Pencarian

Perjodohan Busur Kumala 5

Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen Bagian 5


murid-muridnya Beng Sin Thong tidak dapat berkelahi terlebih
jauh. Cia In Cin dan rombongannya, yang jatuh di bawah angin
menggunai ketika ini untuk mengangkat kaki, bahkan terus
mereka berlalu dari Beng keechung. Baru sesudah pergi tujuh
atau delapan lie, mereka berhenti untuk beristirahat di dalam
sebuah rimba. Itu waktu tengah hari tepat, hawa udara panas terik, tetapi
di antara delapan orang itu, kecuali Kim Sie Ie serta si nona,
semua merasakan kedinginan dan tubuhnya menggigil,
sedang Bu Teng Kiu dan Ciong Tian, yang tenaga dalamnya
paling lemah, giginya bercatrukan.
Dua-dua Teng Kiu dan Ciong Tian telah dipermainkan Kim
Sie Ie, sekarang mereka berada di depan si pengemis edan,
mereka likat sendirinya. Tapi di dalam keadaan seperti itu,
Teng Kiu dapat menguasai diri. Ia mengeluarkan sebuah botol
kecil dari sakunya seraya berkata: "Inilah obat Pekleng Tan
yang Tong Suci membekali aku di saat aku turun gunung.
Obat ini terbuat dari teratai salju dari Thiansan, khasiatnya
dapat memunahkan pelbagai macam racun, maka itu sekarang
dapat kita menggunainya."
Sama sekali obat itu terdiri dari tujuh butir. Teng Kiu
menuangnya ke dalam telapakan tangannya. Paling dulu ia
memberikan Ek Tiong Bouw satu butir demikian juga Siauw
Ceng Hong, Gouw Ciang San dan Cia ln Cin.
"Aku bersama enci Gouw cukup dengan sebelah butir,"
berkata Cia In Cin. "Kau Ek Sutee, kau boleh makan satu
butir." Tiong Bouw terluka parah, ia menyambuti, tanpa sungkansungkan,
ia lantas makan obat itu.
Di tangan Teng Kiu masih ada tiga butir, ia ambil satu
untuk Ciong Tian, kemudian ia tanya si nona: "Nona, kau she
apa" Barusan kami terlolos dari bahaya karena mengandal
padamu. Kau... apakah kau merasa dingin" Mau atau tidak
kau... obat ini?"
Tidak menanti orang bicara habis, nona itu tertawa.
"Terima kasih, aku tidak menghendaki itu," sahutnya. "Kau
berikan lain orang saja."
Bu Teng Kiu menoleh kepada Kim Sie Ie. Ia telah
dipermainkan, mulutnya ditimpuki tanah, hatinya panas, akan
tetapi barusan Kim Sie Ie yang membantu mereka dan
bertahan untuk melawan musuh yang tangguh, tanpa si
pengemis edan, entah bagaimana jadinya mereka. Maka itu
hatinya bertentangan sendirinya. Mau bergusar, tidak dapat.
Mau ia memberikan obat, mulutnya rapat.
Kim Sie Ie tidak menghiraukan sikap orang, ia
melempangkan pinggang secara malas-malasan, terus ia
memandang si nona.
"Kau memuji tinggi liehaynya Siulo Imsat Kang dari Beng
Sin Thong, tapi aku melihatnya tidak seberapa," kata ia.
"Benarkah itu?" menyahut si nona tertawa. "Sebatang
jarummu mengenai dia, mungkin itu dapat membuatnya sakit
kepala beberapa hari, maka itu, kau menjadi bisalah tidak
mendapat kerugian apa-apa..."
Kim Sie Ie terkejut di dalam hati. Menurut katanya nona
itu, ia seperti juga mendapat celaka. Tapi barusan, dengan
mengempos tenaga dalamnya, ia bisa mengusir rasa dingin
yang dahsyat itu, lantas ia tidak merasakan apa-apa yang
aneh. la kata di dalam hatinya: "Serangannya Beng Sin Thong
barusan memang liehay, ilmunya yang dinamakan Siulo Imsat
Kang itu memang rada-rada sesat, akan tetapi aku tidak
terluka. Mengapa nona ini mengatakan begini?"
Selagi Kim Sie Ie berpikir dan si nona menyebut-nyebut
jarum beracun, Ciong Tian juga berkata di dalam hatinya.
"Bukankah barusan Kim Sie le membantu kita secara diamdiam"
Bukankah kedua muridnya Beng Sin Thong telah
terhajar jarum itu maka mereka telah roboh dengan gampang
di tanganku?"
Bu Teng Kiu sementara itu dapat mengambil putusannya.
Ia mendapatkan Kim Sie Ie bersikap besar kepala, amarahnya
timbul pula. Maka ia masuki pula obatnya ke dalam polesnya
dengan berkata di dalam hatinya: "Kau tidak menghendaki
obat ini, baiklah, akan aku simpan untuk kelak dipakai
menjaga diriku..."
Kemudian Ciong Tian hendak menanya si nona tentang
asal-usulnya, atau niatnya itu ia batalkan. Itu waktu juga
mereka melihat asap mengepul besar di arah Beng kee-chung,
apinya pun berkobar naik.
Menampak itu, si nona berkata: "Bangsat tua she Beng itu
takut pada kita, dia menyalakan api membakar rumahnya.
Pastilah dia mau mengajak murid-muridnya mencari lain
tempat di mana dia dapat menyembunyikan diri!"
"Nona," berkata Cia In Cin, "kau memanggil dia bangsat
tua mungkinkah di antara dia dan kau ada permusuhan
besar?" Si nona menyahut, tetapi lebih dulu ia mengibaskan
tangan. "Bermusuh atau tidak, itulah urusanku sendiri'" katanya.
"Kim Sie le, kau ingatlah jam tiga malam ini!" Ia bicara seraya
menghadapi si pengemis edan, habis itu tanpa memperdulikan
Cia In Cin semua, ia ngeloyor pergi.
Cia In Cin menjadi kebogehan, ia menggeleng-geleng
kepala. "Hm!" Bu Teng Kiu mengasih dengar suara. "Entahlah asalusulnya
wanita itu! Dia sangat tidak tahu urusan, bicara sama
orang tua dia bawa sikapnya yang tidak hormat!"
Tapi Ek Tiong Bouw berkata: "Kamu ada orang-orang yang
baru masuk dalam dunia kangouw, kamu masih belum
mengetahui pelbagai pantangan. Nona itu mungkin ada
kesulitannya. Maka itu, meskipun kita suka bersahabat
dengannya, dia sendiri belum tentu mau mempercayai kita
dan suka menuturkan segala apa..."
Biar bagaimana, si nona dan sikapnya yang aneh itu,
membual orang ramai membicarakannya dan menduga-duga.
Cuma Kim Sie Ie yang seperti tuli telinganya, dia hanya berdiri
di pinggiran, otaknya bekerja. Bukankah si nona sengaja telah
memberi ingat padanya untuk jangan melupai janji jam tiga
malam itu! Dia mau percaya, pertemuannya dengan Lie Kim
Bwee nanti tentulah nona itu yang mengaturnya. Tentu sekali
dia girang luar biasa bakal bertemu sama Nona Lie. Di
samping itu, dia juga tidak luput dari kesangsian. Pikirnya: "Si
nona rada sesat, apakah dia bukan sedang berguyon
denganku?"
Di dalam kesunyian itu, Cia In Cin berbicara sama Kim Sie
Ie. Ia dan yang lainnya tidak berkesan baik terhadap si
pengemis edan tetapi barusan si pengcmislah yang melindungi
mereka, ia merasa tidak enak apabila ia tidak menegur orang.
"Kim... Kim Tayhiap, kau telah bertemu sama Lie Kim Bwee
atau tidak?" demikian pertanyaannya. "Kabarnya dia
terpenjarakan di dalam Beng keechung."
Berat nyonya ini mengeluarkan kata-kata "Kim Tayhiap" itu.
Beberapa kali ia mencoba, bani ia dapat menguasai dirinya.
Karena ini, tidak dapat ia menerangkan bahwa ialah yang
meletaki tusuk konde di kamar si pengemis itu.
Kim Sie le bersenyum manis, ia menjura pada nyonya itu.
"Jangan sungkan, jangan sungkan," katanya, "kau boleh
menyebut aku Tokciu Hongkay seperti biasa. Mengenai Lie
Kim Bwee, hm, hm, disini ada murid-murid partainya sendiri,
dari itu perlu apa aku yang mencapekan hati?"
Pada romannya, Kim Sie Ie menunjuk sikap hormat sekali,
tetapi di dalam kata-katanya itu, ia mengejek tajam. Maka In
Cin semua menjadi jengah sendirinya. Bu Teng Kiu panas
hatinya, ia gusar, tetapi ia pun jeri, terpaksa ia menutup
mulut. Adalah Ek Tiong Bouw, yang tertawa riang. Dia berkata:
"Manusia di kolong langit, masing-masing ada pekerjaannya
sendiri, tetapi di antaranya adalah penghidupan kami kaum
pengemis yang paling merdeka." Ia terus menghadapi Kim Sie
Ie, untuk meneruskan: "Laotee, kaulah orang utama di dalam
kaum kami, maka itu sayang sekali baru hari ini kita dapat
berkenalan. Marilah kita bersahabat."
Dengan kata-katanya ini, Tiong Bouw hendak melenyapkan
likat-nya Cia In Cin semua, untuk memecahkan suasana tak
wajar itu. Kim Sie le tertawa lebar.
"Kaulah pangcu, aku sendiri satu pengemis kecil!" katanya.
"Maka itu tuan besar Pangcu tidak berani aku bersahabat
denganmu! Haha! Apakah benar-benar kau ingin bersahabat
rapat denganku" Tahukah kau bahwa tanganku ada
racunnya?"
Kim Sie le dijuluki Tokciu Hongkay, si Pengemis Edan
Tangan Beracun. Itulah hebat. Sudah edan, dia pun beracun!
Mendengar perkataan orang itu, Ek Tiong Bouw melengak.
Mulanya ia hendak berjabatan tangan, sekarang ia menarik
pulang tangannya, yang telah disodorkan.
Kim Sie Ie kembali tertawa lebar.
"Ek Pangcu, baik-baik saja kau beristirahat!" katanya pula.
"Beng Sin Thong, sudah pergi, aku mau pergi juga!"
Mendadak ia datang dekat pada Bu Teng Kiu, untuk terus
berkata di kuping orang: "Ingatlah, lain kali jangan mencaci
orang di belakang, atau kau nanti merasakan lebih banyak
lumpur!" Teng Kiu gusar bukan main, matanya melotot. Begitu lekas
Kim Sie Ie sudah pergi jauh, ia lantas mencaci kalangkabutan.
Kim Sie Ie berlalu dengan puas. Ketika ia sampai di sebuah
bukit, disitu ia berhenti, untuk merebahkan diri dan tidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi Lie Kim Bwee datang dengan
membawa setangkai soatlian, ialah teratai salju. Nona itu
berada di muka laut, perlahan datangnya. Permukaan laut licin
dan terang bagaikan kaca rasa, sedang sinar layung di laut
seperti hendak menungkrapnya. Tiba-tiba pun muncul Kok Cie
Hoa. Kim Sie le hendak menyambut kedua nona itu, atau
sekonyong-konyong muncul juga si nona she Le. Mendadak
laut pun terbelah dua, Lie Kim Bwee dan Kok Cie Hoa masuk
tenggelam ke dalam pecahan itu. Tinggallah si nona Le, yang
tertawa terbahak-bahak!
Kim Sie Ie menjadi kaget, lantas ia mendusin. Ia melihat
banyak bintang di langit dan rembulan pun terang. Ketika itu
sudah kira-kira jam tiga. Lantas ia tertawa sendirinya dan
berkata sendiri juga: "Kali ini aku tidur nyenyak dan lama,
impianku pun luar biasa!" Ketika ia ingat impiannya, ia lantas
berpikir mengenai ketiga nona itu.
Lie Kim Bwee itu baik sekali terhadapnya. Kim Bwee polos,
ia tidak mengerti urusan dunia, ia seperti tidak mendapat tahu
kebusukan atau kejahatan di dalam pergaulan manusia. Maka
kalau dia tengah berada bersama si nona, dia--Kim Sie Ie"
merasa bahwa dirinya kotor sekali dan malu sendirinya. Dia
ingin memandang dan memperlakukan Kim Bwee seperti
adiknya sendiri, yang dia menyayanginya dan ingin
melindunginya. Kok Cie Hoa itu muridnya Lu Su Nio. Kim Sie le
menghormati Lu Su Nio, dari itu dia berbareng menghormati
nona ini. Meskipun pertemuan mereka berdua tak lama, dia
berkesan baik sekali terhadap nona itu, Kok Cie Hoa itu luas
pengetahuannya dan banyak pemandangannya, hatinya
terbuka, tabiatnya halus. Kim Sie Ie berusia lebih tua tetapi
dia mau menganggap nona itu sebagai kakaknya. Kim Sie Ie
biasa bergembira, berguyon, bergusar dan mencaci orang,
prilakunya berandalan, tetapi di depan Kok Cie Hoa, dia tidak
berani mengumbar adatnya itu.
Terhadap si nona she Le, dia merasa aneh. Dia merasa
orang bangsa sesat dan terhadapnya, dia merasa muak, tetapi
toh tidak memikirkannya. Dia merasa nona itu ialah kenalan
akrabnya. Bahkan di dalam dirinya nona itu ia seperti melihat
dirinya sendiri. Mungkin ini disebabkan dia membenci
berbareng selalu ingat nona itu...
Ketiga nona itu, walaupun di dalam impian saja, dan meski
juga mereka mempunyai sifatnya sendiri-sendiri, yang
berlainan satu pada lain, mereka toh telah berkesan di dalam
hati Kim Sie Ie. Mereka telah menduduki tempat di hatinya si
pengemis edan ini. Tidak demikian, tidak nanti mereka
terimpikan. Setelah mendusin, Kim Sie Ie melanjuti perjalanannya.
Ketika si Puteri Malam yang terang benderang berada di
tengah-tengah langit, dia telah tiba di gunung Thayheng San,
di Kimkee Hong, ialah Puncak Ayam Emas. Sampai disitu,
bayangannya Kok Cie Hoa dan si Nona Le, berpeta tipis di
lubuk hatinya. Sebagai gantinya, muncullah bayangannya Lie
Kim Bwee. Karena segera dia bakal bertemu sama si nona Lie.
Kali ini dia mengharapkan pertemuan bukan dalam impian!
Di waktu cahaya bintang-bintang mulai berkurang dan sinar
rembulan mulai guram, Kim Sie Ie telah tiba di puncak sekali.
Ketika dia telah melintasi sekelompok pepohonan lebat, lantas
matanya melihat sebuah pohon pek tua yang besar, dan di
bawah pohon itu tampak punggung dari seorang wanita yang
hitam pakaiannya, lantas hatinya berdebaran. Jadi benar si
nona Le tidak mendustakannya! Lie Kim Bwee benar-benar
telah menantikannya!
Dengan satu gerakan "Ceng-teng tiamsui", atau Cecapung
Menowel Air, Kim Sie Ie berlompat pesat sekali ke arah wanita
dengan pakaian hitam itu. Dia ingin secara tiba-tiba berguyon
dengan Lie Kim Bwee, untuk meniup punggung si nona selagi
si nona tidak menduga apa-apa. Tepat ketika dia telah datang
dekat, belum sempat dia meniup, mendadak nona itu tertawa
terkekeh-kekeh, sambil tertawa ia menoleh seraya berkata:
"Kim Sie Ie, kau benar memegang janji! Sekarang ini tepat
jam tiga!"
Bukan main herannya Tokciu Hongkay! Itulah bukan Lie
Kim Bwee di hadapannya hanya si nona she Le! la
mendongkol, hingga bergemetarlah ia.
"Bagus!" teriaknya. "Kiranya kau main-main denganku!"
Nona itu kembali tertawa geli.
"Kim Sie Ie, kau masih ingat perkataanmu atau tidak'?" ia
tanya. "Apa?" balik tanya Sie Ie, heran.
