai sasaran. Dari atas, dia
sudah menggerakkan lagi tongkatnya, menusuk ke arah ubun-ubun kepala Si Cambang,
dan menampar dengan tangan kiri ke arah orang di depan, sedangkan kakinya
menendang ke arah orang di sebelah kanannya. Dapat dibayangkan betapa cepat
gerakan kakek itu yang selagi tubuhnya masih berada di atas telah dapat mengirim
serangan kepada tiga orang lawannya sekaligus!
Namun, tiga orang lawannya juga dapat mengelak dengan cepat, kemudian segera
menyerang lagi secara teratur ketika kakek itu sudah turun kembali. Pertandingan yang
seru terjadi di halaman belakang kuil itu. To-su itu agaknya tadi memandang rendah
para pengeroyoknya yang disangkanya sama lemahnya dengan dua orang musuh yang
baru saja dibunuhnya. Disangkanya bahwa sekali menggerakkan tongkatnya, dia akan
dapat membunuh mereka. Setelah kini ternyata tiga orang perwira itu belum juga dapat
dirobohkan setelah mereka bertanding selama tiga puluh jurus lebih, hanya mampu
mendesak mereka saja dengan gerakan tongkatnya, dia menjadi penasaran dan marah
sekali. "Mampuslah kalian!" bentaknya dan tiga orang itu terkejut sekali ketika tiba-tiba Si Tosu
melakukan gerakan cepat, tangan kirinya menyerang mereka bertubi-tubi dengan
tamparan-tamparan yang mendatangkan hawa pukulan panas seperti api! Tahulah
mereka bahwa kakek itu telah mengeluarkan ilmu pukulan simpanannya yang selama ini
dipergunakan untuk membunuhi orang, pukulan Pek-tok-ci (Jari Tangan Beracun Putih)
yang selalu meninggalkan bekas tapak jari tangan pada tubuh korbannya. Karena tahu
akan kelihaian jari tangan itu, mereka mencelat mundur, sama sekali tidak menyangka
bahwa pada saat itu, Loan Khi Tosu yang lihai telah meniup ujung tongkatnya tiga kali
dan tampak sinar hitam berkelebat tiga kali ke arah tiga orang perwira itu. Mereka
berteriak kaget dan terjungkal roboh, leher mereka terkena serangan gelap berupa
jarum-jarum hitam yang ternyata disembunyikan di dalam tongkat yang berlubang itu
dan yang dipergunakan sebagai semacam sumpit.
"Heh-heh, mata-mata laknat, anjing pemerintah yang busuk. Kalian harus mati!" Tosu
itu melangkah lebar menghampiri tiga orang yang telah terluka, mengangkat tongkatnya
hendak mengirim pukulan terakhir.
"Kakek tua bangka, engkau jahat sekali, ya?"
Loan Khi Tosu menahan tongkatnya, membalikkan tubuh dan melihat seorang anak laki-
laki lari menghampirinya sambil memandangnya dengan sepasang mata yang jernih itu
menyinarkan kemarahan. Setelah tiba di depan tosu itu, Kun Liong bertolak pinggang
dan berkata, suaranya lantang penuh keberanian dan kemarahan.
"Melihat pakaianmu, engkau tentulah seorang tosu dan menurut pengetahuanku seorang
pendeta selalu mengutamakan kebaikan dan pantang melakukan kejahatan! Di dalam
kitab-kitab Agama To tidak terdapat pelajaran yang membenarkan kekejaman, bahkah
Nabi Lo-cu selalu menentang kekerasan. Mengapa engkau ini seorang tosu, begini kejam
dan suka melakukan pembunuhan?"
Loan Khi Tosu tercengang dan sejenak tak dapat bicara, hanya memandang anak itu
dengan pengerahan kekuatan matanya agar dapat melihat lebih jelas. Matanya yang
lamur hanya melihat bentuk seorang anak laki-laki dan hanya pendengaran telinganya
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
10 yang jelas menangkap suara itu dan ia menduga bahwa anak itu tentu tidak lebih dari
sepuluh tahun usianya. Kalau yang menegurnya seorang dewasa, teguran itu tentu
dianggapnya penghinaan dan membuatnya marah, akan tetapi yang menegurnya adalah
seorang anak kecil. Belum pernah selama hidupnya dia menghadapi hal yang seaneh ini.
Akhirnya dia menarik napas panjang dan berkata,
"Siancai... agaknya engkau juga yang tadi mengacaukan nyanyianku. Engkau sungguh
bernyali besar dan karena keberanianmu itu aku suka menjawab. Ketahuilah bahwa tosu
dari Pek-lian-kauw selain mengutamakan kebajikan dan kegagahan, terutama sekali
kekerasan terhadap musuh. Membunuh musuh bukanlah perbuatan kejam namanya..."
"Omong kosong! Membunuh tetap membunuh, membunuh siapapun juga, dengan alasan
apapun juga, pembunuh namanya dan membunuh adalah perbuatan yang paling
terkutuk, paling keji dan yang paling busuk di dunia ini!"
Loan Khi Tosu menggerakkan kedua pundaknya. "Karena kau seorang anak-anak, pinto
kagum menyaksikan sikapmu. Kalau engkau sudah dewasa dan mengeluarkan kata-kata
seperti itu berarti engkau musuh pula dan tentu telah pinto bunuh. Sudahlah, pinto tidak
ada waktu melayani seorang anak kecil!" Tosu itu membalik, dan kini tongkatnya
digerakkan ke arah tubuh tiga orang lawannya yang sudah roboh pingsan itu!
"Wuuuuttt... trakkkk!!"
Loan Khi Tosu meloncat ke belakang, tongkatnya tergetar dan hanya dengan pengerahan
tenaga sin-kang sekuatnya saja membuat dia berhasil mencegah tongkatnya terlepas
dari pegangannya.
"Siancai...! Siapakah engkau dan mengapa berani mencampuri urusan pinto?" Loan Khi
Tosu menegur seorang laki-laki yang tadi menangkis tongkatnya dan yang kini berdiri
dengan tenang di depannya sambil menyimpan kembali senjatanya yang istimewa
karena senjatanya itu berupa sepasang pit (alat tulis, pensil buku) hitam dan putih.
Laki-laki itu berpakaian sastrawan, sederhana pakaian dan sikapnya, namun di balik
kesederhanaannya, tampak kegagahan yang berwibawa. Wajahnya tampan tubuhnya
tegak dan padat berisi membayangkan tenaga yang halus dan kuat, usianya kurang
sedikit dari empat puluh tahun, namun rambut di atas sepasang telinganya sudah mulai
bercampur uban. Dia bernama Yap Cong San, seorang tokoh Siauw-lim-pai yang
terkenal, murid dari Tiang Pek Hosiang, tokoh nomor satu di Siauw-lim-pai, bekas ketua
yang kini tidak muncul lagi di dunia ramai karena telah bertapa untuk selamanya dalam
Ruang Kesadaran, yaitu di sebuah ruangan tertutup dari kuil Siauw-lim-pai.
Yap Cong San sendiri telah dipecat sebagai anak murid Siauw-lim-pai, pemecatan yang
berdasarkan kebijaksanaan Ketua Siauw-lim-pai karena ingin menjaga baik nama Siauw-
lim-pai, akan tetapi pribadi pendekar ini tidak dimusuhi, bahkan dianggap sebagai
sahabat baik dari Siauw-lim-pai. Bagi para pembaca cerita "Pedang Kayu Harum", nama
Yap Cong San tentu bukan nama yang asing. Akan tetapi untuk para pembaca cerita ini
yang belum membaca "Pedang Kayu Harum" sebaiknya berkenalan dengan Yap Cong
San secara singkat.


Petualang Asmara Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setelah kehilangan keanggotaannya dari Siauw-lim-pai, Yap Cong San menikah dengan
seorang pendekar wanita perkasa yang bernama Gui Yan Cu, seorang wanita amat cantik
jelita, berkepandaian tinggi dan juga memiliki keahlian dalam ilmu pengobatan. Suami
isteri ini tinggal di kota Leng-kok, membuka sebuah toko obat dan mereka mempunyai
seorang putera, yaitu Yap Kun Liong, anak yang pemberani tadi. Karena dia sendiri
seorang ahli silat dari Siauw-lim-pai yang lihai dan sedikit banyak mengerti akan ilmu
pengobatan, setelah menjadi suami Gui Yan Cu dan membuka toko obat, Yap Cong San
mempelajari ilmu pengobatan sehingga sering kali dia mewakili isterinya memeriksa dan
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
11 mengobati orang sakit. Isterinya hanya memeriksa wanita-wanita yang sakit. Karena
pekerjaannya ini, Yap Cong San lebih dikenal sebagai seorang ahli pengobatan dan
disebut Yap-sinshe daripada seorang ahli silat yang berilmu tinggi. Sudah bertahun-
tahun dia dan isterinya tidak mencampuri urusan dunia kang-ouw, seakan-akan
sepasang suami isteri pendekar ini bersembunyi di kota kecil Leng-kok, sehingga jarang
ada orang mengenal namanya.
Ketika tadi mendengar dari pencari kayu yang menjadi langganannya pula, bahwa Kun
Liong berkeliaran di dalam hutan di luar kota, sedangkan menurut pencari kayu itu, di
dalam hutan terdapat orang-orang yang aneh dan mencurigakan, Yap Cong San merasa
khawatir sekali. Cepat dia lalu meninggalkan toko obatnya, menyuruh isterinya menjaga
dan dia sendiri pergi ke dalam hutan membawa sepasang senjatanya yang istimewa,
yaitu Im-yang-pit hitam putih. Dahulu Yap Cong San terkenal sekali dengan ilmu
silatnya, terutama sekali permainan Im-yang-pit, sepasang pensil yang tidak hanya
dapat dipergunakan sebagai senjata, bahkan juga dapat dipakai untuk menulis. Di
samping sepasang Im-yang-pit ini, dia juga mahir melepas senjata rahasia berupa uang
logam tembaga yang selain dapat dipakai berbelanja, juga dapat dipergunakan sebagai
senjata rahasia yang amat berbahaya, disebut Touw-kut-ji (Uang Logam Penembus
Tulang). Pendekar ini tiba di belakang kuil, tepat pada saat Loan Khi Tosu menggerakkan tongkat
pendek membunuh tiga orang yang telah terluka itu. Sebagai seorang pendekar, biarpun
sudah bertahun-tahun dia tidak mempunyai urusan kang-ouw, tak mungkin dia
membiarkan saja pembunuhan dilakukan di depan matanya. Cepat dia meloncat ke
depan menggerakkan senjatanya menangkis sehingga tongkat tosu itu terpental.
Sebelum menjawab, Yap Cong San melirik ke arah puteranya yang masih berdiri di situ
dan Kun Liong tersenyum kepada ayahnya, senyum yang memancing maaf dari ayahnya.