"Kau telah berjanji mengijinkan aku berbuat sesuatu
kepadamu sampai tiga kali!" si nona memperingati. "Dan
selama itu, kau berjanji tidak akan marah!"
Kim Sie Ie melengak. Bergurau-nya si nona membuatnya


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tertawa tidak bisa, menangis tidak bisa juga!
Nona itu lagi-lagi tertawa.
"Aku mendengar kabar kau paling pandai menjaili orang,"
katanya, "maka itu, dengan aku main-main denganmu,
bukankah bagimu tidak ada artinya?"
"Baiklah!" Kim Sie Ie menyahut kemudian. "Kau telah
bergurau! Sekarang, manakah Lie Kim Bwee?"
"Kau menanya aku, mana aku tahu?" sahut nona itu.
Kim Sie Ie mengawasi. "Habis, mengapa kau menjanjikan
aku akan bertemu, jam tiga disini?" ia tanya. "Apakah dengan
ini kau juga mendustai aku?"
"Tidak, aku tidak mendustai kau."
"Kalau begitu, mengapa dia tidak ada?"
"Aku yang menjanjikan dia akan malam ini, jam tiga,
bertemu disini," jawab si nona, hanyalah pada jam dua aku
telah bertemu dengannya, lalu mendadak aku mengubah
pikiranku, lantas aku minta dia pergi..."
Kim Sie le heran dan tak puas.
"Kenapa begitu?" tanyanya keras.
Nona itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Bagaimana, eh?" tanyanya. "Sudah dijanjikan kau tidak
boleh membawa adatmu, apakah kembali kau hendak
bergusar" Jikalau kau tetap membawa adatmu ini, asal kau
kembali gusar, jangan kau harap aku nanti sudi menjawabmu
pula, sekalipun dengan sepatah kata!"
Kim Sie Ie kewalahan. Ia membutuhkan warta tentang Lie
Kim Bwee, ia mesti menguasai dirinya.
"Apa saja yang kau bicarakan dengannya?" ia tanya. "Kau
terang-terang tahu bahwa aku hendak menemui dia, mengapa
kau justeru menitahkan dia pergi?"
Si nona tertawa.
"Oleh karena aku mengetahui, bahwa yang hendak
menemui dia, kecuali kau, masih ada orang lain lagi!"
sahutnya. "Aku telah berkata kepadanya: "Kim Bwee,
bukankah kakak seperguruanmu adalah seorang bocah yang
dipanggil Ciong Tian?" Dia menjawab: "Ya, benar, ada orang
dengan nama begitu." Maka kukata pula: "Kakak
seperguruanmu itu tengah mencarimu. Dia disertai satu bocah
lain she Bu, dan bocah itu juga mencarimu." Atas kata-kataku
itu, dia menghaturkan terima kasih, dan ia segera berangkat,
berlari-lari turun gunung."
Sembari berkata begitu, nona itu menirukan gerak-gerik
Kim Bwee sambil menelad juga lagu suaranya sekali, yang
dapat dilakukannya dengan sempurna, hingga ia tampak lucu
sekali. "Hm, bagus betul!" kata Sie Ie, yang hatinya mendongkol.
"Sekarang aku ingin tahu, mengapa dan apa perlunya kau
mempedayakan aku datang kemari?"
"Saat ini rembulan indah sekali dan angin pun berkesiur
halus, aku menjadi iseng, ingin aku mencari satu orang
dengan siapa aku dapat mengicipi semua ini," kata si nona
bersenyum. "Aku pun mengetahui baik sekali kau gemar
berguyon, kebetulan kita bertemu, kupikir tiada halangannya
aku bergurau denganmu!"
Kim Sie le memperlihatkan roman tidak puas.
"Sebaliknya malam ini tidak ada kegembiraanku untuk
bergurau denganmu!" katanya dingin-dingin. "Baiklah,
sekarang kau sudah berguyon, maafkan aku, aku tidak dapat
mengawani kau lebih lama pula!" Ia lantas memutar
tubuhnya. "Kim Sie Ie, berhenti!" sekonyong-konyong nona itu
berseru. Tokciu Hongkay sudah bertindak, mendengar suara itu,
walaupun ia tidak menghendakinya, ia menghentikan
tindakannya tanpa merasa.
Nona itu tertawa geli.
"Kim Sie le, barusan aku berguyon!" katanya.
"Aku sudah tahu! Tak usah kau rewel lagi!"
"Kau tidak tahu sedikit jua!" kata si nona sebaliknya. Masih
dia tertawa. "Apakah yang kau ketahui" Hendak kuberitahukan
kepadamu, bahwa semua kataku barusan adalah kelakar
belaka! Mengertikah kau" Tapi sekarang lain, sekarang aku
hendak menjelaskan bahwa aku menjanjikan kau datang
kemari karena ada urusan yang penting luar biasa, dan ini
sedikit-pun bukannya guyon lagi!"
Kim Sie Ie mengawasi nona itu. Kata-kata orang
membuatnya ber-sangsi. Ia bertindak, untuk mendekati.
"Kau mempunyai urusan penting bagaimana?" tanyanya.
"Jiwamu penting atau tidak?" si nona balik bertanya.
Kembali muncul kemendong-kolan si pengemis edan ini.
"Baiklah, inilah guyonmu yang kedua!" katanya. "Kau ingat
baik-baik, guyonmu tinggal hanya lagi sekali!"
"Hus, jangan kau segera membuat perhitungan!" kata nona
itu. "Kali ini aku tidak main-main sama sekali, sebaliknya, aku
bicara dengan sungguh-sungguh! Nah, coba kau menarik
napas dalam-dalam satu kali! Menurut penglihatanku, dengan
menarik napas, kau merasakan sesuatu kepada pelbagai jalan
darahmu!" Mau atau tidak, Kim Sie le hendak mencobanya. Maka ia
menyedot perlahan-lahan. Tiada sesuatu dirasakannya,
baikpun pada jalan darah ngokie, wietoo atau kieliauw
maupun jalan darah yangleng di pahanya. Maka hendak ia
mengatakan sesuatu guna menegur kedusta-an si nona. Baru
ia hendak membuka mulutnya, atau tiba-tiba ia merasakan
gatal sedikit pada pelbagai jalan darahnya barusan, la menjadi
terkejut, apapula menyusul itu, merasalah agak kaku dan
dingin seluruh tubuhnya, lebih-lebih kakinya, hawa dingin itu
melebihkan gangguan hawa dingin pada akhir bulan dua
belas. "Bagaimana?" tanya si nona yang terus mengawasinya
semenjak tadi. "Bukankah aku tidak berkelakar denganmu?"
Untuk sejenak Kim Sie Ie membungkam.
"Aku tidak menyangka ilmu Siulo Imsat Kang dari Beng Sin
Thong begini liehay," katanya sesaat kemudian.
"Inipun disebabkan tenaga dalammu yang mahir," kata
pula si nona, "jikalau tidak, akibatnya akan bekerja di saat
serangan dilakukan. Hanya sekarang hawa dingin itu telah
mengeram di dalam tubuhmu, di belakang hari, biar kau
mencoba, tidak nanti hawa itu dapat diusir bersih. Hawa itu
dapat menembus setiap anggauta tubuhmu yang terlemah.
Bukankah pada kakimu, di jalan darah yongcoan, hawa itu
terasa paling dingin" Nah, itulah dia!"
Mau atau tidak, Kim Sie Ie mengangguk.
"Syukur serangan ini dilancarkan kepadamu," kata si nona,
"coba serangan itu, terjadi di atas diri orang lain, selekas
serangan itu mengenai jantung, sekalipun dewa tidak akan
dapat menolongnya. Lihatlah Ek Tiong Bouw. Dia telah
merasakan tangan Beng Sin Thong, benar dia telah makan
obat Pekleng Tan, tetapi dia pasti akan mendapat sakit berat.
Kau mahir tenaga dalammu, hawa itu tidak dapat masuk ke
dalam jantung, hawa itu sebaliknya mengalir ke kaki, sebagai
dapat kau rasakan sekarang. Jikalau setiap hari kau melatih
diri tiga kali, untuk melawannya, hawa dingin itu akan
tercegah, dan tidak dapat naik ke atas. Dengan demikian,
mungkin jiwamu dapat diselamatkan, tetapi kedua kakimu
tidak, paling sedikitnya kau akan bercacad dengan kedua
kakimu tak dapat digunakan lagi."
Kim Sie le tertawa, tertawa dengan hati pedih.
"Apakah artinya hidup secara demikian?" katanya.
"Bagaimana rasanya kalau setiap hari tersiksa?"
Ia tertawa pedih, lalu tertawa lebar, seraya memutar
tubuh, ia bertindak pergi.
"Eh, kau mau bikin apa?" tanya si nona, heran.
"Beng Sin Thong telah terkena jarumku yang beracun,"
jawab Kim Sie Ie, "dia juga tentu tengah menderita sakit
berat, maka justeru sedang ia sakit, dan aku sebaliknya masih
dapat berjalan dengan merdeka, hendak aku menempur-nya
pula sekali! Paling banyak ia dan aku akan terbinasa
bersama!..."
Mendengar itu, si nona tertawa dingin.
"Adakah jiwamu demikian tidak berharga?" tanyanya.
"Apakah pantas jiwamu diadu impas dengan jiwa Beng Sin
Thong" Kau harus ingat juga, bahwa Beng Sin Thong
dilindungi murid-muridnya, bahwa disana ada adik
seperguruannya yang sudah meyakinkan Siulo Imsat Kang
sampai tingkat ke lima! Kau hendak mengadu jiwa tetapi aku
sangsi, apakah kau akan dapat mencapai cita-citamu ini!"
Hati Kim Sie Ie bercekat. Kata-kata si nona memang
beralasan. Hingga maulah ia berpikir: "Mungkinkah dia dapat
membantu aku?" Tapi ia tidak mau mengatakan apa-apa. Ia
terlalu angkuh! Bukankah, sekalipun bantuan Lie Kim Bwee
telah ditolaknya"
Nona itu seperti dapat melihat hati orang. "Kim Sie Ie,
hendak kuminta sesuatu darimu, dapatkah?" ia bertanya
sambil tertawa manis.
"Aku sudah segera akan bercacad separuh tubuhku, apa
yang dapat kuberikan untuk membantumu?" Tokciu Hongkay
menjawab. "Aku mau minta kau membantu aku menuntut balas," kata
si nona. "Aku tidak mempelajari Siulo Imsat Kang, akan tetapi,
di jaman ini akulah orang satu-satunya yang mengerti
bagaimana harus mengobati luka karena pukulan ilmu silat itu.
Tampaknya kau merasa aneh, bukan" Kau rupanya hendak
bertanya, bagaimana aku, yang tidak mengerti Siulo Imsat
Kang dapat mengobati luka disebabkan ilmu itu" Sebabnya
ialah: Beng Sin Thong hanya berhasil mencuri tiga bocah kitab
Siulo Imsat Kang dan kitab cara pengobatannya masih berada
di tanganku. Maka, maukah kau berjanji kepadaku untuk kita
saling tukar: Aku mengobati lukamu dan kau membantu aku
membalas sakit hati?"
Sebagai seorang cerdik, Kim Sie le segera dapat menerka
hati si nona. "Membalas sakit hati kepada Beng Sin Thong?" pikirnya.
"Betapa mudah untuk mengatakannya! Mungkin meskipun
menggunai tempo tiga atau lima tahun, ataupun sampai
sepuluh tahun, maksud itu masih tidak akan dapat diwujutkan!
Pula, jika aku menerima tawarannya ini, artinya aku terikat
olehnya! Tetapi, tidak perduli aku senang atau tidak, aku
mesti bersahabat dengannya!..."
Toh ia bersangsi. Di kolong langit, kecuali nona ini, tidak
ada orang lain yang dapat mengobati lukanya! Mungkinkah ia
rela menjadi bercacad separuh tubuhnya" Mati memang tidak
usah ditakuti, tetapi hidup bercacad seumur hidup-hidup
begitu bagaimana dapat dipertahankan"
"Lagi pula, siapakah yang tahu kalau ini bukannya karena
kebaikan hatinya?" ia berpikir lebih jauh. "Rupanya dia kuatir
jika aku tidak mau menerima kebaikan hatinya, maka kini dia
mengajukan tawarannya ini. Dengan begini dapat diartikan
dialah yang meminta kepadaku, agar muka terangku tidak
menjadi pudar karenanya."
Terkaan Kim Sie le ini tepat. Memang si nona mengandung
dua maksud, menolong Kim Sie Ie sambil mengharap
bantuannya, la mau mengikat si pengemis edan. Untuk itu, ia
mesti menggunakan siasat, sebab ia kuatir Kim Sie Ie akan
menolak getas diobati olehnya. Dengan menukar jasa, itulah
lain, kedua pihak boleh tidak usah berhutang budi satu pada
yang lain. "Bagaimana?" tanya si nona dengan tertawa. Sekian lama
ia menantikan jawaban dengan sia-sia.
"Aku sampai memohon padamu, apakah kau masih tidak
dapat menerima?" ia bertanya. "Syaratku ini syarat baik sekali.
Kedua pihak sama-sama tidak rugi. Satu pada yang lain, kita
juga tidak usah menanggung budi! Tidakkah ini bagus sekali?"
Kim Sie Ie menghela napas.
"Baiklah," akhirnya ia berkata. "Kau memberikan aku obat,
aku membantumu membalas sakit hatimu! Beginilah janji
kita!" "Sekarang kau tutup matamu!" kata si nona.
"Untuk apakah itu?" tanya Kim Sie Ie, heran.
"Aku kuatir, karena kau melihat, kau nanti merasa takut!"
Sie Ie tertawa bergolak.
"Aku tidak tahu di kolong langit ini ada apa yang dapat
membuatku takut!" katanya.
Nona itu melirik, ia tertawa.
"Benarkah itu?" ia menegaskan.
Mendadak hati Kim Sie Ie terkesiap. Mendadak ia menjadi
jeri akan si nona.
"Sekarang aku hendak mengobatimu," kata nona itu seraya
memandangnya tajam-tajam. "Untuk itu aku menghendaki
supaya kau jangan takut dan juga kau harus percaya penuh
terhadapku!"
Kim Sie Ie tertawa.
"Sekarang ini, akulah si sakit, sebagai orang sakit aku mesti
menurut kepada segala perkataan tabib," ia berkata. "Silakan
kau menolong menyembuhkanku, aku tidak takut!"
Nona itu mengeluarkan segeng-gam jarum, yang rata-rata
dua dim panjangnya.
"Jikalau kau tidak takut, maka lihatlah!" katanya. "Ingat,
jangan sekali-kali kau mengerahkan tenaga, membuat
perlawanan atau menentang!"
Sebat sekali si nona, baru perkataannya berhenti atau
tangannya sudah sampai di jidat orang, untuk menusuk jalan
darah thayyang hiat, ialah bagian anggauta yang berbahaya
sekali. Dan Kim Sie Ie baru berpikir atau segera ia merasakan
sakit yang sangat hebat pada jidatnya itu, hingga ia mesti
mengertak gigi untuk menahan rasa nyerinya.
Si nona bertindak cepat dan tangkas, tanpa mengaso, ia
menusuk terus berulang-ulang, hingga dua belas jalan darah
si pengemis edan kena tertusuk, dan pengemis itu merasakan
sakit tiada hentinya, rasa nyeri itu datang saling susul, hingga
ia mesti menahannya terus-terusan. Di samping itu, dengan
lantas lenyaplah rasa dingin di tubuhnya itu.
"Inilah cara pengobatan yang luar biasa sekali," pikir Sie le
selagi ia menderita itu. "Ah, yang paling heran, ialah aku
sendiri, mengapa aku boleh kesudian membiarkan diriku
diperlakukan sesukanya oleh dia"..."
Hebat tusukan jarum itu. Kalau dilakukannya dengan
maksud jahat, tentu orang telah terbinasakan karenanya.