Sejak kecil, Kun Liong paling takut kepada ayahnya dan paling manja kepada ibunya.
Mungkin karena ayahnya keras maka ibunya memanjakannya atau bisa jadi juga
sebaliknya, karena ibunya memanjakannya maka ayahnya bersikap keras kepadanya.
Melihat puteranya tidak apa-apa, legalah hati pendekar itu dan ia cepat menjura kepada
tosu yang bermata lamur itu.
"Totiang, saya tidak bermaksud mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi karena
pekerjaanku adalah menolong orang sakit, sedapat mungkin berusaha mencegah
kematian merenggut nyawa orang, tentu saja saya tidak tega menyaksikan totiang
hendak membunuh orang."
"Ayah, kakek tua bangka ini sudah membunuh banyak sekali orang. Dia iblis jahat!"
Tiba-tiba Kun Liong berkata menudingkan telunjuknya kepada tosu itu.
"Kun Liong, diam!" Ayahnya membentak.
Tosu itu mengangguk-angguk. "Hemm kiranya dia anakmu" Pantas pemberani, kiranya
ayahnya seorang yang lihai. Gerakanmu tadi jelas menunjukkan bahwa engkau tentu
seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lihai sekali, sicu (orang gagah). Karena Siauw-lim-pai
merupakan perkumpulan besar yang disegani dan dihormati oleh perkumpulan kami,
biarlah pinto mengalah terhadapmu dan ketahuilah bahwa pinto adalah Loan Khi Tosu,
pemimpin Pek-lian-kauw di daerah ini. Yang terbunuh oleh pinto adalah kaki tangan
pemerintah yang selalu memusuhi kami, maka pinto harap sicu tidak ikut campur."
Yap Cong San memang sudah menduga bahwa tosu itu seorang tokoh Pek-lian-kauw
ketika ia melihat bunga teratai putih dari baja itu. Dia menjadi tidak enak hati karena
maklum bahwa Pek-lian-kauw adalah kumpulan orang-orang yang menentang
pemerintah, yang menganggap pemerintah mulai menyeleweng, pembesar-pembesarnya
tukang korup dan rakyat mulai ditindas pula, tidak becus menanggulangi gangguan-
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
12 gangguan yang datang dari para bajak laut yang hanya menyusahkan kehidupan rakyat.
Dia menganggap mereka itu sekumpulan orang-orang yang memberontak, namun
karena dia melihat pula akan keadaan pemerintah yang makin memburuk, maka dia
selalu menjauhkan diri dan tidak mau mencampuri pertentangan antara Pek-lian-kauw
dan pemerintah itu.
"Totiang, saya datang hanya untuk menyusul anak saya yang ternyata berada di sini.
Karena totiang tidak mengganggu anak saya, maka sayapun tidak akan mengganggu
totiang, akan tetapi tiga orang yang terluka itu menjadi tanggungan saya untuk mencoba
mengobati dan menyembuhkannya."
Tosu itu menyeringai, "Heh-heh, boleh kaucoba, sicu. Dan melihat muka sicu, pinto mau
mengampuni mereka. Bolehkah pinto mengetahui nama besar sicu?"
"Saya hanyalah seorang biasa saja yang tidak terkenal, tidak ada gunanya dikenal oleh
seorang tokoh Pek-lian-kauw seperti totiang."
Tosu itu mendengus. Dia maklum dari tangkisan tadi bahwa yang berada di depannya
adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang berkepandaian tinggi. Karena itu, dia tidak
mau mencari perkara dan suka mengalah, pertama karena agaknya akan sukar baginya
menandingi lawan ini, ke dua karena para pimpinan Pek-lian-kauw dengan keras
melarang Pek-lian-kauw mencari bibit permusuhan dengan perkumpulan-perkumpulan
besar seperti Siauw-lim-pai yang amat kuat.
"Kalau begitu, selamat tinggal dan sampai jumpa, sicu!" Tosu itu menyambar bunga
teratai putih dari baja yang tadi menjadi tempat duduknya, kemudian sekali meloncat dia
sudah lenyap dari situ, tubuhnya melayang cepat sekali keluar dari kuil tua.
"Ayah, mengapa ayah membiarkan si jahat itu pergi?" Kun Liong bertanya penasaran.
Ayahnya memandangnya dengan bengis. "Kun Liong, jangan mencampuri urusan orang
lain! Mau apa engkau berkeliaran sampai ke tempat ini?"
Mendengar suara ayahnya dan melihat sikap bengis itu, Kun Lion menundukkan muka
dan menjawab lirih. "Tadinya aku hendak mencari bambu kuning, ayah..."
"Hemmm, mencari bambu tapi melibatkan diri dengan urusan gawat! Anak lancang, kau
tak tahu akan bahaya. Kalau tosu itu berhati kejam, apa kaukira sekarang engkau masih
hidup" Hayo lekas pulang dan minta bantuan orang untuk mengangkut mereka yang
terluka ini. Cepat!"
Kun Liong mengangguk-angguk lalu melarikan diri secepatnya pulang ke kota untuk
memenuhi perintah ayahnya. Yap Cong San lalu berlutut memeriksa keadaan tiga orang
itu. Mereka belum tewas, bahkan Si Cambang Melintang sudah siuman.
"Yap... sinshe" tolonglah kami..." katanya sambil mengeluh.
Pendekar itu mengenal mereka sebagai perwira-perwira pengawal kepala daerah, maka
ia mengangguk dan memeriksa. Kiranya di leher tiga orang itu menancap sebatang
jarum hitam. Melihat keadaan luka di sekeliling jarum yang kulitnya menghitam, tidak
ragu lagi hatinya bahwa jarum itu tentu mengandung racun yang jahat. Pek-lian-kauw
selain terkenal mempunyai banyak orang pandai, juga terkenal dengan keahlian mereka
mempergunakan racun. Cepat dia mencabuti jarum-jarum itu dan kembali Si Cambang
Melintang jatuh pingsan.
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
13 Tak lama kemudian datanglah sepasukan pengawal dari Ma-taijin terdiri dari belasan
orang. Pasukan ini dikirim setelah ibu Kun Liong mendengar dari puteranya akan
peristiwa di kuil tua dan nyonya perkasa itu sendiri melaporkan kepada kepala daerah.
Tubuh tiga orang perwira pengawal itu, juga mayat dua orang yang terdahulu dibunuh
Loan Khi Tosu diangkut. Yap Cong San mengikuti dari belakang setelah menyimpan tiga
batang jarum hitam. Jarum-jarum itu perlu untuk diselidiki racunnya sebelum dia
mengobati tiga orang perwira itu, dan dia perlu berunding dengan isterinya yang lebih
ahli dalam hal racun dibandingkan dengan dia.
Setelah memasuki kota Leng-kok, para korban itu langsung diangkut ke perkemahan
kepala daerah sedangkan Cong San pulang ke rumahnya untuk berunding dengan
isterinya dan mengambil obat.
*** "Sungguh menjengkelkan sekali tosu itu, ibu. Sayang bahwa ayah membiarkannya pergi
begitu saja setelah dia membunuh dua orang dan melukai tiga orang. Enak sekali bagi
tosu itu. Padahal aku yakin ayah pasti mengalahkannya!" Kun Liong mengomel depan
ibunya. Nyonya Yap Cong San atau Gui Yan Cu, yang masih kelihatan cantik dan muda sekali
biarpun usianya sudah kurang lebih tiga puluh tahun, tersenyum dan menarik tangan
puteranya, dirangkulnya penuh kasih sayang.
"Habis, kalau menurut pendapatmu, dia harus diapakan" Apakah ayahmu harus
membunuhnya?"
Kun Liong menatap wajah ibunya dengan mata terbelalak. "Membunuh" Ayah
membunuhnya" Aihh! Sama sekali tidak, ibu. Bukan maksudku supaya ayah menjadi
pembunuh. Akan tetapi sedikitnya, tosu itu harus ditangkap dan diserahkan kepada yang
berwajib agar supaya mendapat hukuman atas kejahatannya. Kalau dibiarkan saja
terlepas seperti yang dilakukan ayah, bukankah terlalu enak?"
"Husshh, kau tahu apa, Kun Liong" Di balik peristiwa itu tentu ada hal-hal lain sehingga
ayahmu membiarkannya pergi. Kalau mendengarkan ceritamu tadi, tosu itu yang duduk
di atas sebuah bunga teratai putih dari baja, dan mendengar nyanyian seperti yang
kauceritakan tentulah seorang tokoh Pek-lian-kauw. Karena itulah ayahmu ingin lepas
tangan dan tidak mau terlibat."
"Ibu, apakah Pek-lian-kauw itu?"
"Dijelaskan juga engkau takkan mengerti, anakku. Pek-lian-kauw sebuah perkumpulan
besar yang menentang pemerintah."
"Apakah ayah takut kepada Pek-lian-kauw?"
"Bukan soal takut atau berani, akan tetapi ayahmu tidak mau terlibat pertentangan besar
itu, dan aku membenarkan ayahmu karena memang tidak ada gunanya melibatkan diri,
akan membawa akibat yang berkepanjangan dan hebat. Yang penting sekali adalah
bahwa engkau tidak diganggunya dan syukur demikian, hatiku sudah khawatir sekali tadi
ketika pencari kayu memberi tahu."
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
14 Percakapan itu berhenti dengan masuknya Yap Cong San. Isterinya segera
menyambutnya dan bertanya, "Bagaimana dengan para korban itu?"
Yap Cong San menggeleng kepala, menarik napas panjang dan mengeluarkan tiga
batang jarum hitam, memperlihatkan kepada isterinya sambil berkata, "Aku tidak
mengenal jarum ini, maka baru kuberi obat untuk mencegah menjalarnya racun dan
kutotok jalan darah mereka."
Gui Yan Cu memeriksa jarum hitam, memasukkan jarum itu ke dalam mangkok putih,
menuangkan air jernih sedikit dan air itu berubah hitam. Dia mencabut tusuk sanggulnya
yang terbuat dari perak, mencelupkan benda itu ke dalam air beracun. Ujung tusuk
sanggul yang putih itu kini berubah menghijau. Setelah memeriksa dan mencium racun
itu, mata yang indah dan lebar itu terbelalak dan dia berseru.
"Racun ular senduk...!"
"Apa" Kalau begitu... nyawa mereka takkan dapat tertolong lagi!" Yap Cong San berkata,
"Hemmm... Loan Khi Tosu dari Pek-lian-kauw itu benar-benar terlalu kejam."
"Memang dia kejam!" Tiba-tiba Kun Liong berseru, "Tidak seharusnya ayah
melepaskannya begitu saja!"
"Diam kau! Anak kecil tahu apa?" Yap Cong San membentak.
Isterinya memandang kepadanya, lalu menarik napas panjang dan dengan halus berkata
kepada Kun Liong, "Liong-ji, (anak Liong), ayah ibumu sedang sibuk, kau pergilah
bermain-main di luar dan menjaga toko kalau-kalau ada tamu datang mencari kami."
Kun Liong bersungut-sungut. Selalu begitu. Ayahnya demikian keras, ibunya demikian
lunak kepadanya. Kalau saya ayahnya selunak ibunya, atau ibunya sekeras ayahnya, dia
akan mengerti dan tidak menjadi penasaran! Dia berlari ke luar dan duduk termenung di
bangku dalam toko obat.
Baru saja anak itu keluar dan suami isteri itu sekali lagi meneliti racun jarum, Kun Liong
sudah berlari masuk lagi dan berkata, "Ada tamu utusan dari Ma-taijin!"
Yap Cong San dan isterinya segera keluar dan utusan itu mengatakan bahwa kepala
daerah she Ma itu memanggil Yap-sinshe datang menghadap. Karena maklum bahwa
tentu kepala daerah ingin melihat dia cepat-cepat mengobati tiga orang perwiranya yang
terluka, Yap Cong San segera berangkat sambil membawa beberapa macam obat anti
racun yang ada, sungguhpun dia tahu bahwa obat-obat itu tidak akan dapat
menyembuhkan luka yang terkena racun ular senduk.
Seperginya Yap Cong San, melihat anaknya masih cemberut tidak puas, Gui Yan Cu
merangkul puteranya dan berkata,
"Kun Liong, jangan kau kecewa kepada ayahmu. Ayahmu bersikap tepat dan benar.
Biarlah kuceritakan kepadamu tentang Pek-lian-kauw. Perkumpulan itu bukan
perkumpulan orang jahat, sungguhpun seperti perkumpulan yang menamakan dirinya
pejuang rakyat, mereka dapat berlaku kejam sekali terhadap musuh-musuh mereka.
Mereka menentang pemerintah karena dalam anggapan mereka, pemerintah tidak baik
dan menindas rakyat, membikin sengsara rakyat. Karena itu, mereka dimusuhi oleh
pemerintah yang tentu berusaha membasminya. Nah, ayahmu tidak ingin melihat dirinya
terlibat dalam permusuhan itu dan sikapnya itu tepat sekali. Mengertikan engkau?"
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
15 "Ibu, aku tidak kecewa atau menyesal kepada ayah. Aku hanya ingin melihat di dunia ini
jangan ada orang menyakiti atau membunuh orang lain dan kalau itu terjadi, dia harus
dihukum!" Ibunya tersenyum, dan merasa bangga "Memang sebaiknyalah mempunyai pendirian itu,
anakku. Pendirian seorang pendekar yang menentang penindasan. Akan tetapi engkau
harus tahu bahwa yang melakukan kejahatan itu tentutah mereka yang lebih kuat,
sedangkan yang dijatuhi atau yang menderita tentulah mereka yang lemah. Karena itu,
seorang pendekar harus menggembleng diri sendiri agar supaya kuat..."
"Wah, dan menjadi penindas jahat?" Kun Liong memotong.
"Hushh, bukan begitu. Akan tetapi kalau engkau menghukum si jahat, engkau harus
dapat menundukkan yang jahat bukan" Dan untuk dapat menundukkan si jahat, engkau
harus lebih kuat dari mereka, padahal mereka itu adalah orang-orang kuat. Itulah
perlunya engkau memperdalam ilmu silat dan mempergiat latihanmu, di samping
pelajaran sastra dan pengobatan."
Kun Liong mengangguk-angguk kemudian mengerutkan alisnya. "Akan tetapi aku paling
tidak suka melihat kekerasan, tidak suka melihat perkelahian, Ibu. Aku tidak mau
berkelahi, aku benci perkelahian."
"Siapa menyuruh engkau berkelahi" Belajar ilmu silat itu bukan untuk berkelahi!"
"Ibu tadi bilang seorang pendekar harus menentang si jahat, kalau ditentang tentu
berarti berkelahi."
"Bukan, anakku. Perkelahian hanya terjadi antara dua pihak yang mempertahankan
kepentingan diri sendiri masing-masing, memperebutkan sesuatu yang baik berupa
kebenaran sendiri maupun berupa keuntungan untuk diri sendiri. Kalau kita membela
yang tertindas, menentang si jahat sehingga terjadi pertandingan itu bukanlah
pertandingan namanya. Mengertikah engkau?"
Kun Liong mengerutkan kedua alisnya, meruncingkan mulutnya, dan menggeleng kepala.
"Aku tidak mengerti, dan aku tetap tidak suka, aku tetap benci pertempuran."
Ibunya memandang dengan sinar mata penuh selidik. "Apakah engkau takut akan
pertempuran" Takut terluka, takut mati, takut kalah?"
Sepasang mata anak itu terbelalak memandang ibunya, penasaran dan suaranya
lantang, "Aku..." Takut..." Tidak, ibu, aku tidak takut apapun. Aku hanya benci akan
kekerasan. Dan Pek-lian-kauw itu, mengapa menentang pemerintah" Mengapa
menganggap pemerintah menindas rakyat" Betulkah itu, ibu?"
Ibunya menggeleng kepala. "Aku tidak tahu, Liong. Yang sudah jelas, kalau ada dua
pihak bertentangan, sudah pasti sekali mereka itu saling menyalahkan, sudah pasti
mereka itu masing-masing menganggap pihak sendiri benar dan pihak sana yang salah.
Itu adalah urusan orang-orang yang murka akan kedudukan dan kemuliaan, kita tidak
perlu mencampurinya, maka sikap ayahmu adalah tepat dan benar. Andaikata ayahmu
melukai atau membunuh tosu itu, berarti bukan dia seorang melainkan kita semua
terlibat dalam permusuhan dan pertentangan yang tiada habisnya."
Sambil bercakap-cakap menceritakan keadaan dunia kang-ouw kepada puteranya yang
mendengarkan dengan bengong dan penuh kagum, apalagi ketika ibunya menyebut-
nyebut nama para tokoh kang-ouw yang dianggap sebagai pendekar-pendekar pilihan,
timbul keinginan hati Kun Liong untuk menjumpai pendekar-pendekar itu! Sedangkan
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
16 ibunya sibuk membuat campuran obat yang diambil dari resep simpanan, dan menanti
kembalinya suaminya.
Tak lama kemudian Yap Cong San muncul dengan wajah keruh. Begitu memasuki toko,
dia melempar diri di atas kursinya dan mengeluh, "Tetap saja tersangkut!"
"Apa maksudmu" Apa kehendak Ma-taijin memanggilmu?" tanya isterinya.
"Aku dituduh bersahabat dengan tosu Pek-lian-kauw!"
"Wah, itu fitnah!" Kun Liong berteriak penasaran.
"Apa sebabnya kau dituduh begitu?" Gui Yan Cu bertanya, sepasang alisnya berkerut,
hatinya ikut penasaran.
"Agaknya, seorang di antara tiga perwira itu melihat pertemuanku dengan Loan Khi
Tosu, melihat betapa aku dapat menangkis tongkat tosu itu dan menyelamatkan nyawa
mereka, kemudian melihat betapa aku melepaskan tosu itu pergi tanpa bertanding
dengannya, dan melaporkan hal ini kepada Ma-taijin. Pembesar ini menegurku, mengapa


Petualang Asmara Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku yang memiliki kepandaian tidak turun tangan terhadap seorang pemberontak yang
sudah jelas membunuh dan melukai orang, apalagi melukai tiga orang perwira pengawal.
Dia bertanya apakah aku bersimpati kepada pihak pemberontak!"
"Hemmm" tuduhannya hanya ngawur belaka. Kemudian bagaimana?"
"Aku menjawab bahwa aku segan bermusuhan dengap Pek-lian-kauw yang mempunyai
banyak orang pandai. Aku bilang bahwa aku takut?"
"Ayah membohong! Aku tahu betul, ayah dan ibu tidak takut kepada apapun, kepada
setan dan iblispun tidak takut. Dan aku tahu, tosu itulah yang gentar menghadapi ayah!"
"Kun Liong, diamlah!" Ayahnya membentak marah, "Sudah berapa kali kukatakan
kepadamu, engkau tidak boleh mencampuri urusan orang-orang tua. Dengarkan saja dan
tutup mulut, kalau tidak bisa menutup mulut, pergilah dan jangan mendengarkan!"
"Baik, ayah." Kun Liong menunduk dan kedua bibirnya dirapatkan masuk ke dalam
mulutnya. "Lalu bagaimana?" Gui Yan Cu mendesak, alisnya makin dalam.
"Dia bilang dapat memaafkan sikapku, akan tetapi aku harus dapat menyembuhkan tiga
orang perwiranya."
"Hemm, harus katanya" Nyawa orang berada di tangan Thian, bukan di tangan kita.
Habis bagaimana jawabanmu?"
"Aku menjawab terus terang bahwa racun di tubuh mereka itu adalah racun ular senduk
yang amat berbahaya dan sukar sekali dicari obatnya dan bahwa aku akan berusaha
sekuatku."
"Bagaimana sambutannya?"
"Dia bilang tidak peduli diobati apa dan bagaimana asal tiga orang perwiranya itu
sembuh. Dalam kata-katanya terkandung ancaman bahwa kalau aku gagal mengobati,
tentu dia akan mengungkit kembali urusan tosu Pek-lian-kauw itu."
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
17 "Hemm, pembesar itu agaknya mempunyai niat buruk. Akan tetapi kita tidak perlu
gelisah. Memang amat sukar mengobati racun ular senduk sampai sembuh, akan tetapi
ada obat yang untuk sementara waktu, sedikitnya sebulan, dapat menahannya sehingga
si korban tidak akan tewas. Dalam waktu sebulan itu, kalau engkau suka minta
pertolongan ke kuil Siauw-lim-pai di mana aku mendengar disimpan banyak sekali obat-
obat yang mujijat, kurasa mereka masih akan dapat diselamatkan."
Berseri wajah Yap Cong San. "Bagus kalau begitu! Memang aku mempunyai ingatan
untuk minta pertolongan para suhu di Siauw-lim-si (Kuil Siauw-lim-pai), akan tetapi
perjalanannya pulang pergi ke sana akan memakan waktu paling cepat setengah bulan
dan tadinya aku tidak mempunyai harapan untuk menolong mereka. Akan tetapi, kalau
engkau ada obat penawar selama sebulan, bagus sekali, isteriku!"
"Inilah obatnya, sudah kusediakan sejak tadi. Berikan kepada mereka, dimasak dengan
air lalu diminumkan, kemudian cepat-cepat berangkat ke Siauw-lim-si, tentu urusan ini
akan dapat diatasi dengan baik."
Yap Cong San memandang isterinya dengan wajah berseri dan penuh rasa sukur.
"Engkau memang bijaksana sekali, isteriku." Dia hendak merangkul, akan tetapi isterinya
melirik ke arah Kun Liong, tersenyum dengan kedua pipi kemerahan sambil
meruncingkan mulut, persis seperti kebiasaan Kun Liong.