Kalau karenanya orang tidak mati, maka nyatalah sudah
berhasilnya tusukan itu. Tentu sekali, pada mulanya Kim Sie Ie


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak tahu bagaimana caranya pengobatan dengan jarum itu,
sedang dia mengetahui bahwa si nona rada-rada sesat!
Kenapa ia mempercayainya, tidak sedikit juga curiganya"
Kenapa ia benar-benar tidak menentang tusukan-tusukan
jarum itu" Teranglah sudah bahwa kepercayaannya kepada si
nona besar sekali, sedang biasanya jarang sekali ada orang
yang ia percaya habis. Herannya mengapa ia mau percaya
kepada si nona sedang nona itu berulang kali telah
mempermainkannya!
Kim Sie Ie sungguh tidak mengerti dirinya sendiri.
Selagi rasa nyeri mulai berkurang, si nona berkata:
"Sekarang kau lonjorkan kaki kananmu!"
Kim Sie le menurut tanpa membantah.
Nona itu menampa dengan kedua tangannya, lalu dengan
jeriji tangannya, ia menekan jalan darah yongcoan hiat.
Begitu ditekan, Kim Sie Ie merasakan geli luar biasa. Inilah
hebat! Menahan rasa geli sungguh lebih sulit daripada
menahan rasa sakit. Maka mau atau tidak, ia tertawa
sendirinya. Setelah itu, kembali terjadi sesuatu yang aneh!
Seberhentinya ia tertawa, ia mendapatkan tubuhnya lega
sekali, bukan hanya rasa sakitnya berkurang banyak sekali,
juga napasnya tersalur baik dan darahnya mengalir dengan
lurus. Si nona memandangnya, dan tertawa geli.
"Sedikitnya kau belum mandi enam atau tujuh hari!"
katanya menggoda. "Kakimu bau luar biasa tetapi kau masih
dapat tertawa gembira!"
"Mana bisa! Mana bisa!" kata Sie le, membantah. "Baru
kemarin dulu aku mandi di kali yang jernih..."
Sie Ie tahu orang berguyon tetapi ia toh merasa likat juga.
Ia merasakan tangan si nona halus, empuk dan lincah. Diuruti
nona itu, ia menjadi tidak keruan rasa, hatinya berdebaran,
hilang juga rasa gelinya. Dengan sendirinya, ia tidak tertawa
lagi. Selang sesaat, hawa panas mulai terasa, pada jalan
darahnya, jalan darah yongcoan itu, lalu menjalar juga ke
seluruh tubuhnya, maka lekas sekali, hawa dingin di seluruh
tubuhnya itu mulai buyar.
Sesudah menguruti jalan darah yongcoan di kaki kanan, si
nona menguruti juga kaki kiri dan Kim Sie le merasakan hawa
dingin di kakinya ini pun berkurang, terus berkurang.
Si nona masih menanti seketika lama, ialah sampai ia
menampak muka si pengemis edan dari pucat menjadi dadu,
baru ia mencabut dua belas batang jarum yang ditancapkan di
pelbagai jalan darah itu.
Kim Sie Ie merasakan tubuhnya lega sekali, tetapi lemah
sekali bagaikan seorang yang baru sembuh dari sakit.
"Selesailah sudah tugasku!" kata si nona tertawa. "Kau
lapar atau tidak" Kau tunggu sebentar, aku akan mencarikan
kelinci untukmu. Aku pun mau pergi ke solokan untak mencuci
tangan. Kau tunggu disini!"
Dengan lekas nona itu lantas berlalu.
Kim Sie Ie berduduk untuk terus bersamedhi, guna
menenangkan diri dan mengumpul tenaga. Tiba-tiba ia ingat
suatu apa, maka ia kata di dalam hatinya: "Jikalau aku kabur
sekarang, dia bisa bikin apa atas diriku" Telah cukup dia
mempermainkan aku! Apakah halangannya jikalau aku pun
menggoda dia?" Ia baru berpikir begitu atau ia ingat lainnya:
"Tidak, tidak dapat. Di dalam lain hal boleh aku menggoda dia,
tidak dalam keadaan seperti sekarang. Dia telah menolong
aku, apabila aku menjaili dia, bukankah dia dapat menyangka
aku seorang tidak berbudi?"
Oleh karena berpikir demikian, ia membatalkan niatnya
berguyon itu. Ia terus duduk menanti.
Tidak lama, nona tadi telah kembali. Ia benar telah berhasil
memburu dua ekor kelinci. Dengan lantas ia menyalakan api,
untuk membakar daging binatang itu. Ketika daging bakar
telah matang, ia membagi si pengemis edan sebagaimana ia
telah menjanjikannya. Sembari bersantap, tak hentinya ia
bicara sama Sie Ie.
Berbicara tentang Coato, atau Pulau Ular, si nona berkata:
"Aku belum pernah berlayar tetapi akan datang satu hari yang
aku nanti pergi pesiar ke laut! Bersediakah kau menjadi juru
mudiku?" "Semenjak aku keluar dari Coato, belum pernah aku
kembali," menyahut Sie le. "Baiklah, nanti di harian aku
pulang, akan aku memberitahukannya padamu supaya kau
dapat naik bersama dalam perahuku..."
"Ya, kata-katanya seorang kuncu bagaikan dieambuknya
seekor kuda yang larinya pesat," kata si nona, memotong. Ia
pun berkata-kata dengan roman sungguh-sungguh. "Kapan
telah tiba waktunya, jangan kau mendustakan aku dan nanti
pergi sendiri secara diam-diam!"
Memandang nona itu dengan wajahnya bersenyum-senyum
manis dan jenaka, Kim Sie Ie ingat akan suatu dongeng yang
dituturkan kepadanya semasa ia kecil oleh seorang pengemis
tua. Beginilah dongeng itu: "Di atas sebuah gunung yang
tinggi sekali terdapat sebuah gua hantu yang paling gemar
membeli arwahnya manusia. Jikalau kau menginginkan uang,
dia akan memberikan uang padamu. Jikalau kau menghendaki
pangkat, dia akan membantu hingga kau berhasil
mendapatkan pangkat itu. Sebagai pembalasan, iblis itu
meminta jiwa orang. Maka kau harus membuat surat
penjualan dirimu kepadanya. Lalu seumur hidupmu, kau mesti
mendengar segala perintahnya." Sekarang Kim Sie le
menerima baik permintaan si nona untuk membantu nona itu
membalas sakit hati. Tiba-tiba ia merasa bahwa ia seperti
orang di dalam dongeng itu. Ia seperti telah membuat surat
penjualan dirinya...
Si nona mengawasi orang di depannya itu.
"Kau lagi memikirkan apa?" dia tanya.
"Tidak apa-apa," menyahut Kim Sie Ie, yang sebenarnya
hatinya terkesiap.
"Kau telah menerima baik untuk membantu aku membikin
pembalasan, janji itu bukan kata-kata kosong belaka," berkata
si nona. "Sekarang hendak aku menanya kau, dengan cara
apa kau hendak membantu aku" Coba kau tanya dirimu
sendiri, dapatkah kau melawan Beng Sin Thong?"
Panas hati Sie Ie mendengar pertanyaan itu.
"Kau telah menolong padaku, maka paling banyak aku
dapat membalas budimu dengan menambah bunganya!"
jawabnya. "Aku akan membayarnya dengan jiwaku!"
Si nona tertawa terkekeh.
"Menurut suaramu ini," katanya riang gembira, "walaupun
kau tidak merasa enak hati untuk mengatakannya. Kau telah
mengaku bahwa dalam ilmu kepandaian, kau kalah daripada
Beng Sin Thong, maka itu kau bersiap sedia untuk
mengorbankan jiwamu..."
"Aku bakal membantu kau menuntut balas, memang juga
paling banyak aku akan mengorbankan jiwaku," kata Sie Ie.
"Apakah dengan begitu masih ada yang membuatnya kau
tidak puas?"
Masih saja si nona tertawa.
"Memang aku tidak puas!" jawabnya terus terang. "Jikalau
kau mati, untukmu kematianmu itu tidak ada pentingnya,
tidak demikian dengan aku, sebab aku tetap belum dapat
membalas sakit hatiku! Pula, umpama kata kau tidak dapat
mengalahkan Beng Sin Thong, biarpun kau telah
mengorbankan jiwamu, terhadapku, kau tetap belum dapat
memenuhkan janjimu, sebab pembalasan itu belum
terwujudkan. Aku menginginkan pembalasan yang berhasil
sempurna!"
"Habis, apakah dayaku?" tanyanya. "Apa yang kumiliki
hanyalah selembar jiwaku!"
"Aku mempunyai daya," berkata si nona, cepat, "Nanti,
setelah kepandaianmu liehay, jauh berlimpah-limpah
melebihkan kepandaian Beng Sin Thong, baru kau
membalaskan sakit hatiku itu. Tidakkah ketika itu, pembalasan
dapat dilakukan gampang seperti orang membalik telapakan
tangan?" Mendengar itu, Kim Sie Ie tertawa tanpa merasa.
"Hm, kiraku kau mempunyai daya apa!" katanya tawar.
"Baiklah aku omong terus terang padamu. Untukku, untuk
dapat melawan Beng Sin Thong, perlu aku berlatih lagi
sepuluh tahun sedikitnya. Setelah sepuluh tahun itu, kepandaianku
telah maju pesat, tetapi meski demikian, boleh jadi
aku baru seimbang dengan dia, tidaklah sampai aku
terlukakan Siulo Imsat Kang..."
Mendengar keterangan itu, yang berupa pengakuan, si
nona tertawa. "Jadinya sekarang barulah kau mengakui liehaynya Siulo
Imsat Kang?" katanya. "Memang, berdasarkan kepandaian kau
sekarang kau membutuhkan tempo belajar lagi sepuluh tahun
untuk melawan Beng Sin Thong. Akan tetapi, pada itu ada
tapinya. Tapi kalau Beng Sin Thong tetap tidak memperoleh
kemajuan dengan ilmu silatnya Siulo Imsat Kang itu! Tapi
kalau dia belajar terus dan dia berhasil mencapai tingkat ke
sembilan itu, maka selang sepuluh tahun itu, belum tentu kau
dapat menandingi dia, belum pasti kau bakal memperoleh
kemenangan!"
Kim Sie Ie menjadi masgul.
"Habis, apakah dayamu itu?"
"Asal kau suka mendengar perkataanku, aku tanggung
dalam tempo tiga tahun, kepandaianmu bakal bertambah
hingga kau dapat melebihkan Beng Sin Thong. Lalu, di dalam
sepuluh tahun, tidak akan ada lagi orang yang dapat
menandingimu! Bahkan di samping itu, kau bakal menjadi ahli
ilmu silat nomor satu, baik di jaman sekarang ini maupun di
jaman yang telah lampau!"
Hati Sie Ie tergerak juga. Ia sangsi tetapi ia ketarik. Di
dalam keragu-raguannya itu, ia menunjuki roman lesu.
"Jikalau kau benar mempunyai kepandaian semacam itu,
apa perlunya kau meminta bantuanku?" ia tanya.
Nona itu bertindak mendekati, dengan mementang kedua
matanya. "Aku bukan lagi berkelakar denganmu," katanya. "Ada
sebabnya kenapa aku bicara begini rupa denganmu!"
"Apakah sebab itu?"
"Terlebih dahulu aku menghendaki kau mempercayai aku
bahwa aku bukan lagi guyon. Coba kau pikirkan baik-baik.
Kepandaian Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong cuma
berdasar tiga jilid kitab pelajaran ilmu itu yang asalnya ada
ilmu kepandaian keluargaku. Baiklah kau ketahui, sejauh aku
tahu, kepandaian yang terdapat dalam buku itu tercatat
menurut penuturan dari seorang berilmu luar biasa. Seluruh
kepandaiannya orang tua luar biasa itu, apabila dibandingkan
dengan apa yang tercatat di dalam buku keluargaku, ada
seumpama perbedaannya lautan besar dengan solokan kecil.
Maka jikalau kita berhasil mendapatkan ilmu silat
peninggalannya orang tua luar biasa itu, meskipun di sana ada
seratus Beng Sin Thong, tidak usah kita kuatirkan lagi."
"Orang tua luar biasa itu telah menutup mata semenjak
tiga ratus tahun yang lampau, mana dapat kau mencari
kepandaian peninggalannya itu" Lagi pula, cara bagaimana
kau ketahui dia meninggalkan warisan ilmu silatnya itu?"
Si nona heran hingga ia berjingkrak.
"Ah, kau juga ketahui tentang orang tua luar biasa itu?"
tanyanya. Tapi ia lantas meneruskan: "Tidak salah! Orang tua
luar biasa yang aku sebutkan itu memang telah menutup mata
pada tiga ratus tahun dulu, dan dialah Kiauw Pak Beng yang
liehay! Tahukah kau, siapa aku ini?"
"Nah, inilah soalnya! Kita telah berkenalan selama dua hari
tetapi kau masih belum memberitahukan she dan namamu!"
"Akulah Le Seng Lam!" menjawab si nona. "Tapi inilah
bukannya pertanyaanku. Tahukah kau, aku orang macam
apa?" "Aku melainkan ketahui kaulah orang yang mencari Beng
Sin Thong untuk melakukan pembalasan sakit hati."
"Itulah hal yang aku telah beritahukan kau."
"Ya. Kau tidak menjelaskan, habis, mana aku ketahui?"
"Ah, kau juga bicara mutar. Teranglah, sebelum kau
menemui aku, kau sama sekali tidak tahu di dalam dunia ini
ada orang semacam aku."
"Jangan heran. Aku terlebih tua beberapa tahun
daripadamu, aku telah merantau dan mengacau ke segala
penjuru, dengan begitu namaku yang buruk telah tersiar luas
sekali, jadi tidaklah aneh yang kau telah mengetahui tentang
diriku." "Bicara sebaliknya, jika kau ketahui namaku, itu barulah
aneh, bukan" Hanya aku pun merasa sedikit heran. Kau
ketahui pada tiga ratus tahun dulu ada Kiauw Pak Beng tetapi
kau tidak ketahui aku ini siapa..."
Dengan kedua matanya yang bersinar tajam, si nona
menatap sahabatnya itu. Selang sekian lama, ia menghela
napas. Ia telah mendapat kepastian Kim Sie Ie bukan tengah
mendusta. "Tentang diriku belum pernah aku memberitahukan kepada
siapa juga," katanya selang sesaat, suaranya perlahan.
"Karena kau mengetahui perihal Kiauw Pak Beng, baiklah aku
omong terus terang padamu."
"Aku cuma menduga dirimu ada hubungannya dengan
rahasianya kaum Rimba Persilatan. Jikalau benar dugaanku
ini, tidak apa, kau tidak menceritakannya juga tidak ada
halangannya."
"Akan tetapi kita di belakang hari bakal saling mengandal,
aku menerangkannya padamu pun tidak ada bahayanya,"
berkata si nona pula.
Diam-diam Kim Sie Ie bergidik mendengar si nona
menyebut-nyebut soal "bakal saling mengandal" itu. Di dalam
hatinya, ia kata: "Ah, benar-benar aku telah membubuhkan
tanda tanganku pada surat penjualan diriku..."
Si nona tidak mengambil mumat apa yang orang lagi
pikirkan, ia berkata pula: "Di jamannya itu, Kiauw Pak Beng
mempunyai seorang murid bernama Le Kong Thian.
Seumurnya, murid itu bersetia kepadanya. Kecuali menjadi
murid, dia pun berbareng menjadi koankee, yaitu kuasa
rumah, maka juga dia pernah mendapat lihat semua kitab ilmu
silat keluarga Kiauw itu. Demikian pula ilmu kepandaian Pak
Beng, yang Kiauw Pak Beng memperolehnya, itu pun dia yang
mencatatnya. Namanya Kiauw Pak Beng demikian terkenal


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

maka juga berselang tiga ratus tahun kemudian masih ada
orang yang mengetahui tentang hal ikhwalnya. Hanya tentang
kuasanya itu, nama si kuasa telah terhilang lenyap.
"Ah, kiranya Le Kong Thian itu ialah leluhurmu!" seru Kim
Sie Ie. "Benar! Dialah leluhurku yang ke tujuh tingkat atas. Di
jamannya itu, Kiauw Pak Beng adalah raja iblis nomor satu,
dia telah berbuat salah terhadap banyak orang gagah, lalu
kemudian dia terluka di tangannya Tayhiap Thio Tan Hong,
setelah berpura-pura mati, dia kabur keluar negeri. Leluhurku
itu tidak turut gurunya menyingkir, tetapi dia pun berkuatir
orang nanti memusuhkan padanya, terutama dia takut kitab
rahasianya dirampas orang, maka dia hidup menyendiri di
tempat yang sunyi, lalu turun temurun, anak cucunya tidak
muncul pula di dalam dunia kangouw."
"Leluhurmu itu pandai merawat dirinya," berkata Kim Sie
Ie. "Kalau aku, tidak sanggup aku mengeram diri secara
begitu." Si nona tidak menyahut, ia hanya melanjuti penuturannya:
"Kiauw Pak Beng lari ke sebuah pulau di Tanghay, Laut Timur.
Tentang tempat tinggalnya ini melainkan keluargaku yang
mengetahuinya. Di pulau itu dia mewariskan seluruh
kepandaiannya. Juga tentang ilmu kepandaiannya itu,
melainkan keluargaku yang mendapat tahu."
"Tapi aku ketahui itu!..." kata Kim Sie Ie, di dalam hatinya
ia tertawa. Ia lantas ingat gambar yang luar biasa itu.
Makanya ia hendak menanyakan si nona, atau akhirnya ia
dapat mengendalikan diri, untuk menutup mulut.
Si nona melirik, ia berkata pula: "Hal yang sebenarnya
umpama kata ada lain orang yang mengetahui itu, itulah tidak
ada faedahnya. Seandainya ada orang yang dapat pergi ke
pulau di laut Timur itu, dia pasti tak berdaya mendapatkan
warisan kepandaian itu, ialah kitab-kitab ilmu silat
peninggalannya Kiauw Pak Beng. Sebab pada itu ada
rahasianya, rahasia yang kembali cuma diketahui oleh
keluargaku. Atau kalau kita bicara sekarang, melainkan aku
seorang yang mengetahui itu."
"Jadinya kau menghendaki bersama aku pergi ke pulau itu
untuk mendapatkan warisannya Kiauw Pak Beng?" Kim Sie Ie
tanya. "Benar!"
"Kau dapat melakukan itu, mengapa kau tidak mau pergi
sendiri?" Sie Ie tanya.
"Sebabnya ialah pertama aku tidak mengerti tentang
pelayaran," menyahut si nona, "dan kedua, lantaran pulau itu
kesohor sebagai pulau hantu, baiklah kalau aku mendapatkan
kawan seperjalanan, jauh terlebih baik daripada apabila aku
pergi seorang diri."
Kim Sie Ie lantas ingat pesan gurunya untuk jangan pergi
ke pulau itu. Pikirnya: "Mustahilkah kecuali gunung berapinya,
gunung itu mempunyai lainnya yang aneh dan dahsyat?"
"Masih ada sebab yang ketiga," si nona melanjutkan. "Ilmu
silatku masih rendah dasarnya, umpama kata aku pergi
kesana dan aku berhasil memperoleh kitab warisan Kiauw Pak
Beng itu, aku kuatir aku tidak dapat menangkap arti atau
sarinya. Dengan begitu bisa sia-sia belaka aku membuangbuang
tempo serta tenaga otakku, hingga bisa terjadi, sampai
aku ubanan, aku masih belum mengerti. Apabila benar terjadi
demikian, mana bisa aku mencari balas kepada musuhku"
Tidaklah demikian dengan kau. Gurumu adalah Tokliong
Cuncia yang diakui selama seratus tahun ini sebagai seorang
ahli silat yang luar biasa, sebagai jago Rimba Persilatan yang
nomor satu, sedang kepandaian silatmu beda dari kepandaian
pelbagai partai persilatan lainnya. Bicara terus terang,
pelataranmu ada dari golongan sesat, nadi pelajaranmu itu
sama dengan pelajarannya Kiauw Pak Beng, maka jikalau kau
mendapatkan kepandaian Pak Beng itu, kau bakal jadi gagah
berlipat ganda, di dalam tempo yang pendek, kau akan jadi
seorang guru silat kenamaan yang Istimewa."
"Bukankah kau telah membilang bahwa di rumahmu masih
ada |sisa kitab-kitab silat?" tanya Sie Ie. 'Setelah berhasil
meyakinkan semua itu, tidakkah itu cukup untuk dipakai
melawan Beng Sin Thong" Buat bicara terus terang, setelah
pnendengar perihal Kiauw Pak Beng itu, aku tidak berkesan
baik terhadapnya. Singkatnya, aku tidak sudi menjadi
muridnya, murid dari lain jaman!"
Itu artinya, Sie Ie tidak suka berguru pada guru yang sudah
mati ratusan tahun.
Si nona- Nona Le tertawa lebar.
"Orang semua membilang sepak terjangmu aneh sekali,
karenanya kau disebut sebagai si kepala iblis terbesar di
jaman ini," katanya, "maka itu aku tidak menyangka sekarang
aku mendapat kenyataan Baru tidak ubahnya dengan orangorang
gagah dari kalangan sejati. Baiklah kau mengerti satu
hal. Ilmu silat itu turun temurun, sulit untuk menjaga atau
mendapatkan keutuhannya. Mengenai kelakuan buruk dari
Kiauw Pak Beng, apakah hubungan atau sangkutannya itu
dengan kau" Apapula dia sudah mati tiga ratus tahun yang
lampau" Apakah ruginya jikalau kita mengambil warisan ilmu
silatnya itu" Kau bilang kau tidak suka menjadi muridnya,
apakah mungkin arwahnya nanti melekat di tubuhmu dan dia
memaksa kau mesti mengangkat dia menjadi gurumu?"
Kim Sie Ie berdiam tetapi hatinya berpikir: "Di saat kematiannya
itu, Kiauw Pak Beng telah memesan si orang pelayaran
bahwa siapa dapat membawa jenazahnya pulang ke daratan
Tionggoan, dialah muridnya, dan aku, seumurku tidak sudi
aku gampang-gampang menerima budi orang, jikalau aku
telah mempelajari kepandaian silatnya itu, dapatkah aku
melupakan budinya" Bolehkah aku tidak menerima dia
menjadi guruku" Lebih baik menghina orang hidup tetapi
jangan orang yang telah mati, kata pepatah. Maka itu
terhadap seorang tertua yang telah menutup mata itu, tidak
perduli dia orang macam apa, tidaklah seharusnya aku
menghilangkan kepercayaan dan mensia-siakan
kebaikannya..."
Selagi ia bersangsi, ia mendengar si nona berkata pula:
"Kitab silat yang berada di rumahku itu cuma berarti separuh
saja dari kepandaiannya Kiauw Pak Beng. Umpamanya itu
dapat dipelajarkan semua, kita masih belum dapat
dibandingkan dengan guru-guru silat besar jaman ini, sedang
juga tiga bocah kitab di antaranya, ialah bagian Siulo Imsat
Kang, telah dirampas Beng Sin Thong."
"Bagaimana caranya Beng Sin Thong merampas itu?"
"Itulah peristiwa pada dua puluh tahun yang lalu. Entah
bagaimana duduknya, Beng Sin Thong mendapat tahu kita
mempunyai kitab itu. Dia lantas datang untuk mencari garagara.
Ketika itu ayahku belum berumur tiga puluh tahun,
perya-kinannya Siulo Imsat Kang baru sampai di tingkat
ketiga. Ayah berhasil merobohkan Sin Thong, yang telah
terluka parah, tetapi ayah pun terkena senjata rahasianya
karena mana ayah menemui ajalnya sebab lukanya itu tidak
dapat diobati. Waktu itu aku masih belum terlahir, aku berada
di dalam kandungan ibuku. Ibu mengharap mendapatkan anak
lelaki, siapa tahu kenyataannya dia menjadi kecewa, dari itu,
dia memberikan namaku, Seng Lam, yang berarti lebih
menang daripada laki-laki. Nah, telah aku menjelaskan segala
apa, sekarang aku mau tanya kau, kau telah memberikan
kata-katamu padaku, kata-kata itu hendak dipegang atau
tidak" Jikalau kau hendak membantu aku membalaskan sakit
hatiku, mesti kau pergi mencari kitab silat warisannya Kiauw
Pak Beng yang ditinggal di pulau tak dikenal itu!"
Kim Sie le berpikir keras. Di samping tak kesudiannya
menjadi murid Kiauw Pak Beng itu, kenyataannya ia tidak
mempunyai daya lain untuk bisa menepati janji membantu si
nona. "Baiklah, aku turut padamu!" katanya akhirnya, terpaksa.
"Sesudah tiga bulan, setelah rembulan bundar, kau tunggulah
aku di depan kuil Siangceng Kiong di gunung Lauwsan di tepi
laut Tanghay!"
Si nona tidak mengerti.
"Kenapa mesti menanti sampai sesudah tiga bulan
kemudian?" ia bertanya.
Kim Sie Ie tertawa,
"Aku melainkan berjanji akan membantu kau mencari balas
kepada musuhmu, aku tidak berjanji untuk setiap hari
mengikuti kau!" sahutnya. "Sudah, jangan kau rewel, nanti
setelah tiga bulan, bersama-sama kita pergi berlayar!" Dia
lantas memutar tubuhnya dan bertindak pergi.
Mendengar itu, si nona mendadak mengasih dengar
suaranya yang luar biasa, lalu tubuhnya bergerak untuk
menyusul. Sie le menjadi gusar sekali.
"Aku sudah memberikan janjiku, mengapa kau masih
menggerembengi aku?" tegurnya. "Selewatnya tiga bulan
nanti kita pergi berlayar akan mencari kitab warisannya Kiauw
Pak Beng!..."
Belum berhenti teguran itu atau si nona sudah berada di
belakang orang seraya jari tangannya yang kuat menotok ke
jalan darah cie-tong hiat di punggung. Itulah jalan darah yang
penting sekali.
Sie Ie kaget bukan kepalang. Ia tidak menyangka si nona
dapat menurunkan tangan jahat atas dirinya, la memang
dalam keadaan seperti baru sembuh dari sakitnya,
kesegarannya belum pulih. Lagi-nya, biarpun ia bersiap sedia,
di saat itu ia bukannya tandingan si nona. Maka juga, seketika
juga ia roboh terbanting dalam keadaan tak sadar akan
dirinya, cuma kupingnya samar-samar mendengar nona itu
menghela napas dan mengatakan beberapa kata-kata yang
tidak jelas. Berapa lama ia pingsan, Kim Sie Ie tidak tahu, hanya ketika
ia mendusin, ia mendapatkan embun masih belum kering,
atau matahari baru saja muncul. Jadi itulah pagi di hari
esoknya. Ia menjadi heran sekali.
"Mengapa aku belum mati"' katanya seorang diri. "Apa
mungkin aku tengah bermimpi?"
Lantas ia melihat ke sekitarnya. Si nona tak tampak. Cuma
di tanah ia membaca pesan yang dituliskan dengan ujung
pedang, bunyinya:
"Aku minta kau mengingat baik-baik janjimu, sesudah tiga
bulan kemudian, di malaman rembulan bundar, aku akan
menantikanmu di depan kuil Siangceng Kiong di gunung
Lauwsan." Kim Sie Ie mencoba mengerahkan tenaganya, ia
merasakan jalan napasnya, juga jalan darahnya, lurus
semuanya. Dengan tiba-tiba ia menyambar sepotong batu
besar di hadapannya. Batu itu terbelah dua! la menjadi kaget
berbareng heran. Itu berarti kesehatannya telah pulih
seanteronya. Ia mengawasi ke tanah, disitu ia mendapatkan
sedikit darah mati, sedang di kedua kakinya terlekatkan kouwyoh,
ialah obat tempel!
Tiba-tiba ia sadar dan insyaf.
"Sekarang mengertilah aku," ia kata di dalam hatinya. "Aku
memaksa mau pergi selagi sisa racun di dalam tubuhku belum
dikeluarkan semua, maka itu dia menyerang aku, untuk
mengobati. Ah, sungguh hebat Siulo Imsat Kang! Mulanya dia
menusuk aku dengan jarum, lalu ia menotoknya, rupanya
tusukan jarum dan totokan itu ada hubungannya, satu sama
lain, hubungan untuk menyembuhkan lukaku. Hanyalah dia
turun tangan secara diam-diam dan dengan caranya yang
hebat itu. Siapa tidak menjadi kaget karenanya?"
Ia masih berpikir, la lantas ingat akan kebalikannya. Kalau
si nona omong terus terang sedang ia berkukuh hendak
mengangkat kaki, mana ia suka percaya omongannya nona
itu" Mengingat ini, datanglah kesan baik dari Kim Sie Ie
mengenai si nona, yang tabiatnya tak kurang anehnya
daripada tabiatnya sendiri. Kalau tadi malam ia sebal terhadap
nona itu, sekarang ia masgul tidak dapat melihat padanya...
Tidak lama, Kim Sie Ie lantas pergi meninggalkan gunung
Thayheng San itu. Ia mau mencari Lie Kim Bwee. Di Sin-an-tin
ia mencari keterangan perihal Ciong Tian beramai. Nyata
mereka itu sudah berangkat, entah kemana arah tujuannya. Ia
mau menduga tentulah Kim Bwee mengikuti Ciong Tian
semua. Kapan ia ingat keinginan keras dari Lie Kim Bwee, untuk
menemui padanya, tetapi pertemuan itu gagal disebabkan
Nona Le datang sama tengah, seperti mengacau, ia menjadi
sebal pula terhadap nona itu...
Jarak di antara Thayheng San dan Binsan cuma meminta
tempo perjalanan dua tiga hari, maka itu setelah tidak berhasil
mencari Lie Kim Bwee, Kim Sie Ie dengan sendirinya teringat
akan Kok Cie Hoa. Karena ia ingin menjenguk kuburan Lu Su
Nio, Sie Ie lantas menyeberangi sungai Honghoo akan menuju
ke gunung yang belakangan itu.
Lagi kira tujuh puluh lie akan tiba di Binsan, tiba-tiba Sie Ie
seperti melamun. Ia mengingat dan membayangi segala
pengalamannya. Ia jadi menanya-nanya, di dalam dunia ini,
sebenarnya siapa orangnya yang mengenal baik-baik akan
dirinya. Karena ini tanpa merasa ia bernyanyi dengan nada
tinggi. Tengah Tokciu Hongkay mengumbar rasa hatinya itu, disitu
lewat dua penunggang kuda yang melarikan binatang
tunggangannya dengan keras. Mereka mendengar nyanyian
itu, agaknya mereka heran, dari tidak memperhatikan orang,
mereka lantas menoleh ke belakang, untuk memandang orang
yang bernyanyi itu. Setelah melihat roman orang, mereka itu
tampak kaget, terus mereka mengaburkan pula kuda mereka.
Kim Sie Ie yang bermata tajam segera mengenali kedua
orang itu, ialah Lou Eng Ho puteranya Louw Bin Ciam, serta
Pek Eng Kiat puteranya Pek Tay Koan.
Louw Bin Ciam dan Pek Tay Koan itu ialah suheng, atau
kakak seperguruan, dari Lu Su Nio. Mereka berdua telah
meninggal dunia dengan kepandaiannya diwariskan kepada
masing-masing anaknya laki-laki itu, dan anakanak ini, yang
telah mulai masuk dalam dunia kangouw, mulai mengangkat
nama juga. Ketika Kim Sie Ie mulai muncul dengan tujuannya
menyateroni orang-orang kangouw kenamaan, di Kanglam
dan Kangpak pun ia pernah merobohkan beberapa orang, di
antaranya Eng Houw dan Eng Kiat ini, maka itu, kapan mereka
mengenali siapa orang yang bernyanyi-nyanyi itu, dengan


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lantas mereka menyingkirkan diri.