"Husshhh...!"
Suaminya teringat, mengurungkan niatnya dan Kun Liong berkata, "Ayah, aku ikut ke
Siauw-lim-si!"
"Wah, kaukira ayahmu pergi melancong ya" Keperluan ini penting sekali, bukan
waktunya melancong."
Melihat puteranya menunduk dan kecewa, Yan Cu berkata, "Kun Liong, ayahmu betul.
Perjalanan ini amat jauh dan perlu cepat-cepat. Kelak kalau tidak ada sesuatu
kepentingan, engkau akan kuajak melancong ke Telaga Barat yang indah!"
Hiburan ini tidak meringankan hati Kun Liong yang berkata, "Ibu selalu membenarkan
ayah!" Kemudian dia berlari ke luar.
Suami isteri yang saling mencinta itu kini tidak malu-malu lagi untuk saling berpelukan
dan berciuman mesra. "Dia tidak tahu betapa engkau mencintaku, tentu saja selalu
membenarkan aku!" Yap Cong San berbisik sambil mengelus rambut kepala isterinya.
"Ah, dan kau jangan terlalu keras kepadanya. Kasihan dia, tidak punya saudara?"
"Aihh, apakah engkau ingin sekali dia mempunyai adik?" Si suami menggoda, akan tetapi
si isteri berkata sungguh-sungguh,
"Siapa yang tidak ingin mempunyai seorang anak perempuan yang mungil sebagai adik
Kun Liong?"
"MUDAH-MUDAHAN Kwan Im Pouw-sat (Dewi Welas Asih) akan memberkahi kita dengan
seorang anak perempuan. Kalau urusan ini sudah selesai, mari kita bersembahyang di
Kuil Kwan Im Bio, kemudian kita menyewa perahu di telaga semalam suntuk kita berdua
berpengantin baru di perahu, siapa tahu Kwan Im Pouwsat akan kebetulan bersenang
hati memberi anugerah?"
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
18 "Husshhh, tak tahu malu! Sudah berapa umur kita, masih mau berpengantin baru! Kau
lekas berangkatlah. Urusan antara kita baru akan terlaksana kalau urusan Ma-taijin
sudah beres dan berhasil baik. Berangkatlah, dan hati-hatilah di jalan, suamiku.
Sampaikan hormatku kepada para suhu di Siauw-lim-si, terutama sekali kepada
locianpwe (orang tua gagah) Thian Kek Hwesio ketua Siauw-lim-pai."
Thian Kek Hwesio adalah ketua Siauw-lim-pai yang baru, menggantikan kedudukan Tiang
Pek Hosiang yang telah mengundurkan diri karena merasa bahwa dia telah melakukan
perbuatan sesat di waktu mudanya sehingga dia tidak ingin mengotori nama Siauw-lim-
pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ). Yap Cong San dan isterinya amat menghormat
dan menjunjung tinggi hwesio tua ini, bukan hanya karena Cong San bekas anak murid
Siauw-lim-pai dan karena hwesio itu adalah ketua Siauw-lim-pai, akan tetapi terutama
sekali karena hwesio itulah yang telah berjasa mengingatkan Cong San dengan nasihat-
nasihat yang amat berharga ketika pendekar ini hampir mengalami keretakan rumah
tangganya akibat cemburu sehingga dia sadar akan kekeliruannya. Hal itu telah
dijelaskan oleh Cong San kepada isterinya sehingga Yan Cu juga merasa berhutang budi
kepada hwesio tua yang dianggapnya telah memiliki jasa besar akan kebahagiaan rumah
tangganya, berarti kebahagiaan hidupnya pula. (Baca ceritaPedang Kayu Harum ).
Berangkatlah Cong San pada hari itu juga menuju ke Kuil Siauw-lim-pai setelah dia
mengobati tiga orang perwira dengan obat penawar buatan isterinya. Dengan
menunggang kuda, dia dapat melakukan perjalanan cepat dan seperti yang dia harapkan
Thian Kek Hwesio menyambut bekas sute (adik seperguruan) itu dengan ramah sekali
dan segera memberikan obat yang dibutuhkan Cong San setelah mendengar penuturan
bekas sutenya. "Yap-sicu, engkau telah bersikap benar sekali. Pinceng (aku) merasa berterima kasih
bahwa sicu masih menjaga akan nama Siauw-lim-pai sehingga tidak melibatkan diri
dalam pertentangan yang buruk itu."
"Ahh, suheng mengapa berkata demikian" Ah, maaf, losuhu (sebutan pendeta), teecu
(murid) sampai lupa menyebutmu suheng (kakak seperguruan). Mengapa losuhu
bersikap sungkan" Sudah tentu sekali teecu menjaga nama Siauw-lim-pai, bukan hanya
karena teecu adalah bekas anak muridnya, melainkan terutama sekali karena Siauw-lim-
pai adalah sebuah perkumpulan besar dan mulia, tidak selayaknya kalau sampai terseret
ke dalam pemberontakan Pek-lian-kauw."
Setelah bermalam satu malam dan melewatkan waktu semalam unuk melepaskan rindu
terhadap bekas saudara-saudara seperguruannya, dan mendengar bahwa sudah
bertahun-tahun bekas gurunya, Tiang Pek Hosiang, tidak pernah keluar dari Ruang
Kesadaran, pada keesokan harinya Cong San berpamit dan kembali secepatnya ke Leng-
kok. *** Kun Liong duduk dengan tenang di dalam kamarnya, tekun membaca kitab kitab kuno
(lama) yang bertumpuk di atas mejanya. Seperti sudah lajim di jaman itu, setiap orang
pelajar sastra yang sesungguhnya mempelajari membaca dan menulis, diharuskan
menghafal isi kitab-kitab lama. Kitab-kitab itu adalah kitab-kitab filsafat yang berat-berat
dan sama sekali bukan "makanan" otak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun
seperti Kun Liong! Bukan hanya kitab-kitab Su-si Ngo-keng, kitab yang, mengandung
pelajaran Nabi Khong Cu, akan tetapi bahkan oleh ayahnya dia disuguhi kitab Agama
Buddha dan kitab To Tik Khing dari Agama To!
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
19 Karena sudah hampir hafal semua akan isi kitab-kitab itu, maka Kun Liong membalik-
balik lembaran kitab itu dengan acuh tak acuh. Dia diharuskan berdiam di kamar karena
ayah bundanya sedang sibuk membuatkan obat untuk tiga orang perwira yang
keracunan. Obat Siauw-lim-si yang katanya dicampur dengan ramuan lain. Agar jangan
mengganggu, maka dia diharuskan membaca kitab-kitab itu seorang diri di dalam
kamarnya. Kun Liong merasa kesal hatinya karena bosan. Hampir saja dibantingnya kitab-kitab itu.
Apa perlunya menghafal semua isi kitab lama itu" Apa perlunya mengasah otak mencari-
cari dan menafsirkan makna dari segala kata-kata yang diucapkan dan dituliskan
manusia jaman dahulu kala" Apa gunanya mengerti akan isi hati manusia kuno kalau
tidak mengerti akan isi hati sendiri"
"Apa gunanya?" Kun Liong mengeluh dan melemparkan kitab-kitab itu ke atas meja.
"Apa gunanya kalau setelah orang hafal akan seribu satu macam ujar-ujar kebatinan
namun tidak ada seorang pun melaksanakan sebuah pun dalam kehidupan sehari-hari?"
Ucapan Kun Liong ini timbul dari lubuk hatinya karena hampir setiap hari ia menyaksikan
kenyataan-kenyataan akan adanya pertentangan dan perlawanan antara isi ujar-ujar dari
sikap serta perbuatan manusia. Biarpun ucapan ini keluar dari mulut seorang kanak-
kanak yang mungkin bukan menjadi hasil pemikiran mendalam, namun membuat kita
termenung. Memang sebenarnyalah, apa gunanya semua itu kalau kita melihat betapa semua
pelajaran kebatinan dihafal orang sedunia semenjak kebudayaan berkembang" Ribuan
tahun orang mengikuti dan menghafalnya, berlumba keras dan bagus ketika
menyanyikan ujar-ujar kuno itu. Semua orang hafal akan ujar-ujar yang berbunyi bahwa
"Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara," akan tetapi apa gunanya
ujar-ujar yang hanya menjadi kata-kata hampa ini kalau sehari-hari tampak kenyataan
hidup yang berlawanan" Dalam kenyataannya, yang dianggap "saudara" hanyalah orang-
orang yang menguntungkan kita, yang segolongan dengan kita, sealiran kepercayaan,
seperkumpulan, sesuku, sebangsa dengan kita! Apa artinya menghafal ujar-ujar itu kalau
kita melihat bahwa si pembesar dijilat, si hartawan dihormat, si pandai dipuji, sedangkan
si kecil ditekan, si miskin dihina dan si bodoh dimaki"
Makin banyaknya tentang pelajaran tentang kebaikan dan contoh-contoh manusia
budiman, makin banyaklah timbul orang-orang munafik yang ingin disebut baik, ingin
dirinya dianggap seperti manusia budiman. Kita selalu melupakan bahwa kebaikan
bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari! Melakukan kebaikan untuk mentaati pelajaran
adalah kelakuan yang palsu, dipaksakan, dan berpamrih (mengandung keinginan
tertentu demi diri pribadi), karenanya munafik! Kebaikan harus, keluar dari dalam hati,
tanpa paksaan, tanpa kekhawatiran, tanpa keinginan di baliknya, tanpa pamrih, bahkan
tanpi disadari bahwa kita berbuat baik! Dapatkah rasa kasihan dipelajari dan dilatih"
Dapatkah kita mempelajari rasa haru" Dapatkah orang belajar mencinta" Kalau dipelajari
maka palsulah itu!
Kalau kita berbuat kebaikan agar dipuji, baikkah itu" Kalau kita berbuat kebaikan agar
dibalas dengan bunganya, baikkah itu" Kalau kita berbuat kebaikan agar jangan
dihukum, baikkah itu" Yang dua pertama dasarnya menginginkan sesuatu, yang terakhir
dasarnya takut. Ketiganya palsu! Segala sesuatu, termasuk perbuatan, haruslah wajar
dan aseli. Yang aseli dan wajar itu selalu benar dan indah. Kalau diperkosa, dirubah dengan paksa,
maka akan timbul kepalsuan, pertentangan dan keburukan. Menginsyafi, dan menyadari
akan keburukan diri sendiri berarti merintis jalan ke arah lenyapnya keburukan itu, dan
hanya dengan tidak adanya keburukan maka keindahan tercipta. Perbuatan buruk timbul
dari rasa sayang diri. Mengusahakan agar dirinya baik dengan jalan pengekangan, tapa
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
20 brata, menyiksa diri, dan lain sebagainya takkan membawa hasil, karena usaha ini pun
merupakan kembang dari rasa sayang diri, jadi tiada bedanya dengan keburukan. Di
mana-mana ada keburukan, di sana kebenaran, kebaikan atau keindahan takkan
muncul. Yang terpenting adalah rnengenal diri pribadi, mengenal sifat-sifatnya,
keburukan-keburukannya, cacat-cacatnya, menginsyafi, menyadari dengan kesungguhan
bukan pura-pura, dan keburukan akan tiada! Kalau keburukan tiada, dengan sendirinya
yang ada hanyalah kebenaran, dan keindahan.