Menyaksikan sikapnya kedua anak muda itu, Kim Sie Ie
tertawa, tapi segera juga ia masgul sendirinya. Katanya dalam
hati: "Nyatalah murid-murid golongan sejati telah
memandangku bagaikan siluman atau hantu! Sebenarnya,
keburukan apakah aku telah lakukan" Paling banyak aku
hanya merobohkan nama kosong mereka itu! Alasan apa
mereka mempunyai untuk membenci aku?" Ia memikir
demikian tanpa menginsyafi bahwa seorang kenamaan justeru
paling tidak menginginkan nama baiknya tercemar atau
dieemarkan. Begitu lekas ia berpikir pula pulang pergi, dengan tiba-tiba
Kim Sie Ie merobek-robek pakaiannya sendiri, ia membuka
rambutnya untuk dibikin menjadi riap-riapan, sedang mukanya
ia labur dengan tanah, hingga ia lantas mirip dengan seorang
pengemis. Setelah itu ia melengak dan tertawa berkakak.
"Baiklah!" katanya. "Kamu memandang aku sebagai Tokciu
Hongkay, Si Pengemis Edan Tangan Beracun, maka sekarang
aku kembali kepada asalku dulu hari itu!"
la mencari air, untuk mengacai dirinya, lantas ia menjadi
puas sekali. Hanya sejenak, kembali ia menjadi masgul.
Dengan lantas ia teringat kepada Pengcoan Thianlie, ketika
pada lima atau enam tahun dulu ia bertemu si Bidadari Sungai
Es itu yang mengasihani ia, walaupun ia tengah merupakan
diri si pengemis kusta. Justeru Pengcoan Thianlie, yang tidak
menyukai cara hidupnya itu, telah membuatnya menukar
pakaian, hingga ia tampak sebagai seorang muda yang
tampan. Sekarang ia ingat si bidadari, kemasgulannya muncul.
"Kecuali aku bertemu pula orang yang mengenal diriku baik
sekali, aku akan hidup terus sebagai si pengemis edan,"
katanya dalam hatinya.
Di saal berduka dan melamun itu, ia ingat Kok Cie Hoa dan
bayangannya si nona Kok berpeta di depan selaput matanya.
Baru satu kali ia berkenalan sama nona itu atau ia lantas
mendapat perasaan si nona lebih mengenal ia daripada Lie
Kim Bwee. Jalan pula tidak lama, Sie Ie kembali bertemu dua orang
yang dikenalnya. Yang satu ialah Thia Ho muridnya Ciu Sim,
dan yang lainnya Lie Eng puteranya Lie Goan. Mereka ini juga
pernah menderita di tangan si pengemis edan, dari jauh-jauh
mereka telah menyimpang jalan untuk kedua pihak tidak
saling bersomplokan.
Melihat anak-anak muda itu, Kim Sie Ie menjadi ingat
bahwa Louw Bin Ciam, Pek Tay Koan, Ciu Sim dan Lie Goan
itu, semuanya saudara-saudara seperguruan dari Lu Su Nio,
yang termasuk dalam rombongan Kanglam Cithiap, Tujuh Jago
dari Kanglam. Ia menjadi heran dan lalu berpikir: "Kenapa hari
ini aku bertemu dengan anak-anaknya Kanglam Cithiap atau
muridnya mereka itu" Mungkinkah mereka itu juga telah
berkumpul di Binsan?"
Tidak lama, sampailah Sie Ie di tempat sejarak tiga puluh
lie dari gunung itu atau kupingnya lantas mendengar suara
kelencngan kuda.
"Entah mereka Kanglam Cithiap yang ke seberapa..."
pikirnya. "Baiklah aku lihat mereka."
Maka ia bertindak ke pinggir jalan, untuk duduk disitu.
Lantas ia melihat tiga penunggang kuda, yang tak satu pun
yang ia kenal. Penunggang yang satu ada seorang wanita tua
umur mendekati enam puluh tahun, dilihat dari sikap dan
dandanannya, ia mestinya dari keluarga hartawan. Yang dua
lagi, yang mengikuti si nyonya, ialah dua orang bocah
tanggung umur lima atau enam belas tahun, yang romannya
masih kekanak-kanakan tetapi kedua-duanya tampan.
Biarpun ia seorang berpengalaman, Sie Ie toh tidak dapat
mem-bade nyonya itu asal golongan atau kalangan apa. Maka
berpikirlah ia: "Nyonya ini tidak miripnya orang kangouw
tetapi gerak-geriknya menandakan ia mengerti silat. Kedua
bocah itu terang mengerti silat juga. Adakah mereka cucunya
nyonya ini?"
Karena kesangsiannya itu, pengemis tetiron ini jadi
mengawasi sekian lama.
Kedua anak tanggung itu melihat roman luar biasa dari Kim
Sie Ie, mereka agaknya jeri, akan tetapi karena orang
mengawasi mereka, mendadak mereka membentak: "Hai,
pengemis jahat, kenapa kau berani mengawasi kami dengan
mata mendelik?" Sembari membentak mereka menggeraki
tubuh untuk membungkuk, selagi kuda mereka jalan terus,
tangan mereka telah menyambar sepotong tanah kering.
Gerakan mereka lincah dan sebat sekali.
Si nyonya tua menoleh, ia melihat kelakuan kedua bocah
itu, lantas dia menegur: "Anak-anak tidak boleh usilan!" Tetapi
tegurannya itu sudah kasep, kedua bocah itu telah menimpuk
kepada Kim Sie Ie.
"Apakah kamu putera-putera raja?" berkata Kim Sie Ie
tertawa melihat aksinya kedua bocah itu. "Kenapa kamu takut
dilihat orang! Kalau begitu baiklah kamu tinggal bersembunyi
saja di dalam rumah!" Justeru ia berkata begitu, serangan
telah datang. Maka untuk mengelakkan diri, ia menyentil,
membuat dua potong tanah kering itu mental balik!
Si nyonya tua melihat itu, dia terperanjat. Dua potong
tanah kering itu bersifat lembek, meskipun dipegangnya keras,
kalau disentil keras, mestinya pecah hancur, atau kalau
disentilnya kurang keras, tidak dapat dibikin terpental, tetapi
sekarang, ia menyaksikan keanehan itu. Maka biarpun ia
sendiri seorang ahli, ia toh kagum dan heran.
Kedua anak tanggung itu melihat tanahnya mental balik,
mereka mau menyanggapi, tetapi lantas mereka kena dibikin
bingung. Tiba di depannya, kedua potong tanah itu mengubah
tujuan nyamping sedikit, hingga mereka menjadi kaget.
Mungkin mereka bakal terhajar jalan darahnya!
Di saat itu, si nyonya telah menahan kudanya dan kedua
anak tanggung itu kabur melewatinya, maka dengan satu
sampokan tangan baju. ia membuat kedua potong tanah itu
tersampok pecah dan jatuh berhamburan bagaikan debu.
"Tuan, kepandaianmu begini hebat, mengapa kau melayani
segala anak kecil?" dia menegur.
Kim Sie Ie tidak menjawab, hanya bagaikan baru
mendusin, dia tanya: "Kau toh Tio Loothaythay" Hm! Di antara
turunan Kanglam Cithiap, kaulah yang paling pandai, maka
aku si pengemis ingin memohon pengajaran daripada kau!"
Nyonya itu agaknya heran, hingga ia menatap. Ia pun
lantas menduga kepada orang yang kaum kangouw
menyebutnya Tokciu Hongkay, si pengemis edan yang
tangannya beracun.
"Sekarang ini aku tidak mempunyai tempo untuk melayani
kau!" katanya dingin. "Jikalau kau ingin mencari aku,
datanglah nanti ke kampung Tio keechung di Tok-koan, di
sana aku akan menyediakan tempo untuk menantikanmu!"
Dan ia mencambuk kudanya dua kali, membuat binatang
tunggangan itu berlompat kabur.
Di antara derapnya kuda, Kim Sie le masih mendengar
anak-anak tanggung itu berkata: "Popo, adakah dia Tokciu
Hongkay" Kenapa kau tidak hendak memberi rasa kepadanya
supaya dia tahu diri?"
Nyonya tua itu anak perempuan dari Co Jin Hu, salah satu
anggauta dari Kanglam Cithiap,
Tujuh Jago dari Kanglam. Co Jin Hu adalah yang tertua,
maka nyonya ini, Kim Jie namanya, pun menjadi yang tertua
di antara anak-anak saudara-saudara angkatnya. Sekarang,
nyonya itu sudah berusia lima puluh delapan tahun. Karena
dia menikah sama seorang she Tio di Tokkoan, dia jadi
dipanggil Tio Thaythay, atau Nyonya Tio, dan karena dia telah
berusia lanjut, pada panggilannya ditambahkan huruf "loo",
yang berarti tua. Suaminya itu bukan orang Rimba Persilatan,
karenanya, dengan sendirinya, si nyonya tidak lagi gemar
bersilat seperti masa mudanya, hanya meski demikian,
semangatnya tidaklah berkurang, cuma karena telah menjadi
terlebih sabar, tidak sudi dia melayani Kim Sie Ie di tengah
jalan itu. "Bagus benar kau membawa tingkahmu yang tinggi!" pikir
Sie Ie. "Jikalau aku tidak memandang Lu Su Nio bersahabat
dengan guruku dan kau pun telah berusia lanjut, pasti aku
akan menyeret kau turun dari kudamu!"
Sementara itu, keheranan pengemis edan ini menjadi
bertambah-tambah. Beruntun-runtun ia bertemu sama
turunan Kanglam Cithiap. Maka maulah ia menerka, mesti ada
sesuatu keperluan atau urusan di antara mereka itu. Karena
ini ia lantas mempercepat tindakannya, hingga di waktu
tengah hari tibalah ia di kaki gunung Binsan.
Tatkala itu ada di antara akhir musim semi atau di
permulaan musim panas, di atas gunung itu tampak bungabunga
melulu, sedang dari atas puncak terlihat turunnya air
tumpah dan munceratnya air itu tampak indah. Dengan
sendirinya terbangunlah kegembiraannya. Ia lantas
menghampirkan air tumpah itu, untuk membersihkan
mukanya, sebab untuk mengunjuk hormat kepada arwah Lu
Su Nio, ia tidak harus bertubuh dekil. Setelah itu, ia berjalan
ke arah kuburan jago wanita itu.
Segera juga ia berada di jalanan ke kuburan yang kiri
kanannya banyak pepohonannya, baru matanya dapat melihat
kuburannya wanita yang ia hormati itu atau lantas kupingnya
mendengar satu suara nyaring: "Tokciu Hongkay datang!" Ia
lantas mengangkat kepalanya, dongak melihat ke atas, dari
mana suara itu datang.
Di atas bukit terlihat sekumpulan orang yang tubuhnya
tinggi dan kate tak rata, di antaranya ada pangcu atau ketua
dari Kaypang atau Partai Pengemis, yaitu Ek Tiong Bouw,
serta iparnya yang telah menjadi janda, Cia ln Cin.
"Kiranya turunan Kanglam Cithiap lagi berapat disini," pikir
Sie Ie. Ia terus mengawasi mereka itu, untuk melihat kalaukalau
Kok Cie Hoa ada di antaranya.
Ketika itu tampak beberapa anak muda mendatangi dengan
cepat, sikap mereka garang. Di antaranya terdapat Lou Eng
Ho dan Pek Eng Kiat.
Sebenarnya hari itu ada hari ulang tahun dari Tokpie
Sinnie, Bhikshuni Tangan Satu, nenek guru mereka, yang
telah menutup mata pada lima puluh tahun yang lampau, dan
mereka hendak memperingatinya. Maka di gunung Binsan ini
berkumpullah turunan Kanglam Cithiap berikut sejumlah
sahabat kaum Rimba Persilatan. Justeru karena berkumpulnya
banyak orang itu, Eng Ho dan Eng Kiat menjadi berbesar nyali,
mereka mendahului maju guna menghalangi si pengemis
edan. "Eh, Kim Sie Ie, apakah kau menyangka ini ada tempat di
mana kau dapat berlagak-lagak?" demikian Eng Ho menegur.
Kim Sie le tertawa dingin.
"Apakah gunung Binsan ini milikmu?" dia balik bertanya.
"Kenapa aku tak dapat datang ke mari?" Dan dia maju terus,
sama sekali dia tidak menggubris anak muda itu.
Eng Ho gusar, juga Eng Kiat, dengan serta merta mereka
maju menyerang dengan pedang mereka. Nampaknya mereka
dapat menggunai pedang mereka secara bersatu padu, maka
liehay serangan mereka itu: yang satu menikam jalan darah
kiebun di iga kiri, yang lain menusuk jalan darah cengciok di
iga kanan. Kim Sie Ie tertawa.
"Kamu tidak mau menggunai aturan sopan santun, maka
akulah leluhurmu yang paling gemar tidak memakai aturan
sopan santun itu!"
Hanya dengan satu kelitan "Naga melingkar menggeser
kaki", Tokciu Hongkay dapat membebaskan dirinya, sedang di
lain pihak, dengan satu sentilan, ie membuatnya kedua
pedang lawan dengan bersuara nyaring terbang melesat.
Eng Ho dan Eng Kiat terkejut. Mereka pun merasakan sakit
pada telapakan tangan mereka. Di luar sangkaan mereka, Kim
Sie Ie menyentil pedang mereka dengan Tiatcie Sinkang,
Sentilan Jeriji Besi. Syukur untuk mereka, si pengemis edan
berlaku murah hati, jikalau tidak, tangan mereka itu bisa patah
karenanya. Sejenak itu lantas terdengar bentakan dan cacian untuk Sie
Ie, yang terus diserang oleh dua orang lainnya, yang dengan
satu tangkisan kiri dan kanan telah kena dibikin terpelanting
roboh. Menyaksikan kejadian itu, Co Loothaypo menjadi gusar.
"Kim Sie Ie!" bentaknya, "apakah kau sengaja
menyeterukan aku?"
Belum lagi Sie Ie menyahut, atau dua cucunya nyonya itu
telah menteriaki neneknya dengan kata-katanya tak usahlah si
nenek yang turun tangan, menyusul mana belasan senjata
rahasia lantas menyambar si pengemis edan.
Sie le pun menjadi gusar. Ia mainkan tongkat besinya
menghalau setiap senjata rahasia itu, hingga terdengarlah
suara "trang tring" yang berisik. Pelbagai senjata rahasia itu
tidak cuma tertangkis tetapi juga terhajar pecah atau hancur!
Sambil tertawa dingin Kim Sie Ie berkata nyaring: "Kamu
mempunyai senjata rahasia, aku juga! Jikalau kamu tidak
hendak menghentikan penyeranganmu, jangan menyesalkan
aku, nanti aku berlaku tak sungkan-sungkan lagi!"
Tokliong ciam, atau jarum Naga Beracun dari Kim Sie Ie,
terkenal sekali, maka itu tidak heran apabila ancamannya ini
memberi hasil. Rombongan pengepung itu bukannya takut
tetapi mereka jeri. Mereka insyaf, meskipun belum tentu
kalah, kalau lawan menggunai jarum beracunnya, mesti roboh
terlalu banyak korban di pihaknya. Maka berhentilah
penyerangan senjata rahasia itu.
Nyonya Co juga batal maju untuk menyerang, ia lantas
memikir untuk menyuruh beberapa orang, yang
kepandaiannya cukup, mengepung si pengemis edan, atau ia
lantas mendengar suaranya Ek Tiong Bouw: "Co Toacie,
baiklah kau menanyakan dulu maksud kedatangannya."
Perlahan suaranya orang she Ek ini, tetapi Sie Ie telah
mendengarnya, dia lantas tertawa dan mendahulukan berkata:
"Kamu murid-murid Kanglam Cithiap biasa menempatkan diri
sebagai orang-orang gagah yang mulia, siapa tahu kiranya
perbuatan kamu begini kasar dan tidak tahu aturan'"
Co Kim Jie adalah tertua dari saudara-saudara
seperguruannya, dia lantas maju ke muka dan berkata: "Kau
yang main gila disini, mengapa kau justeru mengatakan kami
tidak tahu aturan?"
Kim Sie Ie tertawa dingin.


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Salah siapa?" katanya. "Begitu aku tiba lantas kamu
merumung, apakah itu bukan namanya kasar dan tidak tahu
aturan" Apakah kamu masih mau membilang akulah yang
kurang ajar?"
Co Kim Jie menggetruk dengan tongkatnya.
"Kami seluruh saudara seperguruan berkumpul disini, kami
menjenguk kuburan nenek guru kami," dia berkata, dingin,
"maka apa perlunya kau orang luar lancang datang ke mari?"
Kim Sie Ie menunjuk pada banyak orang lain di atas
gunung. "Apakah mereka itu bukan juga orang luar?" ia tanya.
"Mereka itulah sahabat-sahabat kami!" menjawab si
nyonya, "Mereka bersahabat sama paman guru kami Kam
Tayhiap dan Lu Liehiap. Mereka datang untuk mengunjuk
hormat mereka! Perlu apa kau mencampuri urusan kami?"
Kim Sie Ie tertawa.
"Aku juga datang untuk mengunjuk hormatku!" katanya.
"Kau hendak mengunjuk hormat kepada siapa?"
"Kepada cianpwce liehiap Lu Su Nio!"
"Akan tetapi kami semua tidak kenal orang semacam
kau..." "Benarkah itu?" Kim Sie Ie tertawa. Dia lantas menunjuk Ek
Tiong Bouw dengan tongkat besinya seraya berkata pula: "Ek
Pangcu, kau masih mengenali aku atau tidak"'
Ek Tiong Bouw bertindak maju.
"Co Toacie," berkata ia, "inilah saudara Kim dan baru-baru
ini ia telah membantu banyak kepada kita."
Co Kim Jie menjadi sangat tidak senang, akan tetapi Ek
Tiong Bouw menjadi murid tunggal dari Kanglam Tayhiap Kam
Hong Tie dan juga sebagai pangcu dari Kaypang di Kanglam,
di antara sesama seperguruan, dialah yang paling tinggi
kedudukannya, tidak dapat ia tidak memberi muka, maka ia
lantas menanyakan bagaimana duduknya bantuan itu, setelah
mana ia kata pada Kim Sie Ie: "Kalau demikian adanya,
dengan memandang kepada Ek Sutee kami, kami tidak hendak
mempersulit padamu. Nah, pergilah kau turun gunung!"
"Apa?" tanya Sie Ie, romannya heran. "Kau menyuruh aku
menggelinding bagaikan telur?"
"Bukan. Aku hanya dengan sungkan meminta Tuan turun
dari gunung ini!"
Kim Sie Ie tertawa pula.
"Nyonya tua, kau masih belum mengenal tabiatku! Aku ini,
biarnya kau undang, tidak nanti aku datang, tetapi, setelah
aku datang, biarpun kau minta, tidak nanti aku pergi!"
"Hari ini hari peringatan ulang-tahun almarhum nenek guru
kami, Tokpie Sinnie," berkata Co Kim Jie, "tetapi kau berani
lancang datang kemari, sudah bagus yang aku tidak
menghukum kau untuk kesalahanmu ini, aku telah memberi
muka, maka itu jikalau kau tidak tahu gelagat maju atau
mundur, apakah kau menyangka benar-benar tidak ada orang
yang dapat menguasai dirimu?"
"Di kolong langit di mana ada aturan semacam ini?" berkata
Kim Sie Ie dingin. "Aku datang kemari untuk mengunjuk
hormat kepada orang yang menjadi tertua kamu, adakah itu
suatu kedosaan" Baiklah, jikalau kau hendak menempur,
selewatnya hari ini, akan aku melayanimu! Hari ini aku
memandang kepada Liehiap Lu Su Nio yang menjadi tertua
kamu, tidak suka aku menggeraki tanganku di depan
kuburannya!"
Habis berkata, ia mengangkat kakinya untuk bertindak naik.
Tapi Co Kim Jie menjadi sangat panas hatinya, la
mengangkat tongkatnya untuk menghalangi.
"Kim Sie le, kemana kau hendak pergi?" serunya
Kim Sie Ie pun menjadi gusar hingga ia tertawa terbahak.
"Apakah benar-benar kau melarang aku mengunjuk
hormatku?" ia menegaskan.
Ek Tiong Bouw lantas maju menghampirkan.
"Saudara Kim," katanya tertawa, "hari ini ada harian muridmurid
kami dan sahabat-sahabat mengunjuk hormatnya, maka
itu, sukakah kau datang lain hari saja?"
"Tidak!" berseru Kim Jie. "Lain hari juga tidak boleh! Lu
Kouwkouw ialah wanita gagah dari satu jaman, yang datang
mengunjuk hormat kepadanya mesti orang-orang gagah dari
golongan sejati, aku tidak dapat membiarkan seorang rudin
merendahkan kepadanya!"
Lie Goan, anaknya Lie Eng pun menghampirkan.
"Kau bukan sanak bukan kadang, tidak apa kau tidak
mengunjuk hormatmu!" katanya pada si pengemis edan
"Fui!" Kim Sie Ie meludah. "Semasa hidupnya Lu Su Nio,
dia tidak segarang kamu!"
Co Kim Jie takut terkena ludah berbisa, dia berlompat
mundur. Kim Sie Ie maju dua tindak, menyusul mana terdengar
suara "Traang!"
Co Kim Jie telah menggeraki tongkatnya, yang ditangkis si
pengemis. "Apakah benar kau hendak memaksa aku menggeraki
tangan di depan kuburannya Liehiap Lu Su Nio?" menanya Sie
Ie, yang tertawa dingin.
Hebat benturan kedua batang tongkat itu. Co Kim Jie
mundur dua tindak.
Lou Eng Ho bersama Pek Eng Kiat, Thia Ho, Lie Eng dan
yang lainnya lantas maju, dengan senjata mereka terhunus,
mereka menghalang di depan Kim Sie Ie.
Di saat sangat tegang itu, selagi kedua pihak bakal segera
menggunai senjata mereka, mendadak terdengar suara
nyaring halus seperti suara kelenengan perak: "Saudarasaudara,
tahan dulu! Sukalah kau mendengar perkataan
adikmu ini!"
Dengan "adikmu" diartikan siauwmoay, ialah wanita.
Kim Sie Ie sudah lantas menarik tongkatnya, hatinya
berdebaran. Ia menoleh memandang orang yang membuka
suara itu, yang bukan lain daripada Kok Cie Hoa!
Nona itu muncul dari belakang sebuah batu besar, lalu dia
bertindak perlahan-perlahan, bajunya memain di antara
sampokan angin, romannya cantik dan segar, membuat
beberapa murid Kanglam Cithiap saling berbisik: "Eh, siapakah
dia" Dia murid siapakah?"
Memang, di antara sesama seperguruannya, ada delapan
atau sembilan orang yang belum mengenal nona Kok itu,
sedang Kim Sie Ie merasa girang berbareng menyesal, hingga
dia berkata di dalam hatinya: "Kenapa baru sekarang kau
muncul?" Co Kim Jie memandang dengan mata tajam.
"Kau muridnya siapa?" tanyanya setelah orang datang
dekat. Agaknya Kok Cie Hoa rada bergelisah tetapi ketika ia
menyahut, sikapnya tenang
"Teccu ialah muridnya Lu Su Nio," katanya "Sukalah
ciangbun suci menerima hormatku."
Cia In Cin heran mendengar pertanyaannya Co Kirn Jie itu.
Dulu hari di Binsan, setahun sebelumnya, Lu Su Nio meninggal
dunia, di saat berkumpulnya kawan seperguruan, ia pernah
melihat nona ini, bahkan Kim Jie pun pernah memberitahukan
dia bahwa Lu Su Nio mempunyai murid bungsu itu. Pula, di
waktu baru tiba, Cie Hoa pun mengunjuk hormatnya. Saking
heran, dia berpikir: "Tidak mungkin Co Toacie lupa, atau kalau
ia lupa, tidak nanti ia lupa sampai begini..."
Ketika itu murid-murid Kanglam Cithiap belum berkumpul
semua, upacara sembahyang belum dapat dimulai, meski
jumlah hadirin sudah banyak sekali, mereka belum
diperkenalkan satu dengan lain, kedudukan mereka masih
belum diatur, di antara mereka banyak yang tidak mengenal
Cie Hoa, tidak heran mereka itu merasa heran dan saling
bertanya. Tapi juga ada yang girang sebab Lu Su Nio, dalam
usia lanjut, masih mempunyai murid yang muda belia itu.
Nona ini ditaksir baru berumur sembilan belas tahun, jadi
dipadu dengan Co Kim Jie, Kim Jie lebih tua tiga lipat, bahkan
ada di antara mereka, yang pernah keponakan, yang usianya
masih lebih tinggi...
"Kau hendak bicara apa?" kemudian Co Kim Jie menanya.
Orang sudah memperkenalkan diri, sikapnya masih tawar,
pandangan matanya tetap tajam.
"Aku mengharap suci mendapat ketahui," berkata Cie Hoa,
"semasa hidupnya suhu, suhu pernah memberitahukan aku
bahwa suhu mempunyai seorang sahabat kekal yang
tinggalnya di pulau Coato di laut Tanghay dan namanya
Tokliong Cuncia. Menurut apa yang aku tahu, Tokliong Cuncia
itu ialah gurunya ini tuan Kim Sie Ie."
"Tidak salah," Cia In Cin turut bicara. "Tentang ini aku
pernah mendengar dari Tong Siauw Lan, ciangbunjin dari
Thiansan Pay."
Kok Cie Hoa tidak menanti kata-katanya Co Kim Jie, ia
melanjuti perkataannya: "Gurunya Kim Sie Ie bersahabat erat
dengan guruku, sekarang Kim Sie Ie datang untuk mengunjuk
hormat, sudah sepantasnya saja bila dia diijinkan turut ambil
bagian di samping selaku seorang sahabat."
Memang, menurut aturan, tidak dapat sahabat ditolak
selagi sahabat itu mau mengunjuk hormatnya.
Co Kim Jie tidak dapat mengukuhi sikapnya.
"Jikalau begitu," katanya apa boleh buat, "baiklah tuan Kim
ini turut mengunjuk hormatnya hanya untuk sementara,
sukalah dia menanti dulu sampai kita sudah selesaikan semua
upacara kita."
Mendengar perkataannya orang she Co itu, Kim Sie Ie tidak
berani mendesak pula, terpaksa ia mundur ke pinggiran, tetapi
ketika ia mengawasi Kok Cie Hoa, si nona justeru lagi
memandang ke arahnya. Ia menjadi malu sendirinya. Ia
menyesalkan caranya berdandan itu.
"Thia Ho, mari daftar nama-nama!" kata Co Kim Jie setelah
redanya suasana.
Thia Ho ada murid kepala dari Ciu Sim. Ia yang mengurus
daftar, maka ia menyerahkan itu kepada ini suci, kakak
seperguruan, yang menjadi ciangbunjin, ketua mereka. Ia
kata: "Yang telah datang ada dari tiga tingkat, jumlahnya
enam puluh empat orang. Ada enam yang tak dapat hadir.
Tiga lagi menyatakan mau datang tetapi sampai sekarang
mereka belum tiba."
"Tidak usah kita menantikan mereka lagi," berkata Kim Jie.
"Pertemuan kita ini diadakan setiap sepuluh tahun dan kali ini
hadirin berjumlah paling banyak, maka sekalian paman guru di
tanah baka tentulah girang sekali."
Lantas Kim Jie membacakan daftar itu, menurut
susunannya. Kim Sie Ie memasang kuping. Dengan bergantian setiap
nama dibacakan. Ketika telah disebut kira-kira empat puluh
nama, namanya Kok Cie Hoa masih belum dibacakan, la
menjadi heran. Walaupun usianya muda sekali, Cie Hoa ada
muridnya Lu Su Nio. Dengan Kanglam Cithiap telah menutup
mata semuanya, kedudukan nona ini jadi seimbang dengan
kedudukan Co Kim Jie dan Ek Tiong Bow, ialah golongan
pertama. Kim Jie telah membacakan nama golongan kedua
tetapi nama Cie Hoa terus tidak kedapatan
Yang heran itu bukan melainkan Kim Sie Ie, juga orang
dalam sendiri. Segera juga terdengar Co Kim Jie membaca namanya dua
cucutnya. Itulah orang-orang dari golongan ketiga, bahkan
yang usianya paling muda.
Di lain saat, selesai sudah pembacaan daftar, sambil
menggulung itu, Kim Jie berkata: "Sekarang semua berdiri rapi
menurut tingkatnya, bersiap untuk memberi hormat kepada
sucouw!" Dengan semua orang mengambil tempatnya maka Kok Cie
Hoa tampak berdiri mencil sendirian di pinggiran. Semua
orang menjadi saling berbisik. Yang paling heran ialah Thia
Ho, yang terus berkata di dalam hatinya: "Terang-terang telah
aku mencatat namanya! Mungkinkah suci kelompatan
membaca. Kalau benar, setelah sekarang terlihat dia berada
sendirian, namanya toh boleh dibacakan juga. Kenapa suci
berdiam saja?" Ek Tiong Bouw menjadi tidak dapat menahan
sabar lagi, dari golongan pertama, ialah anggauta yang kedua.
"Suci, bukankah kau kelompatan satu nama?" ia menanya
berbisik. Kim Jie mementang kedua matanya. Ia tidak menjawab
adik Seperguruan itu, hanya ia menggapai kepada Cie Hoa
seraya memanggil: "Kau kemari!"
Cie Hoa pun tidak mengerti kenapa namanya kelompatan,
ia menghampirkan dengan likat.
"Ada titah apa, suci?" ia menanya.
"Kau tanggalkan pedangmu!" berkata kakak seperguruan
itu, atau ketua. "Kau pun harus menyerahkan kitab pedang
dari Lu Kouwkouw, bibi kami."
Cie Hoa menjadi sangat kaget.
"Suci, apakah artinya ini?" dia tanya.
"Pedang dan kitab pedang itu milik kaum kami!" menyahut
sang ketua. "Mana dapat pedang dan kitab itu dibawa-bawa
kau?"' Kata-kata ini membuat heran dan kaget semua hadirin.
Tadi cuma Cie Hoa sendiri yang tidak mengerti. Titah Kim Jie
ini berarti nona itu tidak diaku sebagai kaum mereka.
Kim Sie Ie heran hingga ia menduga-duga: "Di dalam
Kanglam Cithiap, ilmu silatnya Lu Su Nio yang nomor satu
liehay. Mungkinkah tua bangka ini mengarah ilmu silat Hian
Lie Kiamhoat dari Lu Su Nio itu dan ia hendak
mengangkanginya sebagai kepunyaannya sendiri?"
Semua hadirin heran. Co Kim Jie memang bersikap keras
tapi diketahui dia jujur, tidak nanti dia bertemaha akan
pedang dan kitab pedang. Kenapa sikapnya itu"
Maka semua makin heran dan menjadi tercengang.
Cie Hoa pun tercengang tetapi ia dapat lekas menyadari
diri. "Ciangbun suci," katanya kemudian, "tolong kau
menjelaskan apa salah dosaku, maka kau hendak mengusir
aku dari kaum kita?" Ia menanya begitu sebab ia mengerti,
pengambilan pulang pedang dan kitab pedang berarti
pemecatan. Co Kim Jie tertawa dingin.
"Jikalau kau berbuat salah, apa kau kira aku cuma
mengusir saja padamu?" katanya, balik menanya.
Cie Hoa tidak mengerti, ia menjadi penasaran. Maka ia


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menghadapi para hadirin.
"Para cianpwee, aku mohon menanya, adakah aturan
pemecatan secara begini?" dia menanya nyaring. "Adakah
orang tidak bersalah tetapi diusir?"
"Inilah urusan keluarga kita sendiri!" kata Kim Jie bengis.
"Apakah kau ingin minta orang luar mencampurinya?"
Memang benar ada beberapa tetamu yang merasa heran,
yang ingin menanyakan keterangan, tetapi mendengar
suaranya Kim Jie itu, mereka terpaksa menahan sabar.