Kun Liong bersungut-sungut. Sudah dua hari ayah bundanya sibuk mempersiapkan obat
untuk perwira yang terluka. Kenapa ayah ibunya demikian sibuk mengurus tiga orang
perwira sehingga tidak mempedulikannya, bahkan beberapa kali menolak undangan
orang-orang untuk memeriksa keluarga yang sakit"
"Ayah dan lbu pilih kasih! Apakah karena yang memerintahkan Ma-taijin, seorang
pembesar" Karena itu, undangan orang-orang kampung tidak dihiraukan" Apakah ayah
dan ibu sudah menjadi orang-orang mata duitan" Ihhh... bodoh kau!" Ia menampar dahi
sendiri, merasa betapa tidak baik jalan pikirannya terhadap ayah bundanya.
Seekor anjing berbulu putih memasuki kamarnya. Wajah Kun Liong yang tadinya muram
itu berseri. Anjing itu bagus sekali, tubuhnya kecil seperti kucing, bulunya tebal putih
seperti kapas, ekornya pendek dan ujungnya mekar, sepasang matanya kuning
bergerak-gerak dan mulutnya yang kecil mengeluarkan salak lucu.
"Pek-pek (Si Putih) ke sinilah...!"
Akan tetapi anjing kecil itu seperti menggodanya, mendekat akan tetapi kalau hendak
ditangkap, meloncat dan lari menjauh. Beberapa kali Kun Liong berusaha
menangkapnya, akan tetapi anjing itu gesit sekali dan selalu dapat mengelak dengan
loncatan-loncatan lucu, melarikan diri ke kolong meja, bangku dan ranjang membuat
Kun Liong payah mengejarnya dan kehabisan akal. Kalau anjing yang bertubuh kecil itu
menyusup-nyusup ke bawah kolong, mana bisa dia mengejar dan menangkapnya"
"Pek-pek, lihat ini kuberi roti!"
Anjing itu mendengus-dengus, menggerak-gerakkan ekornya yang pendek dan segera
menghampiri Kun Liong, menerima sepotong roti kering itu dengan mulutnya, lalu
memakannya dengan ekor bergoyang tidak lari lagi ketika Kun Liong merangkulnya.
"Kau memang nakal! Kalau tidak diberi hadiah tidak mau dekat!" Kun Liong berkata, lalu
membelitkan kain tilam mejanya ke pinggang anjingi itu. "Nah, pergilah dan larilah
sekarang kalau bisa!" Dia memegangi ujung kain dan tentu saja anjing kecil itu tidak bisa
lari lagi. Akan tetapi dia pun agaknya sudah tidak ingin lari lagi setelah diberi roti,
mengeluarkan bunyi ngak-nguk minta lagi karena sepotong tadi sudah habis.
Karena merasa kesepian dan bosan, timbul kenakalan Kun Liong untuk mempermainkan
anjing peliharaan keluarga itu. Sisa rotinya dia berikan semua kepada Si Putih dan dia
lalu mengambil kaleng-kaleng kosong dan sebuah kelenengan diikatkan pada ekor dan
leher anjingnya.
Setelah anjing itu menghabiskan semua sisa roti, Kun Liong mengajaknya bermain-
main. Dia lari ke sana-sini sambil memanggil-manggil. Anjing itu mengeiarnya dan tentu
saja kaleng-kaleng kosong dan kelenengan yang bergantungan di eker dan lehernya
mengeluarkan bunyi gaduh. Kun Liong tertawa dan anjing itu menjadi bingung dan
ketakutan. Agaknya dia mengira bahwa ada sesuatu mengejarnya dari belakang, sesuatu
yang menakutkan karena mengeluarkan suara gaduh. Beberapa kali dia menoleh dan
berusaha menggigit ekornya yang diganduli kaleng-kaleng kosong, akan tetapi
gerakannya membuat kaleng-kaleng itu terseret dan mengeluarkan suara sehingga
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
21 anjing itu terkejut dan melompat ke depan. Tentu saja setiap lompatannya membuat
kaleng-kaleng itu terbanting dan makin gaduh suaranya. Dengan ketakutan anjing itu
meloncat dan berlari, keluar dari kamar Kun Liong diikuti suara ketawa anak itu yang
segera mengejar.
Makin kencang lari anjing itu, makin keras pula suara kelenengan dan kaleng-kaleng
yang ikut terseret itu, dan makin takutlah binatang itu yang mengeluarkan suara ngak-
nguk dan berlari menabrak sana-sini. Mula-mula Kun Liong merasa gembira sekali,
mengejar sambil tertawa-tawa, akan tetapi ketika dia melihat anjing itu memasuki kamar
obat di ruangan belakang, dia terkejut.
"Heiii! Pek-pek... tidak boleh ke situ...! Hayo keluar kau...!" Dia mengejar ke dalam
kamar yang pintunya terbuka, siap menerima omelan ayahnya yang tentu akan marah-
marah. Akan tetapi kamar itu kosong, agaknya ayah bundanya sedang beristirahat di
ruangan depan setelah dua hari sibuk di dalam kamar obat itu.
"Pek-pek... mari sini"!!"
"Pranggg" prakk...!" Anjing itu meloncat ke atas meja, menabrak dua buah guci yang
terletak di atas meja sehingga dua buah guci itu jatuh dan pecah, isinya tumpah.
"Aduh, celaka"!" Kun Liong berseru dengan mata terbelalak dan muka berubah pucat.
"Haiii, suara apa itu...?"
Mendenear seruan suara ayahnya, Kun Liong cepat menyelinap dan bersembunyi di
belakang gulungan tirai. Yap Cong San berlari masuk dari kamar yang menembus
ruangan tengah.
"Wah... sungguh celaka... obatnya tumpah semua...!" Pendekar itu cepat mengambil dua
buah guci dan dengan hati-hati dan menampung isinya yang tinggal sedikit. Sedangkan
Pek-pek sudah keluar dari kamar itu melalui jendela. Setelah menaruh obat yang tinggal
sedikit itu ke dalam guci lain, Cong San lalu menjenguk ke luar jendela.
"Hemmm... Pek-cu yang menumpahkannya. Dia ketakutan diganduli kaleng kosong dan
kelenengan. Haiii" Kun Liong?" Dia memanggil dan meloncat keluar dari jendela untuk
menangkap Pek-pek.
Kun Liong menggigil. Tak mungkin dia menyangkal lagi. Tentu ayahnya mengerti siapa
yang menjadi biang keladi tumpahnya obat itu dan tentu sekali ini ayahnya tidak hanya
mengomel saja, melainkan telapak tangan ayahnya akan ikut pula beraksi. Entah


Petualang Asmara Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telinganya atau pantatnya, yang jelas dia akan menjadi korban hukuman, bahkan sekali
ini ibunya pun akan marah kepadanya! Ngeri menghadapi semua itu, terutama sekali
menghadapi kemarahan ibunya yang tentu akan menyakitkan hatinya, Kun Liong
berindap-indap keluar dari kamar obat, melalui pintu samping dan melarikan diri keluar
dari rumah, terus berlari ke luar kota dan memasuki hutan!
*** Selama dua hari dua malam Kun Liong melarikan diri, hanya berhenti kalau sudah tidak
kuat lagi kakinya berlari. Dia melarikan diri dengan tergesa-gesa, dibayangi rasa takut
kalau-kalau ayahnya melakukan pengejaran. Karena sekali ini dia melakukan perjalanan
dibayangi rasa takut, maka jauh bedanya dengan perjalanannya masuk keluar hutan di
waktu dia pergi mencari bambu kuning dahulu. Kini dia tidak lagi dapat menikmati segala
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
22 keindahan yang terbentang di hadapannya. Perutnya hanya diisi kalau sudah tak dapat
menahan lapar, diisi apa saja yang dapat ditemukan dalam hutan. Buah-buah, daun-
daun muda, akar-akaran dan kadang-kadang kalau dia berhasil menangkap kelinci
dengan sambitan batu, dapat juga dia makan daging kelinci.
Untung baginya bahwa pada waktu itu pemerintah dikendalikan oleh tangan Kaisar Yung
Lo yang amat keras. Kaisar ini berusaha memperbaiki keadaan negara dan rakyat,
dengan memberantas kejahatan, membasmi perampok-perampok sehingga pada waktu
itu tidak ada perampok yang berani muncul. Kalau tidak demikian keadaannya, sudah
pasti sebelum lewat sehari menjelajahi hutan-hutan itu, Kun Liong akan bertemu dengan
perampok. Harus diakui bahwa Kaisar Yung Lo yang berhasil merebut kedudukan Kaisar dari tangan
keponakannya sendiri, yaitu Kaisar Hui Ti, telah melakukan banyak usaha keras untuk
mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Pertama-tama, untuk menghindarkan
pemerintah yang dipimpinnya dari pengaruh para pembesar korup sebagai sisa kaki
tangan pemerintah yang lalu, ibu kota yang tadinya berada di Nan-king dipindahkannya
ke Peking. Di kota itu oleh Kaisar Yung Lo didirikan bangunan-bangunan yang luar biasa
besar dan indahnya, yang gilang-gemilang sehingga menurut sejarah tidak ada taranya
di jaman itu. Selain pembangunan yang mengandung seni bangunan megah itu dia pun menyuruh
susun, perbaiki dan perkuat bangunan Tembok Besar di sebelah utara. Tembok besar ini
dimulai pembangunannya dalam abad ke dua sebelum tarikh Masehi oleh Kaisar Chin
She dari Kerajaan Cin yang kemudian mengalami perbaikan-perbaikan selama sejarah
berkembang. Maksud pertama dari pembangunan Tembok Besar ini adalah untuk
mencegah serbuan-serbuan bangsa asing dari utara yang sejak dahulu merupakan
ancaman. Selain memerintah untuk memperbaiki dan memperkuat Tembok Besar, yang
panjangnya lebih dari tiga ribu lima ratus kilometer itu, juga Kaisar Yung Lo melanjutkan
pekerjaan besar membuat Terusan Besar yang dimulai penggaliannya oleh para kaisar
Mongol di jaman Kerajaan Goan-tiauw yang lalu. Terusan ini menghubungkan Sungai
Yang-ce dan Sungai Huang-ho, terus ke utara sampai dekat kota raja Peking. Tentu saja
untuk pembangunan-pembangunan hebat itu dibutuhkan banyak sekali biaya-biaya dan
tenaga manusia, namun dengan kekerasan, pekerjaan raksasa itu dapat juga diteruskan.