"Jikalau begitu, aku mohon pertimbangannya sesama
saudara kita," kata pula Kok Cie Hoa. "Dapatkah ciangbunjin
dibiarkan bertindak sewenang-wenang menurut suka hatinya
mengusir siapa yang dia tidak sukai?"
Semua orang separtai itu saling mengawasi atau mereka
bengong, berdiam saja Mereka juga heran atas sikapnya ketua
mereka ini. "Suci, aku minta sukalah kau memikir pula masak-masak,"
Ek Tiong Bouw, kembali berbisik. "Aturan memecat anggauta
cuma dapat dilakukan terhadap anggauta yang bersalah
besar, baik dia bersalah melanggar aturan maupun karena
perbuatannya yang buruk di luaran. Di dalam kalangan kita
cuma pernah terjadi pengusiran kepada Liauw In seorang,
ketika itu kesalahannya telah terbukti dan keputusan pun
diambil setelah didengar suara terbanyak pihak kita."
Kim Jie tertawa dingin.
"Tiong Bouw, apakah kau kira aku tidak ketahui aturan itu!"
kata ketua ini. Lantas ia menghadapi Cie Hoa dan berkata
dengan nyaring: "Benar-benarkah kau, ingin aku
mengatakannya" Sebenarnya, untuk kebaikan kau sendiri,
lebih baik aku tidak usah menjelaskan sesuatu!"
"Apa juga kesalahanku, aku minta suci menjelaskan!" kata
Cie Hoa, suaranya pun nyaring. "Jikalau memang benar aku
bersalah, aku akan mati puas!"
"Baik! Karena memaksa aku, nanti aku menyebutkannya!"
kata ketua itu. "Sekarang aku hendak menanya dulu pada
kau: Kau she apa?"
"Aku she Kok, namaku Cie Hoa," sahut si nona. "Bukankah
tadi aku telah memberitahukan kepada suci?"
"Siapakah ayahmu?" tanya suci itu tanpa menjawab dulu.
"Kok Ceng Peng dari Siang-yang," sahut si nona.
Kok Ceng Peng adalah Liang Ouw Tayhiap, atau orang
gagah kenamaan dari Ouwpak dan Ouwlam, maka itu para
hadirin, yang mengenalnya, pada berpikir: "Taruh kata nona
kecil ini bersalah besar, dengan melihat ayahnya itu, dia dapat
dimaafkan..."
Parasnya Kim Jie jadi keren, dengan tajam ia menatap Cie
Hoa. "Aku menanyakan ayahmu sejati!" katanya bengis. "Apakah
Cok Ceng Peng itu ayahmu sejatimu?"
"Walaupun dia ayah angkatku tetapi dialah yang merawat
aku semenjak kecil, dia sama dengan ayah betulku."
"Jadi kau bukan berasal she Cok! Apakah she asalmu?"
"Tentang itu pernah aku menanya ayah angkatku dan dia
mengatakan she Beng."
Kembali Kim Jie bersikap keren. Ia menanya pula tak
kurang bengisnya: "Habis siapa itu ayah betulmu?"
Kedua matanya Cie Hoa menjadi merah, air matanya lantas
mengalir turun. Ia menangis. Tapi ia menjawab: "Ketika aku
mulai dirawat ayahku, aku masih bayi. Sampai saat ini, aku
masih belum tahu siapa ayah betulku itu..."
Co Kim Jie tertawa dingin.
"Hm, sungguh kau berbakti!" katanya. "Ayah angkatmu
menutup mata pada tahun yang baru lalu, ketika ia hendak
menutup matanya, apakah dia masih juga tidak
memberitahukan itu kepadamu?"
Cie Hoa bersedih bukan main, dia sesegukan.
"Ayah angkatku pun tidak tahu," sahutnya. "Kalau ia
memberitahukan, mustahil aku tidak pergi mencari ayahku
itu?" "Kalau begitu, sukalah aku memberitahu padamu!" kata
Kim Jie, tawar. "Ayahmu yang sejati itu tinggal di kaki gunung
Thayheng San, jaraknya dari sini cuma seperjalanan tiga hari.
Tentang namanya yang benar, aku pun tidak tahu, hanya
kaum kangouw menyebutnya Beng Sin Thong!"
Mendengar itu, semua orang terperanjat. Siapa pun di
antara mereka mengetahui bahwa Beng Sin Thong adalah si
iblis yang tidak segan melakukan segala macam perbuatan
jahat, yang kemudian sepak terjangnya terahasia sekali
karena selama dua puluh tahun tak tahu orang di mana
beradanya dia. Siapa menyangka dia justeru tinggal di kaki
gunung Thayheng San. Tapi yang paling di luar dugaan adalah
Kok Cie Hoa-si nona ini-ialah puterinya!
Kim Sie Ie tidak menjadi kecuali. Meski juga dia
berpengalaman dan tak takut apa juga, dia menju-blak saking
tercengangnya. "Dia anaknya Beng Sin Thong" Dia anaknya Beng Sin
Thong?" demikian katanya di dalam hati berulang-ulang.
"Tidak! Tidak! Inilah aku tidak percaya!'
Kok Cie Hoa berdiri di hadapannya, nona itu demikian
cantik dan agung, hatinya pemurah, tidak sedikit juga tandatandanya
bahwa dia turunan kaum sesat, maka mana
mungkin dialah puterinya Beng Sin Thong si hantu"
Pikirannya Sie Ie ini menjadi juga pikirannya semua hadirin.
Bukankah Cie Hoa telah dipiara, dirawat dan dididik Kok Ceng
Peng, jago kenamaan dari Liang Ouw, kedua propinsi Ouwlam
dan Ouwpak" Bukankah kemudian dia telah dirawat dan
dididik oleh Lu Su Nio, seorang tertua mereka yang gagah,
hatinya mulia, dan sangat ternama" Setelah belasan tahun
dipimpin Lu Su Nio, dia menjadi begini kosen dan polos
romannya, begini sederhana! Mana roman dari kesesatannya"
Co Kim Jie membiarkan semua hadirin itu terombangambing
dengan keheranan mereka, ia menoleh ke belakang
kuburan di mana ada taman, tangannya menggapai mulutnya
memanggil: "Liu Toako, silahkan datang kemari!"
Di sana muncul seorang pria umur kira-kira empat puluh
tahun, bajunya abu-abu, romannya sangat lesu. Dialah yang
dipanggil, maka dia lantas menghampirkan dengan
tindakannya sangat perlahan.
Kapan Cie Hoa melihat orang itu, ia heran.
"Liu Heng Som, Liu Toako!" ia berseru. "Kaukah, toako?"
"Ya," menyahut pria itu.
Dia memang Liu Heng Som, dialah muridnya Kok Ceng
Peng, bahkan dia murid satu-satunya, Ceng Peng tidak
mempunyai anak perempuan, Cie Hoa dipandang sebagai
sumoay, saudara seperguruan, kakak dan adik, akan tetapi
pergaulan mereka mirip ayah dan anak. Ketika Cie Hoa berusia
delapan tahun dan dikirim ke Binsan, Heng Som adalah orang
yang mengantarkannya.
Heng Som tunduk, ia berkata pula: "Setelah duduknya hal
sampai begini jauh, tidak dapat aku tidak bicara dari hal yang
benar..." Kim Jie berpaling pada Ek Tiong Bouw.
"Ek Sutee," katanya, "pada dua puluh tahun dulu suheng
Ciu Kie telah dibikin celaka orang di phoatang, apakah
musuhnya telah ketahuan siapa adanya?"
Pikiran Tiong Bouw sedang kacau, ditanya begitu, ia
melengak. "Ya, sudah ketahuan," sahutnya selang sesaat. "Musuh itu
ialah Beng Sin Thong. Baru beberapa hari yang lalu kami
menempur dia, hanya sayang aku tidak mempunyai
kepandaian, dia dapat lolos..."
Biarnya Cie Hoa puterinya Sin Thong, Tiong Bouw tidak
dapat membencinya. Inilah yang membuatnya menjadi
bingung dan pikirannya kacau itu.
Akan tetapi Co Kim Jie mendesak.
"Setelah Ciu Suheng itu dicelakai orang," katanya, "kau
telah mengundang banyak sahabat dari Rimba Persilatan,
untuk bersama-sama mencari si orang jahat. Benarkah itu?"
"Tidak salah," Tiong Bouw mengaku. "Hal itu pun kemudian
aku telah memberitahukan kepada Lu Susiok. Hanya pada
mulanya sebab Lu Susiok berada jauh di propinsi Holam, aku
tidak keburu mengabarkan padanya untuk sekalian mohon
ialah yang memegang pimpinan mencari musuh kita itu."
"Tindakanmu itu benar," kata kim Jie. "Aku tidak menegur
atau mempersalahkan padamu. Sekarang aku hendak
menanya kau, apakah kau kenal ini Liu Toako?"
"Aku mengenali dia," menjawab Tiong Bouw. "Dialah Toako
Liu Heng Som. Dulu hari itu Liu Toako datang bersama Kok
Loo cianpwe."
"Liu Toako," Kim Jie berkata pada Heng Som, "aku minta
sukalah kau menuturkan tentang pengepungan si penjahat,
dan ketika di tengah jalan, apakah yang telah diketemukan?"
Liu Heng Som memandang Kok Cie Hoa, baru ia bicara.
"Dulu hari itu orang mencari si penjahat dengan
berpencaran," ia bercerita. "Aku turut rombongannya guruku.
Ketika kita menyusul sampai di dekat sungai Ceng-in, di
tempat yang belukar, di sana kita menemui seorang nyonya
yang terluka parah dan ia sedang memeluki seorang anak
umur satu tahun kira-kira. Nyonya itu rebah tidak berdaya, ia
seperti menantikan kematiannya."
Mendengar sampai disitu, orang semua merasakan hatinya
berat tertindih... Liu Heng Som menghela napas, lalu ia
meneruskan: "Guruku merasa berkasihan, ia telah menolong
ibu dan anak itu, yang ia bawa pulang. Nyonya itu terluka
parah, beberapa hari kemudian dia menutup mata.
Sebelumnya dia mati, guruku pernah menanyakan dia, perihal
asal-usulnya dan sebabnya kenapa dia terluka. Nyonya itu
melainkan mengatakan dia sekeluarga dicelakai musuh, tetapi
siapa musuhnya, dia tidak sudi menyebutkan.
Lebih-lebih tak suka dia menutur tentang dirinya. Hanya di
saat napasnya mau habis, sambil menunjuk anaknya dia
mengatakan 'Beng.' Mungkin dia mau memberitahukan anak
itu she Beng. Guruku heran. Ia memeriksa pakaian si nyonya.
Ia mendapatkan senjata rahasia istimewa dari Beng Sin Thong
yaitu Lengyam piauw. Ketika itu ilmu Siulo Imsat Kang dari
Beng Sin Thong belum semahir sekarang, maka juga di waktu
menghadapi musuh, dia suka menggunai senjata rahasianya
itu. Dengan didapatkannya piauw itu, guruku mengetahui
nyonya itu ialah isterinya Beng Sin Thong, maka ia lantas
mencoba mencari keterangan. Menurut apa yang didengar,
Beng Sin Thong dan isterinya itu, di tengah jalan, telah kena
dibegal. Dia membuat perlawanan, dia membinasakan
beberapa musuh, lalu meloloskan diri. Isterinya itu terluka
parah dan terpisah dari dia. Sisa-sisa musuhnya, yang pun
terkena Lengyam piauw, tidak berani mengejar padanya.
Mungkin, habis melakukan perlawanan, nyonya itu, yang
terluka, kehabisan tenaga, maka ia roboh di tengah tegalan itu
dalam keadaan menantikan kematian. Musuh-musuhnya Beng
Sin Thong, sebagaimana dikatakan isterinya, sebenarnya ialah
serombongan orang gagah dan mulia."
Heng Som berhenti sejenak, sinar matanya perlahan-lahan
berkisar dari tubuhnya Kok Cie Hoa. Kemudian ia melanjuti
keterangannya: "Setelah mengetahui anak itu anaknya Beng
Sin Thong, guruku menjadi merasa sukar sekali. Bayi itu gesit
dan manis romannya, sebenarnya ia tidak ingin merawatnya
tetapi ia ketarik hatinya, ia tak tega melepaskannya. Aku ingat
ketika itu guruku menghela napas dan mengatakan: 'Ayah dan
ibu berdosa tetapi anaknya tidak.' Maka ia lantas merawat
anak itu. Beng Sin Thong banyak sekali musuhnya, guruku
kuatir, setelah anak itu besar, dia nanti mendatangkan
kepusingan, dari itu ia menyembunyikan asal-usulnya, hingga
kejadian si anak sendiri tidak mengetahuinya..."
Sekonyong-konyong Cie Hoa menjerit nangis. Itulah
pukulan hebat untuknya, la merasa terhina dan malu.
"Sumoay, jangan kau sesalkan aku," berkata Heng Som
perlahan. "Co Loo cianpwe menanyakan, tidak dapat aku tidak
menjawab. Masih ada satu hal, yang kau belum ketahui. Pada
setengah tahun yang baru lalu aku pergi ke Binsan untuk
menjenguk kau, di tengah jalan aku bertemu dengan Hang
Hong, murid kepala dari Beng Sin Thong, hampir aku
terbinasa di tangan dia, syukur Co Loo cianpwe menolongi
aku. Hang Hong itu mau mencari tahu segala apa mengenai
Beng Sin Thong. Semenjak itu selama dua puluh tahun aku
menutup rahasia tentang dirimu, kepada Co Loo-Cianpwee
aku tidak membilang suatu apa."
Sekian lama orang tertarik dengan keterangannya Liu Heng
Som, orang tidak ingat untuk memperhatikan dirinya, baru
sekarang mereka melihatnya tegas. Dia berkulit kuning,
tubuhnya kurus, dan di pempilingannya masih ada beberapa
titik hitam yang belum lenyap, tandanya dia belum sembuh
betul akibat serangan Siulo Imsat Kang. Inilah rupanya yang
menyebabkan ia sangat membenci Beng Sin Thong. Justeru
yang menanyakan dia ialah Co Kim Jie, dia menjadi suka
menutur semua-semua dengan jelas. "Saudara-saudara
seperguruan," kata Kim Jie kemudian, "bukankah kamu telah
dengar ketegangannya Liu Heng Som" Kok Cie Hoa ialah
anaknya Beng Sin Thong, inilah tidak dapat disangsikan pula.
Ayah dia menjadi musuh besar kami, dari itu cara bagaimana
hatiku bisa berlega membiarkan anaknya bercampur baur
dengan kita?"
Semua murid Kanglam Cithiap itu berdiam, mata mereka
beralih dari ketua mereka kepada Kok Cie Hoa, bergantian.
Apa mereka bisa bilang"
Selang sejenak Ek Tiong Bouw berkata dengan perlahan:
"Ketika dia diterima menjadi murid, apakah Lu Kouwkouw
pernah diberitahukan Kok Ceng Peng tentang asal-usulnya
ini?" Menurut aturan kaum Rimba Persilatan, jikalau Lu Su Nio
mendapat tahu Cie Hoa anak musuh partainya dan ia toh
menerima anak itu, maka pertanggungan jawab ada pada
dirinya Lu Su Nio sendiri, kecuali Cie Hoa melakukan
pelanggaran tak berampun, lain orang tidak dapat
menghukum padanya.
Kim Jie tidak menjawab pertanyaan Tiong Bouw itu, hanya
ia berpaling kepada Heng Som, untuk berkata: "Liu Toako,
tolong kau menjelaskan kejadian di saat kau mengantarkan
dia ke gunung Binsan."
Heng Som suka memberikan pula keterangannya.
"Setelah guruku menerima anaknya Beng Sin Thong itu
sebagai anak pungutnya, hatiku tidak tenteram," kata ia.


Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Itulah sebab orang kangouw yang mencari Beng Sin Thong
makin lama menjadi makin banyak. Sementara itu guruku
mengandung niat membikin anak itu menjadi seorang nona
gagah dan mulia, agar dia dapat menebus dosa ayahnya. Ia
lantas memikirkan, siapa yang dapat dijadikan guru anaknya
itu. Lantas ia teringat kepada Lu Su Nio yang gagah perkasa.