Bukan pembangunan-pembangunan saja yang diusahakan kemajuannya oleh Kaisar
Yung Lo, akan tetapi juga perdagangan dengan luar negeri. Untuk keperluan ini, perlu
dicari hubungan dengan negara-negara baru di luar lautan dan dia memerintahkan
kepada seorang laksamana yang amat terkenal sakti dan pandai, yaitu The Hoo. Pada
tahun 1405 mulailah The Hoo dengan pelayarannya yang terkenal, dengan armada yang
kuat dan didampingi pembantu-pembantu yang sakti Ma Huan, tokoh Islam yang amat
pandai dan sakti, Tio Hok Gwan, pengawal pribadinya yang lihai bukan main, dan masih
banyak lagi jago-jago silat yang ahli. Armada ini menjelajah sampai ke Indocina,
Sumatera, Jawa, India, Sailan dan sampai ke pantai Arab!
Tentu saja tidak semua usaha Kaisar ini berhasil, bahkan usahanya memperkembangkan
kebudayaan dan kesusastraan menimbulkan banyak kesempatan untuk korupsi.
Akan tetapi harus diakui bahwa banyak pula hasilnya, di antaranya Tembok Besar dan
juga Terusan Besar yang selesai dalam waktu sepuluh tahun, dan bangunan-bangunan
lain di samping hubungan dengan negara-negara asing baru di sebelah selatan.
Keamanan perjalanan Kun Liong melalui hutan-hutan pun merupakan hasil dari usaha
pemerintah menekan kejahatan. Apakah lenyapnya para perampok dan maling itu benar-
benar dapat dianggap sebagai hasil baik" Sukar untuk dikatakan dengan pasti, karena
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
23 lenyapnya kejahatan-kejahatan kasar itu terganti korupsi yang merajalela di kota.
Apakah bedanya itu" Hanya cara yang kasar diganti oleh cara yang halus! Semua
perbuatan itu, baik yang kasar maupun yang halus, terdorong oleh rasa takut. Takut
kehilangan sesuatu yang menyenangkan, dan takut akan mendapatkan sesuatu yang
tidak menyenangkan.
Pada hari ke tiga Kun Liong keluar dari hutan terakhir, menuruni lembah gunung dan tiba
di luar sebuah dusun. Perutnya terasa lapar sekali dan timbul harapannya di dalam
dusun itu. Akan tetapi ketika melihat dua orang anak laki-laki pengemis berkelahi
memperebutkan sepotong roti kering yang kotor, Kun Liong berhenti dan cepat melerai.
"Eh, eh, kenapa berkelahi hanya untuk sepotong roti kering yang kotor?" Dia mencela.
Dua orang anak laki-laki berpakaian kotor dan lapuk itu berhenti berkelahi ketika tiba-
tiba roti itu sudah terampas oteh Kun Liong. Mereka itu sebaya dengan Kun Liong,
pakaian dan sepatu mereka sudah koyak-koyak. Yang seorang berkepala gundul
sedangkan yang ke dua amat kurus dan pucat. Kini keduanya menghadapi Kun Liong
dengan mata melotot marah.
"Kembalikan rotiku!" Si Gundul berteriak.
"Tidak, itu rotiku, hasilku mengemis di dusun, dia mau merampasnya!" teriak Si Kurus.
"Dia mendapatkan dua potong, sudah makan sepotong, sepantasnya yang sepotong itu
diberikan kepadaku!" Si Gundul membantah.
"Perutku masih lapar!"
Kun Liong memandang roti di tangannya. Hanya roti kering yang sudah tengik sebesar
kepalan tangannya dan sudah kotor pula. Roti begini diperebutkan. Tadinya ia ingitn
membuang roti itu, akan tetapi mendengar keluhan mereka bahwa mereka lapar sekali
dan sejak kemarin belum makan dia merasa kasihan sekali.
"Dia mau merampas sendiri rotinya!" Si Kurus berseru.
"Kurang ajar. Hayo pukul anak ini!" teriak Si Gundul dan mereka berdua yang tadinya
berkelahi memperebutkan roti kering, kini maju mengerojok Kun Liong dengan nekat!
Kun Liong adalah anak suami isteri pendekar, sejak kecil sudah menerima gemblengan
ilmu silat, maka dengan mudah dia mengelak dan dua kali kakinya bergerak, membabat
kaki mereka dan robohkan dua orang anak itu. Mereka mengaduh, akan tetapi bangkit
lagi dan makin marah.
"Sabarlah, siapa yang ingin merampas roti tengik ini" Aku hanya melerai, dan agar
kalian berdua tidak berkelani. Roti sekecil ini tidak akan mengenyangkan
perut, perlu apa diributkan dan dijadikan sebab perkelahian antara teman sendiri" Nah,
kubagi dua. Makanlah dan tak perlu berkelahi!" Kun Liong membagi roti menjadi dua
potong dan memberikan kepada mereka, seorang sepotong. Mereka memandang dengan
mata terbuka lebar, akan tetapi menerima potongan roti itu dan memakannya dengan
lahap. Tentu saja sekali telan sepotong kecil roti itu lenyap ke dalam perutnya yang
kosong. "Kau siapa?" tanya Si Gundul dengan mulut bergerak-gerak, agaknya masih terasa
sedapnya roti tadi dan masih ingin lagi.
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
24 "Kau tentu bukan anak sini, dan bukan jembel," kata Si Kurus, memandang Kun Liong
dengan sepasang matanya yang lebar. Anak ini begitu kurusnya sehingga matanya
kelihatan besar sekali.
"Aku seorang pelancong," kata Kun Liong yang enggan memperkenalkan diri karena
kalau dia memperkenalkan namanya, tentu akan mudah bagi ayahnya untuk
mencarinya. "Akan tetapi aku pun lapar sekali, mungkin lebih lapar daripada kalian."
Dua orang anak yang tadi berkelahi itu saling pandang. "Kalau begitu, kenapa kau tidak
makan roti tadi" Engkau sudah dapat merampasnya dari kami."
"Uhhh, siapa sudi makan roti rampasan" Lebih baik mati kelaparan!" Kun Liong berkata
cepat. Akan tetapi dua orang anak itu tentu saja tidak pernah mendengar tentang
kebijaksanaan seperti itu.
"Bodoh sekali! Kenapa lebih baik mati kelaparan?" Si Kurus bertanya.
"Perut lapar sungguh amat menyiksa, seperti sekarang ini," Si Gundul juga berkata
sebagai tanggapan yang menentang pendapat Kun Liong tadi.
"Kalau yang dirampas itu kelebihan makanan, masih tidak mengapa. Akan tetapi
merampas roti dari orang yang kelaparan juga, benar-benar amat rendah dan hina! Di
antara teman senasib seharusnya tolong-menolong, kalau mendapat rejeki seharusnya
saling memberi dan membagi."
Kembali dua orang anak itu saling pandang, agaknya mereka dapat membenarkan
pendapat ini dan keduanya mengangguk-angguk.
"Lapar benarkan engkau?" Si Kurus bertanya, memandang Kun Liong dengan iba karena
dia sudah terlalu sering merasakan betapa perih dan nyerinya perut kalau lapar.
"Tentu saja aku lapar, sejak kemarin hanya mendapatkan daun-daun muda di dalam
hutan itu, sedikit pun tidak ada buahnya, dan seekor pun tidak ku melihat binatang di
dalam hutan itu. Sialan benar!"
"Kalau begitu, mari kita mengemis makanan di dusun. Agaknya engkau tidak biasa
kelaparan, bisa jatuh sakit. Kalau perut kami sudah kebal?" kata si Gundul.
Kun Liong mengangkat hidungnya dan meruncingkan mulutnya. "Uhhh, tidak sudi aku
mengemis! Mengemis tanda malas!"
"Malas?"" Hampir berbareng dua orang anak itu bertanya.
"Ya, malas. Dan kalian ini malas sekali. Untuk mengisi perut, harus dicari, bukan cukup
dengan minta-minta saja."
"Bagaimana mencarinya?" Mereka bertanya lagi.
"Bodohnya! Mencari, bekerja membantu orang lain dengan upah pembeli nasi."
"Kalau tidak ada yang suka mempekerjakan kami?"
"Mencari sendiri, mengumpulkan kayu kering untuk dijual, menangkap binatang hutan.
Eh, benar-benar kalian bodoh."
"Bagaimana caranya menangkap binatang hutan" Mengejar seekor kelinci pun amat
sukar dan tak mungkin bisa ditangkap." Kata Si Kurus.
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
25 Wajah Kun Liong bersinar mendengar kata-kata "kelinci". "Di mana ada kelinci" Tahukah
kalian daerah yang banyak binatangnya" Hayo kuperlihatkan kalian bagaimana
menangkapnya dan kita makan daging kelinci panggang! Atau kijang, atau apa saja yang
ada." "Binatang di hutan-hutan sudah habis diburu orang-orang dewasa. Yang kulihat hanya
tinggal ular-ular saja di hutan sebelah timur itu," kata Si Gundul.
"Ular" Daging ular pun enak sekali!" kata Kun Liong gembira.
"Hah?" Kedua orang anak itu terbelalak, akan tetapi Kun Liong sudah menyambar tangan
mereka, diajak lari sambil berkata, "Hayo tunjukkan aku di mana ada ular!"
Tiga orang anak laki-laki itu berlarian memasuki sebuah hutan yang pohonnya jarang.
Tak lama kemudian mereka melihat seekor ular yang kulitnya berwarna hijau, membelit
dahan pohon yang rendah. Melihat ular ini, Kun Liong menjadi girang sekali.
"Wah ular itu beracun dan dagingnya enak sekali, hangat di perut dan rasanya gurih
manis kalau dipanggang!"
Dua orang temannya terbelalak dan tidak berani maju mendekat ketika mendengar
bahwa ular itu beracun. Kun Liong mangambil sebatang ranting, memegangnya dengan
tangan kiri, menghampiri ular itu dan menggunakan rantingnya untuk mengusirnya. Ular
itu mendesis marah, apalagi ketika perutnya disogok-sogok oleh ranting dan tiba-tiba
kepalanya bergerak meluncur dan menggigit ranting yang dipegang tangan kiri Kun
Liong. Anak ini cepat menggerakkan tangan kanan, menyambar ke arah kepala ular dan
menangkap lehernya, mencengkeram dengan cara ahli sehingga ular itu tidak mampu
melepaskan diri. Tubuh ular itu berkelojotan menggeliat dan mulai membelit lengan Kun
Liong, akan tetapi jari-jari tangan kiri Kun Liong sudah mengetuk tengkuk ular itu
beberapa kali dan tiba-tiba ular itu menjadi lemas tak berdaya sama sekali.
"Nah, sudah jinak. Ada yang membawa pisau?"
"Aku mempunyai pisau kecil," Si Gundul berkata, mengeluarkan sebatang pisau kecil dari
saku bajunya yang rombeng.
"Lekas kuliti dia. Aku mau mencari beberapa ekor lagi."
"Ihhh, aku... aku tidak berani!" Si Gundul berkata.
"Aku takut digigit," Si Kurus menyambung.
"Bodoh. Dia sudah tidak dapat menggigit lagi. Penggal lehernya di belakang warna hitam
itu. Racunnya berkumpul di sana dan dari tempat itu ke bawah tidak ada racunnya. Buka
kulitnya bagian perut ke belakang, kemudian tarik ekornya, tentu kulitnya terlepas."
"Kau saja yang mengulitinya," kata Si Gundul ragu-ragu.
"Dan kau yang mencari ular lain?"
"Aih, siapa berani" Seekor ini pun cukuplah, untuk kau sendiri."
"Dalam keadaan kelaparan seperti ini, tiga ekor pun akan habis olehku sendiri, belum
untuk kalian berdua!" kata Kun Liong. "Lekas kerjakan, aku akan pergi mencari lagi." Dia
lalu pergi memasuki semak-semak belukar, meninggalkan dua orang anak jembel yang
masih saling pandang itu.
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
26 Ketika Kun Liong kembali ke tempat itu dan membawa empat ekor ular lagi, ada yang
hijau seperti ular pertama, ada yang hitam, ada yang belang dan kemerahan,
kesemuanya masih, hidup akan tetapi sudah lemas seperti ular pertama. Dua orang anak
itu terbelalak keheranan dan juga penuh kagum. Mereka sendiri dengan penuh rasa takut
memaksakan diri dan akhirnya setelah dengan susah payah berhasil. juga menguliti ular
pertama. Melihat betapa daging ular banyak yang terpotong, Kun Lion menjadi tidak
sabar, minta pisau itu dan menguliti ular-ular itu dengan cepat dan mudah. Mula-mula
dipenggalkan leher ular, kemudian kulit di bagian leher dibuka sedikit, dengan pisau dia
menusuk daging setelah menyingkap kulitnya bagian leher, terus menancapkan ujung
pisau pada batang pohon sehigga tubuh ular tergantung. Setelah itu, dia "melepaskan"
kulit ular itu dari tubuh ular, seperti orang melepas kaos kaki dari kakinya saja!
Sibuklah dua orang anak jembel itu membuat api dengan batu api. Biarpun mereka tadi
merasa jijik melihat ular-ular itu, setelah dikuliti dan tampak dagingnya yang putih
bersih, melihat pula cara Kun Liong menguliti ular demikian mudah dan biasa, timbul
keinginan tahu mereka untuk mencicipi daging ular panggang.
Setelah daging ular masak dan dua orang anak itu mencoba mencicipinya, mereka
tercengang dan menjadi girang sekali, menyerbu daging ular dengan lahapnya, terutama
sekali Si Gundul.
"Wah, benar gurih dan manis!" serunya girang.
"Lezat sekali, belum pernah aku makan daging seenak ini!" kata Si Kurus.
Diam-diam hati Kun Liong merasa terharu menyaksikan dua orang anak itu. Semuda dan
sekecil itu sudah harus mengalami hidup kelaparan dan menderita sengsara!
"Mengapa kalian menjadi pengemis" Orang tua kalian di mana?"
"Orang tua kami sudah mati semua, menjadi korban ketika terjadi perang, ketika
pemerintah melakukan pembersihan dan membasmi penjahat-penjahat," jawab Si Kurus.
"Eh, apakah orang tua kalian penjahat?"
Si Gundul menggeleng kepalanya. "Sama sekali bukan. Aku dan dia tetangga di sebuah
dusun di seberang, di balik gunung itu. Ketika terjadi perang antara gerombolan
perampok melawan pemerintah, kami menjadi korban. Tidak membantu perampok dan
menyembunyikan mereka, kami dibunuh perampok. Membantu perampok kami dibunuh
tentara pemerintah. Orang tua kami dicurigai karena ada perampok yang bersembunyi di
rumah kami, maka mereka dibunuh semua. Kami yang masih kecil tidak dibunuhnya,
dibiarkan hidup."
Hemm, dibiarkan hidup untuk menjadi pengemis yang terlantar, pikir Kun Liong dan
hatinya yang pada dasarnya memang tidak suka akan kekerasan itu kini makin
membenci perang dan pertempuran!
"Mari, kalian kuajari cara menangkap ular agar kalian dapat mencari penghasilan. Ular-
ular berbisa itu kalau kalian bawa ke kota dalam keadaan hidup dan menjualnya kepada
rumah makan, tentu akan menghasilkan uang lumayan. Juga rumah-rumah obat
membutuhkan racunnya untuk obat."
Dua orang anak itu girang sekali. Sehari itu Kun Liong menghabiskan waktunya di dalam
hutan yang banyak ularnya untuk mengajari dua orang teman barunya cara menangkap
ular. Karena kedua orang anak itu belum cekatan dan masih kurang berani, maka dia
mengajarinya untuk pertama-tama sebelum mereka tangkas menggunakan tangan,
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
27 menangkap ular dengan kayu yang ujungnya bercabang, menjepit leher ular dengan
kayu bercabang itu. Dia memberi tahu akan obat daun-daun dan akar-akar yang harus
diminum airnya dan digosok-gosokkan kepada kedua lengan agar dapat kebal terhadap
gigitan ular berbisa yang biasa.
Akhirnya, dengan bantuan kayu yang ujungnya bercabang, kedua orang anak itu berhasil
juga menangkap masing-masing seekor ular hijau, dan atas petunjuk Kun Liong mereka
berhasil pyla "melumpuhkan" ular dengan menekan dan mengetuk tengkuk ular itu.
Bukan main senangnya hati mereka. Mereka tidak takut kelaparan lagi, biarpun kalau
terpaksa setiap hari makan daging ular!
"Kalau makan daging ular terus-menerus kalian bisa celaka, bisa sakit." kata Kun Liong.
"Daging ular mengandung obat dan panas, boleh dimakan sekali waktu, bukan menjadi
makanan utama seperti ayam hutan saja?"
"Mengapa ayam hutan?"
"Ayam hutan paling suka makan ular dan kelabang!" jawah Kun Liong.


Petualang Asmara Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Malam ini kau tidur di mana?" tanya Si Gundul sambil mempermainkan ularnya yang
sudah lumpuh. "Entah, apakah bisa bermalam di rumahmu?"
"Wah, dia mana punya rumah!" kata Si Kurus. "Orang-orang seperti kami ini, boleh tidur
di emper orang saja sudah untung, kadang-kadang diusir dan ditendang bersama
makian." "Eh, kita nonton saja, ayoh! Di dusun ada keramaian, ada pesta. Siapa tahu kita
kebagian rezeki sisa masakan-masakan yang enak!" kata Si Gundul.
"Ihhh! Dasar kau ini tulang jembel!" Kun Liong mencela. "Sudah diajari bekerja
menangkap ular masih mengharapkan sisa makanan orang!"
Ditegur demikian, Si Gundul menunduk, tidak berani melawan karena dia sudah
menganggap Kun Liong sebagai "gurunya", guru menangkap ular. Si Kurus membela
temannya. "Dia tidak bisa disalahkan, karena selama ini, dari manakah kami dapat
makan kalau bukan dari sisa orang" Pula, kalau ada pesta, banyak sekali masakan yang
tidak habis dimakan, biasanya pelayan-pelayan yang baik hati suka membagi sedikit
sisa-sisa makanan kepada kami."
"Hemm, kalau ada pesta mengapa kita tidak masuk saja dan ikut berpesta?" tiba-tiba
Kun Liong berkata karena hatinya sudah merasa penasaran sekali mengapa ada orang
berpesta pora sedangkan di sini ada anak-anak yang kelaparan!
"Wah, mana boleh masuk" Kita akan dipukul!" kata Si Kurus.
Dua orang anak itu kini percaya sepenuhnya kepada Kun Liong yang dianggapnya anak
dari "kota" dan amat pandai. Otomatis mereka menganggap Kun Liong sebagai pemimpin
mereka, maka dengan gembira mereka pun lari di belakang Kun Liong sambil memegang
ular masing-masing. Si Kurus dan Si Gundul masing-masing telah menangkap seekor
ular, adapun Kun Liong sendiri membawa dua ekor ular yang cukup besar dan
menyeramkan, seekor berkulit hitam bermata merah, yang seekor lagi adalah ular
belang yang terkenal jahat racunnya.
Benar saja, di sebelah dusun tak jauh dari situ, tampak kesibukan yang menggembirakan
di runah kepala dusun. Hari telah mulai gelap ketika tiga orang anak itu tiba di depan
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
28 rumah kepala daerah dan mereka menonton dari luar. Rumah itu penuh tamu yang
memakai pakaian serba baru dan suasana amat gembira dengan senda-gurau mereka.
Tuan rumah nampak menyambut tamu-tamunya sambil mengelus jenggotnya yang
panjang. Pesta ini adalah pesta ulang tahunnya yang ke lima puluh dan biarpun
kelihatannya pesta itu meriah, banyak tamu dan dengan sendirinya banyak hidangan
yang dikeluarkan, namun sesungguhnya kepala dusun ini sama sekali tidak menderita
rugi karenanya. Besarnya sumbangan yang masuk dari mereka yang menyumbang
karena ingin menjilat, sebagian besar yang kurang mampu, menyumbang karena takut
dianggap kurang menghormat, jumlahnya lima kali lipat lebih besar daripada jumlah
pengeluaran untuk pesta itu. Tentu saja dia merasa gembira sekali. Pertama, wibawa
dan kehormatannya sekaligus terangkat naik dengan adanya pesta itu, ke dua dia
sekeluarga merasa gembira sekali dan bangga karena dapat mengadakan pesta besar-
besaran ketiga keuntungan yang masuk sekali ini melampaui penghasilannya selama
beberapa bulan!
"Wah, berbahaya ini?" Si Gundul berbisik, "Yang berpesta adalah kepala dusun, mari kita
menyingkir sebelum ditendang oleh para pengawal."
Kun Liong melihat bahwa di bagian depan berjajar belasan orang tinggi besar yang
sikapnya seperti anjing-anjing penjaga yang siap menggonggong dan menggigit, maka
rasa penasaran di hatinya pun meningkat.
"Mereka belum mulai makan, hidangan belum dikeluarkan, baru minuman. Mari
menyelinap dan ke belakang saja," kata Kun Liong.
"Eh, ke belakang mau apa?" Si Kurus berbisik.
"Ke dapur. Cepat sebelum masakan dihidangkan!"