Lu Su Nio itu pernah datang ke rumah guruku sebagai tetamu
dan dia pernah melihat Cie Hoa. Dia menyukai anak itu dan
membilang bahwa otaknya cerdas. Karena ini, tempo anak itu
masuk umur delapan tahun, ia menyuruh aku membawa,
mengantarkan ke Binsan, buat diserahkan kepada Lu Su Nio,
yang diminta suka menerimanya sebagai murid. Ketika itu
guruku memesan, umpama kata Lu Su Nio menerima anak itu,
aku diharuskan menutur segala apa dengan jelas. Nyatanya Lu
Su Nio menerima anak itu tanpa menolak lagi dan juga tanpa
menanyakan hal ikhwalnya. Karena itu, aku tidak
memberitahukan apa-apa. Aku kuatir, jikalau aku
menjelaskan, Lu Su Nio nanti menampik. Di belakang hari,
guruku ada omong hal itu pada Lu Su Nio atau tidak, itulah
aku tidak tahu."
"Lu Kouwkouw kami itu pandai ilmu surat, ia mengerti adat
istiadat, hidupnya sebagai seorang liehiap sejati," berkata Co
Kim Jie, "maka itu, kalau dia ketahui anak itu anaknya Beng
Sin Thong, mana dia sudi menerimanya sebagai murid"
Karena itu tentulah Kok Ceng Peng pun tidak memberikan
keterangan apa-apa padanya. Saudara-saudara, umpama kata
anak ini bukan anaknya musuh partai kami, untuk nama
baiknya Lu Kouwkouw, kita pun tidak dapat membiarkan dia
menjadi ahli waris Kouwkouw kami itu sebab dialah anaknya
musuh khalayak ramai!"
Mendengar itu semua, mukanya Cie Hoa bergantian
menjadi merah dan pucat, la malu dan gusar. Maka akhirnya
ia menyusut air matanya, ia berkata dengan keras: "Ciang-bun
suci, aku tahu betul belum pernah aku melakukan apa juga
yang dapat merusak nama guruku!"
"Sekarang tidak, siapa tahu di belakang hari?" menjawab
ketua itu. "Ayah dan ibumu ada orang-orang macam demikian
mana dapat aku percaya kau" Apapula sekarang kau telah
mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya! Umpama kejadian
di lain hari ayahmu itu bentrok sama partai kami, selagi kau
dengan dia adalah anak dan ayah, mana dapat aku berlega
hati" Sekarang begini saja: Mengingat kau tidak mempunyai
kesalahan, kau kembalikan saja kitab ilmu pedang dan
pedangmu itu, kita tidak akan musnahkan kepandaianmu!
Dengan begini kita sudah berlaku murah hati. Apakah kau
masih tidak puas?"
"Tentang ayahku pernah bicara atau tidak kepada guruku,
aku tidak tahu," kata Cie Hoa, "akan tetapi di saat guruku
hendak menutup mapa, ia telah meninggalkan pesan."
"Pesan apakah itu?" tanya Kim cie.
"Guruku membilang bahwa Beng... Beng Sin Thong tinggal
di kaki gunung Thayheng San," menyahut si nona, "bahwa
guruku telah mengetahuinya. Atas itu aku tanya... tanya
guruku..."
"Kau tanya apa?" Kim Jie 'memotong
"Ketika itu aku belum tahu dialah ayah benarku, maka aku
tanya... aku tanya..."
"Kau tanya gurumu kenapa gurumu tidak menyingkirkan
Beng Sin Thong, bukankah?" Ek Tiong Bouw pun memotong.
Cie Hoa mengangguk.
"Habis apakah katanya gurumu?" Kim Jie tanya, keras.
"Guruku bilang bahwa di antara orang partainya tentu bakal
ada yang membuat perhitungan dengan Beng... Beng Sin
Thong, maka itu aku dilarang turun tangan sendiri..."
Adalah aturan sopan santun seorang anak dilarang
menyebut nama ayah dan ibunya, itulah sebabnya kenapa Cie
Hoa bersangsi menyebut namanya Sin Thong. Bahwa ia
akhirnya toh menyebutnya juga, itulah karena ia terlalu murka
dan mendongkol.
Ketika itu di antara para hadirin, terutama kaum Binsan Pay
sendiri, Berdapat pikiran umum ini: "Anak ini berpisah dari
ayah dan ibunya di waktu masih kecil sekali, lalu selama dua
puluh tahun ia dirawat dan dididik oleh Liang Ouw Tayhiap
Kok Ceng Peng dan Liehiap Lu Su Nio, maka itu dia dapatlah
dipandang sebagai orang sendiri. Dengan begitu juga, dengan
Beng Sin Thong dia tidak ada hubungannya sedikit juga,
sedang romannya pun tidak mirip-miripnya, maka tak dapat
dianggap lagi sebagai anak Beng Sin Thong."
"Guruku juga memesan," berkata pula Cie Hoa, "katanya
kalau di belakang hari ada orang partainya mencari Beng Sin
Thong untuk membuat perhitungan, aku harus menyerahkan
tiga jilid kitab rahasianya yang diberi nama Siauwyang
Hiankong Pitkoat. Guruku menjelaskan juga bahwa ia ketahui
sejak sepuluh tahun yang lalu Beng Sin Thong tinggal di kaki
gunung Thayheng San. Bahwa Beng Sin Thong belum selesai
dengan peryakinannya ilmu Siulo Imsat Kang, sedang guruku
sendiri untuk sementara tidak memperhatikannya. Sepuluh
tahun lamanya guruku berlatih, baru ia menginsyafi ilmu
Siauwyang Hiankong itu. Guruku menjelaskan, ilmu ini belum
dapat digunakan memecahkan Siulo Imsat Kang tetapi sudah
dapat dipakai menangkis racunnya ilmunya Beng Sin Thong
itu. Katanya, siapa sudah mempunyai dasar ilmu tenaga
dalam, dia dapat mempelajari Siauwyang Hiankong dalam
tempo paling lama setengah sampai satu tahun. Guruku
membilang juga, asal ada dua atau tiga jago partainya yang
mengerti ilmu ciptaannya itu, maka mereka itu akan dapat
melawan Beng Sin Thong. Sekarang ini aku ada bawa kitab
Siauwyang Hiankong Pitkoal itu, ini aku serahkan pada suci."
Ek Tiong Bouw sangat memperhatikan perkataannya Cie
Hoa, setelah nona itu berhenti berbicara, sesudah berpikir
sejenak, ia kata dengan perlahan pada ketuanya: "Mendengar
omongannya dia ini, rupanya Lu Kouwkouw sudah mengetahui
bahwa dialah anaknya Beng Sin Thong, maka dia dilarang
turun tangan sendiri, dia cuma dipesan untuk menyampaikan
kitab ilmu silat istimewa itu. Oleh karena ini, tidak dapatkah
dia diberi keringanan?"
Sepasang alisnya Kim Jie bangun berdiri.
"Inilah melulu dugaan!" katanya. "Itulah alasan belaka.
Jikalau Lu Kouwkouw telah mendapat tahu asal-usulnya dan
juga bersedia mengampuni dia, maka pasti kouwkouw
meninggalkan pesan untukku. Beberapa bulan sebelum Lu
Kouwkouw menutup mata kau bersama Cia In Cin telah pergi
ke Binsan, ketika itu, apa saja katanya kepada kamu?"
"Lu Kouwkouw tidak membilang apa-apa kecuali bahwa ia
merasa tenang hati karena suci menjadi ciangbunjin,"
menyahut Tiong Bouw. "Lu Kouwkouw telah mengetahui yang
hidupnya di dalam dunia tidak bakal lama lagi."
"Itulah lumrah saja," kata Kim Jie mengangguk. "Aku selalu
berlaku jujur, pasti kouwkouw menaruh kepercayaan besar
atas diriku." Ia lantas menghadapi Kok Cie Hoa kepada siapa
ia kata dengan nyaring: "Mengingat yang kau telah
menyerahkan kitab Siauwyang Hiankong Pitkoat, suka aku
memberi keringanan padamu. Sekarang kau boleh tetap
memiliki pedang Songhoa kiam kepunyaan Lu Kouwkouw,
tetapi kitab ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat, kitab itu ada
karyanya Sucouw kami Tokpie Sinnie, itulah pusaka partai
kami, kau harus menyerahkan itu! Setelah kau keluar dari
partai kami, asal kau tidak melakukan kejahatan, partai kami
tidak akan memandang kau sebagai musuh!"
Cie Hoa kaget. "Suci," katanya, "jadinya kau... kau tetap tidak mau
mengijinkan aku sebagai anggauta partaimu?"
Suaranya nona ini gemetar saking kerasnya guncangnya
hatinya. "Perkataanku telah diucapkan tegas sekali," kata ketua itu
dingin. "Mustahilkah kau masih kurang jelas?"
"Sebelumnya guruku menghembuskan napasnya yang
terakhir," kata Cie Hoa, membandel, "dengan sungguhsungguh
guruku telah mewariskan kitab pedang itu padaku
seraya ia menugaskan aku sebagai ahli warisnya, maka itu
tidak dapat aku mensia-siakan jerih payahnya selama sepuluh
tahun merawat dan mendidik aku!"
Co Kim Jie menjadi gusar sekali.
"Beranikah kau tidak mendengar perkataanku?" tanyanya
bengis. "Dengan menitahkan kau menyerahkannya dengan
baik-baik, itu tandanya aku telah memberikan muka padamu!
Jikalau kau membelar, aku dapat menjalankan aturan partai
kami!" Air mukanya Ek Tiong Bouw menjadi guram, agaknya ia
ingin bicara tetapi batal.
Kim Jie melirik saudara seperguruan itu, lalu dia
menambahkan: "Anak ini ada anaknya musuh partai kita,
sekarang dia telah mengetahui siapa ayahnya yang benar,
maka siapakah yang berani menjamin bahwa dia tidak
berkongkol sama Beng Sin Thong, ayahnya" Siapakah yang
dapat bertenteram hati melihat dia bercampur gaul di antara
kita?" Kali ini Kim Jie bicara terhadap saudara seperguruannya. Di
antara mereka itu ada yang ingin mengutarakan sesuatu, akan
tetapi kapan mereka ingat akan jaminan itu, mereka
bersangsi. Mata Kim Jie menyapu Tiong Bouw, dia ini tunduk, tunduk
dengan sangat bersusah hati, sebab dia benar-benar
menyayang Cie Hoa, sayang ayahnya si nona ialah Beng Sin
Thong, orang yang mencelakai kakak seperguruan mereka.
Tentu sekali tidak dapat dia membelai lebih jauh.
Selagi semua kaum separtai itu membungkam, Kim Sie Ie
panas hatinya, mendadak dia tertawa bergelak tiga kali, terus
dia mengajukan diri.
"Aku berani
menjamin dia!"
katanya nyaring.
"Kau orang
macam apa?"
menanya Kim Jie
heran. "Cara
bagaimana kau berani mencampuri
tahu urusan partai
kami?" "Tidak salah, aku
memang orang luar!" kata Sie Ie.
"Tetapi putusanmu
tidak adil! Maka aku
mengajukan diri, aku
tidak dapat membiarkan kau menghina seorang
nona yang sebatang
kara!" Habis berkata,
dia tertawa pula
berbahak. "Kau mentertawakan apa?" tanya Kim Jie. "Kenapa aku tidak adil?"
"Aku mentertawai kau, sebagai ketua partai, kau
berpandangan cupat!" menjawab Kim Sie Ie.
Kim Jie mendongkol hingga tubuhnya menggigil. Ia hendak
mengumbar hawa amarahnya atau Kim Sie Ie mendahulukan
padanya. "Tepat sekali pembilangannya Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng
Peng!' berkata Tokciu Hongkay. "Ayah dan ibu bersalah, tetapi
bayinya tidak! Nona ini bercerai berai dari ayah dan ibunya
semenjak bayi, maka segala perbuatannya Beng Sin Thong,
mana dapat itu ditumplaki kepadanya" Barusan dia menyebutnyebut
tentang kitab Siauwyang Hiankong Pitkoat! Itu saja
sudah menunjuki hatinya yang baik! Dia dapat
menyembunyikan itu, untuk dikangkangi sendiri, dia boleh tak
usah memberitahukannya, tetapi dia toh menyerahkannya
kepada kamu! Bahkan dengan menyerahkan itu, dia
membiarkan kamu memusuhkan ayahnya yang sejati"
Kesengsaraan hati dari dia ini, dapatkan kamu
mempertahankannya" Coba pikir, tanpa kitab Siauwyang
Hiankong Pitkoat itu, dapatkah kamu melawan Beng Sin
Thong?" Co Kim Jie menjadi sangat gusar.
"Hai, pengemis edan yang nama busuknya sangat tersiar
luas!" dampratnya. "Cara bagaimana kau berani menegur aku
berlaku tidak adil" Baiklah, hari ini aku mau bertindak
membantu dunia kangouw membasmi pokok bencana! Kau
harus dibekuk!"
Kim Sie Ie tidak takut, bahkan dia tertawa bergelak-gelak.
"Beranikah kau?" dia menantang.
Kim Jie menggeraki tongkatnya, dengan itu ia menyerang.
Berbareng dengan itu, Louw Eng Ho dan Pek Eng Kiat pun
maju menikam dengan pedang mereka masing-masing.
Mereka ini berdua pecundang tetapi mengandal pada ketua
mereka, mereka menjadi berani, pula hebat tikamannya.
Kim Sie Ie tertawa lebar ketika ia menangkis, dengan itu ia
membikin terpental tongkatnya ketua Binsan Pay itu, sedang
pedangnya kedua anak muda lagi sekali terbang tinggi!
Murid-murid dari tingkat atau generasi ketiga, semua
menjadi kaget, meski begitu mereka toh meluruk maju.
Kim Sie le lantas menghunus pedang besi dari dalam
tongkat besinya, dengan tongkatnya ia menekan tongkat
berkepala ular naga dari Co Kim Jie, dengan pedangnya, yang
ia mainkan dengan tangan kiri, ia mengasih dengar bunyi
tangtingtong nyaring tak putusnya. Dengan pedangnya itu ia
membabat kutung pedangnya tujuh lawan yang maju paling
depan! Menyaksikan pertempuran itu, Ek Tiong Bouw jadi sangat
berduka. Ia serba salah. Mana dapat ia mengepung Kim Sie
Ie, orang yang telah melepas budi terhadapnya" Tapi, mana
dapat ia menonton saja selagi ketuanya mengadu jiwa"
Tengah ia bersangsi itu, telinganya mendengar bentakan si
pengemis edan, bentakan mana menyusuli sapatnya Samciat
kun, toya sambung tiga, dari Lie Eng, setelah mana, Co Kim
Jie terlihat terdesak hingga jago wanita itu terpaksa main
mundur saja.

Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sambil berteriak "Celaka!" Ek Tiong Bouw lompat maju.
Sulit atau tidak, tidak bisa ia membiarkan ketuanya terancam
bahaya. Hebat serangannya Kim Sie Ie, dengan tipu silat pedang
"Tiang-hong kengthian", atau "Bianglala panjang melintang di
langit", ia menghalau desakan pelbagai pedang dari muridmuridnya
Co Kim Jie, hingga mereka itu tidak dapat
merangsak, di lain pihak dengan tongkatnya yang telah
menjadi bagaikan sarung kosong sebab pedangnya telah
dicabut, dia mendesak ketua Binsan Pay itu, akan akhirnya
menggempur, maka di antara suara nyaring dan meletik
berhamburannya lelatu-lelatu api, tongkat Kim Jie kena dibikin
melengkung bagaikan bulan sisir'
Di saat sangat genting itu, segera terdengar suara
beradunya dua senjata lainnya, nyaring suara itu.
Itulah pedangnya Kok Cie Hoa, yang maju untuk datang
Pedang Darah Bunga Iblis 4 Hikmah Pedang Hijau Karya Gu Long Suling Emas Dan Naga Siluman 11
^