Tiga orang anak itu menyelinap ke kegelapan malam terlindung bayangan-bayangan
pohon, menuju ke belakang, ke dapur rumah besar itu di mana terdapat kesibukan-
kesibukan yang tidak segembira di bagian depan. Para koki dan pelayan sibuk
mempersiapkan hidangan yang beraneka macam, siap untuk segera menghidangkan ke
luar apabila ada perintah dan tanda dari depan. Yang paling sibuk adalah koki gendut
yang menjadi koki kepala. Karena gemuknya dan keadaan hawa di dapur itu panas oleh
api, ditambah lagi dia harus mondar-mandir ke sana-sini untuk memeriksa pekerjaan
para pembantunya, maka mukanya yang gemuk itu basah oleh peluh, bahkan
pakaiannya juga basah. Dengan wajah bersungut-sungut karena tegang dan repot, dia
menghapus peluh berkali-kali dari muka dan leher, menggunakan sehelai kain putih yang
tergantung di depan dada dan perutnya.
"Hah! Mau apa kalian berkeliaran di sini?" Tiba-tiba koki gendut itu membentak ketika
dia berdiri di pintu dapur untuk mencari angin dan hawa sejuk, agar panas yang
menyiksa itu berkurang, dan melihat Kun Liong dan dua orang temannya, Si Kurus dan
Si Gendut sudah ketakutan dan menggigil, tidak berani bergerak. Akan tetapi Kun Liong
yang menyembunyikan kedua ekor ular di tangannya itu ke belakang tubuh,
membungkuk dan berkata,
"Lopek (Paman Tua) yang baik, kami adalah tiga orang anak yang menderita lapar.
Melihat banyaknya masakan yang tentu akan berlebihan, berlakulah baik kepada kami
dan berikan sedikit masakan-masakan itu."
Sepasang mata yang kecil sipit, hampir tak tampak karena mukanya yang gemuk, makin
menyipit dalam usahanya memperlebar, dan sejenak mulut yang juga terlalu kecil bagi
muka selebar itu, ternganga tak dapat menjawab. Selamanya belum pernah koki gendut
ini melihat kekurangajaran seperti ini, juga belum pernah mendengar ucapan pengemis
serapi itu. Kalau anak jembel minta sisa makanan yang sudah tidak terpakai lagi, hal itu
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
29 adalah lumrah dan sudah biasa dia memberikan sisa makanan yang sudah hampir bau
kepada anjing-anjing atau jembel-jembel kelaparan. Akan tetapi anak ini, dengan gaya
bahasanya yang sopan seperti seorang bangsawan saja layaknya, minta "sedikit
makanan" yang masih segar, masih mengepul panas dan belum dihidangkan kepada
para tamu. Mana ada aturan macam ini"
"Keparat cilik! Jembel busuk. Pergi kalian! Kalau tidak kusiram kalian dengan air
mendidih!" teriaknya. Peistiwa ini menambah panas tubuhnya yang sudah berpeluh
karena dia merasa terganggu dan jengkel, bahkan merasa dipermainkan oleh anak kecil.
"Babi gendut yang pelit!" Tiba-tiba Si Gundul memaki dari tempat yang gelap.
"Apa" Bocab gembel ingin mampus"!" Koki itu marah dan mengulur tangan hendak
menangkap, akan tetapi Kun Liong dan dua orang temannya sudah lari menyelinap ke
dalam gelap dan lenyap.
Makin penasaran dan mendongkol hati Kun Liong apalagi ketika ditegur oleh Si Kurus,
"Apa kata kami tadi" Percuma saja, untung kita belum sampai disiram air panas atau
dipukuli mereka."
"Sudah, lebih baik kita menanti sampai pesta bubar dan minta sisanya, tentu berlimpah-
limpah dan banyak yang dibuang," kata Si Gundul. "Tentu masih ada beberapa butir
bakso, beberapa potong tulang berdaging dan beberapa helai bakmi."
Ingin Kun Liong menampar muka Si Gundul itu kalau tidak ingat bahwa memang kedua
orang anak ini adalah pengemis-pengemis yang sejak kecil secara terpaksa harus puas
dengan makanan sisa, maka dia menahan kemendongkolan hatinya. Akan tetapi dia
makin penasaran kepada penghuni rumah dan para tamu-tamunya yang berpesta pora,
sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang kelaparan di luar rumah itu.
"Dengar baik-baik, kita kacaukan dapur itu. Dari jendela di sana itu, dari kanan kiri, kita
lemparkan ular-ular ini ke dalam. Tentu mereka akan lari dan pada saat itu, kalian
masuk dan mengambil sepanci masakan yang paling enak, bawa lari ke luar. Aku akan
melempar ular dari jendela kiri, Si Gundul dari jendela kanan, dan engkau yang bertugas
menyambar masakan dalam panci."
Si Gundul dan Si Kurus mengangguk-angguk, sepasang mata mereka bersinar-sinar.
Setiap orang anak kecil akan merasa "penting" dan gembira sekali kalau diajak
melakukan sesuatu yang menegangkan, apalagi yang belum pernah mereka lakukan
selamanya. Kalau hanya mencuri dan mencopet makanan karena terpaksa oleh desakan
perut lapar dan untuk itu menerima gebukan-gebukan, sudah biasalah mereka. Akan
tetapi mengacau sebuah pesta, apalagi pesta di rumah kepala dusun, dengan
melemparkan ular-ular beracun yang mereka tangkap sendiri ke dalam dapur, benar-
benar merupakan hal yang baru yang amat menegangkan hati!
Atas isyarat Kun Liong, mereka berpencar. Kun Liong lari ke jendela kiri membawa dua
ekor ular, Si Gundul menyelinap ke jendela kanan membawa dua ekor ular pula karena
ular Si Kurus diberikan kepadanya sedangkan Si Kurus dengan jantung berdebar
menyelinap dekat pintu, siap untuk memasuki dapur mengambil masakan kalau
kesempatan terbuka. Dia sudah memilih-milih dengan pandang matanya, masakan di
panci yang mana akan disambarnya nanti!
Si Gundul dari jendela kanan mengintai ke arah jendela kiri, ketika melihat Kun Liong
menggerakkan tangan seperti yang telah mereka janjikan, dia lalu melemparkan dua
ekor ular dengan kuat dan karena takut ketahuan, dia melempar dengan ngawur lalu
menyelinap ke bawah jandela, merangkak dan pergi. Kun Liong lebih tenang dia
melemparkan dua ekor ularnya ke bawah, ke tengah-tengah ruangan itu dan dia melihat
Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
30 betapa lemparan Si Gundul tadi secara ngawur ternyata mengakibatkan kekacauan luar
biasa, karena seekor dari ular hijau itu tepat mengenai tubuh koki kepala yang gendut,
mengalungi leher koki itu!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya koki itu ketika merasa ada sesuatu membelit
lehernya dan ketika kepala ular itu tepat berada di depan hidungnya, sepasang matanya
menjuling dan ia berteriak, "Ular"! Ular"!"
Pada saat itu juga, para koki dan beberapa orang pelayan melihat ular-ular berbisa
merayap perlahan di dekat kaki mereka. Ular hijau, ular hitam dan ular belang! Mereka
segera lari ketakutan dan berteriak-teriak, "Ular"! Ular beracun! Berbahaya sekali"!"
Kasihan sekali koki gendut. Dia tidak berani membuang ular yang membelit lehernya.
Ketika mendengar teriakan ular beracun yang berbahaya, dia hampir pingsan dan
menjerit-jerit, "Tolong"! Ular"! Tolong ini"!" Dia lari menabrak sana-sini, menabrak
meja dan dengan susah payah akhirnya berhasil lari ke luar, tidak tahu bahwa lampu
minyak di atas meja yang ditabraknya tadi terguling!
Pengemis kecil kurus sudah menyelinap masuk dan menyambar sepanci masakan lalu
berlari ke luar lagi. Terengah-engah dia, akan tetapi tertawa-tawa ketika di tempat gelap
yang sudah dijanjikan, dia berkumpul dengan Si Gundul dan Kun Liong.
"Masakan apa yang kauambil?" Si Gundul segera membuka panci. "Waduh, masakan
capjai"! Ada baksonya, besar-besar" wah, udangnya pun besar-besar!" Tanpa
diperintah lagi kedua orang anak jembel itu menyerbu masakan dalam panci. Akan tetapi
Kun Liong tidak ikut makan karena dia lebih tertarik oleh teriakan-teriakan yang amat
gaduh. "Api...! Kebakaran...! Tolong...!"
"Ada kebakaran. Mari kita bantu...!" Kun Liong melompat dan berlari ke dusun yang
mereka tinggalkan tadi. Akan tetapi dua orang anak jembel itu tidak mempedulikan
karena mereka sedang asyik menikmati capjai, mulut mereka mengeluarkan bunyi
berkecap dan mata mereka berkejap-kejap penuh nikmat.
Karena sudah banyak orang, termasuk anak laki-laki seperti dia yang membantu untuk
memadamkan kebakaran, maka kehadiran Kun Liong tidak menarik perhatian. Kun Liong
merasa menyesal sekali ketika mendapat kenyataan bahwa yang terbakar adalah rumah
kepala dusun dan menurut suara orang-orang di situ, kebakaran dimulai dari dalam
dapur. Tadi dia melihat betapa lampu di atas meja terguling ditabrak koki gendut, maka
mengertilah dia bahwa kebakaran itu terjadi karena dia dan kedua orang temannya!
Di antara kesibukan orang-orang yang berusaha memadamkann api yang mengamuk
dan hampir memusnahkan semua bangunan rumah kepala dusun itu, tampak seorang
laki-laki gemuk diseret-seret. Kun Liong melihat betapa laki-laki gemuk itu didorong dan
jatuh berlutut di depan Si Kepala Dusun yang kini berdiri dengan muka pucat dan sinar
mata penuh kemarahan, bertolak pinggang dan memandang Si Gemuk dengan sikap
penuh kebencian.
"Hemmm, keparat jahanam! Engkau berani membakar rumahku, ya?"
"Ti... tidak... ampunkan hamba, Loya (Tuan Besar)" di dapur tiba-tiba muncul ular-ular
beracun... seekor malah membelit leher hamba dan akan menggigit hamba" semua koki
dan pelayan melihatnya... hamba" hamba tidak melakukan pembakaran?" Koki gundul
itu menangis. Petualang Asmara > karya Kho Ping Hoo > published by ceritasilat
31 "Hemm, aku sudah tahu akan hal itu. Akan tetapi semua orang juga melihat bahwa
engkau yang menabrak meja dan lampu minyak terguling mengakibatkan kebakaran.
Kau hendak menyangkal?"
Tubuh yang gendut itu menggigil, suaranya juga menggigil seperti diserang demam
ketika dia menjawab, "... hamba... ohh.
Harpa Iblis Jari Sakti 21 Hati Budha Tangan Berbisa Karya Gan K L Seruling Samber Nyawa 6
^